Hidden Baby

Hidden Baby
Hidden Baby 81



Vie sudah berhasil membawa Arga pulang meskipun harus melewati beberapa drama terlebih dahulu. Arga yang tidak mau tinggal lagi bersama ayahnya lagi membuat Pita dan Rey menertawakan alasan konyol dari bocah itu.


"Alga gak mau pulang, ayah udah gak sayang lagi sama abang Alga Sekalang ayah suka-nya ciumin bunda-nya Alga. Alga mau disini aja sama om Ley dan aunty Pita," celoteh bocah itu.


"Abang Aga kok ngomongnya gitu sih? Ayah sama bunda sayang kok sama abang Aga. Kita pulang ya? Aunty Jane sakit," bujuk Vie.


Mendengar kata Jane sakit, Arga segera terkejut. Selama ini aunty-nya yang satu itu tidak pernah sakit dan selalu bersemangat. Arga tak percaya begitu saja akan ucapan bundanya, hingga akhirnya Vie meyakinkan dengan melakukan panggilan video call bersama dengan Jane.


Saat itu juga Arga percaya 100% bahwa Jane bener-benar sakit dan setuju untuk pulang.


"Bunda, kenapa aunty Jane bisa sakit?"


"Bunda juga tidak tau, sayang." Vie terpaksa berdusta, karena ia tidak ingin Arga berpikir lebih keras dalam masalah ini. Vie yakin jika Arga tahu yang sesungguhnya pasti dia akan heboh dengan segala caranya.


Setelah sampai di apartemen tempat tinggal Jane, Arga segera memeluk Jane seolah sedang menyalurkan energi yang dia punya.


"Aunty sakit apa? Kenapa Aunty sakit? Apakah semua ini karena om Kai?" Arga melirik kearah Kai yang sedang menyiapkan makan siang untuk Jane.


"Jangan asal nuduh dong, Ga. Om Kai gak tau apa-apa." Kai membela diri.


"Jadi Aunty kenapa bisa sakit?"


"Sayang, Aunty gak apa-apa. Lihat, aunty sudah sehat kan." Jane berusaha untuk baim-baik saja.


"Baiklah, aku pelcaya. Awas saja jika semua ini kalena om Kai," ancam Arga.


"Teruskan saja kalian anak dan ayah yang selalu mengancam ku," sahut Kai, dengan wajah dibuat bersedih seolah sedang tersakiti.


*


*


*


Saat ini Dirga tengah berpikir keras untuk memecahkan masalah yang sedang menimpa Jane. Bagaimana tidak ikut pusing, Vie terus mengancam jika tidak segera menemui titik terang dia tidak akan membelai Juna sampai masalah itu terselesaikan.


Saat ini dia benar-benar frustasi. Ingin menuntaskan hasratnya yang terbendung. Mulia tadi malam Juna sudah puasa, tidak mendapatkan jatahnya. Apalagi belaian pagi hari, yang biasa akan dimanjakan oleh tangan lembut ibu negaranya, tadi pagi dilirik pun tidak.


"Disaat seperti ini aku juga tidak bisa mengandalkan Kaisar. Pasti tikus itu meminta perlindungan kepada Vie sehingga Vie malah ganti mengancamku. Awas kamu Kai! Bener-benar mau di potong gajinya!"


Dirga dengan sabar menunggu waktu pulang yang terasa sangat lambat. Sebenarnya bisa saja dia langsung pulang tanpa harus menunggu waktu, tetapi sebagai panutan untuk karyawan-nya Dirga mencoba memberikan contoh yang terbaik.


Ditengah-tengah lamunannya suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Dirga.


Setelah mengetuk pintu Nana masuk untuk memberi tahu bahwa ada tamu yang ingin bertemu dengannya. Nana yang sudah mendapatkan amanah dari Kai sudah berusaha untuk menahan bibi pelakor agar tidak masuk ke dalam ruangan bos-nya. Namun Jesi memaksa untuk masu, akhirnya Nana memilih untuk menemui bosnya.


"Pak, diluar ada bibit pelakor. Eh ... Maksud saya ada ibu Jesi." Nana mengigit bibir bawahnya, dia merutuki kebodohannya yang menirukan ucapan Kaisar.


Matikan aku. Kenapa malah keceplosan sih?


Dirga menautkan alisnya. Untuk apa Jesi menemui dirinya, bukanlah hari ini tidak ada jadwal pertemuan. Lalu apakah ada masalah yang penting sehingga dia datang tiba-tiba.


"Suruh dia masuk!"


"Pak! Anda sudah gila ya!" Lagi-lagi Nana keceplosan dan langsung menutup rapat mulut dengan tangannya.


"Maaf Pak," lirihnya lagi.


Dirga hanya bisa membuang kasar nafasnya. Ini pasti adalah ulah Kai yang telah mencuci pikiran Nana. Kaisar memang virus yang meresahkan. Bagaimana semua orang berpihak kepada dirinya.


"Maksud kamu apa?"


"Maaf Pak. Tetapi Kaisar bilang bahwa ibu Jesi adalah bibit pelakor yang meresahkan untuk anda. Anda dilarang keras untuk berduaan dengan ibu Jesi. Jika ands ingin menemui ibu Jesi maka maafkan saya yang harus ikut," ucap Nana ragu.


"Sekarang aku tanya, siapa bos disini?" tanya Dirga.


"Anda, Pak."


"Bagus. Kali aja kamu lupa! Jadi suruh dia masuk. Kami hanya akan membahas masalah pekerjaan. Tidak ada yang lainnya," pungkas Dirga.


"Baik Pak, jika itu keinginan anda. Saya akan menyampaikan kepada Kaisar jika anda ingin membahas pekerjaan bersama ibu Jesi."


"Nana ... !" teriak Dirga.


Nana sang sekretaris menutup telinganya lalu meninggalkan Dirga begitu saja. Sementara itu Dirga terus memaki Nana yang tidak bisa berpihak kepada dirinya. "Lihat saja, aku potong gaji kalian semua!"


.


.


.


Berdosa gak sih kalau Othor selalu nodong Vote dari kalian 🤭🤣 Hari Senin butuh semangat Baru hihi.


Makasih yang tak terhingga buat kalian yang ninggalin Vote di novel ini. Lope-lope sekebon toge 🥰🥰