
"Kenapa Alga halus ikut, Bunda?" tanya Arga heran, pasalnya ia tidak pernah diajak jika ada acara gala dinner.
"Bunda juga tidak tahu, Sayang. Mungkin ayah kasihan liat abang Arga di rumah sendirian," tebak Vie secara asal.
Arga mengangguk pelan. Bocah 4 tahun yang belum bisa mengucapkan huruf R, tetapi tingkat kedewasaannya sudah jauh di atas standar anak seusianya hanya memperhatikan bundanya yang sudah sibuk untuk memilih gaun yang akan digunakan.
Hampir semua pakaian yang ada di lemari ia keluarkan. Semua bajunya sudah tidak ada lagi yamg muat dengan dirinya, karena saat ini badan Vie sudah mulai berisi. Di tambah lagi, perut Vie juga sudah mulai membuncit karena usia kandungan Vie juga sudah memasuki bulan kelima.
"Bunda, kenapa baju Bunda di kelualkan semua? Bunda gak malah?" tanya Arga dengan polos. Biasanya jika dia atau ayahnya yang membongkar pakaian dari lemari, pasti Bundanya akan langsung marah, seperti rel kereta api.
"Bunda lagi cari baju yang pas lho, Ga. Tapi sepertinya baju bunda gak ada yang muat lagi, semua gara-gara ayah kamu," gerutu Vie.
Arga mendongak. "Memangnya Bunda diapain sama ayah? kata Bunda, ayah olang baik?"
Vie memijat pelipisnya. Ia lupa jika berbicara dengan Arga tidak akan berujung, karena Arga pasti akan terus menanyakan topik pembicaraan hingga dia merasa jelas, meskipun itu bukan masalahnya.
"Kamu ini masih kecil, mau tau urusan orang tua aja, Ga. Udah sana ganti baju! Nanti kita diantar sama pak Selamet."
Arga yang patut segera mengganti pakaiannya, karena tadi dia sudah mandi.
Saat ini Arga sudah siap dengan pakaiannya, tetapi tidak dengan Bundanya yang belum siap juga.
"Bunda lama sekali sih?" gerutunya.
Arga terpaksa harus sabar saat menunggu Bundanya. Baik sedang belanja ataupun sedang berdandan.
Dilain sisi, Kai sedang mempersiapkan tempat yang akan di jadikan dinner malam ini. Sesuai dengan perintah bos-nya semua harus sempurna, maka dari itu Kai yang diutus Dirga untuk menyiapkan semuanya.
Tepat pukul 7 malam, Vie bersama dengan Arga sudah masuk ke dalam sebuah restoran berbintang. Keduanya disambut hangat oleh para pelayan lalu diantar ke lantai atas di mana acara di gelar.
"Ayah .... " seru Arga, saat melihat Dirga duduk disebuah meja.
Dirga memang sengaja tidak berangkat dari rumah karena dia masih ada pekerjaan yang dikerjakan lebih dahulu.
Tangannya dengan sigap langsung menangkap tubuh mungil itu dan langsung menggendongnya.
"Anak ayah genteng sekali, bunda juga." Dirga menatap Vie dengan penuh memuja. Tak disangka istrinya bisa terlihat lebih cantik saat dia berdandan. Dirga menahan tawanya saat melihat perut Vie yang sudah sangat jelas terlihat menonjol.
Mendadak pikiran Dirga traveling untuk sejak. Ia memikirkan bagaimana saat mereka keluar angkasa dan Vie yang menjadi pilotnya. Pasti akan lebih terlihat seksi.
"Ayah kenapa tertawa?" protes Arga.
"Tidak ada. Ayah cuma ingin memuji Bunda, tapi takutnya bunda marah, Sayang," bisik Dirga.
"Kenapa ayah takut, kan bunda gak gigit ayah. Ayah yang seling gigit bunda."
Sementara itu Vie terlihat hanya menahan tawanya. Dalam hati Vie bersorak ria, ternyata anaknya sangat jenius.
Tidak berapa lama, tamu agung yang mereka tunggu akhirnya datang juga.
Excel Word, seorang CEO yang berpengaruh dalam dunia bisnis, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Meskipun perusahaan pak Wira besar tatapi tidak ada apa-apa jika dibandingkan dengan perusahaan milik Excel Word.
"Selamat malam Tuan Excel. Silahkan duduk."
Dirga menyambut kedatangan Excel beserta sang istri yang ternyata juga sangat cantik.
Bahkan Vie merasa minder dengan kecantikan yang dimiliki oleh istrinya Excel.
"Selamat malam juga Tuan Dirgantara."
Sejak keduanya saling memperkenalkan istri mereka masing-masing. Namun, mata Excel masih menatap lekat pada bocah kecil yang di bawa oleh calon clien-nya. Wajah yang imut dan lucu. Excel berharap jika anaknya kelak juga akan lucu seperti bocah yang ada di depannya saat ini.
Singkat cerita, saat kedua lelaki itu sedang membahas masalah pekerjaan, Vie mengajak Daisy untuk menjauh.
"Sudah berapa bulan?" tanya Daisy kepada Vie.
Vie yang sudah tahu arah pertanyaan Daisy segera menjawabnya. Dari sini Vie tahu jika Daisy juga sedang hamil muda.
"Bunda, kenapa semua Aunty sama sepelti bunda, mau punya adik bayi lagi?" celoteh Arga.
"Karena mereka kesepian, Sayang," jelas Vie.
"Jadi Bunda juga kesepian?" tanya Arga sedih.
Vie langsung tersadar akan ucapan yang ternyata salah. Dia tidak bermaksud untuk membuat Arga bersedih, tetapi sia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan kepada Arga mengapa semua aunty-nya sama-sama hamil semua.
"Bukan begitu, Sayang. Ayah sama Bunda juga sayang sama abang Arga. Bukankah abang Arga yang meminta adik kepada ayah?"
Daisy hanya bisa memperhatikan anak dan ibu saling berinteraksi. Ia menarik kedua garis simpul bibirnya, berharap kelak dia juga bisa akan seperti Vie dan Arga.
.
.
.
Halo-halo maaf aku baru bisa up lagi. Gara-gara jari keslimpet, bab yang harusnya aku up terhapus, jadi harus ketik ulang ðŸ˜