Hidden Baby

Hidden Baby
Hidden Baby 62



Mama Anggi dan Vie sudah berada di mobil papa Wira. Sebagai supir pribadi mama Anggi, maka papa Wira harus siaga untuk mengantar kemanapun ibu negara pergi. Seperti saat ini, sebenarnya papa Wira paling malas untuk mengantar ibu negara arisan dan ke Mall, karena saat itu papa Wira hanya akan jadi pajangan yang terlupakan.


Mama Anggi yang selalu tampil mewah, kali ini tampilan lebih mewah lagi. Semua brand terbaru sudah menempel pada tubuhnya. Terlihat sederhana tetapi harganya bisa membuat jantungan rakyat biasa.


"Pokoknya nanti kamu jangan terlalu menanggapi omongan temen-temen mama, ya. Jangan mudah diambil hati. Mereka mulutnya licin, tapi baik semua kok."


Vie tersenyum. Sebenarnya ia sangat malas, namun karena mama Anggi selalu mendesak dan Vie juga merasa sangat bosan di rumah, akhirnya Vie menyetujuinya.


Papa Wira sudah berhenti di depan sebuah rumah besar berlantai 3 layaknya sebuah istana.


"Papa ikut masuk atau gak?" tanya mama Anggi.


"Papa nunggu disini aja, mau cari angin," jawab papa Wira.


"Baguslah," balas mama Anggi.


Vie berjalan di belakang mama Anggi. Jujur rasanya jedag-jedug. Ini adalah pertama kalinya Vie mengikuti acara mertuanya. Pikiran sangat tidak tenang membayangkan pertanyaan apa yang akan dilayangkan kepada Vie.


"Kamu kenapa sih? Mereka itu gak bakalan makan kamu kok." Mama Anggi membuang kasar nafasnya saat melihat Vie ragu-ragu saat hendak masuk ke dalam. Tangan mama Anggi segera menggandeng tangan Vie agar bisa masuk bersama.


Ternyata di dalam sudah banyak orang yang menunggu kedatangan mama Anggi. Semua mata terpana atas hadirnya wanita cantik di samping mama Anggi. Banyak yang tak percaya bahwa bahwa Dirga telah menikah, pasalnya tak ada kabar berita apapun yang mereka dengar.


"Halo-halo semua. Nih aku bawain oleh-oleh dari luar negeri tapi rasa lokal." Mama Anggi memperkenalkan Vie kepada seluruh teman sosialitanya.


Vie tersenyum malu dengan ucapan mama mertuanya yang nyeleneh.


"Eh, tunggu!" Salah seorang menyela.


Wanita bertubuh mungil dengan riasan wajah sedikit menor sudah memperhatikan Vie sedari tadi, tetapi karena takut salah orang dia hanya terdiam. Namun, saat Vie menyebutkan namanya, wanita itu yakin jika itu adalah Vie, gadis yang pernah ia usir dari kontrakan lima tahun yang lalu lantaran hamil tanpa suami.


"Kenapa beb?" tanya mama Anggi.


"Kamu yakin ini menantu kamu?"


"Tidak hanya saja … hanya saja kalau tidak salah aku pernah mengusirnya lima tahun yang lalu lantaran dia hamil gak ada suaminya. Aku tidak tahu jika dia menantumu saat itu. Lagian saat itu Dirga juga sedang melanjutkan sekolahnya di luar negeri kan?"


Jantung mama Anggi serasa ingin berhenti saat ini juga. Ia mengira tak akan ada yang mengenali Vie dan bisa mengatakan bahwa Dirga dan Vie menikah di luar negeri, tapi nyatanya ada yang tahu bahkan pernah mengusir Vie.


"Kamu Viena kan? Masih ingat dengan aku? Maaf aku tidak tahu jika kamu adalah menantu Anggi maafkan aku," sesal wanita itu.


Hal tak terduga yang mama Anggi tidak jadi shock lantaran temannya malah meminta maaf. Mama Anggi mengira dia akan menguliti Vie di masa lalunya. Sungguh lega hati mama Anggi. Ia juga memberi isyarat kepada Vie agar tidak tegang dan rileks saat menanggapi ucapan teman mama mertuanya itu.


Untung gak tanya macem-macem, bisa-bisa aku yang terserang asma dan jantung detik ini juga.


Banyak hal yang dibahas mereka terutama seputar emas dan berlian. Bahkan mereka juga menunjukan berlian cantik yang mereka punya. Vie hanya nyengir saat mama Anggi tak ingin kalah memperlihatkan diamond blue, dari Amerika yang baru saja ia beli. Harganya jangan ditanya lagi, kalau ditanya pasti akan langsung terserang penyakit asma dan jantung.


"Maaf Tante, kamar mandi dimana ya?" Vie menyela pembicaraan kaum sosialita.


Indah, sang pemilik rumah dengan baik hati mengantarkan Vie ke kamar mandi namun, saat melewati dapur hidung Vie menangkap aroma yang membuat cacingnya menari.


"Tante masak mie Aceh ya?" tanya Vie.


"Kok tau?"


"Dari aromanya," kekeh Vie.


Tante Indah tertawa kecil, setelah Vie masuk ke kamar mandi dia pun menghampiri pembantunya sebelum bergabung bersama bergabung kaum sosialitanya.


Di dalam kamar mandi Vie hanya bisa menelan kasar ludahnya saat aroma itu masih mengikuti dirinya. Sambil mengelus perutnya Vie berkata, "Kamu jangan malu-malu nenek kamu. Nanti pasti kita makan tapi jangan minta banyak-banyak ya. Tau malu sedikit lah."


Vie berbicara dengan janin yang saat ini masih berusia dua bulan. Jenis kelaminnya saja belum diketahui, tetapi Vie yakin jika anaknya adalah laki-laki karena melihat dari perubahan hormonnya.


🌼 Bersambung 🌼


Sepi pada mudik kali ya 🤔 atau lagi buat kue lebaran? Lempar sini dong kuenya 🤣