
Mengurusi masalah Jane dan Max membuat kepala Vie hampir pecah. Saat ini Vie tidak tahu langkah apa yang harus ia ambil agar Jane bisa bangkit seperti sedia kala lagi. Tetapi Vie tidak setuju jika Max mau bertanggung jawab. Karena sekali buaya tetap buaya, tak akan berubah menjadi kancil. Begitulah kata yang tepat untuk menggambarkan sosok Max.
Jane memijat kepala yang sedari bagi terasa berdenyut. Sudah dua hari ini pusing itu hilang-hilang timbul kadang disertai rasa mual.
Dirga yang baru saja mandi segera menghampiri Vie, berharap malam ini mereka bisa menanam ubi bersama mengingat hampir satu Minggu ubi Dirga tak mendapatkan berlainan dari ibu negara.
Dirga memeluk Vie dari belakang, menghirup dalam aroma shampo di rambut istrinya.
"Vie kangen," rengek Dirga.
Namun, tiba-tiba saja Vie melepas paksa tangan Dirga yang melingkar di perutnya.
"Apa sih, Ga. Kamu pakai parfum apa sih, bau banget." Vie menutup hidungnya karena aroma tubuh Dirga yang berbeda.
Dirga yang masih mengenakan handuk kimono menautkan alisnya sambil mencium aroma sabun yang biasa digunakan. Tidak ada masalah, apakah hanya alasan Vie saja tidak mau menanam ubi?
"Ini bukan parfum, Vie. Ini kan harum sabun yang bisa kita gunakan. Kamu aja wanginya juga sabun ini," protes Dirga.
"Tapi ini menyengat Ga. Aku sampai mual lho."
Dirga tidak tahu dimana letak kesalahannya. Mungkin hanya perasaan Vie saja. Dirga tau jika istri ikut memikirkan masalah Jane yang begitu rumit. Dirga juga baru tahu jika Max diam-diam adalah buaya busung yang tak cukup hanya dengan satu wanita. Bahkan Dirga menyesal telah memohon agar menolak pernikahannya dengan Naomi.
"Dirga," panggil Vie.
Dirga yang hendak melepaskan handuk kimono di kamar mandi mengurungkan niatnya saat mendengar Vie memanggilnya. Ia takut jika Vie kenapa-napa.
"Ada apa Vie?"
"Aku pengen makan bakso depan gang depan, sekarang!"
What?
Dirga melotot lebar. Mana ada lagi bakso di depan gang karena hanya buka dari pagi hingga pukul lima sore saja. Vie ngadi-ngadi.
"Yang bener aja Vie. Ini udah jam 8 lewat. Mana ada lagi bakso di sana."
"Aku gak mau tau, aku pengen makan bakso itu sekarang."
Dirga melihat aneh pada istrinya. Sejak kapan Vie berubah jadi manja seperti ini. Apa Vie sedang dalam masa PMS sehingga susah untuk didekati.
Dirga menghembuskan nafas beratnya sebelum ia kembali ke kamar mandi.
"Iya aku cari, tapi aku mandi dulu."
"Gak usah mandi. Kamu kan udah mandi tadi."
Jleb. Dirga menelan kasar ludahnya
( Sabar ya Ga.)
*******
Setelah malam itu, ternyata masih ada malam-malam berikutnya, dimana permintaan Vie semakin nyleneh di malam hari saat mereka hendak tidur. Bahkan gairah ber.cinta Vie semakin meningkat. Vie tidak puas jika hanya sekali bermain, membuat Dirga semakin hari semakin kewalahan meladeni Vie di atas ranjang. Beruntung saja Arga tidak pernah terbangun tengah malam.
"Ga, kamu udah mau tidur?" tanya Vie.
"Iya. Capek banget hari ini. Tadi aku terjun langsung ke lapangan," jawab Dirga.
"Em."
"Pengen makan mie telur, tapi kamu yang masak. Nanti aku kasih servis yang hot lagi deh, tapi di kamar sebelah. Gimana?" rayu Vie. Sepertinya Vie sedang menggoda dirinya dengan memakai daster di atas lutut tanpa tanpa lengan hingga bentuk dua aset milik Vie jelas menyembul, membuat ubinya semakin mengeras.
"Kamu udah pandai ya godain suami. Baiklah, ayo aku buatkan. Tapi habis itu kamu harus bisa men. de. sah kuat di bawahku, gimana?"
"Gampang itu. Tapi kamu juga harus kuat, jangan loyo. Aku mau dipanjat 2 kali dalam satu ronde, gimana?"
Sepasang pasangan sengklek itu sama-sama menyetujui tawaran mereka masing-masing sambil tertawa, tetapi kemudian menutup mulutnya saat menyadari bahwa ada bibit kepo yang sedang tidur.
Vie melahap mie telur yang dibuat oleh Dirga dengan penuh rasa cinta dengan lahan, membuat Dirga hanya bisa menelan ludahnya.
"Pelan-pelan, Vie."
"Ini enak banget, Ga. Mau?" Vie menyodorkan sendok berisi mie kearah Dirga.
"Aku kenyang Vie," tolak Dirga.
Dirga sabar menunggu Vie hingga siap menghabiskan makanannya. Ia sudah tidak sabar untuk memanjakan ubinya yang satu Minggu ini diabaikan begitu saja tanpa belaian.
Saat ini keduanya memilih kamar kosong di samping kamar mereka. Sepertinya Dirga harus merubah konsep kamar ini agar bisa menyambung ke kamarnya. Dengan begitu sewaktu-waktu ingin menanam ubi Dirga tinggal masuk ke dalam. Satu lagi harus ada kedap suara. Ia tidak ingin Vie menahan de. sah. an setiap mereka mencapai puncaknya. Dirga ingin mendengar suara Vie saat men. de. sah. di bawah kungkungannya.
"Ga," lirih Vie saat merasakan senjata milik Dirga masuk sepenuhnya.
"Vie, kamu cantik sekali sih. Tapi kenapa ini semakin hari semakin besar ya." Dirga me. re. mas. dua buah aset berharga milik Vie, membuat Vie semakin men. de. sah pelan. Apalagi saat Dirga mulai menggerakkan senjata kebanggaannya.
Dirga memejamkan matanya. Satu minggu ia berpua.sa akhirnya malam ini ia berbu.ka tetapi sepertinya ada rasa yang berbeda dalam permainan malam ini atau mungkin Dirga sedikit lupa rasanya.
Keringat mengucur deras saat sesuatu yang mereka tunggu hampir sampai. Vie terus men. de. sah sering dengan Dirga yang memacu senjatanya dengan cepat.
"Vie, sebut namaku!"
Vie menyebut nama Dirga mana kala sebuah kenikmatan telah sampai di puncaknya.
Deru nafas keduanya masih naik turun merasakan sisa-sisa kenikmatan yang baru saja mereka capai bersama.
Dirga limbung ke samping Vie sambil menarik selimut agar bisa menutupi tubuh polos mereka. Vie dan Dirga saling menatap sebelum kedua bibir mereka menyatu dengan deru nafas yang masih memburu.
Semakin dalam pergulatan bibir mereka hingga Dirga merasakan ubinya sudah mengeras akibat tergesek dengan kulit Vie.
Vie mendorong pelan tubuh Dirga saat tangan Dirga sudah me. re. mas dua buah aset berharga miliknya.
Ia tersenyum menatap Dirga yang tak sabar untuk meng. isap-nya.
"Ga, inget aku gak mau kamu kasih tanda di leher." Vie memberi peringatan.
"Iya aku tau. Disini aja ya."
Tak butuh waktu lama Dirga sudah mulai memasuki lembah yang sudah sudah basah, hak itu semakin memudahkan senjatanya masuk dengan sempurna. Malam ini adalah malam terpanjang untuk sepasang insan yang sedang dimabuk gai. rah cinta. Tak lupa tangan Dirga aktif di bukit indah dengan seirama senjata yang ia tanamkan.
*Sudah begitu saja, takut dapat surat cinta dari yang punya kontrakan.
JANGAN LUPA ABSEN SEPERTI BIASA ๐คฃ
๐นโ