
Vote please!
Jeon Jonas meringis, mengeluarkan peluru yang bersarang di lengan dan sudut dadanya dengan gerakan cepat. Ia ingin segera ke sana, melihat Melissa saat gadis itu tidak dapat melihatnya, saat malam semakin larut, saat semua orang telah tertidur. Sebab dengan keadaan seperti ini, dengan dirinya yang terluka dan penampilannya yang tidak baik-baik saja, Melissa akan menatapnya dengan kilatan mata penuh khawatir, gadis itu akan berpikir buruk, menduga-duga hal yang tidak seharusnya dan kemungkinan terburuknya, Melissa mungkin akan mengetahui seberapa buruknya Jeon Jonas sebenarnya.
Seorang gangster. Apa yang akan Melissa pikirkan jika semua itu terungkap?
Takut pada Jeon Jonas?
Membencinya?
Meninggalkannya?
“Bos..” Ben berusaha mencegah Jeon Jonas ketika pria itu hendak pergi tanpa menjahit lukanya, hanya mengikat luka-luka itu dengan potongan kain yang rusak.
“Saya akan menjahit luka itu, ijinkan saya.”
“Aku harus kembali.”
Pada akhirnya, Ben memang tidak dapat menahan pria itu agar berada di sana untuk waktu yang lama, sebab Ben tahu apa tujuannya, siapa yang ingin ia temui dan mengapa pria itu lebih memilih pergi daripada merawat dirinya sendiri. Itu Melissa, Ben tahu jawabannya adalah Melissa. Gadis itu terlalu berharga untuk Jeon Jonas, untuk dirinya juga, tapi Ben tahu gadis itu telah menitipkan hatinya hanya pada satu orang dan itu bukanlah dirinya.
“Bos!” Ben cepat-cepat berlari tatkala Jeon Jonas akan jatuh saat berjalan.
“Aku baik-baik saja.” Jeon Jonas memegangi kepalanya yang terasa pusing, mendorong Ben agar tidak terlalu mengkhawatirkannya. Anak buah yang lain, yang berniat mengawal Jeon Jonas sampai tujuan melangkah mundur, mereka tahu Jeon Jonas sedang tidak ingin diganggu.
Jeon Jonas membawa mobilnya membelah jalanan, satu tangannya menekan luka yang masih mengeluarkan darah. “Sialan.” Jeon Jonas mengencangkan kain itu untuk menekan lukanya, tapi percuma, darahnya sudah merembes terlalu banyak.
Ketika hujan datang, mengaburkan kaca mobil, Jeon Jonas menabrak pohon. Beruntung ia memakai seatbelt dan luka ditubuhnya tidak bertambah. Jeon Jonas membawa mobilnya mundur, menekan pedal gas lagi untuk membelah jalanan yang basah.
Ia mendesah saat pikirannya mengingat sesuatu dari suara petir, Melissa takut pada hujan disertai petir, gadis itu sedang tidak baik-baik saja sekarang, Melissa membutuhkannya. Jadi, saat sampai di kediamannya yang sunyi. Pria itu terburu-buru memasuki kamar gadis itu, membukanya pelan-pelan seperti seorang pencuri. Dan di sanalah gadis itu, meringkuk, memanggilnya dalam keadaan berpeluh dan ketakutan.
“Paman..”
Jeon Jonas tidak bisa menahan diri untuk mendekat, ia mengecup kedua mata bergetar itu dengan lembut, berpindah ke bibir gadis itu ketika menyebutkan ayah dan ibunya yang pastinya tidak akan pernah datang untuk membantunya saat kesulitan.
“Aku di sini.” Jeon Jonas menggenggam tangan itu erat, mengusapnya dengan ibu jari.
“It’s okay..it’s okay..” Jeon Jonas berbisik, mengusap rambut yang basah karena peluh itu dengan sayang.
“Kau membenci hujan bukan? Aku juga.”
Sebab hujan membuatmu selalu merasa tidak nyaman, hujan membuatmu merasakan rasa sakit, hujan membuatmu menangis.
“Paman..”
Bodohnya, saat mata itu mulai terbuka, Jeon Jonas menjadi panik.
“Aku rindu Paman.” Tangis gadis itu pecah, Jeon Jonas yang sebelumnya ingin mundur menjadi bergeming ketika Melissa menggenggam tangannya erat, tidak ingin itu lepas. Mendapati mata gadis itu penuh keresahan, ia mendekat tanpa bersuara, mendekapnya dengan hangat, menciumnya dengan lembut dan gadis itu perlahan-lahan merasa nyaman.
***
Melissa Kyle. Dari jutaan perempuan yang bisa Jeon Jonas dapatkan dengan mudah, pria itu dikejutkan dengan sosok lugu dan manis itu. Di Las Vegas, Jeon Jonas bahkan tidak pernah membayangkan bahwa gadis seperti Melissa, yang hanya mempunyai tatapan mata nyaris redup, sendirian, kesepian dan tidak mempunyai teman, bisa berbaur dengan lingkungan seperti Las Vegas. Rupanya, Melissa mempunyai hal lain dari semua hal tidak berharga itu, gadis itu menyimpan keteguhan setiap ia melakukan sesuatu. Jeon Jonas ingat pertama kali gadis itu menentang ucapannya saat melarangnya untuk bekerja pada Brian. Gadis itu lebih suka kemandiriannya, dan Jeon Jonas selalu mengingat itu menjadi perbedaan antara Melissa dengan jutaan wanita lain yang pastinya akan senang hati tidak bekerja, menghamburkan uang dan melakukan apa saja sesukanya.
Setelah semua itu, Jeon Jonas pada akhirnya tidak mempercayai perubahannya dengan tidak menyentuh wanita lain, menunggu gadis itu hingga dewasa. Apa yang Jeon Jonas pikirkan? Sebesar itu perubahan yang ia dapat setelah mengenal Melissa. Gadis itu bahkan tidak menyuruhnya melakukan itu, tidak pernah sekalipun.
Dan Jeon Jonas biasanya juga tidak ingin peduli, tapi ini gila. Jeon Jonas mengubah dirinya sendiri. Demi gadis itu, agar gadis itu memandangnya jauh lebih baik, agar gadis itu melihatnya tanpa melihat pria lain.
Dan pada malam ini, setelah malam sebelumnya, Jeon Jonas datang kembali. Mengintip Melissa dari daun pintu yang sedikit terbuka, mengamati bagaimana gadis itu meremukkan banyak kertas dengan kesedihan yang sama, gadis itu menangis seperti malam yang sudah-sudah, semuanya terjadi setelah Jeon Jonas pergi, dan pria itu telah mengutuk dirinya sendiri.
Jeon Jonas menyentuh lukanya yang dianggurkan, memilih masuk ke kamarnya untuk mengobati diri sendiri. Di sana gelap, seperti bertemu dirinya sendiri, yang sama-sama gelap, tidak setelah Melissa mungkin telah menyimpan rasa benci padanya.
Langkahnya terhenti pada ujung ranjang, memilih menganggurkan lukanya lebih lama lagi, luka karena melihat gadis itu menangis karenanya lebih menyakitkan dibanding luka-luka lain.
Lama Jeon Jonas melamun, membayangkan betapa bejatnya dirinya. Sampai akhirnya daun pintu kamarnya terbuka. Jeon Jonas nyaris sulit bernapas ketika gadis itu muncul dengan balutan gaun tidurnya yang tipis. Ia menyudutkan diri, berharap dirinya menjadi bunglon agar bisa berubah menjadi berwarna hitam pekat dan ia akan menyamar menjadi dinding. Sialnya, gadis itu malah mendekat, membawa tangannya meraba-raba ranjang tempatnya duduk, tenggorokan Jeon Jonas mendadak kering dan ia tercekat, ada gumpalan besar di sana dan ia menjadi sulit bernapas.
Gadis itu berhasil menyentuh jemarinya, menyentuh dadanya, menyentuh bahunya, dan ketika tangan gadis itu mengusap pelan lehernya, Jeon Jonas tidak bisa menahan diri, ia menangkup rahang Melissa begitu lembut, menjelajah pipinya seperti yang sudah-sudah. Dan ketika menemukan gelas di tangan gadis itu, Jeon Jonas tahu apa yang harus ia lakukan. Ia meraup bibir gadis itu dengan gerakan yang berantakan, menyalurkan sesuatu dalam dirinya dan gadis itu menerimanya tanpa penolakan. Jeon Jonas memberi banyak, tidak apa-apa jika setelah ini ia akan dehidrasi, gadis itu lebih membutuhkannya untuk sekarang.
“Kenapa Paman pergi?” Jeon Jonas terkejut ketika isakan itu keluar, bertanya-tanya pada dirinya sendiri apa yang salah, apa lidahnya terlalu liar? Apa cairan itu tidak cukup atau justru ia telah menyakiti gadis itu tanpa ia ketahui?
Jeon Jonas tidak sanggup mendengarnya. Oleh karena itu ia mencium bibir itu lagi, membungkam gadis itu agar setidaknya jangan sampai menangis atau ia akan gila. Mereka melakukannya cukup lama, Jeon Jonas bahkan tidak sadar bahwa ia telah menindih gadis itu dengan posisi yang intim. Dan hei! Tangannya bahkan telah berada di dalam gaun tidur gadis itu, sejak kapan?
Jeon Jonas mengumpati diri sendiri, apalagi saat melihat Melissa justru menginginkan lebih. Tidak, Jeon Jonas tidak ingin lebih gila dengan merusak masa depan gadis itu, meski tahu gadis itu sedang menginginkannya, meski tahu gadis itu sedang setuju untuk menyerahkan dirinya.
“No, Pinky. I know you really want me, but I don’t want to ruin you.”
Jeon Jonas cepat-cepat bangkit dan menguasai dirinya sendiri. Ia tidak boleh gegabah hanya karena ia punya kesempatan. Jadi, gadis itu ia tinggalkan sendirian, tidak ingin kembali ke kamar itu lagi atau ia akan melakukannya seperti orang tidak waras.
Saat keluar dari kamar itu, Jeon Jonas menyipitkan mata tatkala menemukan sebuah bayangan di lantai bawah, bersembunyi juga seperti yang ia lakukan sebelumnya. Ia akhirnya melangkah pelan-pelan melalui undakan tangga, berharap pengecut itu tidak tahu, tapi Jeon Jonas sedang sial. Ponselnya berbunyi saat itu juga, telepon dari Ben.
“Bos! Bernard! Ber-mereka-mereka menyerang!”
“Bere**sek!” Jeon Jonas berlari, dan saat menoleh bayangan itu sudah tidak ada. Ia terburu-buru masuk ke dalam mobil, membawanya dengan kecepatan maksimal seperti orang kesurupan. Sembari memegang setir, ia mengelurkan senapan dari balik dashboard. Mengintip isinya dan menaruhnya di tangan kanan.
Matanya membelalak saat menemukan markas utama telah terbakar, ia turun dari dalam mobil seraya menembaki punggung sang musuh. Pelurunya habis setelah beberapa nyawa berhasil tumbang, senapan panjang dari anak buah Bernard ia ambil, membidik lawan lalu menembaki semuanya dengan gerakan cepat. Ia melompat tatkala meja yang ia jadikan sebagai perlindungan tertembak dan telah memiliki banyak lubang.
“JEON JONAS!!” Suara Bernard. Jeon Jonas sangat mengenalinya.
Oleh karena itu Jeon Jonas melempar senapannya yang telah kosong, menarik pedang yang masih dipegang oleh anak buahnya yang telah mati dan melawan Bernard seraya berlari. Bernard menangkis dengan baik, dua pedang di tangannya ia gunakan untuk menahan pedang milik Jeon Jonas.
“MATI!!” Jeon Jonas berteriak, menghentakkan pedang miliknya menebas kepala Bernard, dan itu tidak berhasil. Bernard tersenyum miring, kemudian melompat tatkala Jeon Jonas sudah menyerangnya lagi.
Pria itu menyeringai ketika Bernard mendapatkan luka di garis perutnya. Tapi itu tidak cukup, ia mengayunkan pedangnya dengan gerakan lincah, melompat dan melompat, sementara Bernard meringis ketika perutnya tertekuk tanpa sengaja.
Darr.
Jeon Jonas melihat kakinya yang berhasil ditembak, ia berbalik, menemukan Thomas masih mengarahkan.
Darr.
Jeon Jonas ditembak lagi, ia tidak punya waktu untuk mengelak sebab Bernard telah menusuk perutnya sangat dalam. Dua serangan sekaligus, Jeon Jonas terbatuk karena darahnya sendiri.
“MATI KAU BAJ*NGAN!” Ben datang dengan dua senapan panjang di kedua tangannya, menembak Thomas membabi buta hingga tewas dan kehilangan Bernard yang berhasil berlari seraya menembaki yang lain.
“Bos!”
“Bunuh baj*ngan itu untukku!” Langkah Ben yang hendak membantu Jeon Jonas berhenti seketika, ia meminta maaf sebelum pergi mencari Bernard.
Jeon Jonas menyeret dirinya di lantai yang dingin, ingin menggapai pintu yang belum sempat dilahap api, tapi tangan itu terlalu lemah untuk terangkat, ia kehabisan banyak darah.
“Bos!” Anak buahnya yang lain cepat-cepat menggendongnya ke luar, saat sesuatu yang dingin menerpa kulitnya, Jeon Jonas memberontak. Hujan. Ia harus ke sana, menemui gadis itu seperti biasanya.
“Bos! Bos harus dirawat!” Baru kali ini anak buah Jeon Jonas menyergah, sebab situasinya sedang darurat, dan pria itu malah memikirkan seorang perempuan.
“Cepat!” Para pria itu mengangkat Jeon Jonas ke dalam mobil, mengemudikannya ugal-ugalan lalu membawanya ke rumah sakit.
“Bos!” Semua yang ada di dalam mobil panik ketika Jeon Jonas terbatuk lagi, banyak darah yang ia keluarkan. Keributan antara percakapan akhirnya terjadi, orang-orang di dalam mobil berteriak agar teman mereka yang menjadi supir lebih cepat, berteriak lagi untuk memberi pertolongan pertama untuk bosnya dan banyak teriakan kepanikah saat Jeon Jonas akhirnya tidak sadar diri.
Jeon Jonas segera digendong tatkala mobil itu sampai di rumah sakit terdekat, para pengunjung terkejut dan memisahkan diri saat melihat belasan pria itu datang dengan penampilan berantakan, berdarah-darah dan memanggil perawat dengan suara menggema. Sama seperti waktu itu, anak buah Jeon Jonas memang tidak pernah memedulikan orang lain.
Brankar kosong ditarik paksa untuk membaringkan tubuh Jeon Jonas di sana, perawat perempuan yang baru saja kembali dari toilet ditarik dan diteriaki agar membantu Jeon Jonas secepatnya. Karena keributan yang berakhir mengganggu kenyaman pasien rumah sakit, beberapa dokter datang, memberi nasehat yang tidak digubris sama sekali hingga berakhir dengan seretan anak buah Jeon Jonas agar membawa bosnya ke UGD.
“Baik, baik. Akan kami selesaikan. Tolong jangan buat keributan, ini rumah sakit.”
“DIAM KAU! LAKUKAN TUGASMU!”
***
Akhir pekan, Melissa baru saja menyelesaikan percakapannya dengan Ava yang menceritakan Lucas, menyatakan perasaannya dan mereka resmi berpacaran sejak semalam. Melissa memberi selamat disertai kekehan geli, ia tahu mereka memang akan berakhir demikian. Percakapan mereka berakhir saat Ava mengatakan bahwa kabar ini harus diberitahukan juga pada Maggie, entah bagaimana respon gadis itu nanti, tapi Ava harus memberitahunya juga.
“Hai..” Melissa terkejut saat mendegar suara seorang pria di pintu. Ada Hans di sana.
“Boleh aku masuk?” Melissa mendadak membeku saat melihat luka di wajah pria itu.
“Apa yang terjadi?” Hans tersenyum tipis lalu masuk meski belum mendapat sahutan untuk itu.
“Orang jahat memukuliku, ada luka juga di perutku, di dada, di banyak tempat. Ingin melihatnya?” Melissa bergeming, wajahnya merona.
“Luka itu harus diobati.”
“Ya, aku tidak bisa melakukannya sendiri. Tolong bantu aku.”
“Baik, akan aku lakukan.”
Saat Melissa akan mencari kotak obat, Hans mencegahnya. Pria itu ternyata sudah menyiapkannya sebelum datang. Hans memberikan kotak obatnya, membiarkan Melissa membersihkan luka di lengan dan rahangnya. Selesai di sana, ia membuka baju, membuat Melissa terkejut dan mundur.
“Paman..”
“Aku punya luka di perut.”
Hans tersenyum tatkala Melissa menyentuh perutnya yang terluka, membersihkan lukanya lalu menempelkan perban.
“Kenapa Paman punya luka sebanyak itu?”
“Aku punya banyak musuh.”
“Paman Jeon juga?”
“Maksudmu?” Jangan menyebut pria lain, Melissa.
“Paman Jeon pernah bilang kalau banyak orang yang ingin mencelakainya.”
“Oh.”
“Paman tau Paman Jeon di mana?”
“Tidak.” Aku tidak ingin tau.
“Aku hanya ingin bilang kalau hari senin aku akan mengikuti ujian kelulusan.”
“Oh ya? Kau pasti bisa melakukannya.”
Melissa tersenyum tipis, akan lebih menyenangkan jika kata-kata itu keluar dari mulut Jeon Jonas.
“Melissa..”
“Ya, Paman?”
“Apa kau menyukai Jeon Jonas?”
“Kenapa Paman menanyakan itu?”
Hans tidak menjawab, jadi Melissa menyahutinya dengan kata “Ya.”
“Bagaimana denganku? Kau tidak menyukaiku?”
“Aku suka Paman.”
“Mencintaiku juga?”
Melissa mengerjap-erjap. Bingung.
“Aku bercanda, jangan terlalu dipikirkan. Terimakasih sudah membantuku.”
***
Ujian kelulusan sudah diadakan sejak tiga hari yang lalu, semuanya sudah berakhir. Tidak ada lagi hukuman dari guru karena terlambat, tidak ada lagi ocehan ketua kelas agar tidak membuat keributan di dalam kelas. Semuanya akhirnya selesai. Semua murid kelas tiga akhirnya akan memilih antara melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi atau mengakhirinya sampai di sini.
“Aku melihat Maggie menangis tadi,” kekeh Ava yang sedang memegang satu buket bunga mawar, pemberian Lucas.
“Aku terlalu meresapi kata-kata kepala sekolah. Tiba-tiba aku tidak ingin selesai secepat ini, aku yakin akan merindukan sekolah.” Maggie mengusap hidungnya yang masih memerah karena menangis.
“Kecuali pelajarannya kan?” sambung Lucas, membuat Maggie dan lainnya tertawa.
“Kita harus berfoto, aku membawa kamera,” celetuk Bobby.
“Oh, tentu. Kita harus menyuruh orang,” ucap Ava.
Lucas memanggil salah satu murid yang sedang berbincang dengan dua temannya, meminta gadis itu memotret mereka.
“Terimakasih.”
“Itu, bisa tolong foto kami juga?” tanya gadis itu. Melissa menyahut, memotret mereka sebanyak tiga kali.
“Wah, bagus. Terimakasih.” Melissa terkekeh.
Bobby mendekat, melihat hasil foto Melissa. Tersenyum pada akhirnya.
“Aku akan mengirim foto ini segera, hasilnya memang bagus,” ujar Bobby pada gadis itu.
“Terimakasih.”
Tiba-tiba Jeongin datang, memberi Melissa dua buket bunga sekaligus.
“Aku tidak punya teman yang bisa kuberikan,” kekeh Jeongin.
“Selamat untuk kelulusanmu,” tutur Maggie, merangkul Melissa.
“Maaf, aku tidak punya bunga lagi,” celetuk Jeongin. Maggie tersenyum lebar.
“Ingin memberikan bunga untukku? Nanti saja. Kita harus bertemu nanti.” Jeongin menggaruk tengkuk lalu mengangguk.
Melissa mengedarkan penglihatannya ke sekitar, banyak keluarga yang datang untuk mengucapkan selamat, dan Melissa masih berharap Jeon Jonas ada di sana, menatapnya dengan bangga, mengucapkan selamat, dan membawanya berkeliling. Tapi itu hanya sebatas khayal, sebab sudah berapa lama ia menunggu, pria itu tidak pernah datang.
“Hei, gadis kecil.” Seseorang memukul pelan kepala Melissa dengan buket bunga. Rosie di sana, menyengir lebar.
“Rosie!” Melissa memeluk wanita itu dengan erat, rasanya sangat lama Rosie menghilang.
“Kenapa baru datang sekarang?”
“Jika kelulusanmu diadakan setiap hari, aku akan muncul setiap hari.” Melissa terkekeh.
“Terimakasih sudah datang.”
“Aku tentu harus datang. Ah, sebenarnya Jenny ingin datang juga, tapi dia kesulitan karena perutnya membesar."
“Jenny hamil?”
“Ya, dihamili bosnya di tempatnya bekerja, mereka bahkan belum menikah astaga, jangan menirunya gadis kecil, tidak baik.”
Melissa terkekeh lagi. Mengapa Rosie periang harus muncul hari ini, kenapa tidak dari hari kemarin? Saat ia membutuhkan seseorang untuk mengembalikan mood-nya.
“Maaf, aku hanya sebentar. Jenny membutuhkanku selama ini, itu sebabnya aku jarang menemuimu.”
“Tidak apa-apa.”
“Lihat di sana.” Rosie menunjuk pria yang baru saja keluar dari dalam mobil, membawa buket bunga yang lebih besar.
“Paman Hans!”
“Hai cantik, selamat.” Hans memeluk gadis itu erat.
“Aku titip dia Hans, aku harus menemui temanku,” bisik Rosie.
“Aku pergi Sweetie,” pamit Rosie.
Hans menatap Melissa dengan senyuman mengembang, apalagi ketika gadis itu cukup keulitan untuk menerima bunga dari tangannya.
“Oke, aku akan memegangnya untukmu.” Hans tertawa, mengusap kepala Melissa dengan lembut.
“Ya Tuhan, ya Tuhan, pria tampan itu!” seru Ava saat melihat Hans. Lucas yang berada di sana segera memberi jitakan di dahi gadis itu.
“Ayo pulang, aku ingin memberi kejutan untukmu,” bisik Hans.
“Aku pamit dulu pada mereka.” Melissa mendekati Ava yang sedang bertengkar kecil dengan Lucas, pamit pada mereka, pamit juga pada Maggie dan Jeongin yang sedang bicara berdua.
Setelah pamit, Melissa pulang dengan Hans. Sesampainya di kediaman Jeon Jonas, Melissa segera dipeluk oleh Enna. Wanita paruh baya itu terharu karena Melissa akhirnya lulus.
“Ya Tuhan, maaf aku menangis. Berlebihan kan?” Enna mengusap air matanya.
Melissa tertawa kecil lantas memeluk Enna dengan sayang.
“Tidak berlebihan.”
“Aku hanya membuat puding kesukaanmu sebagai hadiah.”
“Terimakasih, itu cukup, sangat cukup.”
Saat mendapat sentuhan di tangannya, Melissa menoleh, mendapati Jeon Jonas tengah menunjuk ruang tamu, membawanya ke sana. Melissa mengerjap-erjap, dan itu adalah Hans bukan Jeon Jonas.
“Tara..” Hans berdiri di depan meja, ada bingkisan merah jambu di sana.
“Ayo buka.” Melissa tersenyum tipis, ketika bingkisan itu terbuka. Melissa menemukan satu gaun, warna kesukaannya.
“Terimakasih Paman Hans.”
Hanya itu. Harusnya Melissa melakukan sesuatu, seperti tertawa lebar, terkejut, atau mungkin tiba-tiba memeluk pria itu karena terharu. Tapi, hanya kata terimakasih yang keluar dari mulutnya, tidak ada kata yang lain.
“Sebenarnya, aku ingin pergi, nanti malam.” Melissa mendongak, menatap Hans lurus.
“Kenapa Paman harus pergi?”
“Aku harus mencari pekerjaan.”
Melissa tersenyum tipis. Ia sadar dunia seperti roda yang berputar-putar, dan akibatnya roda itu mengembalikannya pada kehidupannya yang dahulu, sendirian.
Semua orang akan pergi, pada akhirnya akan seperti itu. Melissa tidak bisa menarik semua orang untuk tetap tinggal atau menahan waktu agar berhenti, itu mustahil. Jadi meski itu akan terjadi, Melissa hanya bisa tegar, karena ia pernah kesepian, lebih daripada ini, dan rasanya tidak sama.
Malam telah datang, Melissa berada di kamar itu, kamar Jeon Jonas yang perlahan kehilangan aromanya, kamar itu sudah berubah hampa, aroma tajam milik Jeon Jonas telah tertarik pelan-pelan, hilang bersama perginya angin. Tidak ada yang tersisa untuk ia hirup lalu ia kumpulkan di hidungnya, untuk ia hirup terus-menerus, sudah tidak ada. Melissa berpindah ke lemari, baju Jeon Jonas yang besar. Melissa memakainya, memakai baju tanpa aroma. Lalu ia lepaskan hanya untuk memakai yang lain, ia lepaskan lagi, terus-menerus seperti itu hingga ia terduduk, merasa dirinya menjadi *****.
Saat suara deru mobil terdengar, Melissa cepat-cepat berlari ke luar. Menemukan Hans sudah akan pergi. Melissa mencegahnya dengan merentangkan tangan.
“Bawa aku! Bawa aku juga!”
***
“Ya, ganti itu. Kami akan sampai di sana. Warna pink.” Hans menjejalkan ponselnya ke dalam saku. Gadis di sampingnya masih terdiam sejak tadi, sejak berteriak di depan mobilnya sambil menangis, memohon agar dibawa ikut pergi.Saat gadis itu memalingkan muka, Hans mengurungkan niat untuk mengajak bicara. Gadis itu sedang membutuhkan waktu sendiri.
Hans tinggal di sebuah penthouse, yang ia beli dari hasil kerjanya menjadi tangan kanan Jeon Jonas. Menjadi anak buah Jeon Jonas memang menguntungkan, pria itu selalu memberi bonus pada anak buahnya, disetiap kerja yang lebih baik, setiap kabar baik dan setiap hal yang berdampak besar pada penghasilan kelompok. Melissa melongo saat Hans membawanya ke dalam, betapa besar ruangan itu, betapa mewah furniture di dalam dan semua hal yang ada di sana. Melissa lupa jika rumah yang ia tempati sebelumnya bahkan jauh lebih bear dari penthouse Hans.
“Selamat datang.” Seorang wanita muncul, Melissa tebak, wanita itu pasti sebaya Enna.
“Sudah kau lakukan yang aku katakan Sani?”
“Oh tentu Hans, sudah beres.” Melissa menatap Sani dengan lekat. Wanita itu bicara informal dengan Hans, atau mungkin Sani bukan pelayan?
“Aku tunjukkan kamarmu.” Melissa berjalan mengikuti Hans menaiki undakan tangga. Pria itu tersenyum saat akan membuka kamar yang akan Melissa pakai.
“Masuk.” Hans membiarkan Melissa masuk lebih dahulu, saat gadis itu sudah berada di dalam, Hans menyalakan lampu. Melissa terpaku pada tempat tidur yang didominasi dengan warna merah muda. Nyaris sama seperti tempat tidurnya di kediaman Jeon Jonas, bedanya kamar ini memiliki dinding berwarna putih, benda-benda yang lain juga begitu, kamar yang ia tempati dulu seluruhnya didominasi warna pink.
“Maaf, kepindahanmu ke sini mendadak. Jadi aku hanya bisa menyuruh Sani untuk mengubah tempat tidurnya, dinding dan perlatan lain akan kita ganti besok, oke?”
“Terimakasih Paman, tapi begini saja.”
“Tapi kau suka warna pink.” Melissa menggeleng.
“Tidak apa, ini sangat cantik.”
Two years later
Jeon Jonas masih segila setahun yang lalu, saat menemukan Melissa telah pergi, menghilang tanpa ada yang tahu. Pria itu mengusap wajahnya, berhenti di rahangnya yang ditumbuhi bulu tipis. Ia menatap anak buahnya yang berlutut meminta maaf, karena kabar buruk yang sama, belum menemukan Melissa.
“Setiap hari! Setiap hari kabar yang aku dapatkan selalu seperti ini!”
“Kami sudah mencari di seluruh tempat Bos.”
Jeon Jonas menatap Enna yang duduk di dapur, ketidakberadaan Melissa nyaris membuat wanita paruh baya itu dikembalikan ke Florida, tapi Jeon Jonas menyuruh wanita itu tetap di sana, memasak seperti biasa, karena Melissa pasti akan kembali, gadis itu akan datang.
“Pergi ke dapur, wanita itu sudah memasak, habiskan semua makanan yang dia masak, aku tidak mau itu selalu terbuang.”
“Baik Bos.”
Jeon Jonas naik ke lantai atas, masuk ke kamar yang selalui ia intip dulu, kamar tempat gadisnya tidur, melamun, dan….menangis.
Tidak ada yang berubah di sana, masih sama sebagaimana gadis itu meninggalkannya, seprai yang sedikit berantakan, boneka simba, tempat sampah yang dipenuhi kertas.
Masih tanda tanya besar mengapa Melissa menghilang, dan kemungkinan terburuk yang tidak ingin Jeon Jonas pikirkan adalah diculik, tapi itu nyaris mustahil sebab banyak yang berjaga di kediamannya, letaknya yang jauh dari jalan besar juga semakin menampik semua itu.
Jeon Jonas menatap kertas-kertas itu, ia bahkan masih mengingat bagaimana gadis itu meremukkannya dengan keras, seolah itu adalah hal paling ia benci. Ia beranjak, berlutut di depan tempat sampah, berniat untuk merapikannya lalu ditaruh di nakas, tapi..
Jeon Jonas melihat namanya di sana. Banyak tulisan Jeon Jonas, banyak Jeon Jonas yang dituliskan di setiap paragraph. Ia membuka gulungan rusak itu, membacanya cepat dan begitu teliti.
**Jeon Jonas, dia jauh lebih indah dari yang aku bayangkan. Mustahil bisa mendeskripsikannya dengan kata-kata, sebab dia terlalu mengagumkan. Aku melihatnya malam itu, merekamnya baik-baik bagaimana dia selalu berusaha menjadi seseorang yang berbeda, sebab Jeon Jonas bukanlah orang yang bisa aku prediksi, dia terlalu sulit dibaca, seperti buku yang disegel, dibalut dengan rantai, dikunci dan ditaruh di rak paling atas, sulit untuk menggapainya.
Tapi aku mencintainya, terlalu mencintainya, itu sebabnya aku selalu ingin mencari tahu apa yang dia sembunyikan dan aku tidak pernah berhasil. Aku selalu bertanya, mengapa Jeon Jonas rela memungut orang asing, hanya karena dia pernah dekat dengan keluargaku, hanya karena bantuan itu, mengapa sosok seperti Jeon Jonas bahkan peduli untuk merawatku, saat dia bisa menyuruh orang lain untuk itu.
Dan pertanyaan-pertanyaan itu menjadi tidak lebih penting ketika dia menerima perasaanku, kami menjadi sepasang kekasih yang cukup aneh, Jeon Jonas yang lebih tua dan aku dengan sifat kekanak-kanakanku. Jika dia ingin tahu, aku akan mengatakan kalau aku selalu ingin menjadi gadis yang lebih baik, yang lebih indah dari gadis-gadis yang mungkin pernah dia kencani, aku akan melakukan apapun, asal selalu bersamanya, selalu di sisinya**.
“I need you here, I wanna hug you so tight..”
Jeon Jonas memeluk kertas itu, seolah orang yang berhasil mengisinya dengan tinta berada di sana, membayangkan gadis itu di sana, bersamanya.
“Bos!” Jeon Jonas merasa ia tidak harus peduli dengan teriakan di balik pintu.
“Bos, Melissa!” Tapi ia telah bangkit dengan kertas masih di kepalangan tangan, pintu segera dibuka.
“Dia ada di TV, sekarang.”
Jeon Jonas berlari, mengikuti Ben yang turun ke lantai bawah, saat suara gadis itu menyapa telinganya, Jeon Jonas dipaku langkahnya sendiri, ia melihat gadis itu, dengan balutan gaun berwarna abu muda, tersenyum pada presenter yang bertanya padanya, mengenai foto-foto yang diperlihatkan di layar besar dan Melissa menjelaskan bahwa ia telah menjadi photographer selama satu tahun.
***
Korea Selatan. Jeon Jonas berangkat ke Negara itu dengan helikopternya. Acara TV Korea yang menampilkan Melissa telah berakhir sejak satu jam yang lalu, dan ia tidak menunggu untuk menyuruh orang untuk mengantarnya ke sana. Dan di sinilah ia sekarang, di gedung tempat gadisnya menginjakkan kaki, berbaur dengan orang lain dan melakukan sesuatu yang sangat Jeon Jonas ingin tahui.
Jeon Jonas menatap tajam setiap sudut, berharap matanya menemukan gadis itu sekarang juga. Beberapa orang baru saja keluar dari lift, Jeon Jonas ingat wanita itu, presenter yang mewawancarai Melissa beberapa jam yang lalu, wanita itu terkejut ketika Jeon Jonas mencegahnya untuk pergi.
“Nuguseyo? [Anda siapa?]
“Melissa, Melissa Kyle. I have to meet her, now.” Jeon Jonas tidak memerlukan intonasi tinggi untuk memerintah wanita itu dengan kalimatnya, sebab wanita itu telah menunjuk angka di lift, memberitahu tempatnya dan Jeon Jonas segera ke sana.
Dua tahun, wajah Melissa selalu menjelma menjadi angin, menjadi udara, menjadi apa saja yang membuat Jeon Jonas tidak bisa melupakannya. Jadi, saat akhirnya mata hitam itu menemukan gadis yang ia rindukan, Jeon Jonas segera menariknya kuat, mendekapnya dengan letupan dada yang terbakar. Jeon Jonas tidak pernah lebih gila daripada ini.