
Enna menunggu Melissa pulang, pertama kalinya gadis itu keluar degan temannya pada malam hari, dan itu tentu saja membuat Enna khawatir. Jadi, saat mendengar deru mesin mobil, ia terburu-buru menghampiri pintu. Ia terpaku tatkala menemukan Jeon Jonas tengah menggendong Melissa sembari memasuki rumah, ia melangkah mundur, menundukkan kepala tidak berani bertatapan lama dengan tuan rumah.
Ada Ben juga di sana, mengekor dan menyuruhnya membuat teh madu, untuk Melissa ketika gadis itu sadar.
“Magg, kau jadi seperti Paman Jeon.” Melissa melenguh ketika ia dibaringkan di tempat tidurnya.
Melissa memeluk gulingnya, menyingkirkan boneka simba. Menggumam tidak jelas dan mendongak tatkala mendapatkan sapuan hangat di pipinya.
“Magg..” Sapuan itu berhenti lama di pipinya. Melissa mengerucutkan bibir, merasa bingung mengapa Maggie melakukannya.
“Maggie..”
“It’s me..” Sapuan hangat itu menjadi sangat rapat, Melissa membawa tangannya menyentuh tangan itu, mengapa tangan Maggie jadi sebesar ini? Terkekeh karena merasa itu lucu, Melissa akhirnya mendorong tangan itu menjauh. Minuman itu ternyata membuatnya tidak berpikir wajar. Karena kantuk yang mendera, ia akhirnya menutup mata, memilih tidur sehingga besok ada Jeon Jonas di sisinya.
***
Ketika pagi datang, Melissa meringis memegangi kepalanya. Seperti ditimpuk batu besar, ia merasa sakit luar biasa. Masih berputar seperti malam itu, tapi saat menemukan Enna duduk di tepi ranjang, ia mengerjap dan bangkit, bersandar di kepala ranjang.
“Aku buatkan teh madu.”
“Maggie di mana?” Itu yang Melissa tanyakan pertama kali.
“Maggie, siapa?”
“Temanku, dia ke sini semalam, mengantarku pulang.”
“O-ah…” Enna mengangguk. “Langsung pulang ketika kau tidur.”
Melissa memegangi kepalanya ketika beringsut turun dari ranjang, mengambil ponsel dari tas. Menghubungi Maggie yang ternyata tidak mengangkat panggilannya. Sadar ini hari sekolah, ia mendecak, melangkah ke kamar mandi sebelum Enna memanggilnya.
“Jangan sekolah jika kau masih merasa pusing.”
“Aku harus sekolah, bertemu Maggie.”
Enna hanya mengangguk setelah mengembuskan napas berat.
“Jangan lupa minum teh madunya.”
Di kamar mandi, Melissa memegangi pipinya, bekas tangan itu, kelembutan itu, hanya halusinasi. Melissa tidak mau memikirkan itu. Jadi saat pancuran menyala, ia berharap air dingin itu membawa semua pikiran-pikiran tentang Jeon Jonas, hubungan mereka yang renggang dan segala hal mengenai kegilaannya saat rindu itu membuncah.
Melissa turun ke bawah dengan ransel setelah selesai bersiap-siap, gelas berisi teh madunya telah kosong, ia genggam di tangan kanan. Ada Enna dan pelayan lainnya mengisi meja dengan banyak menu sarapan, seperti biasa yang Melissa lihat di pagi hari. Tapi semuanya sudah tidak sama, pria yang selalu tiba lebih dulu di bawah, menggenggam koran, menyesap teh, menunggunya agar sarapan bersama dan..
Melissa berbalik menatap pintu kamar itu. Sepi. Pria itu tidak kembali. Bahkan setelah ancaman itu.
Melissa tidak pernah benar-benar ingin pergi. Berada di rumah ini, dengan sisa aroma Jeon Jonas, sisa kebersamaan mereka yang lampau, Melissa ingin menguncinya rapat, sebab kepergiannya dari sana akan menghapus semuanya dengan mudah, dan Melissa tidak ingin itu terjadi, membayangkan itu saja tidak sanggup.
“Berapa?” Enna berdiri di depannya, menunjukkan lima jarinya.
“Lima.” Wanita paruh baya itu mengembuskan napas lega.
“Itu atinya kau sudah baik-baik saja,” gumamnya.
Melissa memutuskan sarapan dengan nasi, mengisi piring hingga setengah lalu menaruhnya di depan dada. Melissa menyantapnya sebelum menemukan waffle madu, mulutnya terbuka, terasa gatal hingga memutuskan untuk bertanya.
”Apa Paman kembali semalam?”
Enna yang saat itu baru selesai mengisi gelasnya dengan air, menoleh dengan kernyitan di dahi.
“Mungkin dia sempat datang lalu pergi lagi karena aku tidur, atau mungkin menelepon?”
Enna tersenyum simpul. “Tidak, dia tidak kembali.”
Oke. Itu cukup.
Melissa menekan sendoknya ke piring, mendorong waffle ke sisi lain, lalu menelan nasi itu cepat-cepat. Mengapa ia harus tanyakan Jeon Jonas yang mungkin bahkan tidak memikirkannya saat ini?
“Jangan berpikir buruk, dia mungkin lembur.”
Seandainya Melissa belum tahu kalau Jeon Jonas bisa memerintah orang untuk mengerjakan semuanya, ia akan lega. Tapi Jeon Jonas pernah mengajaknya ke gedung yang dikenalkan sebagai tempatnya bekerja, pria itu menjelaskan bahwa ia bekerja di bagian tertinggi, mengatur orang untuk melakukan semuanya.
“Aku mengerti.”
“Gaun yang kau pakai kemarin, apa aku bisa mencucinya?” tanya Enna.
“Tidak perlu Enna, terimakasih. Aku berangkat.”
Melissa minum air putih setelah selesai sarapan, memutuskan untuk langsung menghampiri Jack yang memegangi payung.
“Nona..” Jack melangkah lebar, melindungi tubuh Melissa dengan payung di tangannya.
Hari ini hujan. Melissa menatap nanar kediaman Jeon Jonas dari kaca mobil yang buram.
Melissa masih bergeming menyaksikan rintik hujan yang berbaris membasahi badan mobil, tidak perlu jaket, sebab rasanya akan tetap dingin ketika orang yang ia butuhkan tidak ada bersamanya.
***
Ketika sampai di sekolah, Melissa melongo mendapati semua siswa memakai baju hangat di luar seragamnya. Bertanya-tanya apa hanya ia yang tidak tahu akan datang hujan hari ini, atau adakah siswa yang hanya memakai seragam tanpa hoodie atau jaket sepertinya.
“Melissa!” Saat menemukan Ava berpenampilan sama sepertinya, Melissa tersenyum senang. Ia dipayungi Jack menuju dalam sekolah, pergi lagi ke mobil untuk kembali ke rumah.
“Ya Tuhan, aku pikir hanya aku yang tidak melihat ramalan cuaca hari ini,” gerutu Ava, merangkul Melissa menuju kelas.
“Magg!” Ava tertawa kali ini, temannya itu juga hanya mengenakan seragam.
“Kita jadi trio tidak peduli ramalan cuaca,” kekehnya, merangkul dua temannya dengan gemas.
“Aku menyayangi kalian.”
“Itu berlebihan,” decak Maggie saat Ava mengecup pipinya dan pipi Melissa sembari tertawa geli.
Maggie tersenyum saat matanya bertemu Melissa.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya.
“Ya, terimakasih sudah mengantarku pulang.”
Maggie tersenyum simpul, menunduk dan mengangguk.
“Aku bersumpah tidak mengajakmu ke tempat itu lagi,” sesalnya.
“Tempat apa? Kalian pergi tanpaku?” celetuk Ava.
Maggie menaruh jari telunjuknya di depan bibir, membuat Melissa terkekeh.
“Hei! Kalian bersenang-senang tanpaku!” Gerutuan Ava semakin hebat tatkala Maggie mangajak Melissa berlari ke ruangan kelas.
“Ava!” Lucas datang, menarik gadis itu dan menaruh jaket di kepalanya.
“Pakai jaket.”
“Tidak, aku sudah bergabung dengan trio tidak peduli ramalan cuaca.” Ava mengembalikan jaket Lucas lalu berjalan lebih dulu ke kelas.
***
Ramalan cuaca hari ini sangat akurat, hujan memang mengguyur bumi dalam waktu yang lama, semua tanaman yang sebelumnya haus, melahap hebat jutaan hujan yang jatuh. Kedinginan itu berangsur hingga malam datang, buruknya kali ini Melissa ketakutan, ada petir yang menyelip diantara air yang jatuh, mereka bersahutan, mengejek Melissa yang meringkuk hingga memeluk lutut.
“Ibu..”
“Ayah..”
Semuanya menjauh, bahkan selimut yang selama ini bersedia menyembunyikan tubuh ringkihnya. Tidak ada yang pernah datang saat ia bekeringat karena takut. Melissa melawan ketakutannya sendirian, tapi itu tidak berhasil, selama ia melakukannya, itu tidak pernah berhasil.
“Paman.” Melissa menyebut pria itu, pertama kalinya saat petir dan hujan berusaha membunuhnya secara perlahan. Dan itu kosong, sama seperti ibu dan ayahnya yang memuram di antara angin dan kegelapan.
Dan pada akhirnya tidak ada siapapun di sana, suara petir semakin menggelegar, dan gadis itu bergabung dengan kegelapan.
“*Melissa, jadilah anak yang baik. Jangan terlalu memikirkan orang yang mengejekmu, ketika kau dewasa nanti mereka akan mengejarmu, meminta bantuanmu, dan hal itu akan terwujud ketika kau menjadi orang yang berhasil.”
Melissa hanya mengusap air matanya, membiarkan ibunya memegangi kedua pundaknya, menenangkannya.
“Kenapa hanya Melissa yang diejek? Mereka merusak buku Melissa, menyoret meja Melissa, mengapa hanya Melissa yang mendapatkannya?”
Mendengar tangisan putrinya semakin kencang, Tessa-Ibu Melissa tersenyum tipis, memberi ciuman di pipi gadis itu dengan lembut.
“Terkadang seseorang harus mendapatkan itu untuk mengerti rasa sakit, meski itu bukan hal wajar yang harus kau terima, kau harus bersabar. Semuanya akan berlalu.”
Melissa kecil memeluk erat ibunya, tapi tubuh itu tidak tergenggam, Melissa melaluinya dan ibunya hanya tersenyum*.
“Ibu..”
Wajah Melissa memerah dan basah, baik air mata atau peluh, mereka sama-sama membanjirinya. Tapi sapuan hangat itu datang lagi, sesaat Melissa merasa tenang, ia sangat butuh tangan itu, untuk mengusap wajahnya, menepis getaran tubuhnya, dan menjadi temannya.
Mata bulat itu terbuka, menemukan siluet samar-samar dalam ruangan temaram.
“Paman..”
“Aku rindu Paman.” Tangisnya pecah, tangan itu ia genggam erat, tidak ingin itu lepas.
Sosok itu hanya mendekat, tidak ada suara yang ia dengar sebagai sahutan. Isakan itu semakin tidak karuan, ada degup yang menderu dan Melissa mencapai tangan itu agar wajah mereka saling beradu.
Dan pada akhirnya, meski tidak menemukan mata hitam yang selalu ia dambakan, Melissa merasakan dekapan hangat, sosok itu menciumnya sangat lembut, itu cukup. Sangat cukup untuk membuatnya merasa nyaman.