Hidden Baby

Hidden Baby
Hidden Baby 76



Hampir setengah malam, Dirga merasa gelisah. Membayangkan apa yang baru saja dengar. Dalam hati ia terus mengumpat karena malam ini juna sedang dalam hukuman karena telah membuat Vie ngambek tadi.


Tidur sebelah Arga membuatnya sulit untuk memejamkan mata, apalagi posisi tidur Arga yang terlalu mepet dengan Vie hingga tak ada celah sedikitpun.


"Beruntung kamu adalah anakku, Ga. Kalau tidak sudah aku tendang kamu dari kamar ini," gerutu Dirga.


Malam semakin larut, hingga pukul 3 dini hari Dirga baru saja bisa memejamkan mata, tetapi baru saja ingin terlelap ia merasakan sesuatu yang menyentuh pipinya, membelai hingga menge.cu.pi.


Terasa seperti mimpi, tetapi sentuhan itu terasa nyata. Karena saking ngantuk Dirga enggan untuk membuka mata, membiarkan tangan nakal itu terus menggerayangi wajahnya. Merasa tak ada respon sama sekali dari Dirga, Vie merasa sangat kesal dan langsung tidur membelakanginya. Saat ini posisi Arga hampir saja terjatuh jika tak ada guling yang menjadi penghalangnya.


Karena cahaya mentari yang berhasil masuk kedalam celah-celah kecil, membuat Dirga mengerjapkan matanya merasakan sesuatu yang berbeda, meskipun saat ini dia tengah memeluk Arga. Saat menoleh ke samping, Dirga terkejut saat melihat Vie tidur dengan posisi membelakangi dirinya.


"Sayang," panggil Dirga.


Vie menggeliat sambil menguap.


"Kenapa boboknya pindah di kesini? Kalau mau peluk gak usah malu-malu. Sini peluk dulu. Anak aku pasti kangen belaian dari ayahnya kan?"


Sebelum Dirga berhasil untuk memeluk istrinya, ternyata Vie sudah melemparkan bantal ke wajah Dirga.


"Peluk itu bantal," ketus, Vie segera berdiri dari tempat tidur. Rasa kesal masih bersarang dalam hatinya. Namun, dengan cekatan Dirga segera menarik lengan Vie hingga dia terjatuh di asat tubuhnya. Dirga mengulum senyum dan tak ingin membuang kesempatan ini. Dia langsung mengecup bibir istrinya yang terlihat masih cemberut.


Vie berusaha untuk menolak, tetapi otaknya menerima rangsang.an yang Dirga berikan hingga akhirnya ia juga larut dalam pergulatan bibir pagi ini.


Vie hanya bisa memejamkan mata saat tangan nakal Dirga sudah mulai menggerayangi seluruh tubuhnya.


"Ayah ... Bunda ....!" teriak Arga dengan mata membuat sempurna.


*****


"Aunty ... Aunty jangan pelgi." tangis Arga kian menjadi saat Keduanya hendak naik kedalam mobil.


Melihat akan kecil yang menangisi kepergiannya membuat Rey tidak tega akhirnya Rey berinisiatif untuk mengajak Arga untuk ikut ke rumah barunya, dan memberikan janji setelah ini tidak boleh menangis lagi.


Dirga dan Vie tidak merasa keberatan, karena saat ini mereka telah menganggap pasangan itu telah menjadi bagian dari keluarganya. Jika papa Wira sudah yakin, maka hasilnya tidak akan pernah mengecewakan.


"Hole ... abang Alga mau pindah lumah." Dirga begitu antusias saat Vie telah menyiapkan pakaian ganti untuknya.


"Tapi abang Arga jangan nakal disana ya. Kasian aunty sama dedek bayi," pesan Vie.


"Siap bunda. Abang gak lama kok pindahnya. Nanti kalau abang Alga udah gak malah lagi sama ayah, abang Alga pasti pulang," celoteh Arga, sambil melirik kearah ayahnya.


"Lho ... emang salah ayah apa, Ga? Kamu sensitif terus sama ayah," keluh Dirga.


"Ayah mau tau kesalahan ayah? Baiklah abang Alga kasih tau. Peltama, ayah udah menggesel boboknya abang Alga dan abang Alga hampil jatuh ke lantai. Kedua, ayah udah cium-cium bundanya abang Alga tadi. Ayah jahat padahal bunda tidak mau Ayah cium, tapi ayah paksa. Arga gak mau temenan sama ayah."


Dirga dibuat diam seribu bahasa oleh celoteh anaknya sendiri sambil menahan malu di depan pasangan yang diam-diam menghanyutkan.


Pita dan Rey menahan senyumnya saat mendengar penuturan dari bocah 4 tahun itu.


"Jika kalia membawa dia, berhati-hati lah dalam bertindak. Pikiran dia terlalu dewasa untuk anak seusianya. Jangan teledor. Kamu sudah tahukan kejabiran dia." Dirga memberikan peringatan sebelum terlambat.


"Iya, kami tahu. Tidak usah khawatir, lagian aku juga belum sembuh total," balas Rey.


Halah alasan. Yang sakit itu tanganmu, bukan ularmu. Buktinya saja tadi malam masih sempet untuk bermain ular-ularan dengan istrimu hingga membuat aku merinding. Cih, munafik! Dirga hanya bisa mengumpat dalam hati.