
Dengan riang gembira Arga berlari untuk masuk ke dalam rumah. Hal yang pertama ingin ia lakukan adalah untuk memeluk bundanya yang sudah ia rindukan. Melewati beberapa malam tanpa bundanya, membuat Arga tidak bisa tidur dengan nyenyak. Beruntung ada mama Anggi yang bisa menggantikan peran Vie, sebagian ibu siaga.
"Bunda ...," teriak Arga, membuat Vie yang tengah di pijat kakinya oleh Dirga segera bangkit dan menyambut Arga dalam pelukannya.
"Alga lindu bunda." Arga memeluk bundanya.
"Iya, bundanya aja yang di rindukan. Ayah gak papa kok gak dia anggap, biar ayah pergi lagi aja."
Sontak mata Arga segera membuat, menyadari ayahnya yang ia lupakan.
"Kalau ayah mau pelgi lagi pelgi aja. Nanti bunda sama Alga bial cali ayah balu untuk dedek bayi," celoteh Arga, tak menghiraukan bagaimana wajah Dirga saat ini.
Dirga menatap arah pintu, seperti tidak hanya papa dan mamanya yang datang. Merasa penasaran Dirga memilih bangkit. Saat hendak melangkah tangan Dirga di tahan oleh Arga.
"Ayah selius mau pelgi? Abang Alga minta maaf. Tadi abang Alga hanya bohongo ayah," sesal Arga.
Dirga mengulum senyum di bibirnya. Saat ini dia benar-benar merasa gemas oleh tingkah anaknya yang menyesali perbuatannya.
"Ya udah, mana pelukan untuk ayah?"
Arga segera memeluk kaki Dirga. "Abang Alga lindu ayah. Ayah jangan malah ya."
Dirga segera mengangkat tubuh mungil anaknya lalu menggendongnya. Menciumi pipi anaknya sampai puas. Jujur dia juga sangat merindukan celotehan Arga beberapa hari ini. Tanpa adanya Arga di sisinya, rasanya ada yang kurang. Tidak ada yang di kerjai, maupun mengejai dirinya.
"Oh ya, diluar ada siapa?"
Belum sempat Arga menjawab, papa dan mamanya sudah nongol bersama seperti suami istri dengan membawa koper besar. "Siapa dia?"
*****
Jane yang mendengar bahwa Vie membatalkan liburannya ke Korea membuat Jane merasa sangat kecewa. Padahal Jane ingin sekali pergi ke sana tetapi dia tidak bisa memaksakan keadaan, dimana kondisi Vie tidak seperti dirinya. Selama hamil, Jane tidak merasakan morning sikness , dimana jika pagi harus merasakan mual dan muntah. Untuk masalah makanan, Jane biasa saja, tidak ingin yang aneh-aneh seperti Vie. Perutnya Jane pun lebih kecil dari pada perut Vie.
"Kenapa pagi-pagi udah cemberut?" tanya Kai yang sengaja singgah ke apartemen.
"Vie membatalkan liburan kita," jawab Jane lemas.
"Apa?" Kai tersentak kaget.
Sesampainya di kantor Kai segera menghampiri Dirga, ia ingin menanyakan mengapa tiba-tiba liburannya di batalkan. Kai merasa sayang akan tiket yang telah berada di tangannya.
"Kalau kamu merasa sayang, kamu pergi saja. Ajak Miss Queen, nanti tiket ku ambil aja."
Kai terbelalak, sungguh sebuah keberuntungan untuk dirinya. Liburan berdua bersama Miss Queen akhirnya bisa ia wujudkan.
"Nah, itu baru bagus, Bos."
Kai keluar dari ruangan Dirga dengan berbinar. Seperti ia harus segera memberikan kabar bahagia ini kepada Miss Queen, pasti dia akan merasa bahagia.
Kaisar pun segera menelepon Miss Queen, tetapi nomernya sedang tidak aktiv. Kaisar mendengus kesal, ingin rasanya ia segera mendatangi tempat kerja Miss Queen tetapi masih jam kerja. Kaisar memutuskan untuk menemui Miss Queen nanti setelah jam makan siang tiba.
Menunggu waktu hingga jam istirahat ternyata sangat lama. Kaisar sudah gelisah mana kala ponsel kekasihnya tidak bisa di hubungi.
"Kemana sih dia?" gerutu Kai dengan kesal.
Di lain tempat Vie dan Pitaloka yang baru saja berkenalan, keduanya sudah terlihat sangat akrab. Keduanya sama-sama memiliki sifat ramah shingga tidak sulit untuk kedua untuk lebih akrab. Apalagi saat ini keduanya juga sama-sama sedang hamil.
Sementara itu Rey suaminya Pita saat ini sedang bersama dengan papa Wira untuk menuju kantor. Rey merasa sangat tidak enak hati saat pak Wira menawarkan bantuan yang berlebihan dan yang paling membuat Rey tidak enak hati lagi saat satu cabang anak perusahaan di percayakan kepada dirinya, padahal keduanya tidak terlalu mengenal satu dengan lainnya. Namun, sifat pak Wira membuat Rey sadar bahwa setiap musibah pasti akan ada jalan untuk bangkit. Mungkin inilah bantuan dari Tuhan untuk dirinya. Tanpa Tey sadari linangan air matanya mengalir begitu saja, mengingat kebodohannya yang tergiur untuk masuk kedalam jalan yang salah.
"Bunda, Aunty akan tinggal bersama dengan kita kan?" tanya Arga antusias.
Vie menganguk pelan. "Iya sayang, sebelum aunty Pita dapat rumah, aunty Pita akan tinggal disini bersama kita."
"Hole ... Aunty-nya Alga nambah lagi. Nanti aunty Jane juga halus pindah kesini, bial lumah kita lame lagi ya, Bunda."
Ya ampun Arga, kamu pikir ini rumah pengungsi khusus ibu hamil gitu. Vie menjerit dalam hati.
.
.
.
Maaf Bab ini campur aduk dengan cerita Rey dan Pita karena ini adalah proses mereka bangkit lagi 🙏