
Vie merasa sangat bahagia malam ini. Tak ada kata terlambat, itulah yang Vie rasakan saat ini. Dilamar suami sendiri saat usia pernikahan sudah berjalan beberapa bulan. Jika biasa orang akan bertunangan lebih dahulu sebelum menikah, maka Vie berbalik belakang.
Buat anak, nikah, dilamar.
Vie ingin menertawakan jalan hidupnya yang terlihat lucu, dan langka luar biasa. Tak akan ada seseorang yang bisa mengcopy paste cerita cintanya. Hanya dia dan Dirga yang mampu menciptakan.
Vie terus menatap sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya. Kedua jari manisnya sama-sama mengenakan cincin. Cincin pernikahan dan cincin tunangan.
"Kamu belum tidur?" tanya Dirga saat melihat tubuh Vie masih bergerak.
Vie yang tidur membelakangi Dirga hanya menggeleng pelan.
"Aku tidur duluan ya. Hari pertama di sini melelahkan. Tapi tenang saja waktu kita masih panjang di sini. Besok siang kita bisa nanam ubi, malamnya kita keluar angkasa, oke?"
Vie terkekeh geli mendengar pembicaraan Dirga, tetapi sesat ia menyadari bahwa dirinya sekarang lebih agresif dan terlihat memalukan saat menginginkan bercin.ta dengan suaminya. Seperti ja.lang yang haus belaian.
Ya ampun, sebenarnya ada apa dengan diriku sekarang? Mengapa akhir-akhir ini aku seperti seorang ja.lang? Pasti Dirga saat ini sedang menertawakan diriku yang bodoh ini.
Vie membalikkan badannya, tepat dihadapannya wajah Dirga terlihat tenang dengan hembusan nafas yang teratur.
Perlahan Vie memberanikan diri untuk menyentuh pipinya yang bersih tanpa noda, meskipun ia tak pernah melakukan perawatan wajah. Berbeda dengan dirinya saat ini yang terlihat lebih kucel dan beberapa jerawat menempel. Hal itu wajar untuk Vie, setiap bulan jerawatnya pasti akan keluar di iringi dengan tamu bulanan yang hendak datang juga.
Mengingat tamu bulanan Vie memutar bola matanya. Jika tamu itu akan datang, berarti acara tanam menanam dan naik ke angkasa Bakan sirna. Lalu bagaimana dengan nasib Dirga? Pasti akan sangat kecewa.
Bibir Vie semakin gatal untuk tidak mencium bibir Dirga. Akhirnya kecupan singkat mendarat pada bibir suaminya.
\*\*\*\*\*
Mentari pagi telah menyingsing. Tubuh Vie menempel erat pada tubuh Dirga. Jika tangan Dirga melingkar di pinggang Vie, maka tangan Vie memilih memegang sesuatu yang tanpa disadari oleh sang pemiliknya sudah mengeras.
Dirga mengerjakan karena merasakan sesuatu yang sesak di bawah dan terasa ingin buang air kecil. Namun, saat ia terbangun, ia terkejut dengan tangan nakal Vie yang sudah melekat pada benda yang telah mengeras.
Dirga berusaha untuk mengangkat tangan Vie karena hendak ke kamar mandi, tetapi Vie segera menggenggamnya lagi.
"Ya Tuhan, Vie. Apa yang kamu lakukan? Kamu ingin menggoda aku ya? Aku mau ke kamar mandi dulu."
Vie pun membuka matanya, ia merasakan apa yang sedang ia genggam. Dengan tersenyum Vie berkata, "Ga, udah bangun dia. Naik ke angkasa yuk?"
Mata Dirga membuat. Kali ini ia tidak bisa menahannya. Dirga segera bangkit dan langsung menuju ke kamar mandi. Rasanya sudah di pucuk hendak keluar.
Sebagai seorang lelaki normal, saat aset berharga miliknya disentuh langsung oleh seseorang pasti langsung akan bangkit. Apalagi yang menyentuh adalah istri sendiri.
Tidak sia-sia Vie membangunkan Juna, pada akhirnya Vie diajak menari keluar angkasa pagi ini. Saat ini Vie tak punya rasa malu sedikitpun layaknya seorang ja.lang. Yang ia inginkan saat ini adalah menuruti gai.rahnya yang sudah mulai menggebu.
Acara jalan pagi untuk menyusuri pantai akhirnya kandas saat Vie berhasil memenangkan skor pertandingan pagi ini. Dirga menyerah pasrah saat Vie mengambil kendali atas dirinya. Tidak ada kata lain selain kata nikmat.
Disisi lain, ditengah kebahagiaan Vie dan Dirga ada seorang wanita yang tengah putus asa meratapi nasibnya. Tak ada arah dan tujuannya lagi, kini hidupnya sudah hancur.
"Harusnya kamu itu gak ada. Aku sangat menyesal, sangat menyesal!"
Saat ini Jane sudah berada di atas sebuah jembatan. Tak ada lagi harapan untuk tetap dirinya bisa bertahan hidup.
Salah satu cara untuk bisa menyelesaikan masalah hidupnya hanya satu yaitu mengakhiri hidupnya sendiri. Dengan seperti itu, Jane tidak akan merasakan lagi kepedihan dan rasa malu yang harus ia tanggung seumur hidupnya.
Perlahan Jane mengambil nafas berat. Mungkin ini adalah nafas terakhir yang akan ia hirup, kerena sebentar lagi Jane tak akan pernah bisa lagi menghirup udara segar dunia ini lagi.
Sambil memejamkan mata, namun sebelum Jane menjatuhkan diri di ke sungai, tangannya di tarik paksaan hingga ia terjatuh kedalam pelukannya seseorang.
Jane belum bisa membuka matanya, tetapi ia bisa menghirup aroma parfum yang sangat familiar baginya. Jane yakin jika saat ini dirinya belum mati.
Jantung Jane berdegup lebih kencang saat ia membuka mata. Sosok yang sangat ia kenal, namun tidak terlalu akrab karena jabatan yang di emban membuat kedua jarang untuk bertemu.
"A-asisten, Kai?" gugup Jane.
Kai yang tanpa sengaja melihat Jane hendak melakukan hal bodoh langsung tersenyum sinis sambil menurunkan tubuhnya Jane.
"Pemikiran yang sempit! Jangan mati dulu, tugas kantor masih menumpuk. Apalagi sekarang bos sedang tidak ada di tempat. Kamu mau buat bos kepikiran dengan berita kematian mu? Sia-sai pak Wira mengirim mereka bulan madu."
Jane menatap Kai yang terlihat sangat judes. Tak ada sama sekali kelembutan dalam berbicara, lalu mengapa harus menggagalkan rencananya?
"Masalah itu harus dihadapi, bukan dihindari! Masuk!" titah Kai.
Dengan langkah ragu Jane mengikuti ucapan Kai untuk masuk kedalam mobilnya. Sebenarnya jantung Jane belum bisa berdegup secara normal. Bagaimana kalau ia tadi benar-benar loncat dan mati. Itu tidak adil, bukan? Sementara Max sang ba.ji.ngan masih bisa menikmati hidupnya tanpa memikirkan rasa bersalah sedikitpun kepada dirinya. Jane harus bisa membalas rasa sakitnya sebelum ia mengakhiri hidupnya.
Kai membawa Jane ke apartemen lamanya. Kai juga sudah mendengar dari Dirga jika saat ini Jane sedang frustrasi karena telah melakukan cinta terlarang dengan seorang ba.ji.ngan.
"Kamu tenangkan dulu pikiran kamu. Setelah tenang silahkan pikir ulang, apa yang akan kami dapat jika kamu mati. Aku ada pekerjaan di kantor. Disini perlengkapan lengkap. Semoga kamu tidak berpikir bodoh lagi." Kai berlalu meninggalkan Jane yang masih membisu.
Kalau sampai cewek itu mati, pasti bu bos akan kacau dan acara bulan madu pastinya gagal. Tapi aku berhasil mencegahnya, semoga bonus bulan naik lagi setelah kemarin hangus gara-gara bocil. Bos berterimakasih-lah kepadaku yang sudah menyelamatkan honey moon mu. Semoga ular pitonmu mendapatkan servis yang memuaskan karena tidak ada yang mengganggu.
🌼 Bersambung 🌼
Dah, yang pengen tau keadaan Jane, dia baik-baik saja.
Jangan lupa jejaknya, biar aku up lagi wkwkwk.
Oh iya, kalian tanpa kalian aku tidak akan pernah sampai seperti ini, gila nulis 🤣🤣
tanpa kalian aku bukan apa-apa, makasih atas dukungannya ya 🥰
jawab ya, kalian mau novel ini Up 2X sehari dengan durasi yang agak panjang atau 3x dengan durasi yang pendek? jawab ya, biar aku tau kapan aku harus up 😊