Hidden Baby

Hidden Baby
Hidden Baby 65



Vie dibawa dan di dudukkan di sebuah kursi. Satu lagi, dia merasakan ada tangan yang sedang menutup matanya dengan kain penutup mata. Vie tidak tahu lagi harus bagaimana. Percuma saja dia meminta tolong, karena tak akan ada yang bisa menolong dirinya saat ini.


Namun, sekelebatan hidungnya bisa mencium aroma parfum yang sering digunakan oleh suaminya. Vie hafal betul dengan parfum itu, karena dia sendiri yang memilihkan parfum tersebut untuk Dirga.


"Dirga ….," teriak Vie.


Tak ada sahutan, tapi Vie bisa mendengar dengan jelas jika ada suara bisikan di sekitarnya.


"Siapapun kalian lepaskan aku! Apa mau kalian!"


Lampu sudah dinyalakan, tetapi Vie belum bisa melihat karena matanya masih ditutup dengan kain.


Semua sudah bersiap. Sesuai aba-aba dalam hitungan ke 3 mata Vie harus sudah di buka.


3 … 2 … 1 …


"Tara … selamat ulang tahun …" Bunga-bunga berjatuhan dari atas kayaknya sedang hujan bunga.


Vie menatap satu persatu orang yang ada di hadapannya terlebih seseorang yang sudah membawa kue ulang tahun beserta lilin berangka 25 tahun, siapa lagi jika bukan Dirga. Di samping suaminya ada bibit premium yang ia cetak sebelum waktunya juga sedang menatapnya dengan mata berbinar. Bukan hanya mereka saja melainkan ada mertuanya dan juga Kai. Tapi ada satu lagi. Vie menoleh ke samping ternyata ada sosok perempuan yang sangat ia kenal turut andil dalam penculikan suaminya. Siapa lagi jika bukan Jane.


"Kalian," ucap Vie.


"Surprise … selamat ulang tahun bunda Vie," ucap Jane sambil nyengir.


"Bunda, selamat ulang tahun." Arga segera memeluk tubuh Vie yang masih bergemetar akibat rasa takutnya. Ia tak akan pernah menduga jika semua ini telah di rekayasa.


"Selamat ulang tahun, Sayang. Maaf telah membuatmu khawatir." Dirga mengecup kening Istrinya.


Ingin rasanya Vie memaki suaminya yang sudah membuatnya jantungan hingga hampir mati. Vie tidak akan memaafkan Dirga begitu saja, tinggi pembalasan dari ibu negara pasti lebih indah daripada ini.


Setelah acara tiup lilin dan potong kue, Vie ternyata memberikan kue potongan pertamanya untuk papa mertuanya. Hal itu Vie lakukan karena selama ini dia bisa bertahan karena support dan dukungan darinya. Lanjut potong kedua untuk bocah kecil yang tengah menatapnya sedari tadi dengan mata yang bersinar.


"Wah Abang Alga dapat kue dali bunda," sorak Arga.


Lanjut satu persatu mendapatkan suapan kue dari Vie, sebagai rasa terima kasihnya. Namun, sang pemegang kue yang sedari tadi menunggu jatahnya tak kunjung mendapatkan suapan kue.


"Sayang, aku mana?" rengek Dirga.


"Karena kamu udah buat aku jantungan dan perut kram, maka jatah kamu gak ada. Kalau mau potong sendiri."


"Ya ampun, Sayang … kamu kejam."


Papa Wira dan Mama Anggi meminta maaf karena harus menyetujui ide dari Dirga untuk menyukseskan kejutan ini. Mereka sama sekali tidak berniat untuk mengerjai Vie, tetapi Dirga terus memaksa akhirnya luluh juga.


Begitu juga dengan Jane yang dipaksa oleh Dirga dan Kai agar bisa bekerjasama. Sebenarnya Jane tidak mau, tetapi Kai memaksa terus dengan iming-iming makan soto babat bersama.


"Jadi semua ini ide dari Dirga?" tanya Vie.


"Iya." Jawab mereka serentak.


"Bagus … sekali ya. Kalian hampir membuat orang mati. Kamu juga! Kamu udah tau istri kamu lagi hamil, gak mikir kalau sampai terjadi apa-apa sama anak kamu. Aki capek Ga, jalan dari ujung sana terus mendaki kesini. Kamu kalau bercanda jangan kelewatan dong!" Vie melupakan amarahnya kepada sang pencetus ide.


Suasana mendadak hening dan mencekam. Tak ada berani untuk berbicara lagi. Memang rencana mereka sudah sangat keterlaluan disaat Vie sedang hamil. Tak seharusnya mereka memberikan surprise yang seperti ini kepada dirinya meskipun niat awalnya adalah untuk kejutan.


Dirga maju kedepannya sambil memeluk tubuh istrinya. "Maaf, aku salah. Aku sudah keterlaluan. Kamu boleh marah, kamu boleh hukum aku tapi jangan buat acara ini sia-sia ya. Setelah lima tahun berlalu, aku ingin mencetak sejarah lagi, bukan hanya mencetak anak," bisik Dirga.


Vie ingin marah kepada Dirga tetapi hatinya tak bisa ikut marah. Terlalu cepat luluh atas bualan yang selalu Dirga ucapan setiap saat. Hanya kata sederhana tetapi Vie langsung klepek-klepek.


"Apaan sih Ga. Kamu jahat tau." Vie mendorong tubuh Dirga.


"Udah nanti aku pijitin. Hapus dulu air matanya. Masa iya di hari spesial ini kamu mau ngambek sama semua orang? Meskipun kami semua salah sih."


Untuk melancarkan aksinya, Dirga memberi isyarat kepada anaknya agar membujuk bundanya. Karena senjata terkuat adalah Arga, maka dia harus mengumpankan anak itu.


"Aku lagi," keluh Arga.


***


Tidak ada yang bisa meragukan lagi bagaimana kekuatan Arga, bocah 4 tahun dengan titel dewasa sebuah waktunya. Buktinya saja setelah merayu bundanya, kini suasana menjadi meriah lagi. Vie sudah kembali seperti semula, seolah melupakan amarah yang sesak di dadanya. Menikmati acara yang sederhana namun ada makna di dalamnya. Hangatnya sebuah keluarga dan cinta kasih yang tulus dari orang-orang terdekatnya. Selama hampir lima tahun Vie tidak pernah mengingatkan hari ulang tahunnya. Baginya sama saja yang membedakan hanya usianya yang bertambah.


"Papa sama mama benar-benar minta maaf. Tidak ada niatan untuk membuat kamu khawatir. Semua ini adalah rencana suami kamu. Tapi untuk mengenai Arga yang akan keluar kota itu benar dan papa akan tetap membawa Arga." Papa Wira buka suara.


"Dan lagi ini ada 4 tiket libur gratis dari papan untuk kalian." Papa Wira menyerahkan 4 lembar tiket ke Korea.


Vie yang menerima langsung terbelalak sambil menutup mulutnya, seakan tak percaya. Pergi ke negara dimana idolanya tinggal. Sungguh papa mertua luar biasa.


"Serius ini, Pa? Ko-Korea?" gagap Vie.


Mendengar kata Korea, Jane segera berebut pelan tiket dari tangan Vie untuk memastikan kebenarannya.


"Ya ampun Pak … mimpi apa aku semalam bisa liburan gratis ke Korea."


Namun, tidak dengan Kai yang memasang wajah lesu. Entah mengapa hanya 4 tiket saja yang diberikan, harusnya 5 agar dia bisa mengajak Miss Queen juga. Pak Wira tidak adil.


"Bagaimana Kau? Kamu tidak tertarik? Kalau tidak, ya sudah biar om tarik lagi satu."


"Waduh Om, peritungan sekali sih? Masa iya barang yang sudah diberikan mau diambil lagi," keluh Kai.


"Habis muka kamu butek kayak gitu."


"Udah bawaan Om."


~To Be Continued~


Makasih buat kalian semua yang masih bertahan dengan cerita ini. Gak terasa dah satu bulan novel ini tayang. Jangan heran kalau tiba-tiba novel ini bergeser ke label END ya 😊


yang belum baca novel othor yang SEGENGGAM LUKA, baca dulu yuk. Season 2 othor lanjut di sana.