
"Ada apa ini?" tanya Dirga was-was.
Mata Vie sudah menatap tajam kearah Dirga, begitu juga dengan Arga yang melipat tangannya di depan dada. Seolah sudah siap untuk menyidang terdakwa.
"Ka-kalian kenapa?"
"Ayah diam! Duduk!" perintah Arga.
Dirga tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi hingga membuat Arga sangat marah kepada dirinya, begitu juga wajah Vie yang sudah tidak bersahabat lagi. Dirga hanya mampu menelan kasar ludahnya.
"Abang Arga, harus kita apakah orang yang bandel dan tidak mendengarkan orang lain, Nak?"
"Di hukum, Bunda," teriak Arga kuat, membuat Dirga terkejut.
"Menurut mu, hukuman apa yang pantas, Kai?" Vie meminta pendapat kepada Kaisar.
"Gantung aja si Juna, Bu. Kalau perlu gak usah kasih jatah sebulan."
Dirga menatap tajam kearah Kaisar. Ternyata Dirga baru menyadari bahwa ada persekongkolan untuk menjatuhkan dirinya di depan Vie. Pertama Nana, kedua Kaisar. Dan dengan bodohnya dia mempercayai ucapan Kaisar bahwa meraka akan melakukan meeting di rumahnya sendiri.
"Tunggu! Aku tidak tahu apa yang sedang kalian rencanakan untukku. Hari ini aku tidak berulang tahun. Kejutan apa yang ingin kalian berikan kepadaku?"
"Dasar Bos bodoh! Kamu saat ini sedang di sidang karena tidak jera meladeni wanita ular," lirih Kai, tetapi masih bisa di dengar oleh Dirga.
"Baiklah, aku akan memberikan kejutan untukmu. Lihatlah ini, pemandangan bagus bukan?" Vie menunjukkan beberapa foto antara Jesy dan Dirga yang duduk saling berhadapan dalam satu ruangan.
"Bukankah Kai sudah memberitahu mu untuk menjauhi wanita ular ini? Tapi Mengapa kamu sepertinya mengabaikan peringatan Kai? Apa kami sengaja ingin mencari sensasi baru?"
"Vie, aku hanya sedang membahas pekerjaan bersama Jesy tidak lebih dan di sana ada Nana. Itu yang mengambil gambar juga Nana."
Vie menarik sebuah koper kecil yang sudah berisi dengan pakaiannya dan pakaian Arga untuk tiga hari ke depan.
Bukan kabur, tetapi Vie hanya ingin menemani Jane. Saat ini Jane butuh seseorang untuk berada disisinya dan Vie sebagai sahabat tidak akan membiarkan Jane merasa sendirian.
"Ayah jahat. Abang Alga gak temen sama ayah lagi." Arga menjulurkan lidahnya, mengejek sang ayah yang tidak bisa berkutik.
"Vie, kamu mau kabur? Dosa lho, kabir dari rumah tanpa seijin dari suami," cegah Dirga.
"Kalau kabur ngapain ijin segala? Kan tadi aku udah bilang malam ini dan malam-malam berikutnya aku tidur di apartemen Jane. Aku ingin menemani dia. Awas kalau selama aku pergi kamu sampai ketahuan membawa ular masuk ke rumah. Aku pastikan Juna tidak akan pernah bisa keluar angkasa lagi selamanya!" ancam Vie, sebelum pergi.
Dirga tak bisa membela diri, karena hanya akan sia-sia saja. Pasti Vie tidak akan pernah memberikan celah untuk dia membela diri.
Sepeninggal Vie, Dirga merasa sangat hampa. Rumah yang biasanya di penuhi oleh canda tawa Arga dan ibunya, lenyap begitu saja.
"Semua ini gara-gara Kaisar! Lagian kenapa mereka sangat tidak menyukai Jesy, sih? Dia baik, cantik dan .... "
Dirga menggantungkan ucapan saat dia menyadari akan sesuatu.
.
.
Moon maaf jika part ini ngelantur. Aku lagi migran jadi gak bisa fokus. Terimakasih kasih untuk dukungan kalian semua, peluk hangat dari aku. Semoga apa yang sudah kalian berikan untuk ku akan menjadi semangatku untuk terus berkarya. 🙏
Mau ingetin aja, Hari ini novel Jerat Hasrat sang CEO udah rilis sampai 3 bab, awas gak mampir ya.