Hidden Baby

Hidden Baby
Promo Novel Mengejar Cinta Pak Duda



Promo lagi, kali ini mau promo novel punya diri sendiri yang anyep kek kuburan. Mampir ya guys 🙏



Cuplikan bab 1 | Gara-Gara Jemuran


Bulan Desember adalah puncak tertinggi musim penghujan. Dimana hujan turun satu hari penuh. Terkadang dari pagi hingga pagi lagi. Keluh kesah pun selalu terucap oleh  seorang gadis yang bernama Fiona. Dia harus keluar masuk untuk mengangkat jemurannya yang tak kunjung kering.


Sudah satu minggu ini hujan begitu awet layaknya terkena formalin. Mentari hanya sebentar menampakkan diri lalu menghilang begitu saja lenyap di tutup awan gelap. 


Sudah tiga bulan  Fio  tak lagi bekerja, dia resign dari tempatnya bekerja karena gaji yang tidak sesuai. Bagi Fio uang 600 ribu hanya cukup untuk membeli skin carenya saja. Tak sesuai dengan pekerjaan yang menguras tenaga dan pikirannya.


“Fio, Ibu mau ke tempat Wak Yeni, nanti kalo hujan tolong angkat juga jemuran pak Sakya, dia lagi sakit!” pesan ibu Fiona. 


Fiona yang sibuk dengan ponselnya harus mendengus kesal saat harus berurusan lagi dengan duren depan rumahnya.


Duda keren yang baru saja ditinggal oleh sang istri untuk selamanya. Meskipun menyandang sebagai duda, tetapi kharisma Sakya mampu mengguncangkan hati kaum hawa di kompleksnya, terutama janda muda.


Dengan keterpaksaan Fio menyanggupi pesan Ibunya.  Sebenarnya Fio sangat malas jika harus berurusan dengan duren depan rumahnya. Belum apa-apa Fio pasti akan langsung terkena serangan jantung akibat pesona pak duren. Namun, itu bukanlah masalah besar untuknya. Yang membuatnya malas itu adalah dia paling tidak suka dengan mulut pedas tetangga yang sudah seperti bon cabe level 50.


“Huh,”  gerutunya, saat gerimis  mulai berjatuhan.  Setelah mengangkat semua pakaiannya, Fio pun segera berlari ke depan  rumah, dimana banyak sekali jemuran milik pak duren masih setengah basah.


“Kenapa gak pakai jasa Laundry aja sih,”  gerutu  Fio lagi saat mendapati banyaknya jemuran milik Sakya yang harus dia angkat. Bisa dipastikan ini adalah cucian selama satu minggu.


 Suara  lelaki dari belakang membuat Fio terkejut.


Fio segera  menoleh ke arah suara berasal. Fio semakin terkejut saat sang pak duren juga telah membopong beberapa kain jemurannya.


Dalam  hati Fio merutuki dirinya sendiri. Bagaimana  dia bisa melupakan pesan ibunya yang mengatakan jika Sakya tengah sakit. Namun sepertinya pak duren hanya demam biasa karena dia masih beraktivitas.


Jika tahu Sakya hanya demam biasa, Fio tidak akan sibuk untuk mengangkat jemuran miliknya. Terlebih saat ini Sakya juga terlihat baik-baik saja.


"Katanya sakit?" Fio melirik kearah Sakya yang sedang membantunya membawa kain jemurannya.


"Udah mendingan kok, cuma demam biasa. Terimakasih sudah mau membantu."


Fio hanya mengangguk pelan dan membawa jemuran itu masuk kedalam rumah bersama dengan Sakya.


Untung saja tak ada tetangga yang melihatnya saat ini jika Fio mengikuti Sakya masuk kedalam rumahnya. Jika sampai ada tetangga yang tahu,  pasti dirinya akan menjadi bulan-bulanan tetangga, terutama para janda muda.


“Itu rumah atau gudang?” gumam Fio saat Sakya membawa Fio ke salah satu ruangan yang kosong. Hanya ada keranjang pakaian dan pakaian yang menggunung belum dilipat.


...❄️❄️❄️...