
“Bos, ada yang ingin saya sampaikan mengenai laporan keuangan kasino.” Jeon Jonas terdiam dengan mata terkunci pada gadis belia yang melakukan pemanasan di tepi kolam renang.
“Apa boleh saya datang ke sana?” tanya Ben beberapa detik kemudian setelah tidak mendapat sahutan.
“Tidak, tunggu di sana, aku akan selesai.”
Jeon Jonas mengakhiri panggilan kemudian meletakkan ponselnya di atas meja. Di tepi kolam renang Melissa fokus dengan melenturkan badan. setelah kejadian pembentakan dari Jeon Jonas, pria itu memerintah agar Melissa melakukan pemanasan. Sedang pria itu hanya duduk manis menikmati cocktail di mini bar.
Melissa berdesir, bukan karena angin dingin yang menerpa kulit, lebih tepatnya ketika Jeon Jonas melangkah sedekat ini, merenggangkan tangannya sendiri lalu menatap Melissa lekat.
“Lakukan seperti ini Pinky.” Rasanya aneh jika Melissa terbuai hanya dengan mendengar suara.
“Pinky..” Melissa tergegap dan dengan cekatan ia akhirnya merenggangkan tangan.
Ini dekat namun Jeon Jonas kembali melangkah maju sehingga Melissa dengan sifat polosnya hanya bisa mematung meski perasaan cemas sudah melumuri kedua bola matanya. Jeon Jonas membawa tangan kanannya menyentuh pinggang Melissa, menggerakkannya secepat yang bisa ia lakukan sehingga tanpa Melissa sadari, ia memekik tertahan.
Masih dengan ekspresi tak terbaca, Jeon Jonas kini membantu memutar tubuh Melissa ke kiri dan ke kanan, sebuah teknik pemanasan yang mudah dilakukan sendiri oleh Melissa, namun bibirnya terkatup rapat, bahkan kini merekat seperti lem.
Tenggorokan Melissa panas dan kering, wajah Jeon Jonas begitu dekat dengannya. Ini tidak biasa terjadi, kini darahnya mengalir dua kali lipat lebih cepat. Melissa yakin ini mungkin karena ia terlalu lama mengunci diri dan hati pada seorang pria, atau pesona Jeon Jonas saja yang melewati batas?
Dalam detik yang tidak Melissa duga, Jeon Jonas telah berada di dalam air, masuk dan meliukkan badan untuk muncul lagi di permukaan.
“Kemari Pinky..” Jeon Jonas mengangkat kedua tangan, mengisyaratkan Melissa agar melompat dan menyatu pada dekapannya yang besar.
Melissa melirik tangga, ia bisa turun lewat sana atau seperti pertama kali ia dengan berani melompat ke tengah kolam. Namun sorot mata Jeon Jonas lebih menegaskan agar ia menunduk untuk melemparkan badan. Seketika Melissa akhirnya berada dalam dekapan Jeon Jonas yang hangat, pria itu terkekeh pelan lalu memberi kecupan pada puncak kepala Melissa.
Pria itu tidak tahu jika perlakuan sigkat itu bisa saja menenggelamkan Melissa bersama pusaran pikirannya. Pikiran yang lugu, pikiran yang selalu bertanya-tanya mengenai perlakuan hangat Jeon Jonas, dan pikiran yang suka membatu saat Jeon Jonas menyentuhnya dengan manis.
Melissa menggeleng, ia tidak bisa berpikiran yang tidak-tidak mengenai pamannya sendiri.
Ia kemudian menundukkan kepala, menyatukan diri dengan segarnya air lalu membuang segala kegilaan dalam kepalanya. Ia bergerak semakin dalam, merenggang kedua tangan dan mengayunkan kaki. Masih dengan usahanya menjernihkan pikiran, ia kini mendongak, menatapi pergerakan Jeon Jonas berenang di atas tubuhnya.
Melissa menentang kuat saat jiwanya mengatakan agar tidak peduli dengan segala aktivitas Jeon Jonas namun raganya menolak, ia menemukan dirinya bergeming, memperhatikan Jeon Jonas dari bawah. Pria itu selalu mempesona kapan saja. Melissa melihat dengan jelas liukan tubuh tegap pria itu bermain dengan air, tubuhnya kekar dan besar, Melissa yakin jika Jeon Jonas mau, dalam sedetik tubuhnya dapat diremukkan oleh tubuh kekar itu.
Melissa terperanjat ketika tiba-tiba Jeon Jonas berenang mendekat, menarik tangannya lalu membawanya ke permukaan. Dalam waktu yang singkat, Melissa kembali terpekik, Jeon Jonas dengan mudah mengangkat tubuhnya hingga terduduk di tepi kolam.
Melissa terdiam, ia tidak paham mengapa ia seolah selalu terkejut dengan segala tingkah lalu Jeon Jonas, bahkan kini wajahnya menanas dan terbakar.
“Pinky, kau baik-baik saja?” Melissa mendongak, melihat tangan Jeon Jonas yang terulur membantunya berdiri. Melissa mengangguk lantas meraih uluran tangan Jeon Jonas untuk bangkit.
Melissa dibawa menuju mini bar, lalu duduk menghadap rumah mewah Jeon Jonas.
“Cocktail?” Melissa menggeleng.
“Aku tidak suka.”
Melissa menatap lurus rumah milik Jeon Jonas, sekarang ia baru menyadari jika ia belum melihat sepenuhnya kemewahan rumah itu, meski hari perlahan gelap namun permainan lampu di sekitar kolam dan belakang rumah membuat tampilannya menjadi begitu indah.
“Pinky, kau mengabaikanku..” Melissa menoleh, seketika menjauh ketika Jeon Jonas mendekatkan wajah. Jeon Jonas menyipitkan mata, meski marah karena Melissa selalu mundur ketika ia mendekat. Ia mempelajari setiap ekspresi Melissa, gadis itu masih membentengi dirinya, masih canggung dan terus mengunci kokoh pertahanannya. Jeon Jonas jelas paham bagaimana karakteristik Melissa yang sejatinya adalah introvert, namun jauh di lubuk hati yang paling dalam, ia yakin seiring berjalannya waktu gadis itu akan bicara banyak padanya.
“Apa seorang paman dilarang mencium keponakannya?” Melissa terhenyak. Ia berpikir beberapa detik sebelum akhirnya ragu-ragu untuk menggelengkan kepala.
Dan dalam waktu yang begitu singkat, Jeon Jonas merengkuh Melissa dengan tubuh yang sama-sama basah, mencium pipi dan sudut bibir gadis itu dengan lembut. Jiwa buas Jeon Jonas meraung di dalam, jika saja Melissa punya sifat seberani Stephanie maka Jeon Jonas tidak akan menunggu untuk menerkam.
Ia menarik diri, memperhatikan wajah Melissa yang malu dan memerah dan Jeon Jonas suka melihatnya. Jeon Jonas suka rona merah gadis itu saat bersamanya, setidaknya hanya bersamanya ekspresi itu akan muncul, hanya untuknya. Tidak untuk orang lain.
Lalu Jeon Jonas membuat alasan untuk pergi, berdua bersama akan sulit untuk Jeon Jonas mengendalikan diri. Sedangkan Melissa masih bergeming di tempat, layaknya batu besar yang tidak akan bergerak meski dihempas ombak.
***
Jeon Jonas menatap satu persatu laporan keuangan kasino, ia tidak memberi ekspresi meski laporan keuangan tersebut menyatakan keuntungan besar.
“Di mana Hans?” tanyanya pada Ben.
“Hans sedang menangani kerusakan di bar kita Bos.” Jeon Jonas membuang nafas berat. Keributan yang dilakukan Bernard memang membuat kerusakan besar di bar miliknya, Bernard mengacau, merusak furnitur mewah yang disediakan khusus oleh Jeon Jonas dan juga melukai beberapa orang yang bekerja di sana. Bernard jelas sengaja melakukannya, namun Jeon Jonas tak ingin tertarik, ia cukup mengendalikan semuanya dengan santai, jika Bernard berani berulah melewati batas, disitulah Jeon Jonas akan bertindak.
“Bos, saya ingin menyampaikan wanita-wanita yang dikirim dari Shanghai sudah sampai di kasino kita.” Jeon Jonas membasahi bibir lalu menaikkan alis.
“Bawa aku ke sana.” Ben mematuhi lalu bergerak cepat mengikuti Jeon Jonas yang hendak mengunjungi kasino miliknya. Jujur saja, kejadian demi kejadian dengan Melissa sanggup membuat libido Jeon Jonas melesat naik, dan itu tentu harus dituntaskan. Jeon Jonas tidak punya pilihan lain, selain bermain dengan wanita-wanita baru yang datang dari Shanghai.
Berada di kasino, Jeon Jonas segera masuk ke ruangan khusus disusul Ben yang mengatur wanita-wanita berparas cantik yang akan bermalam dengan Bosnya tersebut.
“Biarkan mereka masuk.” Ben menoleh sekilas, lalu membiarkan belasan wanita itu masuk dan berdiri di hadapan Jeon Jonas.
Jeon Jonas mengamati wanita-wanita itu dari atas ke bawah. Semuanya sama-sama cantik, dan tentu saja berpengalaman.
“Aku hanya akan meminta satu orang. Hanya untuk orang yang bisa menyenangkanku, karena jika tidak, aku akan mengembalikannya ke Shanghai,” ucapnya.
Mendengar itu para wanita itu bergidik takut, tidak mudah untuk datang secara ilegal ke Negara ini, apalagi jika dipulangkan ke Shanghai, tidak tahu betapa menyengsarakannya itu.
Selama beberapa detik tidak ada yang menyahut, mereka tentu paham tata caranya, namun tidak bisa menyangkal jika mereka tidak sepenuhnya bisa menyenangkan. Apalagi di hadapan mereka adalah Jeon Jonas, kesalahan kecil saja bisa membuat mereka dilemparkan ke Negara asal.
“Saya bersedia Tuan.” Seorang wanita berbadan semampai menyodorkan diri. Jeon Jonas seakan ragu, tatapan wanita itu penuh dengan kecemasan. Namun tak ayal membuat Jeon Jonas menyeringai.
🌷🌷
Tepat pukul delapan pagi, Melissa harus segera berangkat bekerja, namun urung karena tidak mendapati pamannya di mana-mana, bahkan nomornya tidak dapat dihubungi. Melissa melirik jam tangannya, jarak dari rumah Jeon Jonas ke cafe wriston cukup jauh, dari rumah menuju gerbang depan saja membutuhkan waktu yang lama, salahkan luas wilayah Jeon Jonas!
“Nona tidak sarapan?” tanya Enna.
“Aku sudah menyimpan yogurt di tasku, aku harus segera berangkat,” sahut Melissa.
“Bukankah nona akan bersekolah minggu depan?”
“Aku bekerja.” Enna mengerutkan dahi, lalu kembali bertanya.
“Bekerja? Pekerjaan apa yang Nona maksud jika saya boleh tahu?”
“Kerja paruh waktu,” sahut Melissa mengulum senyum.
“Nona punya segalanya, saya yakin Tuan Jeon juga tidak akan keberatan memberikan apapun yang Nona butuhkan.”
“Aku lebih suka memakai uangku sendiri, aku tidak ingin membebani siapapun.” Enna kemudian menghela nafas meski kini ada gurat kagum di wajahnya.
“Apa kau melihat Paman, Enna?”
“Nona menunggu Tuan Jeon? Tuan Jeon tidak pulang Nona, mungkin menginap di suatu tempat.” Melissa mengangguk paham.
“Kalau begitu, aku akan berangkat sekarang, aku sudah terlambat.” Melissa bergerak terburu-buru menaikkan tasnya ke punggung, membenarkan hoodie pinknya lalu berpamitan pada Enna.
“Jack ada di depan Nona, Jack akan mengantar Nona ke sana,” kata Enna.
“Aku bisa naik taksi..”
“Ya, tapi perlu waktu banyak untuk sampai ke jalan besar,” sahut Enna tersenyum geli.
Melissa mengerang pelan. Tidak ada pilihan selain meminta Jack mengantarnya.
“Maaf Enna, tapi bisa antarkan aku pada Jack, aku tidak mengenalinya..” Enna menepuk kening lalu mengangguk cepat.
“Ini Jack,” kata Enna menyentuh punggung pria paruh baya yang duduk di depan rumah.
Jack menoleh, lalu memberi salam.
“Saya Jack, ada yang bisa saya bantu Nona?” tanyanya.
“Tolong antarkan aku ke tempat kerjaku..”
“Tentu. Tentu Nona.” Jack membawa Melissa ke dalam mobil hitam mengkilat di sana, lalu beberapa detik kemudian mereka berangkat menuju cafe wriston.
🌷🌷
Jeon Jonas melenguh, membuka mata perlahan lalu menoleh. Ia menemukan seorang wanita tengah terlelap di sampingnya, memeluk tubuhnya erat dan mendengkur halus. Nama wanita itu Sissy, wanita yang tatapannya lugu namun memberanikan diri bermalam dengan Jeon Jonas. Semalam wanita itu masih nampak takut meski mengaku telah berpengalaman, namun setelah semua yang dilakukan oleh Jeon Jonas, wanita itu ternyata masihlah gadis. Jeon Jonas menggeram marah, sejatinya dirinya tidak ingin menjadi sosok perusak perempuan, ia hanya akan bermain dengan wanita yang sudah pernah melakukannya. Disaat itu juga Sissy berusaha berpura-pura bahwa ia memang bisa melakukannya, ia bergerak liar, mencoba membuat Jeon Jonas senang meski tubuhnya tetap kikuk.
Jeon Jonas menarik ponsel, menyalakan lalu menatap layar. Beberapa notifikasi mengalihkan pikirannya. Panggilan dari Melissa, gadis kesayangannya. Jeon Jonas bangkit, menjauhkan tangan wanita yang memeluknya dalam tidur.
Melissa. Gadis itu kini mulai memorak-porandakan pikiran Jeon Jonas.
Jeon Jonas menelepon, menunggu beberapa detik sebelum akhirnya panggilannya dijawab oleh pesan suara. Nomor gadis itu sibuk. Dengan siapa ia bicara?
Jeon Jonas menunggu hingga 20 menit, lalu ia kembali menelepon. Masih dengan jawaban yang sama, gadis itu menjawab telepon orang lain. Dan itu berhasil menyulut emosi Jeon Jonas.
“Sialan!” Umpatannya berhasil membangunkan Sissy dari tidurnya. Jeon Jonas bangkit dengan sorot matanya yang membara, ia menoleh menatap Sissy sekilas lalu melempar uang tepat pada wajah wanita itu.
Jeon Jonas memang ********.
🌷🌷
Melissa keluar dari dalam mobil lalu mengucapkan terimakasih pada Jack.
“Jam berapa Nona akan selesai? Saya akan menjemput..” ucap Jack.
“Terimakasih Jack, tapi aku akan pulang naik taksi.”
“Saya dipekerjakan untuk melayani Nona, jika Nona akan pulang naik taksi, maka apa yang harus saya lakukan?”
Jack tersenyum lalu menyimpan nomor Melissa.
Seperginya Jack, Melissa segera masuk ke dalam cafe, beberapa orang sudah berkunjung, dan telah ada Helen dan Donna yang sigap untuk melayani. Melissa adalah seorang waitress dan karena keterlambatannya Donna yang bekerja sebagai resepsionis dan Helen sebagai seorang kasir harus turun tangan menggantikannya.
Melissa masuk ke ruang ganti, mengganti pakaiannya dengan seragam hitam putih khusus pelayan cafe wriston.
“Besok aku juga akan terlambat,” gerutu Donna disusul dengan Helen berjalan melalui Melissa.
Melissa hanya bisa diam, ia kemudian menemui pelanggan yang baru datang.
“Taaraaa!!” Melissa terkesiap mendengar suara lantang pria di depannya.
“Peter!”
“Kenapa terkejut? Kan aku sudah bilang kalau aku akan berkunjung,” ucap Peter mengerucutkan bibirnya.
“Kau ingin memesan apa?” Peter mengelus dagu, berpikir sejenak.
“Fettuccine alfredo.”
“Peter, ini bukan restoran Italia,” desis Melissa mulai geram. Peter terkekeh senang lantas menarik Melissa duduk di depannya.
“Kalau begitu, kau duduk di sini saja, aku hanya ingin melihatmu.” Melissa memutar bola matanya jengah. Bertahun-tahun mengenal Peter tidak membuat pria itu mengubah kebiasaan buruknya. Tidak peduli Melissa bekerja atau tidak, pria itu tetap mengganggunya.
“Ya, baiklah. Dan aku akan dipecat.” Peter tertawa ringan lalu melepaskan tangannya dari Melissa.
“Bekerjalah, aku akan menunggu di sini.” Melissa mengangguk lalu berjalan ke meja lain.
Peter adalah satu-satunya orang yang mau berteman lama dengan Melissa. Melissa sebenarnya orang yang suasana hatinya sangat sering berubah. Gadis itu seringkali diam tidak menentu, bahkan ketika Peter membuat lelucon, gadis itu tidak akan menanggapi. Dan Melissa bersyukur, Tuhan menciptakan pria penyabar seperti Peter.
Lihat bagaimana sabarnya Peter tetap menunggu Melissa meski sudah berjam-jam. Melissa terlihat sangat sibuk, tidak punya waktu untuk bicara santai dengan Peter. Dan pada akhirnya Peter harus pergi ketika ada telepon penting dari pihak penerbit.
“Aku akan meneleponmu nanti,” kata Melissa. Peter mengedipkan sebelah mata lalu masuk ke dalam taksi.
“Permisi, aku ingin memesan.” Melissa membalikkan badan lantas melanjutkan pekerjaannya.
🌷🌷
Hans merogoh saku saat ponselnya berdering, panggilan dari Jeon Jonas.
“Halo Bos, saya masih di kasino.” Hal yang pertama kali didengar Hans adalah suara berat Jeon Jonas.
“Kenapa semua orang seakan tuli? Aku menelepon sejak tadi dan tidak ada satupun yang menjawab, kalian ingin mati?!”
“Ada masalah apa Bos?” tanya Hans berhati-hati.
“Di mana Melissa?”
“Saya tidak tahu Bos, saya selalu ada di kasino.” Jeon Jonas berdecak kasar. Tentu saja Hans tidak tahu.
“Cepat cari dia di mana, kabari aku secepatnya. Aku ada urusan penting di sini.”
Tanpa bisa membantah, Hans mematuhi lalu bergerak cepat meyambar kunci mobil untuk mencari wanita Bosnya.
Hans melajukan mobilnya membelah jalanan, sembari mengemudi, ia menunggu Enna mengangkat panggilannya. Mungkin saja Melissa sudah kembali. Namun sama seperti Jeon Jonas, ia juga geram karena pangilannya tidak mendapat jawaban.
Hans berpikir cepat, memutar otaknya mengenai informasi pribadi Melissa yang pernah ia cari tahu. Bahaya jika Jeon Jonas menelepon dan ia belum menemukan Melissa.
🌷🌷
Melissa melirik jam, jam kerjanya akhirnya berakhir. Ia mengganti seragam lalu keluar dari tempat kerjanya. Melissa terperanjat ketika seorang pria bertubuh tegap menghentikan langkahnya. Melissa mendongak dengan tatapannya yang lugu.
“Paman..” Melissa mengingat wajah itu, wajah pria yang pernah menyelamatkannya dari pria hidung belang.
“Akhirnya aku menemukanmu,” desis Hans lega.
“Hei..” sapa Hans mengusap puncak kepala Melissa dengan lembut.
“Masih mengingatku?” tanyanya. Melissa mengangguk.
“Kenapa Paman bisa ada di sini?”
“Aku menjemputmu..” Melissa mengernyit.
“Aku bekerja untuk Jeon Jonas..” Melissa masih mengernyit. Tidak sepenuhnya paham maksud Hans.
“Kau akan mengetahuinya nanti, sekarang ayo masuk ke dalam mobil, aku akan membawamu pulang.”
“Jack akan datang menjemputku.”
“Tidak, dia tidak akan datang, aku sudah menyuruhnya untuk tetap di rumah.”
“Paman bukan orang jahat kan?” Hans tersenyum lebar, tertarik dengan keluguan gadis di depannya.
“Tentu saja tidak, aku tidak akan berani jahat pada gadis manis sepertimu.”
Melissa akhirnya tersenyum dengan binar matanya yang cerah. Hans yang melihat itu tanpa sadar mengecup puncak kepala Melissa.
Sialan Hans. Ingat batasanmu!
Seolah tahu gadisnya disentuh pria lain, Jeon Jonas menelepon. Hans gelagapan lalu memberi jarak dengan Melissa. Takut-takut jika Jeon Jonas ternyata ada di sana mengintai mereka.
“Halo Bos, saya sudah menemukan Melissa,” jawab Hans setelah mati-matian menetralkan suaranya yang tercekat karena gugup.
Anehnya setelah mengatakan itu, panggilan tiba-tiba diakhiri sepihak oleh Jeon Jonas.
“Ayo masuk, kita akan pulang,” ujar Hans mendorong pelan badan Melissa agar duduk di jok depan.
🌷🌷
“Kau tidak bisa menahanku di sini!” hardik Jeon Jonas pada Sissy. Berjam-jam yang lalu Sissy menangis tidak ingin ditinggalkan. Jeon Jonas adalah pria pertama yang tidur dengannya. Dan sialnya tidak ada dalam pikiran wanita itu soal pengamanan.
“Bagaimana jika saya hamil?” Jeon Jonas mengetatkan rahang, lalu mencengkeram leher Sissy dengan tangan kanannya.
“Kau pikir aku akan peduli!”
Sissy menangis tersedu-sedu. Tidak dapat membayangkan perutnya yang akan membesar dan ia akan dibuang begitu saja.
“Jika kau hamil maka gugurkan, aku tidak akan sudi menerimanya. Dan di masa depan jangan jadikan itu alasan untuk menganggu hidupku.”
Jeon Jonas menarik dompet, mengeluarkan semua uang yang ada di sana lalu melempar sembarang.
“Kau ambil itu.” Jeon Jonas mengepalkan tangan, jika Sissy berpikir ia akan terenyuh dan tetap bersamanya maka Sissy salah besar. Jeon Jonas tidak pernah peduli dengan seorang wanita. Terkecuali Melissa. Hanya gadis itu yang ia pedulikan, bahkan ketika Melissa tidak meminta.
🌷🌷
Melissa tertawa ringan. Sembari mengatur buku, Ia menaruh ponsel di antara bahu dan telinga kanannya.
“Jadi kau marah karena aku mengabaikanmu saat di café?”
“Anggap saja begitu,” jawab Peter melalui ponselnya.
“Lalu apa yang harus kulakukan agar kau memaafkanku?”
“Kita harus bertemu lagi, tentu saja tidak seperti tadi. Aku punya banyak cerita untukmu.”
“Ehm.. baiklah, aku akan mengatur jadwalku, sebenarnya aku punya banyak pekerjaan, kau tau itu Peter..”
“Ya Melissa aku tau. Kabari saja jika kau punya waktu luang.”
“Baiklah Peter..”
“Melissa.” Melissa terkejut ketika ponselnya ditarik lalu diletakkan asal di atas meja.
“Dengan siapa kau bicara?” Melissa tergagap. Sorot mata pria di hadapannya begitu menegangkan.
“P-Peter.”
“Pukul setengah sembilan pagi tadi, apa kau bicara dengannya juga?” Melissa mengangguk pelan.
“Aku sangat ingin mengenal siapa pria bernama Peter itu,” tekan Jeon Jonas.
Melissa menelan ludah, rasanya cukup sulit mengambil nafas saat bersama Jeon Jonas.
Melissa mundur tatkala Jeon Jonas mendekat menyibak rambutnya. Mata pria itu bergerak gelisah, sehingga pada detik berikutnya ia menekan tubuh Melissa ke dekapannya yang hangat.
“Paman..”
Jangan. Jangan memanggil Jeon Jonas dengan nada lirih.
Jeon Jonas rasanya ingin meremukkan tubuh rapuh itu dalam rengkuhannya. Ia memeluk sangat erat hingga Melissa mengeluarkan ringisan. Tidak cukup dengan itu kini gigi pria itu telah berada di telinga Melissa. Tidak mengigit. Jeon Jonas tidak sanggup untuk melukai. Ia hanya menempelkannya di sana, namun tetap saja membuat Melissa bergidik takut.