
Dua petugas kebersihan hotel membungkukkan kepala mereka begitu pantry, semua sudut-sudut dapur telah selesai dibersihkan. Isi pantry telah diganti, botol-botol selai telah dibuang, begitu juga dengan wadah kaca super mahal milik Krista yang telah bergabung dengan sampah lain.
“Apa kalian sudah memastikan kalau tidak ada satupun pecahan kaca di lantai ini?”
“Sudah, Tuan. Semuanya sudah dibersihkan.”
Jeon-Jonas melirik pintu. “Keluar.”
Dua petugas kebersihan itu mengangguk, bergegas pergi membawa peralatan mereka. Seperginya kedua wanita itu, Jeon-Jonas melangkah menuju kamar tidur, mendapati Melissa tengah memegang hair dryer sembari berdiri. Sudah memakai pakaian baru dan terlihat lebih cerah karena baru selesai mandi.
Jeon-Jonas duduk di tepi ranjang, mengecek ponsel. Sementara Melissa, yang baru saja selesai mengeringkan rambut, segera mendekati pria itu, berdiri tepat di hadapannya.
“Jeon…”
Jeon-Jonas mendongak lalu kembali melihat ponsel.
Karena tidak suka dengan kediaman pria itu, Melissa lebih mendekatkan tubuh, menarik ponsel Jeon-Jonas agar mendapat perhatian.
“Aku minta maaf karena mengacau.”
Jeon-Jonas masih bergeming setelah sebelumnya sempat mendesah panjang.
“Aku akan ganti rugi kalau itu yang kau inginkan.”
Pria itu belum menanggapi.
“Jeon…”
Melissa merengut karena tidak mendapat sahutan. Ia kemudian mencium pipi pria itu, memeluk kepalanya dengan lembut.
“Aku minta maaf.”
Belum mendapat tanggapan, ia mencium lagi pipi pria itu, duduk menyamping di pangkuannya sambil dipeluk lalu memberanikan diri mengecup lehernya.
“Berhenti merayuku, Melissa.”
Melissa menggeleng. “Aku meminta maaf, bukan merayu.”
“Tapi kau menciumiku.”
Melissa mendongak. “Biasanya kau menyukainya.”
Jeon-Jonas memang selalu menyukainya!
“Tidak, jika aku sedang marah.”
“Apa yang harus aku lakukan agar aku dimaafkan?”
“Berikan tanganmu.”
Melissa bergeming, tidak ingin Jeon-Jonas melihat luka bakar di pergelangan tangannya.
“Berikan tanganmu.”
Melissa terdiam beberapa saat, sampai akhirnya menurut setelah takut karena dipelototi pria itu.
“Kenapa ini bisa terjadi?”
“Itu … tidak sengaja mengenai wajan.”
“Jangan berteman dengan mereka lagi. Mereka yang menyuruhmu untuk melakukan semuanya, bukan?”
Ya, tapi—tidak. Ia memang berkeinginan memasak sebelumnya.
Melissa menggeleng. “Aku melakukannya karena ingin.”
“Karena ingin? Kau memang berniat melukai dirimu sendiri?”
“Tidak. Aku tidak berpikir seperti itu.”
“Berarti benar, mereka menghasutmu.”
“Jeon—”
Jeon-Jonas kembali mengambil ponselnya, ada panggilan telepon dari Ben.
“Saya sudah membelinya, Bos.”
“Masuk ke kamar.”
“Maaf Bos?”
“Kau tidak mendengarku?”
“Baik, Bos.”
Ben muncul setelah beberapa menit kemudian, tercenung tatkala melihat Melissa tengah duduk di pangkuan sang bos. Ia memilih berdiri di daun pintu.
“Saya datang, Bos.” Melissa cepat-cepat memindahkan badan, tapi ditahan Jeon-Jonas sehingga ia tetap duduk di pangkuan pria itu.
“Berikan padaku.”
Ben mengangguk sekali. Melangkah lebar menuju Jeon-Jonas, lalu mengulurkan tangan untuk memberikan obat yang sudah ia beli atas perintah pria itu.
“Ini khusus untuk luka bakar?”
“Benar, Bos.”
Jeon-Jonas memutuskan membuka obat sachet tersebut, mengolesinya pada luka di pergelangan tangan Melissa.
“Sakit?” tanyanya.
Melissa menggeleng. “Tidak.”
Selesai mengobati pergelangan tangan Melissa, Jeon-Jonas mengecup bibir wanita itu, singkat.
“Berhati-hati saat di dapur. Tidak perlu memasak jika itu hanya akan menyakitimu.”
Ben, yang belum mendapat perintah untuk keluar dari ruangan, hanya bisa menundukkan kepala, tidak ingin melihat, meski sialnya tetap saja tahu kalau sang bos sedang mengecupi Melissa.
“Sejak kapan ada boneka hiu di sini?”
Seketika, Ben mendongak. Khawatir Melissa tidak pandai berbohong.
“Itu—dari Maggie dan Ava.”
“Buang.”
“Tidak, aku menyukainya!”
“Sesuka itu?”
“Simba tinggal di rumah.”
“Aku yang akan jadi simba.”
“Kau tetap tidak bisa memeluknya nanti malam.”
“Kenapa?”
“Karena aku yang harus kau peluk.”
Sialan! Sialan! Sialan! Ben ingin keluar dari ruangan ini!!
Dan—permintaannya sepertinya terkabul. Karena saat Jeon-Jonas menoleh dengan lirikan mata yang tajam, pria itu telah menyuruhnya untuk keluar. Ben menuruti dengan cepat, suatu keberuntungan karena tidak lagi mendengar percakapan pasangan itu.
“Kita akan kembali ke Las Vegas. Kemasi barang-barangmu.”
“Tidak, aku suka Florida. Aku ingin berjalan-jalan.”
“Tidak bisa, Sayang. Kau lupa dengan siapa kau menikah?”
Melissa cemberut. “Aku tidak ingin pulang.”
“Hasutan siapa lagi?”
“Aku ingin mengobrol dengan Ibu, bermain dengan Livy, berkeliling di pantai Miami dan banyak hal lagi.”
“Seingin itu?”
Melissa mengangguk antusias. “Ya.”
“Berapa hari?”
“Seminggu, atau sebulan?”
“Jangan keduanya.”
“Lima hari?”
“No.”
“Empat?”
“No.”
“Tiga?”
“Well, three days.”
Cukup. Seharusnya itu sudah cukup. Melissa mengangguk setuju.
“Apa aku bisa ke pantai Miami besok?”
“Of course, Honey. With me.”
***
Krista menelepon Melissa esok harinya. Kabar tentang kekacauan di grand penthouse suite miliknya beredar cepat meski tidak diberitahu langsung oleh Melissa ataupun Jeon-Jonas.
“Halo, Sayang,” sapa Krista lembut.
“Ibu…”
“Apa yang telah terjadi? Aku dengar terjadi sesuatu di kamar kalian.”
“Wadah kaca milik Ibu sudah pecah. Aku dan temanku bermain-main saat memasak.”
“Yang jadi masalah, apa kau terluka? Kata mereka Jeon marah. Apa dia marah padamu?”
“Uhm. Tapi tidak lagi.”
“Jeon marah padamu?” Suara Krista terdengar meninggi. “Kenapa memarahimu sedangkan aku saja tidak marah meski wadah kaca mahalku hancur?”
Melissa terkekeh kecil. “Jeon marah karena tanganku terluka. Kami sudah berbaikan tadi malam.”
“O-ah, tadi malam, ya?”
“Jeon di mana? dia perlu diingatkan agar tidak terlalu sering-sering—janinmu masih rentan.”
“Jeon sedang mandi, kami akan berjalan-jalan di pantai Miami.”
“Oh, ya?” Krista terkekeh. “Poroti saja dia, beli yang mahal-mahal, dia tidak akan marah.”
Melissa tertawa. “Ibu di rumah?”
“Ya. Datanglah berkunjung, Livy merindukanmu.”
“Tentu, Ibu.”
“Baiklah. Jaga kesehatanmu. Kalau terjadi sesuatu, aku akan lebih membelamu daripada Jeon.”
Melissa tertawa. “Terima kasih, Ibu.”
“Siapa yang menelepon?” tanya Jeon-Jonas begitu keluar dari kamar mandi.
“Ibu,” jawab Melissa seraya mengalihkan pandangan. Tidak ingin melihat tubuh Jeon-Jonas yang hanya dibalut handuk di pinggang.
Pria itu membuka lemari, berpakaian tanpa merasa malu.
“Pinky..”
“Hm?” Melissa menoleh, menemukan Jeon-Jonas sudah selesai mengenakan celana chino dan kemeja senada dengan gaun selutut miliknya.
“Kau yakin yang meleponmu adalah Ibu?”
“Ya, kami sudah mengobrol.”
“Bukan pria lain?”
“Hah?”
“Kau banyak tertawa. Mengakhiri telepon saat mendengarku datang.”
“Itu Ibu.”
“Well…”
Jeon-Jonas merapikan rambutnya, mengajak Melissa keluar dari dalam kamar lalu menuruni lift menuju lobi. Ben sudah menunggu di sana.
“Selamat pagi, Bos!” sapa Ben dan anak buah yang lain. Orang-orang tidak dikenal menoleh dengan wajah penasaran, tapi kemudian melanjutkan aktivitas karena menyadari aura berbeda.
Jeon-Jonas hanya mengangguk, menerima kunci mobil dari Ben lalu melangkah keluar bersama Melissa.
Namun—ia melihat sesuatu. Melintasi pintu masuk, dua orang tengah berjalan, tercenung begitu tatapan mereka bertemu.
“Jeon..”
Harold di sana, juga—Daniela.