
Hanya tiga hari, tetapi rasanya seperti tiga tahun. Hal yang paling bodoh adalah Dirga tak menyimpan nomor telepon rumah mereka. Begitu juga dengan Kai yang tak pernah menyimpan nomor lain selain nomer- nomer yang penting, kecuali nomor Miss Queen yang beruntung bisa menjadi salah satu penghuni kontaknya.
Setelah memilih penerbangan paling awal, Dirga dan Kai akhirnya sampai juga di kota mereka. Tak ingin membuang waktu, Dirga langsung menuju rumah, ingin memastikan keadaan Vie yang tidak bisa dihubungi.
"Kamu ngapain ikut masuk?" tanya Dirga pada Kai yang hendak mengikuti Dirga masuk ke rumah.
"Ingin numpang istirahat sebentar, Bos."
Dirga menautkan alisnya. "Kamu pikir ini rumah persinggahan? Tidak! Kamu tidak boleh beristirahat di sini, pulang aja sana!" usir Dirga.
Kai mendengus kesal, tau akan seperti ini Kai menjadi menyesal telah mengantarkan bosnya hingga sampai rumah.
"Kejam." Kai melangkah meninggalkan rumah milik bosnya.
Sampai di pintu gerbang, Kai berpapasan dengan Vie yang baru saja pulang mengantar Arga ke ke sekolah.
"Kai," seru Vie.
Vie tak menyangka jika Kai sudah kembali, itu artinya suaminya juga sudah pulang.
"Bu Bos." Kai membuka kaca mobilnya.
Vie memancarkan senyum lebar, tetapi tak semanis senyuman Miss Queen yang mampu menggetarkan hatinya.
"Kalian udah pulang? Aku pikir nanti sore. Ya udah hati-hati ya," pesan Vie, kemudian berlalu.
Lagi-lagi Kai merasa kecewa. Ia pikir Vie akan mengajaknya untuk singgah sebentar sekedar sekadar minum kopi saja, nyatanya tak peduli. Dasar pasangan yang tak punya perasaan, untung saja gaji Kai, lumayan besar.
Vie berjalan dengan cepat. Ia tak sabar ingin segera bertemu dengan Dirga, suami yang selama tiga hari tanpa kabar.
Tempat pertama yang ia cari adalah kamar, karena sudah menjadi kebiasaan Dirga jika pulang dari bepergian pasti akan segera ke kamar untuk membersihkan badannya terlebih dahulu.
"Ga," panggil Vie.
Dirga yang berada di kamar mendengar panggilan Vie segera mengambil kain handuk untuk menutupi belalai yang ia banggakan, takut-takut jika Vie datang bersama dengan Arga. Pasti bocah itu akan menanyakan mengapa belalai ayahnya lebih besar dari pada miliknya.
Saat Dirga tau Vie menutup pintu tanpa adanya sosok Arga, ia langsung menarik tangan Vie menuju kamar mandi. Vie yang terkejut merasa jantungan.
Dirga langsung menutup pintu kamar mandi lagi tanpa kata, ia mulai melahap bibir tipis milik Vie dengan rakus, seolah mengeluarkan hasrat terpendamnya selama tiga hari ini. Tangan Dirga juga tak tinggal diam, merem.as salah satu aset kebanggaan wanita.
Vie mulai kesusahan untuk bernafas karena Dirga layaknya orang yang sedang kesurupan.
Vie mencoba mendorong tubuh Dirga, tetapi tenaga Dirga tak mampu ia tandingi. Akhirnya Vie memilih jurus jitu, yaitu menggelitik pinggang Dirga. Benar saja Dirga langsung melepaskan bibirnya dengan nafas tersengal.
"Kamu apaan sih, Ga? Pulang-pulang kayak orang kesurupan. Jangan bilang kamu pulang bawa jin ya?"
Dirga masih mengukung tubuh Vie di tembok. Matanya menatap dengan tajam, membuat Vie sedikit merasa ketakutan. Ini bukan Dirga yang ia kenal.
"Ga, kamu kenapa?" tanya Vie pelan.
"Kamu udah buat aku hampir gila Vie. Kamu sengaja kan, buat aku seperti ini? Sekarang kamu harus tanggung jawab!"
*******
Vie melihat ke samping. Dirga tengah pulas dalam tidurnya. Ia masih tak percaya akan hukuman yang Dirga berikan. Entah kesalahan apa sehingga membuat Dirga sangat marah dan melampiaskan kemarahannya di atas ranjang.
Vie menatap pantulan dirinya dalam kaca. Sudah berulang kali Vie mengatakan jangan pernah meninggalkan jejak vampir di lehernya, hal itu hanya akan membuat tingkat kekepoan Arga meningkatkan lagi.
Hampir dua jam mendapatkan hukuman, Vie hampir lupa jika sudah tiba waktunya untuk menjemput Arga. Ia tidak ingin membuat Arga menunggu lebih lama lagi. Setelah menutup bekas gigitan vampir dengan foundation Vie segera berangkat untuk menjemput Arga tanpa ingin membangunkan suaminya.
Kedatangan Vie bersamaan dengan Haikal yang ternyata juga hendak menjemput Arga. Haikal hanya ingin tahu dimana Vie dan Arga tinggal selama ini, terlebih Haikal juga ingin tahu siapa sosok ayahnya Arga.
"Haikal?" sapa Vie.
Haikal menarik kedua garis simpul di bibirnya.
"Kamu gak keberatan kan kalau aku antar? Aku hanya ingin tahu dimana kamu tinggal sekarang?"
Haikal melirik Vie yang masih enggan untuk mengiyakan tawaran Haikal, membuatnya tau jika Vie tidak setuju.
Kecewa, tapi terlambat. Andaikan saja sebelum ayahnya Arga kembali dirinya sudah bisa mengungkapkan isi hatinya, mungkin saat dirinyalah yang akan dipanggil ayah oleh Arga.
"Kenapa kalian beldua diam? Om Ikal, ayo antal Alga pulang bial om Ikal tau lumah Alga sekalang." Arga menarik tangan Haikal menuju ke mobilnya.
"Ga, om Haikal-nya mau kerja lagi lho. Lain kali aja ya?" Vie mencegah.
"Kebetulan aku sedang ijin karena ada sedikit urusan. Jadi gak papa kan kalau sekalian antar kalain pulang?"
Arga yang mendengar ucapan Haikal merasa sangat bahagia karena sebentar lagi ia bisa menunjukkan rumah barunya kepada Haikal.
Haikal tak percaya jika Vie tinggal di perumahan elite. Terlebih lagi rumah Vie satu jalan dengan rumahnya, hanya saja gang masuk ke perumahan yang membedakan.
"Kamu serius tinggal disini, Vie?" tanya Haikal tak percaya.
Vie mengangguk pelan. Sepanjang perjalanan Vie tak banyak bicara, hanya suara Arga dan Haikal yang ia dengarkan.
"Aku jadi semakin penasaran dengan ayahmu, Ga. Pasti orang kaya ya?" Haikal sengaja mengajak Arga berbicara karena ia tahu jika Vie tak banyak bicara.
"Alga gak tau Om. Tapi lumah Alga besal dan mobil ayah Alga ada dua."
"Emang ayah Arga kerjanya apa?".
Arga memutar bola matanya. "Alga gak tau tapi ayah Alga tiap hali kelja telus dan sekalang ayah Alga kelja naik pesawat."
Sampai di depan rumah, Vie berterima kasih kepada Haikal yang sudah mengantarkan dirinya pulang. Namun, Vie melarang Haikal untuk singgah ke rumahnya dengan berbagai alasan.
"Baiklah, jika saat ini tak boleh singgah, lain kali aku akan main kesini. Apalagi jarak rumah kita tidak terlalu jauh. Aku tau ayah Arga pasti dari golongan berada."
*****
Mata Arga membulat saat melihat ayahnya sudah berada di atas tempat tidur tanpa mengenakan baju. Bahkan handuk kimono milik ayahnya berada di lantai.
"Ayah udah pulang?" Arga segera naik keatas tempat tidur untuk memeluk ayahnya yang tak mengenakan baju.
"Ayah … bangun … "
Dirga mengerjapkan matanya sambil menguap. Mendadak ia terkejut saat melihat bocah kecil di samping kemudian memilih merapatkan selimutnya.
"A- Arga kenapa kenapa udah pulang? Dimana bunda?" gugup Dirga.
"Bunda lagi masak di dapul. Ayah kenapa gak pakai baju? Ayah gelah? Terus kenapa handuk ayahnya ayah dibuang ke lantai. Nanti kalau bunda tau, ayah kena malah, lho."
Dirga menelan kasar salivanya. Beruntung saja hanya handuknya yang tercecer di lantai, sempat itu pengaman belalainya, pasti Arga akan banyak memprotesnya.
Dirga terpaksa menyuruh anaknya untuk keluar dari kamar. Tidak mungkin Dirga berjalan tanpa satupun kain yang membungkus tubuhnya.
🌼 Bersambung 🌼
Maaf kemarin hanya bisa Up 1 bab. Hari ini aku usahakan 3 bab tapi harus kalian sawer bunga sama kopi, bagi yang masih punya vote, boleh kalian vote.
Eh, tapi liat-liat dulu seberapa kalian respon sama cerita ini baru aku up lagi 🤣🤣ðŸ¤ðŸ¤
kalau cuma sedikit, aku tunda untuk up selanjutnya.
Jangan lupa Jumat Berkah.
Jangan lupa baca juga novel dari teman Othor
M.r Arogant by Rahayu ningtiyas Bunga Kinati