HOT GUY

HOT GUY
[46]



Mereka akhirnya tiba di depan rumah itu pada esok harinya. Matahari cukup terik hari itu, ada dedaunan kering yang berserak di atas tanah, tapi tidak cukup menjelaskan bahwa rumah itu sudah bertahun-tahun tidak ditempati. Sepertinya, Bibi Hazel sering menyempatkan waktu luangnya untuk sekadar menyapu halaman rumah lama Melissa. Tapi perhatian Melissa akhirnya terpaku pada bunga-bunga ibunya yang berjejer di depan teras, tidak ada yang layu sama sekali. Pemikiran bahwa Bibi Hazel sering berkunjung semakin kuat, wanita tua itu ternyata masih sangat perhatian.


“Pinky.” Melissa mengulas senyum saat Jeon-Jonas menggenggam tangan kanannya.


Mereka berjalan menuju rumah lain, rumah di mana Bibi Hazel tinggal selama puluhan tahun. Ada perubahan yang cukup signifikan, cat rumah Bibi Hazel yang dulunya biru laut kini sudah berganti menjadi cokelat, sudah tidak ada lagi dua kursi plastik yang sering ia duduki dengan wanita tua itu saat bercerita di depan, hanya ada belasan pot hitam yang berisikan bunga mawar.


Jeon-Jonas tersenyum tipis saat Melissa terlihat gugup ketika menekan bel pintu rumah itu. Ia mengusap rambut wanita itu lalu terkekeh geli saat Melissa memegangi dadanya sendiri.


Pintu rumah itu kemudian tertarik ke belakang, Melissa tersenyum kikuk saat Bibi Hazel muncul dengan mata membelalak. Wanita tua itu membekap mulutnya lalu tertawa dengan kencang.


“Melissa!”


“Bibi.”


Bibi Hazel segera memeluknya dengan erat, wanita tua itu menggoyang-goyang tubuhnya lalu memberi kecupan di puncak kepala.


“Ya Tuhan, apa kabar?” Bibi Hazel membingkai pipinya, meneliti semua perubahan yang ada pada Melissa dengan senyum mengembang.


“Aku baik, Bibi.”


“Ya Tuhan, kau sudah dewasa!”


Bibi Hazel masih sibuk memindai penampilan dewasa Melissa, tidak menyadari kehadiran Jeon-Jonas yang sebenarnya berdiri di samping wanita itu sejak tadi. Jeon-Jonas kemudian berdeham, membuat Bibi Hazel segera melihatnya dengan mata membola.


“Melissa, dia ini..”


“Paman Jeon,” jawab Melissa.


“Kenapa dia … oh, ayo masuk.” Bibi Hazel melirik Jeon-Jonas sekilas lalu merangkul Melissa untuk duduk di sofa rumahnya.


“Jadi, apa sebenarnya kalian ingin mengatakan sesuatu … yang penting?” lanjut Bibi Hazel.


Jeon-Jonas yang duduk dengan kaki menyilang di samping Melissa, menatap Bibi Hazel dengan datar.


“Kami akan menikah,” ucapnya.


“Dengan Melissa?” tanya Bibi Hazel.


Jeon-Jonas menaikkan alis, harusnya kata ‘kami’ sudah menjelaskan semuanya.


“Ya, dengan Melissa.”


Bibi Hazel melirik Melissa. “Tapi kalian itu paman dan keponakan. Tessa dan Simon menyuruhmu menjaganya, bukan menikahinya.”


“Kami sudah sepakat untuk menikah. Melissa sudah menerima lamaranku dan tidak ada ikatan darah di antara kami, lalu apa masalahnya?”


Menangkap akan ada perdebatan di antara mereka, Melissa berusaha menengahi dengan memperjelas semuanya.


“Bibi, aku mencintainya. Aku tidak akan menikah jika itu bukan dengan Paman Jeon.”


“Tolong tinggalkan kami berdua, aku perlu bicara dengan Melissa,” ucap Bibi Hazel sembari menatap Jeon-Jonas lurus-lurus.


“Kau akan menghasutnya!”


Jeon-Jonas mengetatkan rahang, ia bangkit dari tempat duduk lalu berjalan keluar menuju teras. Ia mengumpat pelan kemudian menyalakan rokok untuk diisap.


“Kau sudah memikirkan semuanya dengan matang?” tanya Bibi Hazel setelah duduk di samping Melissa.


Melissa mengangguk. “Apa kami terlihat tidak pantas?”


Bibi Hazel menghela napas. “Kau bersungguh-sungguh saat mengatakan mencintainya? Dia itu sudah sangat dewasa. Maksudku … ya, banyak yang menikah tanpa pandang umur, aku tau itu. Tapi kau masih sangat muda, Sayang. Aku yakin kau bisa mendapatkan laki-laki yang seumuran denganmu, apa dia tidak bisa hanya menjadi sebatas pamanmu?”


Melissa menggeleng keras. “Kami sudah melalui banyak hal, dan aku tidak pernah mau menjadi sebatas keponakannya.”


Bibi Hazel mengusap pipi Melissa dengan sayang. “Sepertinya kalian memang sudah sejauh itu, aku tidak bisa melarang kalau yang aku pikirkan ternyata benar.”


Melissa bergeming saat Bibi Hazel tersenyum simpul. “Baiklah, aku merestui kalian.”


“Aku tidak sedang memaksa Bibi untuk merestui kami.”


“Ya, aku mengerti. Tapi kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga. Jika benar kalian saling mencintai, maka kalian memang harus saling terikat satu sama lain, dan pernikahan itu harus terjadi. Aku yakin Tessa dan Simon juga setuju.”


Melissa tersenyum lebar. “Terima kasih, Bibi. Aku sayang Bibi.”


“Oh, aku lebih menyayangimu,” sahut Bibi Hazel sembari memeluk Melissa.


Jeon-Jonas masih mengisap rokoknya dengan memandang lurus ke depan. Ia akan menikahi Melissa, bagaimanapun caranya. Dan saat kedua wanita itu muncul di hadapannya, ia menatap Bibi Hazel dengan tatapan tidak suka lalu menarik Melissa untuk lebih dekat dengannya.


“Kami akan tetap menikah,” ucapnya.


Bibi Hazel tersenyum tipis. “Ya. Kalian akan menikah.”


“Kau merestui kami?”


Bibi Hazel mengangguk. “Aku sempat berpikir menikahkan Melissa dengan laki-laki yang lebih muda.”


Ucapan Bibi Hazel masih belum selesai, tetapi gigi Jeon-Jonas sudah bergemelatuk saat mendengarnya. Bibi Hazel hanya belum tahu sejauh apa hubungan mereka.


“Tapi jika dengan yang lebih tua saja dia bahagia, kenapa aku harus bersusah payah mencari yang muda,” sambung Bibi Hazel dengan senyum melebar.


Melissa terkekeh saat raut wajah Jeon-Jonas terlihat masam begitu mendengar Bibi Hazel membahas tentang tua dan muda.


“Aku tidak setua itu!”


“Well, well,” kekeh Bibi Hazel.


Sebenarnya cuma mau ngucapin happy eid adha buat kalian, tapi gak mungkin gak disertain update-an :'')


Pasti gak sabar liat Pinky nikah, kan?


Besok aku update lagi.


Happy eid adha.