HOT GUY

HOT GUY
[29]



Festival Lutheran berlangsung meriah, tidak ada yang memakai seragam, semua murid memakai kostum sesuai tema masing-masing. Setiap kelas penuh dengan hiasan, dan akan didatangi oleh guru maupun murid dari kelas lain. Di kelas Melissa, semua kursi yang biasanya dijadikan sebagai tempat duduk disingkirkan hingga kelas menjadi kosong. Lantai dihias dengan karpet berwarna-warni, setelah sebelumnya ketua kelas mengusulkan menggelar karpet merah dan Maggie mongomel kalau itu berlebihan. Ini festival sekolah, bukan grand award. Dan pada akhirnya, karpet pelangi memenuhi lantai dan guru yang bertugas sebagai juri memujinya karena itu sangat manis.


“Ten, ten, ten, ten..” Ava merangkul Bobby, bersenandung dengan lagu pernikahan, seolah mereka sedang berada di altar, dan semua murid di sana merupakan penonton.


Maggie dan Melissa yang duduk dengan gaun pengantin mereka, melirik Lucas secara bersamaan. Terkekeh, karena laki-laki itu memasang wajah kesal.


“Wajah Lucas terlalu lucu untuk dibiarkan.” Maggie tertawa seraya memotret Lucas dengan ponselnya.


“Akan lebih lucu kalau Ava mengetahuinya,” kekeh Melissa.


“Ya, benar. Ah, sebenarnya aku tidak sabar melihat mereka jadian.” Maggie menyimpan ponselnya, lantas membenarkan letak blusher veil yang menempel di kepala Melissa.


“Cantik sekali,” tuturnya. “Harusnya aku memakai blusher veil juga, apa aku terlihat konyol dengan ini, atau jadi terlihat menakutkan?” sambung Maggie menunjuk fly-away veil yang dipasang di kepalanya.


Melissa tertawa singkat. “Itu bagus Magg.”


“Guess what, ibuku mengomel pagi-pagi, mengira aku akan kabur menikah dengan laki-laki. Coba, siapa yang mau menikah denganku?”


Melissa menaikkan bahu.


“Sudah putus dengan Paman Jeon kan? Bagaimana kalau aku mengejarnya?” Maggie tertawa saat Melissa menatapnya dengan wajah cemberut.


“Tidak lucu Magg.”


“Bercanda. Aku tidak suka pria tua, nafsu mereka seperti macan tutul.”


Mungkin lebih dari itu, singa lapar mungkin?


“Sa! Magg! Ke sini! Foto!” seru Ava, gadis itu tengah berfoto berdua dengan Bobby. Lucas segera datang, berdiri di sampingnya.


“Lucas, kami foto berdua dulu, cepat minggir!” tolak Ava saat Lucas merangkulnya. Tapi saat kedua temannya datang, Ava tidak menolak, justru mengapit kedua tangan temannya itu dan tersenyum melihat kamera. Lucas kesal, ia akhirnya menarik Ava, memotret mereka berdua dengan ponselnya, bahkan..mencium pipi gadis itu. Ava terpaku, memegangi pipinya.


“Oke, semoga Ava tidak menampar,” gumam Maggie. Bobby, Melissa juga sedang memperhatikan mereka. Dan Ava hanya bergeming. Selanjutnya, Lucas membawanya keluar dari kelas.


“Aku tebak, Lucas akan menyatakan perasannya,” tebak Bobby.


“Aku juga.” Maggie dan Melissa mengangguk.


“Melissa Kyle.” Ketiga orang itu menoleh, menemukan Jeongin masuk melalui pintu, ada senyum di wajahnya, untuk Melissa.


“Kenal dia?” tanya Maggie bingung, menilai penampilan Jeongin yang memakai kostum pangeran dari atas ke bawah.


“Hei, dia lumayan juga,” bisiknya kemudian.


“Bisa bicara sebentar?” tanya Jeongin.


“Oh, oke.” Melissa mengerjap beberapa detik, memperhatikan Jeongin yang hanya diam, sepertinya laki-laki itu mengajaknya bicara berdua di tempat lain.


“Magg, Bob. Sebentar,” pamitnya, akhirnya mengikuti langkah Jeongin yang lebih dulu keluar dari kelas.


“Apa kabar?” Jeongin bertanya lebih dulu, setelah mereka sampai di tangga menuju atap sekolah, duduk di sana berdua.


“Baik, pangeran.” Jeongin terkekeh.


“Sebenarnya, aku...kau sudah menyelesaikan ceritamu kan? Aku membacanya sampai selesai.”


“Oh ya? Bagaimana menurutmu?” Melissa meremas jemari, menunggu jawaban Jeongin.


“Aku harap Lecy dan ibunya berdamai, tapi kisah mereka memang agak sulit, terutama Ferr, aku benci dia.” Melissa tertawa singkat, suka respon dari Jeongin yang benar-benar mengikuti alur cerita yang ia buat.


“Sa, sebenarnya aku ingin menemui pamanmu.”


Melissa mengernyit. Pamannya? Jeon Jonas? Untuk apa?


“Aku menahan diriku terlalu lama, untuk bertemu denganmu, berteman denganmu. Dan mungkin pamanmu itu mengira aku orang jahat. Tapi aku bisa menjagamu, aku janji akan menjadi laki-laki yang baik. Jika kami bertemu, aku akan katakan itu padanya, aku akan memastikan bahwa kita bisa akrab, dan pamanmu tidak akan melarangku.”


Mengapa Jeongin mengatakan ini?


Jika keadaan jadi lebih baik, Jeon Jonas bersamanya seperti dulu, Melissa akan mengatakannya. Ia juga ingin berteman dengan Jeongin, pria penyuka ceritanya itu. Tapi sudah beberapa hari mereka tidak bertemu, tapi…


Hujan waktu itu, malam itu…


“Aku dan Paman Jeon sudah lama tidak bertemu,” jawabnya.


Jeongin menghadapnya. “Tapi, aku rasa..tidak ada salahnya kita berteman, aku juga ingin berteman denganmu,” lanjut Melissa.


Jeongin ragu-ragu, terakhir kali Jeon Jonas menatapnya seperti ingin menerkam, mengulitinya, dan itu terlihat menyeramkan. Tidak tahu mengapa seorang paman harus semarah itu saat melihat keponakannya bersama laki-laki, seakan-akan itu terlarang, tidak boleh terjadi, atau Jeon Jonas tidak segan-segan meratakan bumi.


“Oh, itu bagus,” ucapnya. “Jadi, mulai sekarang kita teman?”


“Tidak bertemu pengantin pria, kau jadi berpaling ke pangeran sekarang?” Ava muncul tiba-tiba, Maggie menyusul dari belakang.


Melissa terkekeh, sementara Jeongin tersenyum simpul. Pamit pada akhirnya, karena ia canggung jika tidak hanya berdua dengan teman barunya, Melissa.


“Kenalkan aku padanya, cepat!” desak Maggie.


“Dia Jeongin, nanti akan aku ceritakan.”


“Oke!” Maggie tertawa senang.


***


Ruangan itu pengap. Sinar matahari yang mencuri-curi tempat, muncul dari jendela kaca pecah, sebagai gantinya, terpaku beberapa papan di sana. Hans sudah sadar sejak dua jam yang lalu, masalahnya ia terikat, tangan kakinya terbelenggu. Dan ia didudukkan di kursi kayu.


Mengerahkan semua kekuatan, satu tangan Hans berhasil terlepas dari ikatan tali, tangan yang satunya ikut terbebas. Hans melepas lakban di mulutnya, mengumpat sebanyak-banyaknya bahwa Bernard adalah semua jenis hewan yang ada di kebun binatang. Ia melepas tali yang mengikat kakinya lantas bergerak cepat mengintip dari lubang pintu. Ada banyak anak buah Bernard di luar, bermain kartu, sementara yang lain sibuk di meja billiard.


Setelah pertarungan itu, ternyata banyak yang kabur dan selamat. Hans berdecih, berpaling pada jendela yang ia harapkan bisa menjadi pelarian. Tangannya terkepal kuat, berancang-ancang meninju papan, tapi akan ketahuan. Ia tahu dirinya akan tertangkap jika menghasilkan suara dari ruangan. Jadi, demi keselamatan sendiri, ia mengonyak bajunya, melilitkannya pada kedua tangan, supaya tangan itu tidak terluka saat ia menarik papan.


Krak.


Bersusah payah, dan ia berhasil menarik satu papan.


Krak.


Kali ini ia menghadap belakang setelah melakukannya. Masih ribut di luar.


Satu papan lagi. Hans mengembuskan napas, lelah. Dan seperti yang lain, papan itu berhasil ia lepaskan. Tidak menunggu untuk melompat, Hans berlari dan berhasil lolos.


Satu tempat yang ia tuju sekarang adalah markas, selain karena itu tempat yang aman untuk kelompoknya, ia juga ingin bertemu Jeon Jonas, menceritakan apa yang ia lihat selama disekap dan semua hal yang belum diketahui bosnya itu.


Tapi..saat berada di tengah pepohonan yang dijadikan tempat bersandar, Hans mengingat gadis itu. Sudah lama mereka tidak bertemu. Tujuannya berubah, ia punya tempat pulang yang baru.


***


Kenapa semua orang suka meninggalkan? Apa tujuan meninggalkan itu? apa hanya sekedar menyenangkan ego atau korban yang ditinggalkan memang pantas untuk ditinggalkan?


Sudah berapa hari? Jeon Jonas belum kembali, rasanya sudah sangat lama. Satu hari adalah satu bulan, dua hari adalah dua bulan, begitulah kira-kira yang Melissa rasakan, satu hari tidak bertemu Jeon Jonas dilipat gandakan menjadi banyak hari, rindunya bertumpuk, dan ia perlu pria itu agar tumpukan rindu itu tidak menggunung.


Melissa melihat kertas-kertas itu, kertas yang ia isi dengan banyangan dirinya dengan Jeon Jonas, kisah mereka yang manis, romantis, bahagia. Selama membuat cerita itu, senyumnya merekah, begitu lebar hingga itu nyaris koyak. Tapi malam ini, mengapa rasanya sudah tidak sama? Mengapa tangannya sulit melanjutkan, menulis nama Jeon Jonas di sana, membayangkan kebersamaan mereka, mengapa itu menjadi sulit dijabarkan?


Pemerannya sama, itu mereka. Sama seperti yang ia tulis kemarin-kemarin. Itu Jeon Jonas, Melissa! Lanjutkan! Tulis namanya!


Kertas itu menjadi berantakan, terlempar ke lantai setelah menjadi gulungan yang rusak. Melissa membuangnya. Cerita yang ia tulis, ingin ia tunjukkan pada Jeon Jonas setelah itu selesai, hanya untuk pria itu, tidak untuk orang lain.


Tidak ada alasan untuk melanjutkan, pemeran pria bernama Jeon Jonas itu sudah menjadi bayangan, sudah tidak dapat ia dekap, sudah bersatu dengan angin, menjauh, tidak dapat ia kejar.


Kertas-kertas itu ia kumpulkan, ditumpukkan ke tempat sampah. Melissa menangis saat melakukannya, saat seharusnya itu biasa, sebab ia pernah membuang ceritanya, dan itu ternyata tidak sama, dulu tidak semenyakitkan ini, dulu tidak seragu-ragu ini.


Mungkin Jeon Jonas memang sudah tidak pantas mengisi alur ceritanya, mungkin sejak lama memang tidak cocok berada di sana, mungkin harusnya pemeran laki-laki lain yang menemani Melissa, bukan Jeon Jonas.


Gemerisik angin menemani malam, tapi itu sunyi. Hans masih berlari, memegangi luka-luka di tubuhnya sembari meringis. Ketika menemukan gerbang itu, ia bersandar, merosot di sana. Sampai akhirnya lampu mobil membuatnya menutup mata.


“Hans?”


“Jack, bantu aku.” Pria paruh baya itu berlari, memapah Hans untuk masuk ke dalam mobil, mengantarnya sampai rumah.


“Apa yang terjadi?” tanya Jack. Hans meringis, langsung keluar setelah sampai.


Cukup sulit untuk melangkah, dan Hans harus segera menemukan kamar gadis itu, mendekapnya, menyatakan rindunya. Sebagian lampu sudah dimatikan, menjelaskan bahwa pelayan-pelayan sudah beristirahat, Hans melirik jam besar di ruang tamu, pukul satu malam.


Hans tersenyum, bayangan Melissa yang lucu membuatnya melangkah lebar.


Tapi itu berhenti, ia terpaku saat melihat Jeon Jonas di sana, mengintip kamar Melissa yang sepi, berjalan di kegelapan seperti pencuri. Hans segera menyembunyikan diri, mengapa Jeon Jonas ada di sini? Harapannya berdua dengan Melissa ia ragukan, keberadaan pria lain akan membuat semuanya rumit, apalagi itu Jeon Jonas, orang yang sudah mengklaim Melissa sebagai miliknya.


***


Melissa lelah menangis hingga tenggorokannya kering. Dengan keadaan sangat mengantuk ia beranjak keluar dari kamar, membawa gelasnya yang kosong untuk diisi di dapur, itu tujuan yang sebenarnya. Tapi langkahnya berkhianat, ia bergerak ke kamar pria itu, masuk ke sana tanpa berniat menyalakan lampu untuk penerangan.


Aroma Jeon Jonas seketika menyerbu. Melissa menghirupnya, menyimpannya banyak-banyak, ini Jeon Jonas, pria yang mengubahnya sedemikian rupa lalu pergi. Ia meraba-raba saat akhirnya sampai di ranjang beraroma maskulin yang tajam. Tersenyum tatkala mata setengah terbukanya menyentuh sesuatu. Sesuatu yang pernah ia senangi untuk dipeluk. Sesuatu yang pernah ia damba untuk selalu dalam dekapannya.


Di bawah gelapnya ruangan, ia merasakan pria itu menangkupnya begitu lembut, menjelajah pipinya seperti yang sudah-sudah. Untuk itu Melissa melupakan tenggorokannya yang membutuhkan air, sebab bayangan itu telah meraupnya, menyalurkan sesuatu yang kini ia telan dan berhasil membasahi tenggorokannya. Melissa yakin ia adalah nyata, itu sebabnya ia kembali menangis, menarik bayangan itu dengan tangan yang mungil.


“Kenapa Paman pergi?” Isakan itu kembali datang, disusul bungkaman dari benda kenyal yang sebelumnya berhasil melupakan rasa hausnya.


Hingga pagi harinya Melissa sadar. Ia berada di kamar Jeon Jonas dalam posisi terlentang dan sendirian. Itu mimpi? Nyaris begitu nyata.