
Vote sebelum membaca😻
Jeon Jonas tidak tahu sehancur apa dirinya sekarang. Menghadapi kepolosan Melissa dan sifat keras kepalanya adalah hal yang sukar. Entah bagaimana, kali ini saja, ia ingin Melissa seperti wanita lain, mungkin dengan itu semuanya akan lebih mudah daripada ini.
Malam ini Jeon Jonas melakukannya lagi, mengintip seperti seorang pengecut. Bahkan memastikan semua orang telah tidur.
Ketika pintu putih itu terbuka, Jeon Jonas mendapati dirinya berdebar. Melissa ada di sana. Kamar yang selama ini hanya dipenuhi aroma manis memudar, yang Jeon Jonas selalu datangi ketika ia mendadak akan runtuh setelah kabar buruk berturut-turut tentang pencarian mereka.
Jeon Jonas terpaku di sana, kini ia akan lebih sering melihat tempat tidur itu terisi. Kini, ia akan lebih sering menemukan dirinya penuh oleh aroma yang perlahan kental, ketika dulu ia hanya bisa membayangkan, membayangkan Melissa yang melakukan kegiatan. Ketika ia masih bisa melihat wanita itu lekat-lekat tapi memilih menutup diri dengan alasan tidak masuk akal.
Langkahnya kemudian lebih maju ke dalam. Ada tas Melissa di atas sofa, dulu itu dibiarkan kotor, dibiarkan berdebu. Bahkan lagi, ia membentak Enna untuk pertama kalinya karena berusaha membersihkan itu dengan penghisap debu. Rasanya, Jeon Jonas ingin di sini dulu untuk beberapa hari, tidak akan hanya ada aroma Melissa di sana, tapi juga aroma dirinya. Perpaduan itu akan sempurna, tanpa sadar Jeon Jonas tersenyum. Tanpa sadar pula, hanya ia yang melakukan itu di tengah malam.
Deritan ranjang ketika ia duduk membuat Melissa mengeratkan dekapannya pada sebuah guling yang dengan sedikit nakal Jeon Jonas tarik agar wanita itu terganggu. Melissa mengerang kecil, Jeon Jonas senang mendengarnya. Karena itu, ia memberi sebuah kecupan singkat pada bibir wanita itu.
Banyak hal yang sangat ingin Jeon Jonas sebutkan satu-persatu. Tumpukan boneka simba itu kini sudah memenuhi rengkuhan Melissa yang mungil. Jeon Jonas membaringkan tubuhnya setelah menyingkirkan kumpulan benda kecil itu tanpa menarik satu-satunya yang terhimpit di dada Melissa, tidak mau membuat wanita itu kesal dalam tidurnya.
Bagaimana Jeon Jonas harus menjelaskan? Di antara semua kegelapan yang melingkupi hidupnya yang kotor, mengapa Tuhan harus menyelipkan wanita semurni Melissa? Mengapa wanita sepolos lembaran putih itu yang harus mengisi hatinya yang terkunci?
Bahkan, meski ternyata ini hukuman untuknya, Jeon Jonas berterima kasih karena hukuman itu secantik Melissa, selucu wanita itu.
Sikap keras kepalanya, itu mungkin cobaan paling berat yang telah ditakdirkan untuknya. Tapi bagaimana wanita itu menunjukkan semuanya, Jeon Jonas malah suka, malah berakhir gemas, malah ingin menghimpit wanita itu di bawah tubuhnya.
“Pinky..” Jeon Jonas menempelkan wajahnya di lengan-lengan Melissa yang erat merengkuh boneka simba. Tidak tahan hanya dengan mendapat sentuhan kecil itu, Jeon Jonas meminta maaf karena menyingkirkan boneka simba terakhir dan membawa kedua telapak tangan hangat Melissa menyentuh pipinya.
“Love me, Pinky.” Setelah tahu Melissa tidak akan mendengar, ia menaruh kepalanya di dada wanita itu. Mendesah saat aroma Melissa benar-benar memenuhi penciumannya. Melissa bergeming, benar-benar tidak tahu apa-apa, sementara kini Jeon Jonas telah menyelipkan tangannya di sisi tubuh wanita itu, memeluknya seperti anak kecil.
Ternyata, dengan Melissa dan ruangan yang sarat akan wanita itu, begitu berdampak pada ketenangan Jeon Jonas. Ternyata buncahan kesakitan itu akhirnya pergi, ternyata lubang besar penuh jeritan itu akhirnya terisi, ternyata Melissa selalu lebih dari segala-galanya.
Jeon Jonas merasa dirinya senang saat Melissa seperti biasa menghimpitnya seperti guling. Untuk malam ini saja, Jeon Jonas ingin selalu seperti ini. Besok pagi-pagi sekali ia akan pergi sebelum wanita itu bangun. Tapi tidak janji untuk tidak mengulanginya lagi.
***
Melissa haus. Matanya masih menyipit usai bangun beberapa detik lalu. Tangan-tangannya yang kecil meraba-raba nakas, mendengkus saat tidak menemukan mug pink yang biasanya diisi dengan air putih hangat.
“Sani..” Suaranya pelan dan serak.
Ia mendecak pelan, lalu membuka mata sepenuhnya. Ketika ruangan itu akhirnya memenuhi tatapannya, Melissa terburu-buru bangkit. Ini kamarnya. Bukan—maksudnya, ini bukan kamar yang selama dua tahun ini ia tempati. Ingatan tentang perdebatannya dengan Jeon Jonas berkelebat cepat, Melissa mendesah lalu beringsut turun dari tempat tidur.
Turun ke dapur, ia segera disapa hangat oleh Enna. Melissa tersenyum tipis, bibirnya masih kaku. Saat air minum akhirnya membasahi tenggorokannya, Melissa melebarkan senyum lalu menyapa Enna sekadarnya.
“Bagaimana tidurmu? Nyenyak?” tanya Enna sembari mengiris bawang untuk ditaruh di atas sup.
Melissa mengangguk. “Aku bahkan lupa kalau aku sudah kembali.”
Enna terkekeh lalu duduk di depan Melissa.
“Aku dengar, kau menjadi photographer sekarang,” ucapnya dengan senyum merekah.
“Ya. Kau ingin aku memotretmu?”
“Oh. Itu tawaran yang bagus, tapi aku akan menjadi objek yang paling jelek di antara yang lain.”
“Tidak, memoriku bahkan penuh dengan potret Sani.”
“Sani?” Melissa mengangguk.
“Bagaimana penampilannya?” Melissa tertawa kecil.
“Aku pikir kalian berdua seumuran. Mengenai penampilannya, hampir sama sepertimu.”
“Oh, ya? Itu mengapa kau betah di sana,” gerutu Enna sembari mendengkus.
“Aku tetap merindukanmu.”
“Tapi kau tidak pernah datang ke sini meski kau merindukanku.”
Melissa tersenyum tipis. “Maaf, aku pikir aku memang tidak ingin kembali dulu ke rumah ini, Paman Jeon meninggalkanku. Aku akan lebih frustrasi jika tetap di sini.”
“Lalu, setelah ini kau akan menetap atau kembali ke penthouse Hans?”
Dan sebagai jawabannya. Melissa terdiam bingung.
“Oke. Jangan memikirkan itu dulu, kita harus sarapan.”
“Aku ke kamar dulu.” Enna mengangguk.
Di dalam kamar, Melissa mencuci muka dan menggosok gigi. Merasa tubuhnya gerah, Melissa memutuskan untuk mandi. Setelah mandi, ia segera membuka lemari yang ternyata masih dipenuhi baju-baju, semuanya baru. Dengan warna kesukaannya dan style kesukaannya juga. Usai berpakaian, Melissa tertegun saat melihat Jeon Jonas masuk. Dengan penampilan lebih segar dan sebuah nampan berisi sarapan.
“Selamat pagi, Pinky.” Pria itu duduk di pinggiran ranjang, memangku nampan lalu menarik Melissa agar duduk bersamanya.
“Tidak ada selamat pagi juga untukku?” tanyanya memasang wajah muram.
“Pagi.”
“It's is time to eat, Pinky. Aku akan melihatmu makan.”
“Aku ingin makan sendiri.”
“Tidak, aku akan di sini.”
“Kalau begitu aku turun ke ruang makan.”
“Berhenti bersikap seperti ini, Pinky.”
“Aku tidak ingin melihat Paman.”
“Kau akan melihatku, akan selalu melihatku.” Melissa mendengkus, hendak beranjak pergi.
“Kubuang saja makanan ini," ancam pria itu. Melissa merasa kesal.
“Paman kekanak-kanakan!”
“Makan denganku maka aku tidak akan besikap kekanak-kanakan lagi.”
Jeon Jonas tersenyum samar saat Melissa duduk dan merebut paksa nampan itu darinya. Wanita itu manyuapkan nasi dengan cepat, lalu mengunyah dengan wajah kesal. Jeon Jonas yang memperhatikan, mengatupkan bibir agar tidak tertawa. Sudah penah ia katakan, kalau kemarahan wanita itu hanya akan membuatnya gemas.