
Ia masuk kembali ke dalam rumah itu, menyebabkan kesiap tajam dari kedua wanita yang saat itu berniat memasang masker wajah. Jeon-Jonas harus memberi perhitungan, ia sudah memikirkan hal ini sejak lama, menegur hal-hal yang menurut kedua wanita itu baik untuk Melissa, yang ternyata bersifat buruk bagi hubungan mereka.
“E—ada apa?” Ava berdiri kaku, disusul Maggie yang melepas asal masker yang hampir menempel erat di pipi. Raut wajah dingin dan bengis dari Jeon-Jonas adalah musibah, dan mereka membutuhkan Melissa, yang kini entah disembunyikan di mana oleh pria itu.
“Apa yang sebenarnya kalian inginkan?”
Ava mencengkeram erat pergelangan tangan Maggie, mencari perlindungan.
“Melissa sedih. Kami hanya ingin membantu.”
“That doesn’t help at all! Kalian hanya merusak pemikiran Melissa!”
“Kau kasar padanya,” celetuk Maggie.
“It’s not your business.”
“Kau juga memaksanya.”
“Still. Not. Your. Business,” tekan Jeon-Jonas dengan tatapan berkilat pada Maggie.
“Kami sahabat Melissa,” ujar Ava.
“Kalian akan mencari solusi yang baik, bukan menyuruhnya berkencan dengan pria lain. Kalian bukan sahabat. Tidak lagi.”
Ava dan Maggie diam, hanya menatap Jeon-Jonas takut.
“Kami tidak ingin kehilangan Melissa.”
“Kalian akan.”
Ava hampir-hampir menangis karena tidak ingin kehilangan teman, sebelum terkejut karena Yildis, yang sebelumnya mereka telepon, sudah masuk ke dalam rumah.
“Yang mana yang bernama Melissa Kyle?” Jeon-Jonas membalikkan badan, menggeram marah mendengar nama istrinya di sebut pria lain. Pria yang ia yakini ingin berkencan dengan Melissa-nya. His Pinky!
“Mell—Melissa, ini!” Ava menunjuk Maggie dengan gugup, melotot saat melihat Jeon-Jonas mengepalkan tangan.
Yildis menatap Maggie dengan alis terangkat, bersedekap. “Aku tau dia bukan. Aku pernah melihat Melissa Kyle di TV.”
Ava dan Maggie meneguk ludah, sementara Yildis menambahkan. “ She’s damn cute.”
“Fu*k!” Jeon-Jonas menyerang pria itu, mendorongnya dengan keras. “Don’t you dare admire my wife!”
Alis Yildis bertaut . “What the hell? Aku datang ke sini untuk berkencan dengan Melissa Kyle, bukan untuk mengagumi istrimu yang entah siapa!”
Ava dan Maggie menggeleng, menggamit tangan satu sama lain.
Jeon-Jonas menarik keras kerah pakaian Yildis, berteriak tepat di muka pria itu. “Melissa istriku!”
🌷🌷
“Iya.” Melissa mengangguk-angguk, mencecap permen kapas hello kitty yang diberikan Jeon-Jonas beberapa menit yang lalu.
“Jadi Jeon di mana?” tanya Krista dari seberang.
“Jeon ke kafe, tapi belum kembali.”
“Dia meninggalkanmu sendirian di dalam mobil?”
“Ya. Kata Jeon, Jeon perlu membeli sesuatu.”
Krista mendesah. “Jadi—bisa beritahu aku apa yang dia katakan saat membujukmu?”
“Ava dan Maggie menyarankan blind date dengan beberapa pria. Jadi aku menyetujuinya. Dan Jeon bilang, tidak ada gunanya berkencan dengan pria lain karena ayah dari Baby hanya Jeon. Dan Baby hanya akan memilih Jeon.”
“Kau kencan?” tanya Krista setengah tidak percaya.
“Ya. Aku berkencan dengan Miguel. Kami sama-sama menyukai susu pisang.
Krista tertawa, membayangkan bagaimana ekspresi Jeon-Jonas saat tahu fakta itu.
“Dan Jeon bilang, Jeon akan mengikatku di mobilnya kalau aku sampai pergi dengan Miguel.”
Krista mencebik. “Dasar posesif.”
“Ibu benar-benar akan datang ke sini?”
“Tadinya. Aku ingin membawamu pergi. Ingin menghukum Jeon Jonas karena seenaknya saja mengasarimu. Tapi mendengar kalau dia bahkan ingin mengikatmu di mobilnya hanya karena pria bernama Miguel, aku mengurungkan niat. Tapi, aku memang berencana membawa Livy ke sana. Dia selalu merengek ingin bertemu denganmu.”
Melissa terkekeh. “Aku juga rindu Livy.”
Pintu mobil terbuka, Jeon-Jonas masuk dengan wajah kesal. Melissa menyodorkan sisa permen kapasnya, menempelkannya di bibir pria itu. Jeon-Jonas menjauhkan wajah pada awalnya, menolak. Namun saat Melissa menarik sedikit isi dari permen tersebut, dan menyuapkannya ke mulut Jeon-Jonas, pria itu menerima.
“Halo.”
“Siapa?” tanya Jeon-Jonas, segera mengambil alih ponsel Melissa.
“Halo, Sayang…”
“Halo, Ibu.”
“Kenapa tiba-tiba diam?”
“Jeon sudah di sini.”
“Ah. Tolong hidupkan speaker-nya.”
Melissa melakukannya, menjauhkan ponsel dari telinga. Sementara Jeon-Jonas telah menyalakan mesin, melajukan mobil.
“Ibu juga suka Miguel.”
Melissa mengerjap-erjap, tidak tahu apa maksud Krista.
“Kalau Jeon masih kasar, pergi dengan Miguel saja, ya.”
Jeon-Jonas memukul setir mobil, duduk tegak dan menginjak pedal gas, menambah kecepatan. Krista yang seolah melihat secara langsung, tertawa kecil.
“Jeon, Ibu bercanda.”
Jeon-Jonas merampas ponsel tersebut, mengakhiri panggilan secara sepihak.
“Jeon,” panggil Melissa. Jeon-Jonas membelok mobil, fokus ke jalanan di depan.
“Ibu hanya bercanda,” ulang Melissa.
Tidak ada respon, rahang Jeon-Jonas mengetat, masih terlihat sangat kesal.
Mengerti apa penyebab kekesalan pria itu, Melissa tersenyum samar.
“Aku tidak terlalu suka Miguel, anyway.”
Jeon-Jonas mendengkus, menekan klakson kendati tidak ada pengendara yang menghalangi jalan mobil.
“Sebenarnya tidak suka,” ralat Melissa.
“Sempat suka,” ralatnya lagi. Jeon-Jonas menekan klakson lagi, lama, berisik.
“Tapi ternyata, aku lebih suka Jeon. Sangat-sangat suka Jeon. Sangat-sangat-sangat-sangat suka Jeon.”
Laju mobil perlahan menjadi normal, tapi Jeon-Jonas masih sedingin sebelumnya, dengan wajah tertekuk dan badan tegak.
“Jeon’s the man I love. He’s gentle but also rough. He’s cute but also creepy. He looks—old but actually so young. And Jeon is my universe. My lovely universe. I love him so much.”
“And let me tell you a secret.” Melissa mencondongkan tubuh, mendekatkan bibirnya ke telinga Jeon-Jonas yang masih menyetir. “Baby loves Jeon too,” bisiknya.
Tanpa dilihat siapa pun, Jeon-Jonas mengulas senyum. Ia bersandar, lalu memasang wajah cemberut saat Melissa menatapnya.
“Kau bersekongkol dengan Ibu untuk pergi ke suatu tempat kalau kita bertengkar lagi.”
Melissa melotot, menahan napas. Itu rahasia! Mengapa Jeon-Jonas bisa tahu?
“Tidak.”
“Ya, kalian merencanakannya.”
Melissa mengerjap, membuang napas yang berdetik-detik di tahan. Ia melirik Jeon-Jonas yang masih memasang tampang masam, bahkan ketika ia telah membeberkan sebuah rahasia, tanpa sepengetahuan Baby!
“Seperti yang aku katakan sebelumnya, Jeon is my universe. My lovely universe. So where can I go, when my universe’s only one, only you?”
Jeon-Jonas tidak bisa tidak menarik senyum selebar mungkin. Ia menepikan mobil, lalu menatap Melissa dengan intens.
“How about Miguel?”
“Dia teman.”
“Tidak ada kata teman antara laki-laki dan perempuan, Melissa!”
“Lalu?”
“Dia musuh.”
“Miguel tidak jahat.”
“Miguel jahat, dia ingin mencurimu dariku. Itu jahat.”
“Okay. Bukan teman. Bukan siapa-siapa.”
“Ya, lebih baik seperti itu.”
“Jadi—kita berbaikan?”
“Ya, but kiss me here, here, here, and here.” Jeon-Jonas menunjuk dahi, pipi kanan, pipi kiri, bibir. Melissa terkekeh geli, segera mencium di empat tempat yang diminta pria itu.