Hidden Baby

Hidden Baby
Hidden Baby 66



Nah, Lo kagak di ingetin buat like sama kasih hadiah kalian mah suka-suka sama othor 😭


Bagi Vote deh kalau kayak gitu 🤣


Kejutan sederhana yang hampir membuat Vie terserang penyakit jantung berlangsung meriah meskipun hitungan jari saja yang merayakan. Vie yang merasa lelah, segera meminta Dirga memijat kakinya, sementara Arga juga ikut-ikutan memijat tangan bundanya.


Papa Wira dan Dan Kai sedang berada di halaman belakang m kedua lelaki itu sedang menyiapkan api untuk acara barbeque, sedangkan Jane dan mama Anggi menyiapkan apa saja yang akan diperlukan dalam panggangan memanggang.


Dirga dengan lembut memijat kaki Vie yang katanya tulangnya hampir patah dan Dirga harus segera bertanggung jawab.


"Bang Alga, sana bantuin om Kao sama Opa. Mereka mau bakar sapi, lho." Iming-iming Dirga.


Arga menggelengkan kepalanya. "Di sini mana ada sapi. Alga mau disini aja temenin bunda," jawabnya.


Dirga beberapa kali harus membuang kasar nafasnya. Kali ini anaknya tidak bisa diajak kerjasama. Padahal Dirga sudah sedari tadi ingin membungkam mulut Vie yang terus menerus menurutkan perintah.


"Yang bagus dong Yah," manja Vie.


"Ini juga udah bagus. Mau gimana lagi?"


"Jangan kencang-kencang! Sakit tau."


Lama-lama Dirga merasa bosan, menunggu Arga yang tak kunjung pergi. Bagaimanapun Dirga harus mencari cara agar anaknya segera pergi.


"Ga, kamu gak mau bantuin aunty Jane? Kasihan dia. Adik bayi yang di dalam perutnya diajak beres. Kamu sebagai lelaki seharusnya gak boleh membiarkan aunty kamu kelelahan. Seperti ayah yang gak mau liat bundanya Arga capek, maknanya ayah pijatin," rayu Dirga.


Mata elang Arga menangkap Jane yang dengan lincah mempersiapkan keperluan di dapur. Arga terdiam untuk sesaat. Kemudian, ia pun bangkit.


"Baiklah, Alga mau bantuin aunty Jane. Kasihan dia."


Yes berhasil! Dari tadi kek. Dirga bersorak dalam hati.


Setelah kepergian Arga, tangan Dirga semakin gak karuan. Bukan sekedar memijat lagi melainkan sudah me.ra.ba hingga ke pangkal paha membuat Vie hanya bisa memejam dan menggigit bibirnya. Dirga yang mengetahui istrinya sudah tidak tahan lagi, terus melancarkan tangannya hingga hampir menyusup ke pintu gerbang utama. Vie berusaha menahan de.sah.anya.


"Sayang, kita cari tempat yang aman ya?" bisik Dirga tepat di daun telinga Vie sambil me.lu.mat telinganya.


"He'em … " Vie mengangguk.


"Gendong." Dengan manja Vie mengulurkan kedua tangannya dengan mata berkedip layaknya seperti sedang kelilipan pasir.


Dengan senang hati, Dirga segera mengangkat tubuh istrinya yang sedikit lebih kurus meskipun makannya banyak. Kadang suka heran, diletakkan dimana semuanya makanan itu, apakah langsung dimakan oleh anaknya di dalam perut? Kalau benar begitu, berarti calon anaknya kelak ra.kus.


Dirga telah membawa Vie menuju kamar lantai atas, karena Dirga tidak ingin diganggu. Sekilas mata Mama Anggi menatap kepergian anak dan menantunya lalu menggeleng kepala.


"Ngadon lagi," lirihnya.


"Apa yang harus di adon Tan?" tanya Jane yang dengan jelas mendengar lirihan mama Anggi.


"Ah itu … ngadon kue tart. Gimana kalau kita buat kue tart lagi."


"Wah … Alga mau dong Oma bantuin," sahut Arga.


Mama Anggi tersenyum tipis kepada cucunya. Oke masalah Arga sudah aman terkendali. Dengan adanya kegiatan, Arga pasti akan melupakan sejenak keberadaan orang tuanya yang hendak ngadon juga.


"Ide bagus itu, Tan. Ya udah aku kasih perlengkapan ini sama Kai dulu ya."


Mama Anggi hanya mengangguk saja menatap kepergian Jane lalu beralih menatap Arga, bocah polos dengan segala tingkahnya.


Sesampainya di kamar, Dirga segera meletakkan Vie ke tempat tidur dengan pelan. "Bentar aku kunci pintunya dulu."


Vie benar-benar sudah tidak tahan lagi saat suaminya sudah menjelajahi dengan sentuhan hangatnya apalagi saat Dirga telah membungkam mulut Vie dengan mulutnya. Beradu di dalam sana saling bertukar Saliva. Satu tangan menopang tubuh, satu lagi menjelajahi area sensitif yang berada di depan dadanya.


"Kamu cantik banget sih, Sayang. Setiap berdekatan dengan kamu Juna selalu hidup dan ingin selalu mengajakmu untuk keluar angkasa." Dirga menatap Vie, tatapnya kali ini penuh rasa cinta yang menggebu.


Vie tersenyum tipis lalu mengalungkan tangannya ke leher suaminya.


"Kamu juga. Kamu itu selalu ngangenin tau, meskipun rese. Tapi aku suka dengan Juna dan aku ternyata lebih jatuh cinta kepada Juna dari pada kamu," kekeh Vie.


Entah darimana awal mula penerbang siang ini, yang jelas saat ini Vie tengah menjadi pilot untuk mengendalikan penerbangan keluar angkasa. Dirga men.de.sah pelan saat Juna sudah dibawa Vie terbang tinggi. Sesekali tangannya memainkan dua benda yang menggantung di depan wajahnya.


"Sayang .. ahh." Dirga men.de.sah, membuat Vie tidak tahan lagi.


"Ah … Ga. Gak kuat."


Dirga tau Jika Vie hampir sampai ke bulan, maka Dirga mengambil alih kendali dan saat ini dirinya yang menjadi pilot. Dirga tidak berani melaju dengan kecepatan tinggi karena sedang ada benihnya yang sedang berkembang di dalam perut istrinya.


Vie terus menelan Saliva dan menggigit bibirnya. Peluh keduanya juga sudah membasahi tubuh yang polos sesekali Vie mengeluarkan de.sah.annya.


"Sayang, me.de.sah. lah suaramu sangat indah jika sedang me.de.sah." Dirga tersenyum nakal sambil mengangkat kakinya Vie.


"Ahhh … G-Ga." De.sah Vie saat sensasi luar biasa memporak-poranda gerbang pertahanannya, membuat Dirga tersenyum puas.


"Ga, lebih ce-cepat," rengek Vie.


"Tapi, didalam ada anak kita. Aku tidak mau dia kenapa-napa."


"Ayolah, Ga. Aku ga-gak kuat lagi."


Jika Vie sudah tidak kuat lagi, apalagi dirinya. Sesuai permintaan Vie, Dirga menambah laju kecepatan tinggi hingga tak terkendali lagi. Lenguhan panjang mampu mengantarkan keduanya sampai di planet Jupiter. Juna yang masih tertanam belum juga merasa lelah dan masih ingin menjelajah lagi sementara Vie sudah berhenti di planet Jupiter dengan nafasnya yang tersengal.


"Sayang, Juna masih ingin menjelajah. Kamu masih kuatkan? Juna sekarang memang nakal dia, kalau belum sampai Pluto belum mau berhenti," bisik Dirga manja. Vie yang masih mengatur nafasnya hanya bisa memejamkan mata menikmati sisa permainan yang ternyata belum usai.


"Juna sejak kapan kamu jadi nakal. Tapi aku suka." Vie tertawa kemudian mulai bersiap untuk penerbangan selanjutnya.


~Bersambung~


( Belum sempat edit, othor lagi sibuk 🤣)


Bismillahirrahmanirrahim


Assalamualaikum Wr.wb


JIKA TANGAN TAK DAPAT BERJABAT MAKA IJINKAN LISAN UNTUK MENGUCAP


Taqobalallahu minna wa minkum, taqabbalallahu minna wa minkum wa taqabbal ya kariim.


SELAMAT IDUL FITRI 1443 H.


MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN


MOHAN MAAF LAHIR DAN BATHIN,


atas segala Salah dan Khilaf


SEMOGA DOSA-DOSA KITA DI AMPUNI DI HARI YANG FITRI INI 😊 Habis itu bikin lagi 🤭


WASSALAMU'ALAIKUM Wr.wb


Author receh Teh Ijo & sekeluarga