
Pamit ke kamar mandi tapi tak kunjung kembali membuat mama Anggi merasa cemas. Ia takut terjadi sesuatu kepada Vie. Namun, saat ia ingin kebelakang untuk memastikan keadaan Vie, Indah melarangnya. Indah yang bisa menebak jika Vie tengah hamil sengaja menyuruh pembantunya untuk menyiapkan Mie-nya untuk Vie. Dan pada akhirnya setelah keluar dari kamar mandi, Vie langsung di panggil oleh pembantunya tante Indah.
"Mbak gak papa nih, aku nyicip duluan?" Vie memastikan.
"Iya, gak apa-apa. Tadi ibu udah bilang."
"Makasih, ya." Vie menerima satu piring Mie yang sedari tadi aromanya menyengat di hidungnya.
Vie duduk di meja makan, tanpa rasa segan, Vie mencicipi hidangan yang sengaja telah tersaji di meja. Awalnya Vie ragu, tetapi kata mbak-nya, Vie boleh menyicipi jika mau. Sungguh anugerah luar biasa, jarang keluar sekali keluar bisa makan masakan rumahan yang lebih higienis.
Untung aja tadi ikut mama, jadi bisa tau rasanya makan gratis sampai puas. Vie tertawa dalam hati.
Tak ingin menjadi tamu yang tak tahu diri, setelah Vie mengisi perutnya, ia pun berinisiatif untuk membantu mbak-nya untuk menyiapkan makan siang para tamu. Mbak-nya menolak keras, tetapi Vie tetap ngotot. Vie merasa tidak enak ketika sudah diberikan sesuatu malah tak tahu rasa berterimakasih.
"Gak usah neng. Nanti ibu marah."
"Udahlah mbak, tenang aja. Aku juga udah biasa kok mengerjakan tugas rumah."
Saat Vie dan mbak-nya sedang menyiapkan keperluan untuk makan siang, mama Anggi datang ke dapur untuk memastikan bahwa Vie baik-baik saja.
Matanya langsung terbelalak saat Vie menata piring di atas meja.
"Vie ... apa yang kamu lakukan disini?" Sungguh mama Anggi terkejut.
Vie nyengir saat mama Anggi mulai menghidupkan radio otomatis untuk menasehati dirinya. Sudah jelas-jelas Dirga menyerahkan kepada mamanya agar istrinya tak dibuat kelelahan, tapi Vie malah membuat masalah baru untuk mamanya. Apa jadinya nanti saat Vie mengeluh lelah di rumahnya, yang pertama di tuntut adalah mamanya.
"Udahlah, Ma. Vie cuma bantuin menata piring aja kok. Lagian Vie itu sehat Ma, jangan diperlakukan seperti orang sakit kenapa?"
"Lha, kok malah marah sama mama? Marah dong sama suami kamu yang over protektif."
Vie lebih memilih mengalah dan ikut mama Anggi keluar untuk bergabung kembali bersama teman sosialitanya.
Tak ada yang bisa Vie bangga di tengah-tengah sekumpulan ibu-ibu di depannya. Hanya ada dua cincin jari manisnya dan angin-anting yang melekat di telinganya. Begitu juga tas yang ia bawa tak ada apa-apa dengan tas mereka. Sungguh menyediakan, tetapi itu semua memanglah murni kemauan Vie yang tak ingin terlihat menonjol.
"Eh ... jangan sembarang kalau ngomong ya. Lihat aja besok sepuluh jarinya Vie penuh dengan diamond blue, tapi yang jelas bukan model seperti itu. Harus barang impor kayak gini." Mama Anggi menunjukkan cincinnya.
Kepala Vie semakin pusing saat mama Anggi beradu mulut untuk dengan temannya hanya gara-gara sebuah cincin yang tidak penting bagi Vie. Vie sudah berniat dalam hati, ini yang pertama dan yang terakhir dirinya ikut mertuanya arisan. Sebenernya bukan arisan sih, tapi hanya acara ajang ke-pameran mereka masing-masing.
*****
Sesampainya di rumah ternyata Arga tergiur oleh ajakan opanya untuk yang ingin mengajaknya keluar kota. Selama ini Arga belum pernah pergi naik pesawat, itulah yang ingin Arga rasakan. Bisa terbang naik pesawat. Namun, Vie masih berat untuk memberikan ijin kepada anaknya.
"Cuma 2 hari kok, Vie. Lagian mama ikut kok. Ya sekali-kali gak papalah Arga menemani mama. Mama udah tua, kamu taukan Dirga anak tunggal. Mama itu sebenarnya kesepian di rumah. Untuk kali ini aja ya, ijinin Arga ikut keluar kota. Masalah suami kamu, biar mama yang urus nanti."
Dengan berat hati, Vie mengijinkan Arga untuk ikut bersama dengan mertuanya.
"Abang Aga jangan nakal ya sama Oma dan Opa. Bunda pasti bakalan rindu."
Sebelum pergi Arga menyempatkan untuk memeluk tubuh bundanya.
"Abang Aga gak lama kok, Bun. Bunda sama ayah jangan berantem ya."
Vie menganguk pelan. Menata Arga yang sudah masuk kedalam mobil. Hatinya tiba-tiba kosong tanpa adanya Arga disampingnya. Pasti bakalan rindu berat dengan bocah kepo itu.
Tak ada kegiatan lagi, Vie hanya mendekam di kamar sambil memainkan ponselnya. Sedari tadi tak ada balasan pesan dari suaminya. Padahal biasanya Dirga akan segera membalas pesannya tetapi tidak untuk hari ini. Sudah hampir 4 jam, Vie menunggu pesan balasan yang tak kunjung dikirim.
"Dirga kemana ya?"
Vie yang sudah lama menunggu kedatangan suaminya yang tak juga pulang merasa sangat gelisah. Tidak biasanya Dirga akan seperti ini. Tidak, Vie tidak bisa tinggal diam. Dia harus mencari tahu ada apa dengan suaminya.
Orang yang pertama Vie hubungi adalah Jane. Meskipun Jane jarang bertemu dengan suaminya tetapi dia pasti tau kemana suaminya berada. Tapi sayangnya, Jane mengatakan bahwa Dirga sudah pulang lebih awal.
"Ga, kamu kemana sih?"
( Hayo kamu kemana Ga, awas ya kalau gak pulang. Akses menuju angkasa akan di blokir )