Hidden Baby

Hidden Baby
Hidden Baby 68



Acara siang ini berjalan dengan lancar. Tanpa terasa hari juga sudah mulai menunjukkan senjanya, tetapi tak membuat sepasang pengantin baru memperlihatkan tanda-tanda gelisah ingin pulang. Berbeda dengan itu, Jane sudah sangat gelisah ingin pulang meskipun di rumah tak ada yang menantikan kepulangannya.


Sementara itu, papa Wira dan juga mama Anggi sudah pulang sedari tadi bersama Arga yang mereka bawa.


Sama halnya dengan Jane, Kaisar juga merasa sangat gelisah. Satu hari tak melihat wajah Miss Queen sudah seperti setahun berlalu. Saat ini Kai benar-benar ingin bertemu dengan Miss Queen.


"Kalian kalau tidak rela menemani kami ya sudah, pulang sama!" usir Dirga, menatap Kai dan Jane yang sudah mondar-mandir tak menentu.


"Kamu juga Jane, ngapain sih buru-buru mau pulang. Anggap hari ini kita liburan. Jarang-jarang kita bisa menikmati full time seperti ini lho," sambung Vie.


Kamu gak tau apa yang membuatku tak betah untuk tinggal lebih lama disini? Aku sangat merinding jika nanti malam mendengarkan suara mengerikan dari kamar kalian.


Suara itu hanya tertahan dalam kerongkongannya saja. Jane tak sanggup mengungkapkan secara langsung.


"Aku … aku hanya bosan saja dengan suasana seperti ini. Kamu tau kan mood aku suka hilang-hilang timbul?" Jane mencari alasan yang masuk diakal.


"Sudahlah, nikmati saja malam ini." Dirga menyela.


Jika Dirga sudah berkata, maka tak ada yang berani untuk berkata lagi selain kata pasrah. Kau dan Jane yang merasa kecewa memilih ke halaman belakang. Keduanya duduk di dekat kolam sambil melihat bintang yang menghambur luas di angkasa. Mereka duduk berjauhan karena saling gengsi untuk saling menyapa.


Kaki Jane memainkan air kolam yang rasanya sudah dingin. Entah apa yang tengah ia pikirkan, yang jelas wajah seperti sedang memikirkan sesuatu.


Kai sedari tadi menekankan ponsel yang tak berguna karena tak ada sinyal. Semenjak papa Wira pulang, sinyal pun juga hilang karena wifi juga dibawa oleh papa Wira ikut pulang.


Sementara itu di ruang dalam Dirga dan Vie sedang menonton drama favorit mereka yang sudah lama tak pernah mereka tonton semenjak berpisah saat itu. Kini keduanya sedang bernostalgia untuk mengenang masa sekolah saat itu.


"Jangan main air, ini sudah malam. Nanti kamu bisa masuk angin." Suara Kai tiba-tiba menggema di pendengaran Vie yang masih melamun.


"Cerewet," lirih Jane sambil berdiri. Namun saat beberapa langkah karena licin dan kakinya basah, Jane terpeleset dan langsung tercebur ke dalam kolam.


Byurrr ….


Suara itu terdengar hingga dalam rumah, hingga membuat sepasang pengantin itu sama-sam terlonjak.


Tak kalah terkejut, Kai yang melihat Jane tercebur tanpa pikir panjang juga langsung menyuburkan diri ke dalam kolam. Dia sangat mengkhawatirkan Jane, apalagi dia sedang hamil. Namun, di luar dugaan ternyata yang dikhawatirkan telah mendarat ke pinggiran kolam, membuat Kai merasa tertipu. Disaat itu juga Dirga dan Vie melihat Jane dan Kai sedang berada di dalam kolam.


"Kalian ngapain malam-malam renang? Bikin orang jantung aja!" teriak Dirga..


"Jane kamu ngapain renang? Ini udah malam, kasihan anak kamu kedinginan nanti," seru Vie.


"Kamu juga Kai, ngapain ikut renang? Gak takut masuk angin?" timpal Dirga.


Kedua manusia yang berada di dalam kolam hanya menahan rasa kesalnya mereka sambil melihat kepergian Dirga dan istrinya.


Kai sangat merutuki kecerobohan yang tak berpikir panjang. Mana mungkin Jane tidak bisa berenang. Dengan perasaan campur aduk akhirnya Kai naik kepermukaan. Kini seluruh tubuhnya sudah basah kuyup. Saat ia ingin segera masuk kedalam, ia melihat Jane kesusahan untuk naik. Merasa iba, Kai menghembuskan nafasnya secara kasar.


"Kenapa?" ketus Kai.


Tak ada jawaban dari Jane, tetapi dirinya tetap berusaha untuk naik ke permukaan.


"Gak usah melotot seperti itu, aku hanya ingin menolong mu. Jangan berpikir yang macam-macam!"


Jane mengulurkan tangannya. Kakinya terasa sakit saat hendak diangkat. Sepertinya kaki Jane terlilit.


Sekuat tenaga Kai menarik Jane yang ternyata juga berat. Saat Jane sudah naik ke atas permukaan, dia tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya lagi hingga tersungkur ke belakang. Bersamaan dengan itu, tubuh Jane juga ikut terseret dan jatuh menimpa Kai.


Untuk beberapa saat tanpa mereka sadari ternyata bibir mereka saling menempel. Keduanya saling memandang tajam hingga keduanya sama-sama tersadar dan segera menjauhkan tubuhnya mereka.


"Kamu," ucap Kai, sambil memegang bibirnya. Begitu juga dengan Jane yang juga ikut memegangi bibirnya diiring dengan degup jantung yang bergerumuh.


"Jane kamu udah mencuri ciuman pertama ku! Harusnya itu aku berikan kepada Miss Queen. Kembalikan!"


Mata Jane membulat. Dasar Kau gila! Bagaimana coba caranya untuk mengembalikan ciuman pertamanya.


"Kamu jangan ngaco deh, Kai!"


"Aku gak mau tau, pokoknya kembalikan!"


Jane benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran Kai. Geram dengan rengekan Kai, akhirnya Jane berusaha untuk mengembalikan ciuman yang tanpa sengaja ia renggut tadi.


"Kamu serius ingin aku mengembalikan ciuman itu?" tanya Jane.


"Ya iyalah. Ciuman itu hanya untuk Miss Queen," sewot Kai.


"Ya udah sini."


Kai menurut, ia mendekat kearah Jane. Entah bagaimana caranya Jane akan mengembalikan kesucian bibirnya yang tanpa sengaja terenggut oleh bibirnya Jane.


"Yakin gak, mau di kembalikan sekarang? Nanti nyesel?"


"Gak nyesel. Pokonya cepat kembalikan sekarang!"


"Baiklah."


Jane segera mencium kembali bibir Kai, membuat lelaki itu terpaku tanpa kata dengan bola mata yang melebar sempurna.


Disaat yang bersamaan Vie datang dengan membawakan handuk untuk kedua orang yang baru saja terjebur kedalam kolam tadi.


Tak percaya dengan apa yang ia lihat, Vie hanya bisa menutup mulut dengan tangannya.


"Astaga … mereka."


~Bersambung~


Terimakasih yang sudah memberikan like dan Vote 🙏