
Jeon Jonas bersumpah merasakan kupu-kupu beterbangan di dalam perutnya. Bersama Melissa memang selalu membuatnya seperti seorang remaja yang baru mengenal cinta, bukan pria dewasa yang berpengalaman dalam memenangkan hati seorang wanita. Ungkapan cinta itu membuatnya tidak bisa menahan senyum, ia meraih Melissa hingga tatapan mereka saling menumbuk, sementara kini tangan pria itu telah merengkuh hangat tubuh kecil itu dengan tangan-tangannya yang kokoh.
“Katakan sekali lagi, Melissa. Semuanya untukku?”
Jeon Jonas sengaja membuat wajah mereka sangat dekat, sengaja menggoda wanita itu agar memunculkan rona merah manis di pipinya. Melissa menundukkan wajah, sementara pria itu tersenyum geli karena Melissa malah malu setelah mengatakan semuanya.
“Pinky..” Jeon Jonas memberi ciuman singkat di pipi, dan semburat merah kesukaannya di wajah wanita itu semakin menebal. Karena akhirnya berakhir gemas, Jeon Jonas mengangkat Melissa, mendudukkan wanita itu di pangkuannya, tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang diam-diam mencuri pandang kepada mereka.
“Apanya yang semuanya untukku?” sambungnya masih dengan sengaja memiringkan kepala, lalu mencium lagi pipi itu dengan sapuan bibir yang lembut.
“Semuanya—paman akan mendapatkan semuanya dariku,” sahut wanita itu malu-malu.
“Oh ya, jadi kalau aku memintamu untuk selalu bersamaku, kapan pun dan di mana pun, kau akan bersedia mengabulkannya untukku?”
Melissa mengangguk mantap, tidak sedikit pun merasa ragu. Jeon Jonas lalu merangkum pipinya, menanamkan sebuah ciuman tepat di bibir yang berhasil membuat Melissa membuka mulut karena pria itu sengaja memberi gigitan lembut yang diam-diam mencuri kesempatan untuk menyelipkan lidah. Melissa mengalungkan tangan, bibir Jeon Jonas selalu luar biasa, dan ketika pria itu mengakhiri ciuman mereka dengan menyapukan jarinya pada bawah bibir Melissa yang basah, wanita itu menyembunyikan wajah—karena setelah menyadarinya, hampir semua anak buah pria itu melihat mereka berciuman.
“Paman masih lama?” tanya Melissa yang masih menempelkan wajah di dada bidang tersebut.
Jeon Jonas terkekeh, mengusap punggung wanita itu seraya menatap satu-persatu anak buahnya yang sempat menghentikan aktivitas berlatih hanya untuk mengintip. Para pria itu secara cepat bahkan cukup terburu-buru, mulai berteriak dengan mengambil ancang-ancang meninju, melanjutkan latihan.
“Ingin berlatih?”
Melissa mendongak. “Pisaunya tinggal di penthouse Paman Hans.”
“Kita gunakan yang lain,” sahut Jeon Jonas seraya menarik satu pedang tajam mengkilat di samping tubuh mereka.
“Aku tidak terlalu suka yang panjang.”
“Kau akan suka, sayang. Lebih memuaskan.”
Jeon Jonas menyelipkan pedang itu di tangan kecil Melissa, wanita itu bangkit, mencoba-coba mengayunkan benda panjang yang sempat ia kira pasti berat dan ternyata lebih ringan dari yang ia perkirakan.
“Bagaimana?” tanya Jeon Jonas seraya menarik pedang lain untuk ia genggam di tangan kanan.
“Aku rasa, tidak terlalu buruk.”
“Well, sekarang tunjukkan padaku apa saja yang sudah kau pelajari.”
Melissa sedikit ragu, tapi pada akhirnya memutar tumit kaki, mengisi kedua tangannya dengan genggaman erat pada pedang lalu memutar tubuh untuk akhirnya mengacungkan benda itu tepat pada dada pria di hadapannya. Mata mereka saling beradu, Jeon Jonas tidak bergerak sedikit pun untuk melindungi diri, ia tahu tubuhnya masih jauh dari kata terluka, sebab tangan milik Pinky-nya terlalu menggemaskan untuk melukai seseorang. Alih-alih membalas wanita itu dengan mengibaskan pedangnya, Jeon Jonas malah penarik pedang yang sudah menunjuk lurus tubuhnya, lebih mendekatkan benda itu pada dadanya.
“Uncle!”
“Kau sudah memutuskan untuk memilihku?”
Melissa bergeming, fokus pada tangan Jeon Jonas yang ia pikir berdarah nyatanya tidak.
“Aku perlu jawaban, Pinky.”
“Aku cinta Paman.”
“Dan kau menyayangi Hans.” Melissa mengerjap. “I don’t like sharing, Melissa, I’m possessive of you. So, say you chose me dan jangan menyayangi pria sialan itu lagi.”
Melissa tersenyum simpul. “I’m yours, Uncle. Only yours.”
Sudah semuanya, kata-kata itu sudah menjelaskan semuanya. Dan Jeon Jonas tidak pernah lebih senang daripada ini. Melissa telah menjelaskan bahwa ia hanya akan memilih Jeon Jonas, dan tak perlu menekankan lagi kalau ia akan sepenuhnya memberi hatinya untuk pria itu. Jeon Jonas berdeham, sedikit salah tingkah, dan itu cukup memalukan untuk seorang pemimpin gangster sepertinya.
Ia menyudahi latihan singkat mereka, mengajak Melissa keluar dari ruangan tersebut lalu dengan masih sepenuhnya meletup-letup di bagian hati—membawa Melissa masuk ke dalam mobil dan menghabisi bibir wanita itu dengan ciuman bertubi-tubi.
🌷🌷
Jeon Jonas memperbolehkan Melissa menemui Hans untuk terakhir kali, pria itu mengatakan akan membebaskan Hans, dalam artian akan tetap mengawasi pria itu jika masih nekat ingin merebut yang bukan miliknya. Hans terlihat senang mendapati Melissa kembali berkunjung.
“Sweety.”
Melissa tersenyum lebar. “Paman Jeon akan membebaskan Paman.”
“Oh, ya?” Ia tersenyum tipis, mengusap rambut Melissa dengan lembut.
“Sani akan senang, dia meneleponku dan bertanya mengapa kita tidak pulang.”
Hans tersenyum, mendengarkan cerita Melissa tentang Sani yang bicara konyol mengenai ketidakpulangan mereka. Wanita itu tertawa ketika menceritakan bahwa Enna penasaran dengan wajah Sani dan rasa iri wanita paruh baya itu karena Melissa menjadi lebih sering menceritakan Sani dan kamar barunya yang didekorasi serba pink oleh Hans.
Jika saja memungkinkan, Hans ingin melipat rapi-rapi tawa itu, ia ikat erat-erat pada genggamannya yang luas lalu disimpan di tempat yang paling aman untuk dapat ia lihat ketika ia ingin. Sebab ini adalah terakhir kali, tidak ada kata lain kali, kebebasannya akan menjauhkan Melissa dari lingkupan hidupnya yang sempat menjadi terang karena kehadiran wanita itu. Melissa akan Jeon Jonas tempatkan di tempat yang sangat tinggi, hingga Hans tidak dapat mengulurkan tangan lebih jauh sampai ia sadar bahwa Melissa tidak seharusnya ia raih.
“Paman..”
“Ya?”
“Paman baik-baik saja?”
“Tentu, kau di sini.”
“Kata Paman Jeon, Paman Ben sedang membeli obat untuk Paman, aku akan tetap di sini sampai Paman Ben datang dan akan mengobati luka Paman.”
Hans mengangguk, tidak lama Ben muncul dengan kantong plastik berisi kotak P3K dan beberapa obat oles yang memang diperuntukkan untuk memar. Ben memberi kotak itu pada Melissa lalu segera keluar karena tidak memiliki keperluan di dalam sana. Begitu Ben pergi, Hans membuka pakaian, membiarkan Melissa mengolesi lukanya dengan salep.
“Melissa..”
“Hmm."
Melissa mendongak, karena setelah menunggu pria itu menyahutinya, Hans hanya diam dan mendapati pria malah tersenyum tipis.
“Hanya memanggil.”
“Selesai.” Melissa menutup obat yang sebelumnya terbuka lalu membungkusnya kembali ke dalam kantong plastik.
“Thanks, sweet.”
Melissa mengangguk, masih menunjukkan senyuman yang sangat disukai pria itu, dan pemikiran untuk mengecup bibir itu menyergapnya. Tapi bahaya untuk Hans, bibir itu akan menguncinya, akan terus menjadi bagian tercandu pria itu hingga mungkin Hans tidak ingin melepas. Dan karena menyadari itu, Hans urung melakukannya.
“Aku sangat tidak ingin melepasmu, Melissa. Aku benci dengan kenyataan bahwa kita tidak bisa saling melengkapi. Aku benci dengan kenyataan bahwa sebesar apa aku mengingankanmu kau tidak menginginkanku. Dan, aku lebih benci dengan kenyataan bahwa aku akan pergi, tanpamu, tanpa kebiasaan kita dulu, dan itu berlangsung selamanya.”
Parahnya, tidak ada gunanya membenci sebanyak itu. Sebab benci akan dengan kejam mengingatkan kembali memori-memori yang sempat tertinggal lalu merutukinya karena tidak bisa berbuat apa-apa.
“Kau sangat menyukai Jeon Jonas?” tanyanya, menyapukan jari-jarinya ke pipi Melissa yang halus. Wanita itu mengangguk, ditanyakan seribu kali pun jawabannya akan sama.
“Sesuka itu?” Dan masih, Melissa mengangguk. Bahwa lebih dari suka, ia mencintai pria itu.
Tidak ingin membaginya sedikit untukku?
“Paman Hans akan menemukan wanita yang lebih baik daripada aku.”
Bagaimana jika yang lebih baik itu adalah…
“Wanita itu mungkin akan lebih dewasa, tidak cengeng dan bisa mengatur dirinya sendiri.”
Hans tersenyum tipis, mengangguk seolah membenarkan ucapan wanita itu. Ia membawa tangannya menggenggam tangan-tangan Melissa, mengecupnya berkali-kali dengan tatapan mata masih terkunci pada bola mata wanita itu.
“Aku harap aku menemukan Melissa lain. Tidak apa dia cengeng, tidak apa dia tidak mandiri, aku lebih suka yang seperti itu.”
Karena tidak tahan untuk tidak menyentuh lebih wanita itu, Hans memeluknya dengan erat, kembali memberi kecupan di pundaknya yang terbuka. Dan seolah memang menaruh alat penyadap di ruangan itu, sehingga orang di luar bisa mendengar, Jeon Jonas masuk dengan empat anak buahnya yang akan mengantar Hans kembali ke penthouse-nya.
Secepat itu pelukannya mengendur, terpaksa melepas meski jiwanya masih meronta ingin terus mendekap.
“Ayo, Pinky.”
Nyatanya ia hanya satu dari puluhan semut yang mengerubuni satu butir gula yang terjatuh, tidak ada gunanya menunggu mendapat kesempatan, semut yang berdiri di baris paling depan telah lebih dulu menelan gula putih tersebut ke dalam mulutnya. Sudah saatnya melupakan, mencoba melakukan sesuatu untuk mengalihkan bayangan cantik Melissa dan mendorong keras-keras nama wanita itu hingga ke sudut tak terjamah hatinya.