Hidden Baby

Hidden Baby
Hidden Baby 46



Sepertinya mulai saat ini Dirga harus menyetok rasa sabar. Bagaimana tidak, setiap hari ada saja permintaan nyeleneh dari istrinya. Seperti pagi ini, Dirga harus mandi 4 kali karena Vie mengatakan bahwa dirinya  masih bau acem, tak seperti Arga yang sangat wangi.


"Ga, ayah bau acem ya? Padahal ayah udah mandi 4 kali lho, tapi masih juga dibilang bau acem sama bunda kamu." Dirga mengadu pada anaknya.


Arga mulai mengendus sang ayah. Tak ada bau acem. Wanginya pun hampir sama dengan dirinya karena sabun yang mereka gunakan sama. Bedanya Arga masih mengoleskan minyak telon aromaterapi dan memakai bedak ke tubuhnya.


"Ayah wangi kok."


"Iya memang ayah wangi. Jadi kalau parfum ini gimana?" Dirga menyemprotkan parfum ke bajunya agar dicium oleh Arga.


"Ini juga wangi kok, Yah."


Memang wangi menurut mereka, belum tentu wangi menurut Vie yang indera penciumannya sudah mati.


"Ya sudah, mana minyak telon sama bedak kamu, Ga?"


Dirga membuang nafas kasarnya saat ia menaburkan bedak ke perut dan dadanya.


Kali ini Dirga berharap  Vie tidak memprotes dan menyuruhnya untuk mandi lagi. Semua ini karena masalah Jane dan Max. Vie terlalu khawatir sehingga membuat kesehatan akhir-akhir ini menurun. Dirga berniat untuk membawa Vie ke rumah sakit, tetapi karena jadwal pekerjaan yang masih padat, Dirga belum bisa mengantarkan Vie.


"Ayah pakai bedak Alga, ya?" Arga menertawakan ayahnya.


"Udah diam. Ayo keluar kita! Udah capek ayah di suruh mandi terus." Dirga mengangkat tubuh Arga ke dalam gendongannya.


Sesampainya di meja makan, Vie sedikitpun tak memprotes Dirga untuk mandi lagi. Berarti jurus untuk mengakali penciuman Vie adalah dengan meniru apa yang Arga pakai. 


"Kamu wangi banget, Ga," puji Vie.


"Bunda … bunda sedang memuji Alga atau ayah? Kenapa kami halus punya panggilan yang sama. Bunda gak kleatif!" Arga memasang wajah cemberut, menatap tidak suka kepada ayahnya. Dulu sebelum ada ayahnya itu adalah panggilan untuk dirinya tetapi sekarang Arga harus berbagi nama panggilan dengan ayahnya dan Arga mulai tidak suka.


"Tapi bunda suka, Sayang."


"Pokoknya Alga gak mau nama panggilan Alga sama kayak panggilan ayah, titik!"


Dirga ingin tertawa saat melihat bibir Arga yang sudah manyun dengan ciri khas tangan dilipat ke depan dada.


"Tapi sebelum Arga dicetak, itu panggilan untuk ayah. Panggilan kesayangan untuk ayah. Karena ayah cinta pertamanya bunda," ucap Dirga.


Arga semakin tidak suka dengan jawaban ayahnya. Mana mungkin ayahnya cinta pertama bunda kalau selama ini Arga yang selalu bersama dengan bundanya.


"Ayah bohong. Buktinya selama ini bunda selalu ada untuk Alga. Bunda juga seling cium Alga. Seling bobok baleng sama bunda, ayah kan balu ketemu sama bunda. Pokoknya Alga cinta pertama bunda dan ayah cinta keduanya bunda!"


Perdebatan kecil menjadi pelengkap kebahagiaan rumah tangga Vie dan Dirga. Mempunyai anak yang genius seperti Arga adalah suatu anugerah untuk Vie. 


Sebagai orang tua, Arga dan Vie harus bisa menjaga sikap di depan anaknya, karena Arga yang super kritis akan selalu mengkritik apa yang Vie dan Dirga lakukan. Bahkan orang tuanya selalu kecolongan dengan apa yang mereka lakukan.


"Bunda sama ayah tadi malam kenapa boboknya pindah ke kamar sebelah?"


"Oh itu-, siapa bilang ayah sama bunda bobok di kamar sebelah. Tadi pagi kan kita bobok di kamar yang sama," elak Dirga.


"Tapi Alga dengel ayah dan bunda saling belteliak. Alga takut kalau ayah sama bunda belantam. Apakah ayah menyakitkan bunda? Alga dengal  juga bunda melintih," celoteh Arga.


Seketika itu, Dirga menginjak rem mendadak. Ia terkejut akan sebuah pengakuan dari Arga yang mendengar rintihan kenikmatan cinta malam hari. Dirga pikir dengan pindah kamar, Agra tidak akan mendengar apapun yang mereka lakukan.


"Ayah kalau nyetil yang benel dong! Nanti kalau nablak olang gimana?"


Kali ini Vie tidak bisa berkata apa-apa lagi jika mengingat malam panas penuh gai. rah.


"Terus Arga denger apa lagi, Nak?" tanya Dirga lagi 


"Kalena Alga takut, Alga bobok lagi. Ayah sama bunda jangan belantam lagi ya."


Dirga akhirnya bisa merasa lega jika pada akhirnya Arga tidak mendengar jeritan selanjutnya dari bundanya yang lebih gila lagi.


Setelah mengantar Arga, rencana Vie akan langsung menemui Jane di rumahnya. Sudah hampir satu Minggu Jane tidak memberi kabar. Vie takut jika Jane berbuat nekat hingga menyakiti anak yang tak berdosa.


Dirga fokus ke jalanan, karena memang sedikit macet. Beberapa kali Dirga harus mengumpat.


"Ga," lirih Vie.


"Hm."


"Kok cuma hmm doang sih?"


Dirga melirik Vie yang tengah memanyunkan bibirnya, sama seperti Arga jika sedang ngambek. Wajar saja jika saat ngambek Arga akan manyun dan melipatkan tangan di depan dadanya, ternyata itu adalah copy-an dari bundanya.


"Iya. Ada apa? Aku lagi nyetir lho Vie."


"Ga, kita belum pernah nyobain menanam ubi di mobil lho? Gimana kalau kita coba sekarang? Biar aku aku yang kerja, kamu nikmati aja."


Dirga tertawa. Menertawakan istrinya yang sudah tidak punya rasa malu lagi saat ingin menanam ubi. Ucapan Vie ada benarnya, mereka belum pernah main di dalam mobil.


"Siapa takut. Tunggu aku putar ke jalan yang sepi dulu."


*Gas terus Ga, nanam ubinya sebelum kamu pua.sa panjang wkwkwk


Jangan lupa absen mawar sama kopinya, biar nanti siang up lagi wkwkkwk