
Kai merasa menyesal dan meminta maaf kepada Vie telah membawa Arga tanpa seijin darinya, terlebih Kai juga telah memberikan makanan yang menjadi pantangan untuk Arga. Kai bener-benar menyesal. Begitu juga dengan Miss Queen yang turut meminta maaf atas keteledoran.
Dari sini semua tahu jika ternyata Kai sedang menjalin kasih dengan Miss Queen, oleh sebab itu mulai hari ini Dirga memutuskan untuk memberhentikan Kai sebagai penjemput Arga. Mau tidak mau, Vie menerima keputusan Dirga untuk mencari sopir pribadi untuk mereka berdua. Tetapi kali ini Dirga menyeleksi dengan ketat. Dirga lebih memilih laki-laki berusia 40 tahunan keatas, agar istrinya tidak naksir dengan supirnya sendiri.
Dua hari Arga berada di rumah sakit dan siang ini Arga sudah boleh pulang. Arga sangat bahagia, karena berada di ranjang rumah sakit tidak enak. Tidak bisa tidur sambil memeluk ayah dan bundanya. Begitu juga saat melihat ayah bundanya saat tidur di sofa. Pasti akan terasa sakit.
"Maafin Bunda ya, Sayang. Kemarin bunda udah marah sama Arga." Vie mengecup kepala Arga.
"Alga yang halus minta maaf, Bunda. Alga udah bikin kalian belsedih. Alga janji gak mau ulangi lagi." Arga memeluk tubuh bundanya.
Dirga yang fokus menyetir hanya bisa menyebikan bibirnya, merasa tak di anggap oleh Arga lagi.
"Huh ... Ayah dilupakan begitu saja."
Arga segera melihat ayahnya yang masih menyetir. "Tapi ayah masih menyetil mobil. Nanti kalau Alga peluk, ayah nablak."
******
Disisi lain, Jane nekat untuk menemui Max di kantornya setelah panggilnya terabaikan. Jane tidak peduli tentang dirinya di mata para karyawan, karena saat ini Jane harus memberi tahu jika dirinya sedang hamil. Terlepas Max ingin bertanggung jawab atau tidak, Jane sudah tidak memikirkan lagi.
Max terbelalak saat seseorang masuk kedalam ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Bukan Max saja yang terbelalak, jantung Jane rasanya ingin melompat seketika dan matanya ingin keluar akibat saking lebarnya ia melotot. Jane menutup mulutnya tak percaya melihat apa yang ia saksikan secara live di depan mata. Jika tahu akan seperti ini Jane merasa menyesal datang untuk menemui Max.
"Jane." Max mendorong seorang wanita yang sempat ia pangku. Wanita yang sebagian kancingnya telah terbuka, entah apa yang sedang Max lakukan dengan wanita tersebut.
Melihat kejadian ini, Jane merasa sangat kecewa dengan Max, percuma saja jika Jane katakan sedang hamil. Jika Jane tau sejak awal bagaimana sifat Max, Jane tidak sudi menyerahkan tubuhnya atas nama cinta, namun sekarang terlambat sudah untuk disesali.
"Jane, tunggu! Aku bisa jelaskan." Max berusaha mengejar Jane yang sudah meninggalkan ruang kerjanya.
Sementara wanita yang tak lain adalah sekertaris Max segera merapikan pakaiannya kembali sebelum meninggalkan ruangan Max.
Max berhasil mencekal lengan Jane, tetapi siapa yang menyangka jika satu tamparan akan mendarat di pipi Max. Jane merasa sangat kecewa.
"Jadi ini mengapa kamu tak pernah memperjuangkan cinta kita? Ups ... salah. Yang benar adalah cintaku. Ternyata kamu tidak puas hanya dengan satu wanita. Jika aku tahu lebih awal, aku tak akan pernah sudi untuk kamu jamah," teriak Jane yang membuat beberapa orang fukus kepada mereka.
"Ikut aku. Kita bicara!"
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi diantara kita. Sudah jelas apa yang aku lihat tadi. Kamu ingin memberi pembelaan apa? Aku bodoh jika harus percaya lagi dengan rayuan mautmu!" Jane menghempaskan cengkeraman tangan Max.
"Jane aku minta maaf. Aku salah. Beri aku satu kesempatan."
Semakin lama banyak keduanya menjadi tontonan para karyawan, akhirnya Jane memilih suatu tempat untuk berbicara dengan Max. Bukan untuk membicarakan kehamilan, tetapi Jane ingin tau apa maksud Max melakukan semua ini. Disaat dia hampir menikah, dia masih sempat bermain gila di kantor. Lalu apa arti dirinya dalam hidup Max? Tidak ada.
"Bisa kamu jelaskan sekarang!"
Suara Jane membuat Max terdiam seribu bahasa setelah Jane melihat kejadian live tanpa sensor.
"Aku tidak tau dimana letak ot.ak mu Max! Jangan bilang aku bukanlah satu-satunya wanita yang sudah kamu tiduri. Apakah itu benar, Max?"
Max hanya terdiam dan itu membuktikan bahwa ucapan Jane benar. Jane memejamkan matanya sambil mengepalkan tangannya di udara.
"Aku tahu ternyata Tuhan masih memihak kepadaku. Dia menunjukkan jalannya agar kita berpisah. Semoga kelak istri kamu sabar menghadapi kelakuan kamu yang seperti ini. Terimakasih sudah pernah menemani aku selama ini. Semoga kamu bahagia dengan pernikahanmu."
Jane membendung air matanya. Ia tidak ingin air matanya jatuh sia-sia untuk menangisi sosok ba.ji.ngan seperti Max.
*******
Seminggu telah berlalu, Arga sudah kembali sehat seperti sedia kala. Akibat insiden tersebut Vie masih menaruh rasa kesalnya kepada Kai. Seperti sore ini saat Kai diminta oleh Dirga untuk mengambil sebuah berkas yang tertinggal di rumahnya. Vie menyambut dingin kedatangan Kai dan diminta untuk mencari berkas tersebut sendiri di ruang kerja.
Setelah hendak keluar, tanpa sengaja Arga melihat sosok Kai diambang pintu. Bocah itu yang sudah satu minggu tak melihat Kai segera berlari untuk menghampiri Kai.
"Om Kai ... " teriak Arga.
Arga langsung memeluk kaki Kai, membuat lelaki itu terpaksa harus jongkok untuk menyamakan tinggi badan mereka.
"Arga udah sehat?" tanya Kai.
Arga mengangguk pelan. "Udah, Om. Om Kai kenapa gak pelnah jemput Alga lagi? Alga kangen om Kai."
Vie yang melihat anaknya memeluk Kai segera membuang muka. Arga yang polos pasti akan selalu merindukan orang-orang disekelilingnya.
"Om harus segera kembali ke kantor lagi, nanti ayah kamu marah. Oh iya, malam ini ayah Arga lembur, kata ayah tadi Arga jangan bobok malam-malam dan bilangan sama bunda gak usah menunggu ayah pulang." Suara Kai melemah sekilas melirik Vie yang masih membuang muka.
Sepeninggal Kai, Vie mendapatkan telepon dari Jane yang menginginkan untuk bertemu disalah salah satu cafe terdekat. Vie bimbang, karena Arga yang baru saja sembuh tidak mungkin ia bawa keluar malam. Akhirnya Vie setuju untuk bertemu di rumahnya saja. Dia bisa leluasa untuk mengawasi Arga.
Benar saja setengah jam kemudian Jane datang. Kali ini ia datang dengan kondisi yang sangat menyediakan. Wajahnya tak terpoles make up, garis bawah mata sangat jelas terlihat. Hampir saja Vie tak mengenali bahwa itu adalah Jane.
Jane langsung memeluk tubuh Vie dengan tangis yang pecah. Kali ini Jane memperluas tangisannya saat menceritakan apa yang baru saja ia lihat siang tadi. Ternyata Max tidak tulus mencintai dirinya. Max hanya buaya darat yang sedang kelaparan.
"Aku gak sanggup jika seperti ini Vie. Kenapa harus ada bayi di dalam sini? Aku benci Vie. Benci ....!" teriak Jane.
"Jangan bilang seperti itu, Jane. Dia tidak bersalah! Jangan sakiti dia, Jane. Please!" Vie mencegah Jane saat tangannya terus memukul perut.
"Aku menyesal telah menjadi wadah penampung bibit ba. ji. ngan seperti Max. Aku menyesal, Vie!" Jane meraung untuk mengeluarkan sesak di dadanya, namun siap yang menyangka jika teriakan Jane membuat Arga terpancing untuk datang, meskipun sudah diberi amanat oleh Vie masuk ke kamar.
"Aunty kenapa menangis? Siapa yang udah jahatin Aunty?" Arga berdiri tepat dihadapan Jane yang sedang menangis sesenggukan.
Mata Jane membualat, menantap bola mata Arga yang sangat polos. Bocah yang dicetak hanya satu kali dan tak tau jika ternyata langsung jadi. Jane menatap Arga lekat. Ingat Jane masih jelas betapa sakit perjuangan Vie saat itu, hamil tanpa suami. Gosip miring beredar luas dan yang paling menyediakan adalah ketika harus pergi dari rumah karena telah membuat aib keluarga. Tapi saat itu Vie tak pernah mengeluh, sesulit apapun yang sedang ia jalani saat itu. Lalu apa bedanya dengan dia saat ini? Sama-sama hamil tanpa suami. Tetapi yang membedakan adalah jenis bibit yang sedang di kandungnya. Bibit, buaya kelaparan.
🌼 Bersambung 🌼
Tara ... aku up lagi nih 🤗
Jangan bosan dengan cerita ini ya 😊
Makasih kembang kopi-nya. Jangan bosan-bosan kasih hadiah buat Othor, biar Othornya makin rajin wkwkkwkw...
Aku punya satu bab lagi nih, tapi aku up nanti malam kayaknya. Jadi yang gak baca nanti malam, jangan menyesal jika puasa kalian besok gak afdol ya 🤣🤣