HOT GUY

HOT GUY
[63]



Gerimis. Ada beberapa peneduh yang berdiri di depan sebuah kafe kecil di depan rumah besar yang sedang dipandangi Jeon-Jonas. Dan kendati hujan sudah lebih bersahabat, peneduh-peneduh tersebut masih setia bercengkerama dengan sesekali bertukar tawa.


Jeon-Jonas melipat tangan di depan dada, sudah menunggu lebih dari tiga jam ketika akhirnya Melissa tetap bersikukuh ingin mengunjungi rumah Ava. Ia sendirian kali ini, hanya ditemani ingatan tentang ciuman singkat mereka, yang sialnya berefek sangat lama di pikirannya.


Ia pikir, Melissa memaafkannya. Ia pikir semudah itu. Melissa tidak menolak ciumannya, dan ia pikir itu adalah kabar baik untuk hubungan mereka. Nyatanya tidak, sepertinya.


Melissa masih menyimpan marah atas seluruh kejahatan yang telah ia perbuat.


Dan ini adalah karma. Kini Melissa membalasnya, tinggal menunggu apakah kajahatan yang akan diperbuat wanita itu akan lebih kejam dari kejahatan yang ia perbuat. Sure, ia akan mengikuti permainan wanita itu, setega apa pun nantinya Melissa kepadanya. Ia akan menerima. Ia akan berbesar hati. Ia akan menahan semua monster di dalam dirinya. Ia akan—


Oh, sial. Siapa pria yang berjalan ke dalam rumah besar itu?!


Jeon-Jonas terburu-buru menurunkan kaca mobil, menyipit tajam begitu pria tinggi bersetelan formal tersebut, menekan bel. Hanya dalam beberapa detik, Ava muncul dengan senyuman lebar, membiarkan pria itu masuk dengan sopan.


Ini tidak benar! Demi Tuhan, kedua gadis sialan itu akan mempengaruhi Melissa-nya!


🌷🌷


“Mel, dia harus diberi pelajaran!” seru Ava saat Melissa bercerita mengenai kejadian-kejadian di kediaman Jeon-Jonas.


Maggie yang terburu-buru datang, membatalkan acara kencan butanya dengan seorang pria matang dan menyelingkuhi Jeongin, mengangguk mantap. “Ini keterluan, Mel. Serius!”


“Okay. Begini saja. Untuk beberapa hari, menginap saja di rumahku. Orangtuaku sedang kencan di Tokyo seolah mereka masih muda, dan aku harap kita bisa menggunakan kesempatan ini dengan mencari-cari pria lajang yang bisa dikencani, Mel. Seperti Maggie, dia kencan dengan Lorde Hugs,” saran Ava.


“Batal. Aku langsung ke sini,” sahut Maggie.


“Jeongin?” tanya Melissa.


“Jeongin selalu menyuruhku menjaga diri, memakan makanan yang sehat, bergaul dengan orang-orang yang memiliki pemikiran sehat and it’s so boring. Aku mungkin tidak akan berteman dengan kalian lagi kalau aku menyetujui saran Jeongin, kan? Jadi kedatangan Lorde Hugs yang punya banyak tato di perut dan dadanya, membuat aku merasa bahwa tidak seharusnya aku setia pada Jeongin.”


“Lorde Hugs punya jempol yang besar,” celetuk Ava diiringi seringai. Maggie menyenggolnya sembari terkekeh.


“Tapi aku tidak ingin kencan dengan pria lain. Aku punya suami,” balas Melissa.


Ava dan Maggie mendesah berat.


“Seperti yang kami ucapkan sebelumnya, Jeon-Jonas harus diberi pelajaran, Sayang. Ini hanya seputar kencan sehari, setengah hari sepertinya. Pria-pria itu yang akan datang ke sini, dan kau bebas memilih akan menghabiskan kencan seharimu dengan siapa. Get it?”


Melissa mengangguk. “Mereka tidak akan mengharapkan hubungan yang lebih jauh, kan?”


“Aku pastikan, tidak,” jawab Ava. “Setuju?”


“Setuju.”


“Yap.” Ava tersenyum lebar, mengambil ponselnya untuk memperlihatkan foto-foto pria yang ia kenal dan butuh pasangan. Maggie meneguk tandas sebotol coke, menarik satu bungkus Lays rumput laut, dan mengunyahnya. Sesekali menyuapi Melissa.


Ava memunjukkan foto seorang pria tinggi berkulit tan. “Ini Yildis Hevss. Dia karyawan di Gatta Company, dan dia perjaka.”


“Serius? Kenapa kemarin tidak memberitahuku kalau dia ternyata perjaka?” gerutu Maggie.


“Sorry. Tapi Melissa-ku yang polos perlu berkenalan dengan pria baik-baik.”


“Ava tau dari mana kalau dia masih perjaka?” tanya Melissa.


“He told me. Katanya tidak ingin sembarangan menyentuh wanita sebelum menikah.”


Ava menunjukkan foto lain. “Ini Miguel. Well, dia tetangga sebelah. Rumahnya hanya empat rumah dari sini, dan dia ingin mencoba blind date dengan seseorang yang lucu, menggemaskan sepertimu. Maaf, Magg. Aku tidak memberitahumu tentang Miguel karena kau sama sekali tidak menggemaskan.”


Maggie meninju bahu Ava, menggerutu kesal. Ava hanya tertawa kecil sebelum kemudian menggulir foto demi foto.


“Well, yang ini adalah yang terbaik. Dia teman dekat Miguel. Jago basket, bertato seperti Lorde Hugs, terlihat dingin tapi sebenarnya ramah. Suka berenang, punya eight pack, sering ditawari one night stand perempuan-perempuan cabai, tapi ditolak karena perlu mencari wanita yang sesuai kriterianya.”


“Sial, kau juga tidak memberitahuku ini,” desis Maggie.


“Chill, aku rasa Aleix juga tidak akan menyukaimu.”


“Oh, benar-benar sialan!”


“Jadi, aku harus mulai dengan yang mana?” tanya Melissa seraya menyeruput yogurt pemberian Maggie yang diambil dari dalam kulkas.


“Tidak ingin melihat-lihat yang lain dulu? Ada Bradley, Max, Yohan, Julian, Heimirr—”


“Aku harus melihat salah satunya.”


“Okay. Aku akan menelepon Yildis, aku harap dia tidak sibuk.” Ava mendial nomor. Dan tampaknya Yildis sedang sibuk. Ava beralih ke nomor Miguel, dan kabar baiknya, pria itu mengangkat, menerima tawaran Ava untuk memulai blind date di dalam rumah.


“Melissa-ku sudah cantik, tapi kita perlu menambah perona wajahmu, dan—ayo coba eye liner-ku. Miguel akan segera datang,” tambah Ava.


Melissa didudukkan di depan meja rias, disuruh untuk tidak banyak bergerak selama Ava dan Maggie merias wajahnya.


“Ngomong-ngomong, kenapa kau sangat setia pada Lucas sementara kau punya banyak kenalan yang keren?” tanya Maggie kepada Ava.


“Aku merasa Lucas adalah satu-satunya pria yang bisa sangat menyebalkan, tapi sangat-sangat menyayangiku. Dan poin pentingnya, dia lihai di ranjang. Sudah cukup.”


Sepersekian menit menata rambut panjang Melissa dan mempercantik wajahnya, bel berbunyi, pertanda Miguel telah di depan. Ava bergegas berlari ke bawah, menyambut Miguel dengan senyuman.


“Uhh, sejak kapan jadi setampan ini?” goda Ava setelah menutup pintu. “Pasti meminjam jas ayahmu, ya?”


“Ini jasku,” jawab Migeul dengan bibir cemberut. “Mana wanita yang kau maksud?”


“Tunggu di sini. Aku akan menyuruhnya turun.”


“Okay.”


Ava berlari ke atas, memberitahu Melissa bahwa Miguel sudah menunggu di ruang tamu dan menyuruhnya turun sendirian. Karena Melissa terlihat gugup, Ava menuntunnya ke bawah.


“Hi. Aku Miguel,” sapa Miguel setelah Melissa berdiri di hadapannya.


“Melissa.”


“Aku tinggal, ya,” ucap Ava segera kembali ke kamar, tapi mengintip bersama Maggie.


Melissa dan Miguel duduk berhadapan, dipisahkan sebuah meja kaca yang di atasnya terdapat vas bunga.


“You look cute, Melissa.”


Melissa tersenyum kaku. “Thanks.”


“Rumahku ada di dekat sini, anyway.”


“Ya, Ava memberitahuku.”


“Oh, ya. Aku ingin mendengarmu menceritakan apa-apa saja yang kau suka.”


“Dimulai darimu.”


“Nope, ladies first.”


Melissa menyelipkan rambut ke belakang telinga. “Uhm—aku suka yogurt, strawberry milkshake, banana milk—”


“Hei, I also like banana milk, it feels so good,” sela Miguel dengan raut wajah serius.


Melissa tertawa kecil. “Aku menyukainya karena Jeon, dan menjadi minuman favorit kedua setelah yogurt.”


“Oh ya. Aku menyukainya setelah merayakan ulang tahunku yang ke lima, dan aku rasa aku kecanduan.”


“Mereka cocok, Magg,” bisik Ava.


“Ya, benar. Doakan saja Jeon-Jonas sialan itu tidak mengetahui ini.”


“Hei, jangan menakutiku.”


“Jadi, apa lagi yang kau sukai? Benda mungkin?” tanya Miguel.


“Uhm, aku punya banyak simba di rumah, ada puluhan. Jeon memenangkan game menembak.”


Miguel mengangguk-angguk, tersenyum geli melihat mulut Melissa yang berceloteh.


“Aku juga punya pisau kecil, Jeon memberinya sebagai hadiah.”


“Okay, who’s Jeon?” tanya Miguel dengan alis terangkat.


“My husband.”


“Sorry?”


“Jeon is my husband.”


“Jadi … kau sudah menikah?”


Melissa mengangguk. Miguel kehilangan senyum di wajahnya. Pria itu langsung berdiri.


“Maaf, tapi aku rasa sampai di sini saja, Melissa.”


“Sial, sial. Apa yang terjadi, kenapa Miguel pergi?” ujar Ava. Keluar dari persembunyian bersama Maggie.


“Miguel, ada apa?” tanya Ava.


“Kalian pasti bercanda. Bagaimana kalau aku benar-benar menyukai Melissa? Sialan,” desis Miguel segera keluar dari dalam rumah.


“Apa yang Miguel katakan?” tanya Maggie.


“Dia bertanya siapa Jeon, dan aku jelaskan kalau Jeon itu suamiku.”


“Oh, ya Tuhan.” Ava dan Maggie mendesah panjang, memijit pelipis masing-masing.


🌷🌷


Ia perlu menenangkan dirinya sendiri. Mungkin pria tadi adalah sepupu Ava, atau mungkin kakaknya, atau mungkin ayahnya. Ya, Jeon-Jonas harus memenuhi pikirannya dengan hal-hal positif. Sudah nyaris empat jam, hujan dan gerimis bahkan telah berhenti. Sementara Melissa masih di sana, tidak peduli padanya.


It hurts but it’s okay. He’s being punished.


Ketika tatapan sedihnya menemukan pria yang sebelumnya masuk telah keluar, ia mengerjap-erjap, mengubah duduknya menjadi tegak. Pria asing itu terlihat sedih, terlihat kecewa. Jeon-Jonas merasa bahwa ada hal yang seharusnya perlu ia ketahui tetapi tidak ada yang berniat memberitahu.


Jadi secepatnya ia turun dari mobil, mencegah langkah Miguel.


“Tunggu sebentar,” ucapnya.


Miguel hanya mengerutkan dahi, bingung.


“Kau keluarga Ava? Sepupunya? Maksudku—apa yang kalian bicarakan tadi? Kau melihat Melissa?”


Miguel mendesah. “Mereka mengatur kencan, dan mengenalkan Melissa padaku. And hell, she’s married.”


Jeon-Jonas menggeram kasar, bersamaan dengan Miguel yang melangkah pergi.


Jeon-Jonas bergegas menekan bel rumah Ava, menekannya berkali-kali hingga pintu terbuka. Ava muncul dengan wajah kesal, terkejut saat melihat Jeon-Jonas berdiri sana.


“Oh, ini—”


Jeon-Jonas masuk dengan menyenggol bahu wanita itu. Dan ketika menemukan Melissa tengah duduk di ruang tamu, ia segera duduk berjongkok di bawah, menggenggam tangan Melissa dengan lembut.


“Pinky, don’t do this. Please…”


Melissa bergeming. Jeon-Jonas mengelus punggung tangan wanita itu, menaruh sepasang tangan yang lebih kecil dari sepasang tangannya tersebut, membingkai pipi-pipinya.


“Aku tidak melakukan apa-apa.”


“Kau berkencan dengan pria lain.”


Melissa diam, hanya merasakan sepasang tangannya yang menempel di pipi Jeon-Jonas.


“You own me, Honey. Apa aku masih belum cukup?”


Melissa kembali bergeming, sehingga Jeon-Jonas harus menambah ucapannya.


“Kita punya bayi sekarang. Dan aku masih sanggup menjadi ayahnya. Dia juga pasti akan lebih memilihku, bukan orang lain. Jadi percuma mencari pria pengganti. Iya, kan?”


“Aku masih marah.”


“I know, Honey. I know.”


“Tapi bukan berarti harus menyelesaikannya dengan kencan buta, bukan?” sambungnya.


“Aku suka Miguel.”


“Pinky, please…”


“Aku benar-benar suka Miguel. Kami punya banyak kesamaan.”


“Aku tidak akan melepaskanmu, aku bersumpah.”


“Aku akan diam-diam pergi.”


“I swear to God, I will tie you in my car if that happens.”


“Itu akan menyakiti Baby.”


“Then don’t go.”


“Berjanji untuk tidak menarik kesimpulan sebelum tau yang sesungguhnya. Itu menyakitiku kalau kita tiba-tiba tidak bicara bahkan saat aku tidak mengetahui apa pun.”


“I promise.”


“Dan jangan kasar.”


Jeon-Jonas mengangguk. “I won’t be rude,” ucapnya seraya mengecupi telapak tangan Melissa.


“Kita pulang?” sambungnya.


Melissa mengangguk. “Kita pulang.”


Ava, Maggie, Melissa ⬇⬇⬇