
Malam itu Jeon-Jonas masih di tempat yang sama, masih melakukan hal yang sama. Melihat secara langsung, apa dan bagaimana perubahan di seluruh gedung yang ia punya. Kasinonya berjalan dengan baik. Bar serta gedung hiburan lain juga berjalan sempurna, hanya perlu menambah beberapa botol minuman, mengganti wanita-wanita yang sudah mengemban tugas bertahun-tahun dengan yang lebih segar, kemudian menambah fasilitas kasino yang memang dibutuhkan.
Lalu hujan datang, dan ia sudah tidak berpikir dua kali saat Nevan muncul dengan menggenggam satu kunci mobil. Ia meminta kunci tersebut, bergegas keluar dari gedung dengan menaruh satu tangan di atas kepala, melindungi tubuhnya dari barisan hujan.
Ferrari tersebut ia masuki, segera membawanya pulang ke rumah. Dan begitu sampai di sana, ia memarkir asal Ferrari milik Nevan tersebut bersisian dengan mobil-mobil yang lain.
“Bos, Nyonya Melisssa—” Ia tahu, meski anak buahnya belum selesai menjelaskan, ia cukup tahu. Melissa membutuhkannya sekarang.
Jeon-Jonas berlari menaiki undakan tangga, mengabaikan salam hormat yang karena terlalu sering diucapkan, sudah membuatnya jenuh. Tujuannya kali ini hanya satu, mendorong keras-keras pintu kamar yang ia tempati dengan Melissa, kemudian—kemudian—
Seseorang telah di sana.
Menenangkan Melissa-nya yang memiliki ketakutan pada petir, lalu dengan lancang—membelai pipi yang seharusnya tidak boleh disentuh. Tapi Melissa diam saja, gadis itu tidak memberontak.
Gadis itu—menyukai apa yang ia terima.
Ada panah yang beterbangan, menghujaninya tanpa jeda. Seandainya nyata, Jeon-Jonas akan mati, terkulai begitu saja.
“B-Bos, ini, ini—”
Ia melangkah lebar, menarik Ben yang belum siap menerima keadaan. Tarikannya keras, menjepit kerah pakaian Ben, hingga pria kesulitan mengambil napas.
Tidak ada satu hal pun yang diinginkan Jeon-Jonas selain menghabisi pria itu sekarang juga.
Ben dibawa keluar dari dalam kamar, meninju rahang dan setiap sisi wajahnya dengan kepalan tangan yang mengetat.
“Bos, saya—”
Tidak! Ia tidak ingin mendengar apa pun!
Ben yang sudah kehilangan rasa pada wajah, ia lemparkan hingga terhuyung ke lantai. Satu tangannya masih mencekik pria itu, sementara tangan yang lain masih belum puas memberi pukulan demi pukulan.
Kesadaran Ben menipis, dan Jeon-Jonas bersumpah bahwa ia tidak peduli. Ia menarik Ben hingga berdiri secara refleks, masih memukuli wajah pia itu hingga mata Ben membengkak.
Ben tidak membalas, hanya mengerang pelan dan sempoyongan.
Dan saat Jeon-Jonas masih setia menarik tubuhnya menuruni undakan tangga, ia terbatuk, tercekat oleh darahnya sendiri. Anak buah yang tadinya berjaga di luar, berlari masuk ke dalam, membelalak saat melihat Ben sudah nyaris kehilangan nyawa.
Kendati demikian, tidak ada yang berani menghentikan, terutama saat Jeon-Jonas masih mengepalkan tangannya yang berdarah, lalu meninju rahang bawah Ben hingga pria itu benar-benar kehilangan kesadaran.
Jeon-Jonas berteriak, berniat memecahkan sesuatu ke kepala pria itu, yang kemudian ditahan oleh dua anak buahnya, menggenggam masing-masing tangan Jeon-Jonas agar pria itu tidak lagi melakukan apa-apa. Ben yang terkulai di lantai, segera diangkat oleh anak buah yang lain, membawanya pergi entah ke mana.
🌷🌷
Berulang kali. Berulang kali Jeon-Jonas memberitahu dirinya sendiri agar membicarakan semuanya baik-baik dengan Melissa, menanyakan kejadian yang sebenarnya, lalu berakhir dengan memaafkan wanita itu.
Harusnya cukup, harusnya sesederhana itu. Ia tidak ingin menyakiti wanita itu dengan sepasang tangannya sendiri. Demi Tuhan, ia tidak pernah berencana melakukannya.
Tapi yang kini memenuhi otaknya adalah : Melissa seorang penjahat yang menyamar menjadi wanita naif. Wanita itu diinginkan banyak pria, dan wanita itu juga menginginkan pria-pria itu. Sudah jelas sekarang, dari dulu hanya Jeon-Jonas yang mencintai dengan tulus, Melissa tidak.
Ia pikir, dengan mengubah kebiasaan buruknya, menghapus semua masa lalu gelapnya, wanita itu akan menganggapnya satu-satunya pria yang patut diperjuangkan. Tapi ternyata—sekali lagi, hanya ia yang patah, jatuh sendirian. Melissa tidak pernah berniat membantunya berdiri.
Ia mengusap wajahnya, beralih ke rambutnya, lalu menggenggam erat gelas berisi vodka yang seharusnya bisa menghilangkan rasa sakitnya pada malam ini. But what? Ia hanya semakin gusar, disesatkan oleh pemikirannya sendiri.
Ia harus menghukum Melissa, membalas rasa sakit yang ditorehkan wanita itu pada jantungnya. Hujan dan petir ini akan membantunya, dan ia akan akan dengan tega membiarkan wanita itu ketakutan sendirian. Ia harus tega. Harus.
Namun di sinilah ia sekarang, di dalam kamar yang berisikan Melissa, melihat lembut wajah tenang wanita itu alih-alih menatapnya tajam seperti yang seharusnya ia lakukan. Air matanya menetes, merasa pilu sendirian. Ini tidak adil, jelas-jelas tidak adil.
“You broke me, twice. But I still love you.”
🌷🌷
Yang sebenarnya ia inginkan adalah, menghabiskan setidaknya 48 jam di luar, berjudi di kasino dengan anak buahnya, meneguk berbotol-botol minuman keras, lalu mencumbu beberapa wanita yang mungkin bisa membuatnya lupa dari bayangan tentang semalam.
Namun Jeon-Jonas telah mendapati dirinya berdiri di tengah lapangan golf, mengenakan kaus polo dan melindungi kepala dengan topi sport.
Di saat ia baru saja akan mengayunkan tongkat keras-keras, seseorang memeluknya dari belakang, dan dari aroma madu yang selalu ia senangi untuk dihirup, ia sudah tahu bahwa itu adalah Melissa.
Ia berbalik, nyaris ingin tersenyum saat melihat wanita itu tersenyum juga. Namun tidak, ia tidak boleh melakukan hal konyol itu. Ia menaikkan alis, terpaku pada thermometer di dalam mulut wanita itu. Jika saja ini di situasi yang berbeda, ia akan mengacak rambut wanita itu, bertanya basa-basi mengapa harus berlari ke sini.
Dan tentu saja, ia tidak akan melakukannya. Ia hanya mencabut thermometer tersebut, terkejut saat melihat suhu tinggi yang tertera.
His little baby’s sick.
Tatapan mereka bertemu. Jeon-Jonas hampir-hampir akan membelai wajah wanita itu dan memberi kecupan, hampir terperdaya oleh sepasang mata bulat yang menyesatkan.
“Enna!!” Ia berteriak, dan wanita yang ia panggil cukup tergopoh-gopoh saat muncul dengan satu nampan kosong.
“Kenapa membiarkannya keluar?”
“Itu—itu—saya tadi—”
“Dia demam dan kau membiarkannya keluar?!”
“Maafkan saya, Tuan.” Enna menundukkan kepala, merasa bersalah.
Jeon-Jonas memelototi Enna, dan wanita itu segera menarik pelan Melissa agar kembali ke kamar untuk beristirahat.
“Jeon…”
“Enna!!”
Melissa melangkah pergi, melegakan Jeon-Jonas yang kini kembali berdiri tegak.
🌷🌷
Jeon-Jonas sudah akan tidur ketika pintu kamarnya terbuka, dan Melissa tiba-tiba duduk di pangkuannya seraya mendongak untuk mempertemukan tatapan mereka. Ia cepat-cepat meluruskan pandangan, melanjutkan permainan tetris yang sejak tadi ia mainkan.
Harusnya wanita itu tidak di sini, ia benci bila tubuhnya tiba-tiba ingin merespon seperti biasa.
“Jeon…”
Setelah semalam, yang mungkin menyebut nama Ben berkali-kali, bisa-bisanya wanita itu menyebut namanya seolah tidak terjadi apa-apa.
“Jeon…”
Ia mengetatkan rahang saat Melissa menyentuh lengannya, mengguncangnya agar mendapat perhatian.
Kenapa Melissa tidak pergi saja menemui Ben, meminta perhatian dari pria itu seperti semalam? Mengapa harus berpura-pura bahwa ia hanya akan membutuhkan perhatian Jeon-Jonas lalu membuat pria itu terperdaya?
“Apa aku melakukan kesalahan?”
Sialan, wanita itu memeluknya, benar-benar tahu kelemahannya. Sialan! Sialan!
“Go back to your room.”
Ia menatap tajam wanita itu, mengirimkan aura mencekam.
“Aku melakukan kesalahan? Itu mengapa aku diabaikan?”
“Ya. Kembali ke kamarmu sekarang.”
“Apa?”
Berhenti! Berhenti menatap Jeon-Jonas dengan tatapan seperti itu!
“Apa kesalahanku, Jeon?”
“I told you to go back to your room, Melissa.”
“Tidak, ini kamarku juga. Aku akan tetap di sini.”
Selanjutnya, selama berdetik-detik, ia sudah tidak menjawab. Tangannya terkepal di atas keyboard.
“Jeon … aku hanya ing—”
Sudah cukup. Ia mendesis tajam, mengeluarkan kata-kata kasarnya di depan wajah wanita itu.
“Berhenti merengek dan keluar dari kamar ini sekarang!”
Ia tahu kalimat itu melukai Melissa, dan wanita itu telah menangis, mengusap air matanya yang jatuh, kemudian turun dari pangkuannya.
Begitu wanita itu sedikit berlari keluar dari dalam kamarnya, ia menarik keyboard, mengakibatkan kabel-kabel yang tersambung terputus begitu saja, ikut terjatuh dengan komputer miliknya.
Fu*k it.
Ia menaruh kepalanya di atas meja, menggeram seraya memukuli meja tersebut.
Sial. Sial. Sial!
Ia bangkit, ingin segera memeluk wanita itu dan meminta maaf. Ia hanya emosi, hanya mengikuti kemarahannya, hanya sebal, hanya—fu*k! Fu*k it!
Langkahnya telah di depan pintu kamar wanita itu, mengembuskan napas, dan mendorong pintu agar terbuka. Di sana, di atas sofa, ia melihat Melissa memeluk boneka hiunya, boneka yang diberikan Ben, dan ditutupi wanita itu bahwa boneka itu pemberian temannya.
Jeon-Jonas menggeram, melangkah lebar untuk menarik paksa boneka itu tetapi Melissa tidak ingin melepaskan.
“Berikan.”
Wanita itu menggeleng, memeluk bonekanya seraya menatap sendu pada Jeon-Jonas.
“Berikan!”
“No…” Melissa semakin merengkuh boneka itu, terisak pelan.
Jeon-Jonas tidak suka dibantah. Maka di detik berikutnya, ia menarik kasar boneka itu, melemparnya hingga jatuh dari atas balkon.