Hidden Baby

Hidden Baby
Hidden Baby 80



"Jelaskan apa ini! Mengapa kamu chating dengan istriku? Sudah bosan hidup ya?"


Dirga melihat nama Vie berada diurutan teratas lalu membuka isi percakapannya. Matanya terbelalak saat Dirga mendapati Kai mencuri fotonya yang sedang melakukan presentase. Lalu menscrol ke bawah lagi ada foto Jane yang sedang terbaring di rumah sakit.



"Jadi sekarang kamu mau jadi mata-mata untuk Vie?" Dirga mengembalikan ponsel Dirga.


"Kalau begitu, gaji kamu aku potong, selebihnya kamu bisa minta kepada Jane," lanjut Dirga lagi.


"Eh ... bukan begitu Bos. Aku hanya ingin menjaga anda, bukan memata-matai anda," jelas Kai.


"Tanpa kamu jaga, aku bisa menjaga diriku sendiri."


"Anda masih ceroboh, Bos! Sudah berapa kali ibu Vie memergoki anda bersama dengan Jesi. Anda harus smart! Jesi itu ular, dia diam-diam menyimpan rasa kepada anda. Anda harus sadar itu, jangan sampai menyakiti perasaan ibu Vie. Terserah anda mau potong gaji ku semua gak masalah. Yang penting aku akan menangkal anda dari bibit-bibit para pelakor. Gak ngaca apa kalau dia ganteng." Kai melemahkan ucapan diakhiri kalimat, tetapi masih bisa terdengar oleh Dirga.


Setelah puas menceramahi Dirga, Kai meninggalkan bos-nya begitu saja. Biarkan saja di ngelunjak tetapi Dirga memang harus tau mana ular mana tangga. Jangan sampai ular naik tangga.


"Kaisar tunggu!"


Siapa bos, siapa bawahan. Beginilah saat ini Dirga dibuat oleh Kaisar. Seharusnya dia-lah yang marah kepada Kai, bukan Kai marah kepada dirinya. Mana ada bawahan berani memarahi atasan, kalau bukan Kaisar.


.


.


Mendengar cerita dari sang istri, Dirga akhirnya melakukan penyelidikan tentang kecelakaan yang menimpa Jane hingga dia harus kehilangan calon anaknya. Mungkin tak ada yang bisa menjadi saksi dalam kecelakaan tersebut, tetapi berkat adanya cctv, polisi sudah bisa mengantongi ciri-ciri mobil yang menabrak Jane.


Sudah dua hari semenjak kecelakaan itu Jane harus beristirahat total di rumah sakit. Berada di rumah sakit seperti berada di penjara. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Hanya boleh beristirahat. Dan lebih parahnya yang melarang adalah Kaisar, orang asing dalam hidup Jane yang menjelma menjadi sosok ibu untuknya.


Hari ini Jane telah di ijinkan pulang oleh pihak rumah sakit. Karena Vie harus membujuk Arga untuk pulang dari rumah Pita, Vie meminta tolong kepada Kaisar. Namun, sebelum itu Vie telah meminta ijin kepada Dirga agar Kai bisa menjemput Jane. Meski berat, jika sudah Vie yang meminta, apa boleh buat selain mengiyakan saja karena nasib Juna sangat penting bagi dirinya. Tanpa di manjakan oleh Vie satu malam saja rasanya sudah tidak nyaman apalagi jika satu hingga dua Minggu diabaikan. Pasti sakit hingga ulu hati.


Kai merasa menang besar. Ada manfaatnya juga dia berpihak kepada Vie karena dia tahu kelemahan bos-nya ada pada istrinya.


"Udah gak usah, galak. Sakit aja galak apalagi sehat," cibir Kai.


"Kai, aku gak tau apa maksud atas kebaikanmu padaku. Kamu bahkan menghabiskan waktumu untukku, lalu bagaimana dengan Queen? Kamu ini kekasihnya Queen, jangan sampai dia salah paham dengan ini semua."


"Dia tidak akan tahu. Kamu tenang saja."


"Siapa bilang dia tidak tahu. Itu dia ada didepan."


Mata Kai segera menatap kearah depan. Dengan jantung yang hendak meloncat, menyadari bahwa kekasihnya ada di depan mata.


"Queen," gumam Kai.


Sama-sama mematung untuk beberapa saat, akhirnya Miss Queen memilih untuk berlalu pergi begitu saja. Tangannya sudah mengepal keras saat melihat apa yang baru saja ia lihat dengan mata dan kepalanya. Ia tidak pernah menyangka jika saat ini hatinya sedang di permainkan oleh seorang lelaki yang dia anggap sangat tulus mencintainya.


"Queen, tunggu!" teriak Kai, tetapi kakinya berat untuk melangkah.


.


.


.


Hayo bagi kopinya dong, biar gak oleng authornya 🤭🤭