HOT GUY

HOT GUY
[39]



Jangan lupa divote!


Jeon Jonas menyilangkan kaki, matanya menyorot lurus ke depan memperhatikan Hans yang diikat berdiri. Tumitnya ikut terangkat, sementara secara kasar dan terasa pedih jari-jemari kakinya harus kuat menopang tubuh sendiri. Tangan-tangan pria itu tertarik ketat ke atas, wajahnya menunduk, pukulan demi pukulan ia dapatkan tepat di perutnya.


Hans tidak tahu sebanyak apa kekerasan yang ia terima, wajahnya bahkan masih membiru saat beberapa menit yang lalu Ben mendapat perintah untuk meninjunya sampai Jeon Jonas menyuruh berhenti.


Jeon Jonas memang sekejam ini, setega ini. Hans mengerti, sebab ia sendiri yang bekerja pada pria itu selama bertahun-tahun lalu berkhianat karena alasan yang dulu dianggap cukup lucu, cinta.


“Cukup.” Hans terengah, jika saja tidak mengingat harga dirinya sedang dipertaruhkan, ia akan bersimpuh meminta Jeon Jonas agar melepaskannya, atau setidaknya, membiarkan kedua kakinya berdiri secara sempurna.


Jeon Jonas berdiri, membuang asal rokok yang sudah terbakar hingga setengah. Sisa asap rokok ia hembuskan melalui mulut kemudian melangkah untuk berdiri di depan tubuh Hans yang rasanya hampir mati rasa. Pria itu, meski tubuhnya seakan remuk redam, masih bisa menatap Jeon Jonas dengan lurus, dengan tegas, dengan angkuh. Namun Jeon Jonas tahu, Hans hanya terlalu keras kepala untuk tidak menunjukkan selemah apa ia sekarang.


“Kau terlihat berantakan, Hans.” Senyum sinis bermain di bibir Jeon Jonas, mengejek Hans yang masih kesulitan untuk mengambil napas.


“Bukankah lucu? Seorang mayat yang dikirim dengan keadaan gosong bisa hidup kembali. Bahkan lucunya, mayat itu melamar seorang wanita. Wanitaku, Hans!” Gemeretak gigi Jeon Jonas terdengar kentara dan Hans tahu bahwa pria itu sedang menahan amarah.


Jeon Jonas menarik satu batang rokok, dinyalakan dengan cepat lalu mengisapnya dengan wajah terangkat menatap pria yang saat ini memalingkan wajah. Belasan anak buah Jeon Jonas, yang tadinya berteman baik dengan Hans, berdiri tinggi menjulang, menatap Hans dengan sorot mata berbeda, seolah mereka tidak pernah mengenal Hans, seolah mereka tidak pernah bertemu sebelumnya.


Jeon Jonas menarik sudut bibir, mengembus asap dari sana tepat ke wajah Hans yang akhirnya berpaling dari belasan pria berpakaian hitam yang hanya bergerak jika sang bos memerintah. “Apa saja yang sudah kau lakukan pada Melissa?”


Oh. Hans tersenyum samar, jadi siang terik seperti ini, Jeon Jonas datang hanya untuk mengetahui apa saja yang ia sudah lakukan dengan Melissa. Hans tidak dapat membayangkan semurka apa pria itu jika tahu bahwa sebenarnya, setiap wanita itu lengah, Hans akan menyempatkan diri mencium pipinya, hidungnya, keningnya. Dan Melissa hanya akan termangu saat Hans melakukannya, haruskah Hans memberitahu pria itu?


“Tanyakan saja padanya.”


Tidak mendapat jawaban yang serius, Jeon Jonas mengayunkan tangan pelan. Nevan, pria lebih muda di antara yang lain, segera maju dengan tongkat bisbol di tangan kanan. Tanpa menunggu, ayunan tongkat bisbol yang cepat dan keras mendarat kencang di perut Hans. Pria itu tidak mengaduh atau meringis, hanya refleks menekuk perut ke belakang.


“Apa saja yang sudah kau lakukan pada Melissa?” Sekali lagi, dengan lebih memberi penekanan, Jeon Jonas memberi pertanyaan yang sama.


“Aku menyentuhnya, sama seperti yang sudah kau lakukan.”


Jeon Jonas mengisap rokok dengan keras, api kecil di batang itu bergerak semakin cepat membakar hingga ke bawah. Batang hangus itu tercampak, Jeon Jonas memegangi tongkat bisbol dengan kedua tangan, memukuli tubuh Hans secara membabi-buta.


Sudah tidak cukup kuat untuk berpura-pura tegar, Hans mengerang dengan kasar. Darah yang keluar dari mulut dan hidung membuatnya terbatuk. Ben, yang masih memiliki sedikit rasa prihatin, menahan Jeon Jonas untuk tidak melakukannya lagi. Pria itu berteriak marah, melempar tongkat bisbol ke sudut ruangan.


🌷🌷


Ada panggilan telepon dari Sani. Melissa membersihkan telapak tangan dengan tisu, sementara Enna tetap melanjutkan proses memasak mereka dengan senyum senang. Setelah memberitahu Enna kalau Sani menelepon, wanita paruh baya itu meminta Melissa menghidupkan speaker ponsel. Penasaran dengan suara Sani, yang katanya cukup mirip dengannya.


“Hai.” Adalah sapaan pertama yang Melissa dengar dari Sani, suara wanita paruh baya itu tetap lembut, masih seperti yang sering Melissa dengar.


“Kau baik-baik saja? Kalian tidak pulang, aku khawatir,” sambung Sani. Suaranya kian sarat akan kecemasan.


Melissa menggigit bibir, bayangan tentang Hans yang belum ia temui sejak kemarin membuatnya gugup.


“Melissa?”


“Ya. Maaf membuatmu khawatir, aku dan Paman Hans sedang berada di suatu tempat.”


Sani mendesah lega. “Harusnya kalian menghubungiku, dasar!” Kekehennya terdengar seperti godaan. “Kalian melakukan sesuatu, ya?”


Enna dan Melissa saling berpandangan. “Maksudmu?”


“Kalian tidak pulang, itu artinya kalian sedang menyewa satu tempat untuk melakukan sesuatu, kan?”


Melissa menggeleng keras. “Tidak, bukan seperti itu.”


Sani tertawa keras. “Tidak apa. Aku juga pernah melakukannya. Ngomong-ngomong kapan kalian akan kembali?”


“Itu—aku belum tau.”


“Berencana sedikit lebih lama di sana? It’s okay, aku mengerti. Katakan pada Hans agar berhati-hati, kau belum terbiasa.”


Melissa meringis sementara Enna terkekeh pelan di sampingnya. “Aku tutup, ya.”


Tidak tahu apa yang lucu, tapi Enna masih tertawa sejak tadi sambil mengaduk adonan kue dengan mixer. Melissa meletakkan ponsel di atas meja lalu membantu wanita itu untuk menambahkan pewarna makanan.


“Sepertinya dia lucu,” celetuk Enna.


“Ya, Sani seperti itu.”


Enna menyudahi tawa, segera memasukkan adonan kue yang sudah jadi ke dalam oven. “Sudah waktunya makan siang. Aku akan menunggu ini matang.”


“Kita tidak pernah makan bersama, kan? Aku dan Sani sering makan di satu meja yang sama, kenapa kita tidak melakukannya juga?”


“Jeon Jonas tidak akan suka dengan idemu. Pelayan akan makan di ruangan pelayan, harus seperti itu.”


“Tapi Paman tidak di rumah.”


“Dia bisa muncul kapan saja seperti hantu.”


Melissa memutar bola matanya jengah, tapi ucapan Enna memang benar. Jeon Jonas tidak dapat ditebak, pria itu akan muncul kapan pun dan di mana pun sesukanya. Sambil menunggu kue mereka siap dihidangkan, Enna meminta Melissa duduk sementara dirinya sendiri akan menyusun beberapa makanan di atas meja. Mata Melissa berbinar saat melihat ayam saus kecap, pagi tadi ia tidak menyantap ini.


“Kapan ini dimasak?” tanyanya, menyendokkan tiga potong daging ayam ke atas piring.


“Mungkin—sekitar setengah jam yang lalu.”


Deru mesin mobil terdengar di depan rumah, Melissa tidak merasa terinterupsi, ia tetap menggigiti ayam saus kecap-nya dengan dua jari. Melihat Jeon Jonas masuk dengan tampilan berantakan, Enna sedikit menjauh, fokus pada mesin pemanggang kue.


Melissa terkesiap halus saat satu lembar tisu menyentuh sudut bibirnya, Jeon Jonas tersenyum tipis sambil mengusap saus yang menempel di ujung bibir wanita itu.


Melissa sibuk mengunyah, banyak daging masih terkumpul di dalam mulutnya. Jeon Jonas menyapa lalu tertawa kecil karena wanita itu kesulitan untuk menelan semua makanan yang disembunyikan hingga pipinya menggembung.


Satu kecupan singkat mendarat di pipi Melissa, wanita itu mendelik, masih marah pada Jeon Jonas. Tapi pria itu tidak merasa peduli, ia mengulangi kecupannya di pipi yang lain lantas menarik kursi untuk duduk di depan Melissa.


“Pelan-pelan, Pinky. Semuanya milikmu.”


Melissa sepertinya tidak berniat minum, sebab ketika daging-daging itu tertelan, ia mengambil satu paha ayam untuk digigit lagi. Ia menatap lurus Jeon Jonas yang memiliki sedikit bercak darah di ujung pakaiannya.


“Kenapa Paman berdarah?” tanya Melissa setelah akhirnya meneguk segelas air putih.


“Terluka?”


Pria itu mengangguk. “Tapi tidak apa-apa, aku sudah membersihkan lukanya.”


Melissa mengusap mulut dengan tisu, menaruhnya di atas piring lalu mendorong benda itu ke depan.


“Apa aku bisa bertemu dengan Paman Hans?”


Jeon Jonas tidak suka, rahangnya mengetat mengingat ucapan Hans sebelumnya. “Untuk apa?”


“Untuk memastikan kalau Paman Hans baik-baik saja.”


“Dia baik-baik saja.”


Melissa meremas jemari, kepalanya menunduk ke bawah, memperhatikan tangan sendiri. “Aku ingin menemui Paman Hans.”


“Aku sudah katakan padamu kalau dia baik-baik saja.” Suara pria itu terdengar menyeramkan, Melissa mengerjap gugup.


“Baiklah, kalau begitu aku harus keluar sebentar—”


“Ke mana? ke mana kau akan pergi?” Jeon Jonas terdengar frustrasi.


“Aku harus menemui temanku, aku juga harus membicarakan sesuatu dengan Sani.”


“Siapa lagi Sani?”


“Dia…” Melissa mengembuskan napas ketika mendapati tatapan tajam Jeon Jonas.


“Baik, kita menemui Hans.”


Melissa mengerjap, senyumnya merekah. “Paman serius?”


“Untuk terakhir kali.”


“Kenapa?”


“Aku tidak cukup bodoh untuk membuatmu melihatnya lagi, Melissa. Membuatnya tetap hidup seharusnya sudah menjadi keberuntungan. Jadi, jangan pernah berharap untuk melihatnya lagi.”


“Paman—Paman ingin melakukan sesuatu pada Paman Hans? Seperti—seperti melenyapkannya?”


Seharusnya seperti itu. Namun Melissa terlalu menyayangi Hans, dan dengan bertindak gegabah membunuh Hans akan membuat Melissa membencinya. Terkutuklah Hans yang sudah berhasil mempengaruhi wanita itu. Dan terkutuk juga dengan rasa ketidak berdayaannya dalam menghadapi Melissa.


“No. No, honey.” Jeon Jonas pindah duduk tepat di samping wanita itu.


“Aku tidak sejahat itu, aku membiarkan orang hidup ketika mereka memang pantas hidup.” Usapan lembut Melissa rasakan di bahunya.


“Paman Hans akan baik-baik saja?”


“Tentu. Tentu, sayang.” Jeon Jonas memeluknya dengan sayang, menciumi puncak kepalanya bertubi-tubi.


“Bau apa ini?” Melissa dan Jeon Jonas saling berhadapan, lalu melirik ke arah Enna yang berteriak karena kue yang dipanggang lupa dikeluarkan dari mesin pemanggang. Enna menggerutu, mengutuk diri sendiri karena terlalu lama mengintip kegiatan pasangan itu hingga melupakan pekerjaannya.


🌷🌷


Melissa tersenyum-senyum sembari bercermin, celana jeans, kemeja lengan panjang dan sepasang anting kecil telah selesai ia kenakan, sesekali akan tertawa mendengar celotehan Peter.


“Terus saja seperti itu, kau memang sudah melupakanku,” gerutu Peter.


“Bukan seperti itu, Peter.”


“Terserah. Padahal bukan salahku naskahmu ditolak.”


“Hei, jangan membahas itu.”


“Lalu kapan kau akan menemuiku? Aku ingin bersepeda lagi ke rumah pamanmu. Aku juga perlu meminta tanda tanganmu setelah kau dikenal banyak orang sebagai photographer.”


Melissa terkekeh kecil. “Besok. Besok aku juga akan menemui teman-temanku.”


“Okay. Jangan lupa membawa hadiah yang kau beli dari Korea.”


“Ya, Peter.”


Setelah mengakhiri panggilan, dan menyampirkan tas ke pundak, Melissa tertegun melihat pewangi yang sudah lama tidak ia kenakan selama ia tinggal dengan Hans. Melissa mengambilnya, masih baru, mungkin memang sengaja disediakan Jeon Jonas untuknya.


Begitu menyemprotkan pewangi itu ke pakaiannya, Melissa beranjak turun ke bawah, Jeon Jonas sudah menunggu di depan.


Pria itu tersenyum tipis, Melissa terlihat senang karena ingin menemui Hans. Mengenyahkan rasa panas di dadanya, Jeon Jonas membukakan pintu mobil, melindungi kepala Melissa saat wanita itu masuk ke dalam.


Jeon Jonas ikut masuk, membawa mobil sendiri menuju markas tempat Hans ditahan. Beberapa menit di perjalanan, dengan Jeon Jonas yang menyetir dengan cepat, mereka sampai di markas, markas berbeda yang memang baru mereka bangun setelah markas yang lama telah habis dibakar oleh kelompok Mattow.


Mereka turun, Melissa memegangi lengan Jeon Jonas ketika banyak pasang mata menatapinya lekat. Mereka menyapa Jeon Jonas dengan suara berat yang khas, cukup lantang dan berhasil membuat Melissa mengencangkan pegangannya pada tangan pria itu.


Jeon Jonas tidak menyapa kembali, sementara para pria itu tetap berdiri di sana mengawasi. Langkah mereka berderap melewati lorong, ada lebih banyak anak buah yang segera mengikuti mereka berjalan di belakang.


Sampai di sebuah pintu, Jeon Jonas mendorongnya pelan. Ruangan yang mereka masuki jauh lebih terang dan cukup lapang, ada beberapa sofa yang tersusun rapi, panah yang tergantung dan belasan alat tajam lalu ukiran-ukiran tangan yang besar. Melissa meneguk ludah saat melihat Ben berdiri tegap di depan sebuah pintu yang lain, dan Jeon Jonas malah membawanya ke sana.


“Bos!” Ben menundukkan kepala memberi hormat. Mendapat perintah dari Jeon Jonas, Ben segera membukakan pintu, sedikit menyingkir agar mereka bisa masuk.


Di sana, Hans duduk sendirian di sebuah kursi. Terlihat lebih bersih dan sedikit cerah meski masih ada bekas kemerahan samar di tubuhnya. Mata pria itu berbinar saat melihat Melissa. Secepat itu pula, Melissa melepas pegangannya dari Jeon Jonas, berlari pada pria itu.


Jeon Jonas merasa kosong. Matanya membelalak saat melihat Melissa memeluk Hans dengan erat. Satu pukulan menumbuk jantungnya, Jeon Jonas menekan dinding, mencoba meredam emosi.


“Paman..” Melissa mengusap wajah Hans yang mengusam, pria itu terlihat begitu rentan dan lemah.


Luka lain, Jeon Jonas dapatkan. Dadanya tercabik keras, tertusuk-tusuk hingga luka itu semakin hancur. Kekhawatiran Melissa, kasih sayang wanita itu terhadap pria lain, membuat Jeon Jonas sulit untuk bernapas. Dengan keinginannya untuk tidak meluapkan amarah, ia akhirnya pergi, tidak lagi cukup kuat untuk melihat semuanya.