Hidden Baby

Hidden Baby
Hidden Baby 75



Kaisar merasa frustasi saat tak bisa menghubungi Miss Queen. Bahkan sudah 2 hari Miss Queen tidak datang. Ingin rasanya Kai mencari ke rumahnya, tetapi Kai yang bodoh tidak pernah tahu dimana Miss Queen tinggal. Sayang sekali tiket gratis untuk ke Korea hangus begitu saja.


Tak jauh beda dengan Kai, Jane juga merasakan hal yang sama. Tiket yang sulit di dapatkan, sekarang sudah berada ditangannya dan harus terbuang sia-sia.


Kai yang hendak menyobek tiket tersebut mendadak teringat akan Jane yang nasibnya lebih ngenes darinya. Tiba-tiba pikirannya mengatakan mengapa tidak mengajak wanita itu saja, dari pada tiketnya hangus begitu saja.


Kai segera menghubungi Jane yang ada di lantai bawah karena merasa gengsi Kai akhirnya bertanya apakah stok sayuran di apartemen masih ada atau sudah habis. Jika sudah habis Kai akan mengirim belanjaan ke sana.


Beruntung Jane mengatakan sudah habis. Itu artinya Kai mempunyai kesempatan untuk berbasa-basi kepada Jane.


****


Sudah dua hari juga Vie merasa sangat bahagia karena ada teman yang bisa diajaknya untuk bertukar cerita. Meskipun usia Vie masih muda di bandingkan dengan Pita, tetapi Vie lebih berpengalaman dibandingkan dengan Pita.


"Bunda, tadi abang Alga dengel opa sama om Ley ngomong katanya aunty Pita mau pindah besok. Bunda jahat! Kata Bunda aunty Pita mau tinggal sama kita." Nafas Arga masih tersengal akibat berlari dari ruang tamu menuju kamar Pita.


"Aunty bilang sama Om Ley kalau Aunty masih ingin tinggal disini." Arga memohon kepada Pita. Wanita yang sudah lama mendambakan sosok malaikat kecil itu tersenyum lebar saat melihat wajah Arga yang semakin menggemaskan.


"Tidak bisa, Sayang. Aunty sama Om Rey harus pindah. Aunty gak mau ngerepotin bunda sama ayahnya Arga. Tapi Aunty janji akan sering main kesini kok." Pita memberikan pengertian pada bocah itu.


"Aunty bohong! Dulu Aunty Jane juga sepelti itu, tapi sampai sekalang dia gak pelna nengokin abang Alga lagi." Arga mengerucutkan bibirnya sambil melipat tangannya di depan dada. Fix Arga sudah ngambek, batin Vie.


"Aunty janji, Sayang."


Arga yang sudah kebal dengan janji manis wanita dewasa tak lagi tergoyahkan hatinya. Diam seribu bahasa, begitu lah saat ini yang Arga lakukan hingga malam menjelang.


Dirga yang baru saja pulang dari kantor, merasa sangat lelah dan terpaksa harus membawa pekerjaan pulang. Selain tidak enak dengan tamu, Dirga juga tidak bisa meninggalkan Vie begitu saja. Setidaknya ada yang Dirga pandangan ditengah-tengah ia mengerjakan tugasnya.


Saat makan malam, Dirga merasa heran karena tak melihat Arga diantara mereka.


"Maaf, gara-gara aku Arga jadi ngambek," ucap Pita.


"Memangnya diapain tadi, Tan?" sahut Rey.


"Arga gak mau kita pindah. Jadi dia ngambek."


Dirga ingin tertawa saat mendengar panggilan Rey kepada istrinya. Apa tadi dia bilang? Tan? Tante maksudnya. Dirga tertawa dalam hati.


"Sudah gak udah diambil hati. Dia memang seperti itu anaknya nanti juga baik sendiri. Oh ya, Rey aku semakin tertarik dengan kisah cinta kalian. Bagaimana setelah ini kita bertukar cerita. Ingat bertukar cerita, bukan bertukar istri."


Saat itu juga Dirga langsung mendapat tatapan tajam dari ibu negaranya.


"Tuh, kamu lihat kan Rey, dia seperti Arga. Jadi jangan heran jika Arga seperti itu."


***


Malam semakin larut, tetapi Dirga juga belum bisa memejamkan mata. Bukan karena sedang manjakan Juna, tetapi sedang berusaha menyiapkan sisa pekerjaan tadi siang yang belum terselesaikan. Dilihatnya Vie yang sudah terlelap bersama dengan Arga memeluk erat tubuh Vie, membuat Dirga merasa sedikit iri dengan bocah itu. Siaat dirinya Arga menang besar untuk terus memeluk bundanya, sementara dia harus mengerjakan setumpuk pekerjaan yang harus siap malam ini.


Dirga yang haus terpaksa harus ke dapur untuk mengambil air putih. Sesampainya di depan pintu kamar tamu, mendadak bulu kudu Dirga berdiri. Dia mendadak merinding dengan suara yang baru saja ia dengar. Seumur-umur baru kali ini dia mendengarkan suara aneh seperti itu. Tak ingin berlama-lama, Dirga segera berlari ke kamar karena sudah tidak tahan dengan apa yang baru saja dia dengarkan.


"Astaga ... suara apa itu?"


.


.


.


Hayo suara apa itu?