HOT GUY

HOT GUY
[65]



Jeon-Jonas meninggalkan kamar begitu menerima telepon dari Ayah, yang sebenarnya sudah tidak ia acuhkan selama panggilan dilakukan. Kali ini, karena Melissa bahkan harus keluar dari kamar mandi dengan banyak busa di rambut dan terbalut handuk untuk mengangkat panggilan tersebut, Jeon-Jonas akhirnya menyerah.


“Halo,” ucapnya.


“Apa yang kau lakukan pada Daniela?”


“Pardon?"


“Daniela sekarat di rumah sakit karena diculik! Kau menyuruh anak buahmu melakukannya?”


“Aku tidak melakukan apa pun. Ini bahkan sudah berbulan-bulan dan aku hanya di rumah menjaga Melissa.”


“Lalu siapa yang menyakiti Daniela? Harold bahkan belum ditemukan sampai sekarang!”


“Satu-satunya orang yang harus dicurigai di sini adalah kau, Jeon Jonas! Mereka pernah menyakiti Melissa dan kau membalasnya ribuan kali lipat! Sebenarnya kenapa? Kenapa kau masih menyimpan dendam saat istrimu saja tidak menghiraukannya?” sambung Ayah.


“I told you I’m with Melissa! Don’t just accuse!”


“I won’t forgive you if you di—”


Panggilan ia akhiri sebelum benar-benar selesai. Ayah sudah pasti mengumpat di seberang sana, dan ia tidak ingin peduli. Daniela dan Harold tidak pernah menjadi urusannya, tidak pernah menjadi salah satu hal yang harus ia khawatirkan. Hanya ketika mereka berani menyakiti Melissa, ia turun tangan. Selebihnya, ia bahkan tidak pernah ingin sekadar bertegur sapa.


Ia melempar ponsel ke atas sofa, duduk di tepi ranjang, seraya memperhatikan Melissa yang sudah berpakaian lengkap, mengeringkan rambut panjangnya dengan hair dryer.


“May I know who’s calling? You look annoyed,” celetuk Melissa, melirik dari cermin.


“Ayah.”


“Ayah?”


“Hm. Hanya berbasa-basi tidak penting, tapi dia memang semenyebalkan itu.”


Ia mendekati meja rias, mengambil dua jepitan rambut berwarna merah muda, dijepitkan pada sebelah rambut Melissa. “Pretty.” Ia mengecup puncak kepala wanita itu, sebelum terganggu suara dering ponsel saat hendak memeluk Melissa dari belakang.


Dengan decakan kesal, ia menerima panggilan dari Krista. “Ya.”


“Jeon, Ayah salah paham. Aku mewakilinya meminta maaf, Sayang.”


Melirik Melissa sebentar, ia kembali keluar dari dalam kamar. “Apa yang terjadi?”


“Mungkin kau mengenal mereka, maksud Ibu—orang yang kini meneror beberapa kamar di hotel Ibu. Banyak tamu yang mengeluh karena terganggu, mereka bahkan sudah memberi review buruk. Itu juga mengganggu Ibu, Jeon. Terutama karena Daniela juga menjadi bahan pelampiasan karena mereka tidak menemukan kelemahanmu yang sebenarnya.”


“Maksud Ibu?”


“Ada setiap tulisan di kaca, mereka menyekap Daniela karena mereka mengira kalau Daniela adalah orang yang sangat kau sayangi. Dan karena kau tidak ada di Florida, dan sama sekali tidak mencemaskan Daniela, mereka beralih meneror hotel Ibu. Mungkin selanjutnya—rumah kita.”


“Tidak. Tidak ada yang tau letak rumah kita.”


“Ibu harap begitu.”


“Aku akan ke sana. Ibu jangan khawatir.”


“Itu berbahaya, Jeon. Melissa bagaimana?”


“Aku tidak akan membawanya. Hanya aku dan beberapa anak buahku.”


🌷🌷


Melissa keluar dari dalam kamar, mendapati Jeon-Jonas masih mengobrol dengan seseorang lewat telepon. Tidak berusaha bertanya, ia segera turun ke bawah, memeriksa kulkas dan mengeluarkan apple pie buatan Enna semalam. Rasanya masih sama lezat, tangan Enna memang ajaib, selalu bisa menciptakan makanan-makanan yang tidak pernah mengecewakan. Andai ia punya tangan ajaib juga, ia akan mengeluarkan sepuluh apple pie dari telapak tangan.


“Pinky?”


Ia mendongak, Jeon-Jonas terlihat mencari keberadaannya.


“Here!"


Pria itu segera menuruni undakan tangga, bergabung bersamanya menikmati sisa apple pie yang terasa cukup dingin di dalam mulut.


“Ada yang ingin aku katakan, Sayang.”


Melissa diam, lebih memilih memenuhi mulutnya dengan banyak pie.


“Aku akan ke Florida hari ini. Sendiri.”


Melissa berhenti mengunyah, menaikkan alis tidak suka, sebelum terburu-buru mengunyah beberapa detik dan menelan seluruh pie di dalam mulut agar dapat berbicara.


“Aku juga rindu Livy, rindu Ibu, rindu Ayah. Kenapa aku tidak ikut?”


“Ini bukan liburan, Sayang. Ini—”


Tidak, tidak. Melissa akan semakin bersikeras ikut bila ia menjelaskan tentang hal darurat yang tengah dialami Krista pada hotelnya, juga kecemasan wanita itu terhadap Livy. Melissa menyayangi mereka, dan membiarkan wanita itu tahu tanpa membawanya ke sana, hanya akan membuat semuanya semakin runyam.


“Ini penting, sangat penting.”


“Aku ikut.”


“I have a lot of work to do.”


Melissa mendengkus. “Kau punya banyak anak buah yang bisa mengerjakan ini itu, mereka bisa pergi ke sana untuk menyelesaikannya.”


“Hanya dua hari, Sayang. Aku janji.”


Melissa menusuk-nusuk pie dengan garpu, meringis kesal menunjukkan deretan giginya. Jeon-Jonas harus menahan dirinya untuk tidak berlelucon, atau dirinya yang akan menjadi sasaran garpu.


Maka selanjutnya, ia hanya mengacak rambut wanita itu, menjelaskan bahwa tidak akan ada monster jahat di Florida yang bisa menahannya lebih lama. Hanya dua hari. Dan ia berani memotong kepalanya sendiri, menggelindingkannya ke laut jika ia berbohong.


“Ben sudah menyiapkan helikopter, kami harus berangkat beberapa jam lagi.”


Apple pie manis tersebut telah memiliki terlalu banyak lubang, Melissa berhenti menusuk-nusuk, mengatakan, “Aku harus ke supermarket.”


“With Jack?”


“You!”


“Okay. Aku punya cukup waktu menemanimu ke sana. Sekarang?”


Melissa segera bangkit, berjalan cepat ke pintu utama. Jeon-Jonas tersenyum samar, hanya khawatir bayi di dalam perut yang sudah berbentuk itu, terganggu karena ibunya berisik.


🌷🌷


Sudah lebih dari satu jam, Melissa bahkan sudah memenuhi satu troli dengan aneka macam belanjaan, dan menarik troli lain untuk diisi. Dengan floral dress selutut, wanita itu berjalan di depan, mengambil apa saja dan diletakkan asal di troli yang didorong oleh Jeon-Jonas yang berdiri di belakang.


Jeon-Jonas tahu ini adalah salah satu protes karena wanita itu tidak dibiarkan ikut, dan juga—agar ia kehabisan waktu dan tidak jadi berangkat ke Florida.


Melissa mungkin akan memenuhi sampai sepuluh troli, bila ia tidak menghentikannya.


“Honey, this is too much.”


Mereka mungkin akan menimbun rumah mereka dengan buah, sereal, deterjen dan aneka snack. Dan Melissa sepertinya benar-benar ingin merealisasikan hal tersebut.


“Honey…”


Ada sampo lain yang masuk ke dalam troli, Melissa masih ingin mengulur waktu.


“Pinky. Kita tidak butuh belasan jenis sampo dan deterjen. Enna sudah menyiapkan semuanya di rumah. Semua hal.”


Melissa berbalik dengan tangan bersedekap. “Aku punya uang, aku akan membayarnya sendiri.”


“Tidak. Ini bukan soal uang, Sayang. Ini soal betapa tidak pentingnya deterjen-deterjen ini. Aku mungkin akan membuka toko di samping rumah, bila kau begitu berminat berbelanja. Aku akan menyediakan berbagai deterjen, sereal, kecap, susu, jelly, cokelat and—your favorite candy. Everything. It’s not about money, for God’s sake. No.”


“But it’s about how badly you want to go?”


Jeon-Jonas mendesah, berusaha untuk menarik senyum hangat.


“Hanya dua hari, dan kalau bisa sehari, atau hanya beberapa jam. Aku juga tidak ingin pergi. It’s a tough choice, and dangerous for you.”


Ia meraih lengan-lengan wanita itu, mengelusnya lembut. “I’ll text you.”


🌷🌷


Jeon : Kami sudah sampai di rumah Ibu, baru saja.


Melissa : Mereka baik-baik saja?


Jeon : Ya.


Melissa : Aku akan menelepon.


Jeon : Cukup lewat pesan. Aku akan mengganti nomorku mulai sekarang, jadi aku yang akan menelepon terlebih dahulu.


Melissa : Kenapa harus mengganti nomor telepon?


Jeon : Ini penting, Sayang.


Melissa : Alright.


Melissa membaca isi pesan tersebut dengan decakan kesal. Ini sudah hari ketiga setelah akhirnya pria itu pergi. Dan belum ada tanda-tanda kembali. Bahkan untuk pesan singkat bahwa pria itu sedang melakukan ini atau itu, sedang bersama si ini atau si itu, pergi ke mana, tidur jam berapa. Tidak ada pesan setelah hari pertama pria itu sampai di Florida.


“Dia akan kembali,” celetuk Enna, yang membantu menjemur simba lainnya.


“Dia berjanji akan kembali di hari kedua, atau akan memotong kepalanya dan menggelindingkannya ke laut!”


Enna menahan tawa dengan membekap mulut. “Mungkin memang sedang sibuk bekerja.”


“He’s the boss, Enna. Dia bisa memerintahkan orang untuk mengerjakan hal yang tidak bisa ia tangani sendiri, lalu meneleponku. Tapi dia tidak melakukannya. He’s such a liar!”


Enna meringis saat simba di tangan Melissa ditekan-tekan terlalu lama, menjadi korban pelampiasan. “Okay, berikan simbanya.” Ia meraih simba tersebut, memasang senyum cerah kemudian. “Ouw, pernah menonton film Spy sebelumnya?”


“Spy?


“Uhumm.” Enna mengangguk. “Film Jason Statham. Itu lucu, sangat lucu menurutku. Aku sudah menontonnya empat kali, dan masih berniat mengulangnya. Geez, Jason dan kepalanya sangat seksi. Dia adalah pria terkeren sepanjang masa!”


“Jeon melarangku menonton film yang pemeran prianya terlalu keren.”


“Sayang sekali.”


“Tapi aku rasa aku akan menontonnya.”


“Uhh.”


Simba ke sekian berhasil dijemur, Melissa dan Enna bersiap menyiapkan makanan untuk dibawa ke ruang menonton. Susu pisang, kacang polong, biskuit, candy, minus pop corn.


Enna menyalakan televisi, mencari film spy yang sudah dirilis pada tahun 2015. Sementara Melissa mulai membuka satu bungkus biskuit, mengunyahnya sembari bersandar di sofa.


“Ponselmu, Mel.”


“Hah?”


Melissa menarik ponsel yang bergetar di atas meja. Bukan Jeon-Jonas, ia sudah memblokir nomor pria itu. Yang kini meneleponnya adalah orang asing, yang sialnya memiliki wajah persis suaminya itu.


“Good afternoon, Pinky.” Pria itu tersenyum lebar, terlihat santai berbaring di atas tempat tidur.


“Hm.”


“I miss you—Miss your big tummy too.”


Melissa memutar bola mata, mengubah kamera hingga menyorot layar televisi yang sedang menampilkan Jason Statham bersama Jude Law. Melissa McCarthy terhimpit di tengahnya.


“Aku akan menontonnya,” ucap Melissa setelah mengubah kamera menjadi kamera depan.


“Baby belum bisa menontonnya, Sayang. Itu tontonan dewasa.”


“Baby belum bisa melihat.”


“You’re a baby too.”


“I’m a wife, a mother.”


Jeon-Jonas tertawa ringan. “Miss you, badly.”


Melissa mendecak. “You have to keep your promise.”


“Janji yang mana?”


“Memotong kepala dan menggelindingkannya ke laut.”


“Seriously you want me to do it?”


“Ya.”


“Sekarang?”


“Ya.”


“Baby akan menangis saat melihatku berdiri di sampingnya tanpa kepala.”


“You promised!”


“Aku memiliki pisau sekarang, Sayang. Dan aku harap aku memang bisa melakukannya tanpa melihatmu menjerit dan menangis. Kau akan merindukanku. Merindukan kepalaku. Rambutku, mataku, hidungku, bibirku, senyumku. Kau akan merindukan semuanya. Masih ingin aku melakukannya?”


Melissa mengakhiri panggilan video secara sepihak. Kesal, marah, emosi, semuanya menumpuk di kepala. Tapi memang benar, ia tidak ingin pria itu kehilangan kepalanya. Ia tidak akan pernah bisa menemukan kepala seseksi itu. Bahkan untuk ukuran kepala Jason Statham, kepala Jeon-Jonas lebih keren dari kepala siapa pun.


Jeon : The boss baby salah satu film terbaik yang pernah aku tonton. Watch it.


Hanya ia baca. Tidak dibalas. Melissa lebih memilih mencari posisi berbaring yang nyaman, menonton Susan Cooper yang sedang memulai penyamaran, memasuki ruangan kecil yang akan digunakan sebagai rumah sementara selama menjadi mata-mata.


“To be honest, wignya terlihat menjijikkan,” komentar Enna sembari mengunyah kacang polong.


Melissa tersenyum, melirik ponsel yang menampilkan sebuah pop up pesan.


Jeon : I love you.


***


Ini hari keempat. Oh sialan, rindu itu menyesakkan! Simba-simba yang sudah dicuci bersih dan telah kembali berkumpul di tempat tidur, memang membuat Melissa merasa hangat, nyaman. Tapi tetap, ia kehilangan simba besarnya. Dan simba yang satu itu sepertinya sudah nyaman di tempat lain, bukan di kamar bernuansa pink yang sarat akan aroma madu dan perempuan.


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ia melewati sarapan sendirian, makan siang sendirian, makan malam sendirian. Enna sibuk mengurung diri di dalam kamar. Dan kali ini, ia merasa kesepian. Ia butuh Jeon, ingin melihatnya, mendekapnya.


Tapi sialan sekali, kemarin adalah pertukaran pesan mereka yang terakhir. Jeon-Jonas tidak mengirimi pesan lagi.


“Melissa…”


Ia menoleh, beranjak membuka pintu.


“Hei, aku lupa mengingatkanmu meminum susu.”


“Ah, ya.”


Enna memberikannya segelas susu ibu hamil, menunggu Melissa meneguknya hingga habis.


“Ada apa?”


Melissa menggeleng, memaksakan senyum. Enna menepuk lengannya dengan kekehan.


“Spill the tea, Mel. Kita sudah bertahun-tahun jadi sahabat yang aneh. Ceritakan padaku.”


“Aku hanya—rindu Jeon.”


“Oh, aku sangat memahaminya. Aku merindukannya juga.”


Melissa mendengkus, Enna tertawa.


“Tidak, tidak. Aku tidak berencana menjadi orang ketiga. Aku memang merindukannya seperti seorang Ibu. Dia selalu di rumah setelah mengenalmu. Dan ketika dia pergi berhari-hari, rasanya kosong. I feel you, Mel.”


“Sekarang, istirahatlah. Aku yakin Jeon Jonas akan pulang besok.”


“Kalau tidak?”


“Well, kita akan membawa gergaji mesin ke Florida, menggergaji kepalanya dan melemparnya ke laut. Terdengar menyenangkan, bukan?”


Melissa terbahak, membiarkan Enna pergi pada akhirnya. Sepi merayap pelan-pelan, bersama gemerisik angin yang cukup kentara. Seharusnya ia menahan Enna, mengajaknya tidur bersama. Perempuan tua itu selalu bisa membuat lelucon, yang otomatis akan membuat Melissa melupakan rasa kalutnya.


Namun terlanjur, wanita itu pasti sudah mengunci pintu kamarnya sekarang.


Melissa menatap langit-langit kamar, berusaha menghipnotis diri sendiri agar segera tertidur. Namun sulit, bahkan setelah melewati pukul sepuluh, ia masih terjaga.


Dengan gusar, ia beringsut turun dari ranjang, turun ke bawah untuk minum segelas air. Ia menyandarkan pinggangnya ke pinggiran meja makan, melamun.


Perutnya sudah mulai membesar sekarang, sudah akan terlihat lucu bila ia mengenakan rok yang biasa ia kenakan. Jeon-Jonas akan terang-terangan menciumi perutnya, memeluknya gemas, bergumam entah apa.


Stop, Mel. Dia jauh sekarang! Kau tidak memiliki sayap atau pintu ajaib yang bisa membawamu ke Florida hanya dalam hitungan detik!


Ya, benar. Ia hanya harus istirahat, memeluk kumpulan simbanya dan—terbangun di siang hari. Kakinya ia bawa melintasi ruang dapur, melewati ruang tengah, lalu—siapa?


Ia mengerjap lambat, berusaha fokus melihat siapa yang berdiri di pintu dengan buket mawar bersama cokelat, kotak merah yang sepertinya hadiah yang paling spesial di antara yang lain, lalu boneka The Boss Baby.


Pria itu tersenyum, mengumpulkan semua yang dibawa di tangan kiri, lalu mengulurkan tangan kanannya agar dipeluk.


“I’m home, Darling.”


SELESAI.


Author Note : Cerita ini aku selesaikan di sini dulu ya. Ya, aku tau ini memang belum terjawab semua. Aku belum ceritain keberadaan Sissy yang pernah tidur sama Jeon. Hans, Sani, Bernard dan kelompoknya. Dan yang paling ditunggu pasti baby-nya mereka😊


It's not finished yet. I know. Tapi masalah di duniaku sekarang sedang banyak-banyaknya. Terutama keluarga dan finansial.


So the point, aku izin hiatus selama--mungkin satu bulan. Aku akan kembali dengan Pinky dan kisah mereka selanjutnya.


Aku gak minta kalian tetap stay. Aku malah mau ngucap terimakasih karena mau baca Hot Guy sampai sejauh ini. Itu sangat berarti buat aku. Dan terimakasih untuk like dan comment konyol kalian selama ini. Itu lucu dan aku ngerasa punya temen gaib.....


Dan maaf sekali lagi karena mengecewakan.


Aku sayang kalian 💜💜💜