Hidden Baby

Hidden Baby
Hidden Baby 59



Sore ini Vie dan Dirga mengajak Arga untuk mengunjungi taman kota yang sedang mengadakan pasar malam. Sudah lama Vie tidak membawa Arga jalan bersama karena kondisi yang kemarin-kemarin mudah lelah. Tapi sekarang Keadaan Vie sudah jauh lebih baik ketimbang hari lalu.


Arga sangat bahagia saat bisa menikmati waktu bersama ayah dan bundanya. Setelah sekian lama hanya bermain di rumah, sore ini dia bisa bermain puas di taman kota. Apalagi kata bundanya, ada pasar malam yang buka di sana. Arga sudah mengkhayal ingin mengajak ayah dan bundanya untuk naik sangkar burung, wahana permainan yang ia sukai.


Dirga sengaja pulang lebih awal demi anak dan istrinya. Terlebih istrinya yang selalu mengeluh bosan berada di rumah terus.


"Bunda, nanti kita naik sangkal Bulung ya?"


"Bunda gak bisa, Sayang. Nanti adek di dalam perut pusing." Vie menolak, membuat wajah Arga mengkerut.


"Tapi abang Aga masih ada ayah kok. Nanti naik sangkar burung bersama ayah, ya?" bujuk Vie.


Mata Arga menatap ayahnya yang sedang melepaskan seat belt. "Lho, kok ayah?"


Vie memberikan isyarat agar Dirga mengiyakan saja. Jika tidak Arga akan kesal dan kecewa.


"Iya. Nanti naik sangkar burungnya sama ayah. Tapi abang Aga jangan melototin ayah seperti itu. Ayah jadi takut," seloroh Dirga.


Arga berjalan sambil menggandeng tangan kedua orang tuanya. Rasanya sangat bahagia. Jika dulu Arga selalu menantikan kehadiran ayahnya, maka saat ini ia tengah menantikan sang adik agar cepat lahir dan segera bermain dengan dirinya. Arga sudah bosan tak ada teman bermain di rumahnya.


Sambil bernyanyi ria, mata elang Arga menangkap sosok yang sangat familiar untuknya. Sudah lama tidak bertemu tetapi Arga masih jelas mengingat wajahnya.


"Om ikal .... " teriak Arga, kemudian melepaskan genggaman tangan dari ayah bundanya, demi berlari menuju Haikal berada.


Haikal yang tanpa sengaja ingin melepaskan penat akibat pekerjaan yang menumpuk sangat terkejut saat mendengar namanya di panggil, terlebih yang memanggil adalah bocah kecil.


"Arga," gumam Haikal.


Lama tak bertemu membuat Arga merasa rindu. Dulu saat ayahnya belum pulang, Haikal sering mengunjunginya di rumah lama. Tetapi setelah ayahnya pulang, Haikal tak pernah lagi mau singgah ke rumah baru milik Arga.


"Om Ikal, apa kabar?" Arga menyunggingkan senyum lebarnya.


Begitu juga dengan Haikal yang segera berjongkok demi bisa menyamakan tinggi mereka.


"Sama ayah dan bunda, Om."


Deg.


Seketika jantung Haikal bergedup lebih cepat saat Arga mengatakan bersama ayahnya. Haikal baru saja mengetahui bahwa ayahnya Arga adalah direktur tempatnya bekerja. Haikal sebenarnya tidak percaya atas berita yang sedang beredar di kantor, tetapi setelah ia bertanya kepada Jane, wanita itu membenarkan. Pupus sudah harapan Haikal saat itu. Bagaimanapun, Haikal tak akan pernah bisa menang untuk mendapatkan hatinya Vie, mengingat suami Vie adalah bos-nya sendiri.


Haikal melihat dua pasang kaki sudah berdiri depannya. Ia tau siapa pemiliknya, kemudian mendongak. Wanita yang tak bisa ia gapai hatinya telah bersanding dengan seseorang orang mapan. Apakah Haikal harus merasa cemburu. Munafik jika Haikal tidak cemburu.


Atas ide dari Arga, akhirnya Haikal ikut bergabung bersama dengan mereka untuk menghabiskan waktu di pasar malam ini. Arga sangat bahagia karena bisa diajak oleh Haikal menjajal semua permainan yang ada. Hal itu membuat Vie dan Dirga juga menikmati waktunya untuk berdua. Jarang-jarang Dirga bisa menghabiskan waktunya berdua saja tanpa gangguan dari Arga.


Satu sisi lain, Dirga merasa bersyukur dengan kehadiran Haikal yang tanpa ia duga sangat berguna.


Vie dan Dirga saat ini sedang menunggu pesanan mereka, jangung bakar. Vie sudah tidak sabar lagi untuk mencicipi, tetapi ia harus sabar untuk menunggu.


"Vie, kamu makin hari makin cantik," puji Dirga.


Vie merasa tersipu malu. Tanpa di puji, Vie tahu jika dirinya cantik. Buktinya saja Dirga sampai klepek-klepek dibuatnya.


"Pasti ada maunya?"


Dirga tertawa pelan. Istrinya memang pintar. "Kamu tau aja, abis ini kita naik sangkar burung ya?


Vie mendelik. Bukan tidak mau, tapi Vie takut jika sudah berada diatas puncaknya. Namun, Dirga menguatkan Vie agar mengiyakan ajakannya untuk malam ini.


"Oke."


Dirga bersorak dalam hati. Malam ini Dirga akan membuat malam yang tidak bisa Vie lupakan saat berada di wahana permainan yang sangat ia takuti.


Hayo Dirga merencanakan apa di sangkar burung?


...*******...