Hidden Baby

Hidden Baby
Hidden Baby 60



Arga terbelalak saat melihat ayah dan bunda sudah berada di atas wahana sangkar burung. Sementara dia dan Haikal masih menunggu antrian di bawah untuk masuk.


"Wah … ayah sama bunda culang, Om. Meleka udah ada di atas." Arga menunjuk keatas dimana matanya menangkap kedua orang tuanya.


Haikal juga sendiri merasa kesal. Diam-diam mereka memanfaatkan kehadirannya untuk memomong Arga. Degan bodohnya Haikal malah mengajukan diri untuk membawa Arga mencoba wahana permainan yang ada. Niat hati ingin mendapatkan pujian, namun nyatanya dia di kacangin oleh sepasang suami istri sengklek itu.


"Om, ayo kejal meleka."


Bagaimana cara untuk mengejar mereka, sedangkan mereka sudah berada di atas sana?


Haikal menyerobot antrian masuk, lalu naik dan segera duduk bersama dengan Arga di sangkar burung. Bergerak pelan, wahana itu mulai naik perlahan. Saat ini Haikal terjebak sendiri dalam rencananya.


Namun, tidak dengan Dirga yang sangat bahagia saat Vie mau menaiki wahana tersebut. Sejujurnya Vie sangat takut akan ketinggian, tetapi ia yakin jika Dirga akan menguatkan dirinya, seperti kisah di masa lalunya.


"Ga, takut." Vie memeluk erat pinggang Dirga. Memang itu yang diinginkan oleh Dirga.


"Kamu tenang, ada aku disini. Coba lihat aku."


"Ga, jangan bercanda!"


Dirga tetap memaksa Vie untuk menatapnya. Saat Vie sudah mengikuti ucap Dirga, tangan kekar segera meraih dagunya Vie.


Pelan dan lembut, Dirga menyesap bibir kenyal milik Vie. Vie masih terbelalak dengan ciuman lembut dari suaminya. Saat ciuman itu terlepas, Vie masih membeku.


"Gimana, lebih rileks, kan. Sekarang coba lihat ke pelan kebawah."


Lagi-lagi Vie menuruti ucapan Dirga. Perlahan Vie mulai memberanikan untuk melihat hamparan luas di bawa sana.


Vie melengkungkan senyum indah saat bisa melihat suasana bawah sana. Ternyata sangat menyenangkan, bisa berada di atas, bak seperti sedang berada di angkasa.


"Sini!" Dirga memberi isyarat kepada Vie.


"Apa?" Vie mendekatkan diri.


Vie memejamkan mata saat sentuhan hangat menyentuh bibirnya lagi, sama seperti tadi namun yang membedakan saat ini Dirga lebih menekankan tengkuk Vie. Sangat lembut dan hangat hingga Vie menikmati sambil memejamkan matanya. Ini memang bukan ciuman pertama, tetapi ini adalah sensasi luar biasa, dimana orang yang dibawah bisa melihat mereka, namun meraka merasa bodo amat, yang penting mereka menikmati ciuman mereka.


********


Saat ini Arga berada dalam gendongan ayahnya karena bocah itu telah tertidur saat menaiki sangkar burung. Hal itu jelas membuat Haikal merasa kuwalaha. Harusnya bisa leluasa untuk menenangkan pikirannya, kini malah harus menjaga Arga yang tidur di pangkuannya. Beruntung saja Haikal tidak mengetahui apa yang sedang dilakukan orang tuanya Arga di atas sana. Jika Haikal sampai tahu, pasti Haikal akan meninggalkan Arga seorang diri di sangkar burung tersebut.


"Kal, makasih ya udah ngajak Arga main dan jagain dia," ucap Vie.


"Kalau sekarang lain ceritanya. Arga pasti akan milih main sama ayahnya," sahut Dirga.


Vie tak ingin memperkeruh suasana, ia pun segera mengajak Dirga untuk masuk kedalam mobil, tetapi saat ini Vie memilih duduk di belakang karena Arga ditidurkan di kursi belakang agar lebih nyaman.


Sesampainya di rumah, Vie mengikuti Dirga yang membawa anaknya masuk ke dalam kamar sebelah, yang saat itu mereka gunakan sebagai markas penyatuan tubuh mereka.


Vie masih berada di ruang tengah sambil menonton acara televisi. Sesat kemudian Dirga menghampiri istrinya yang belum juga masuk ke kamar. Akibat kejadian tadi, sampai sekarang Juna belum juga tidur. Dirga harus segera menidurkan Juna agar tidak terasa sesak terus menerus.


"Vie, Juna gak mau bobok."


Seketika Vie melihat ke arah Juna yang memang sudah menonjolkan diri. Vie acuh, seolah sedang tidak tertarik untuk memainkan Juna.


"Kok diam aja? Juna butuh belaian."


Vie masih terdiam. Entah apa yang membuat wanita itu enggan untuk berbicara lagi, padahal tadi biasa saja, tapi mengapa tiba-tiba moodnya hancur?


"Kamu kenapa?" Dirga mulai membelai rambutnya Vie.


"Ga."


"Hmm."


"Kalau besok perut Akau udah buncit besar, emangnya kamu masih mau sama aku. Bentar lagi badan aku akan bengkak lho. Apalagi habis melahirkan. Badan aku pasti melar lagi dan kamu harus berpuasa lama. Kamu yakin gak akan meninggalkan aku? Saat itu terjadi aku akan terlihat kucel dan tak menarik lagi," ucap Vie.


"Kamu ngomong apa sih, Vie. Sekali aku sayang sama kamu, selamanya aku akan tetap sayang dan cinta. Aku mencintaimu tidak memandang fisik, tapi mencintaimu tulus dari hatiku. Cinta pertamaku, tetap akan menjadi cinta terakhirku. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh, oke?"


Vie menunduk lesu, padahal ini bukanlah kehamilan pertamanya, tetapi Vie merasa sangat sensitif. Ia takut jika Dirga akan berpaling saat melihat perubahan yang akan terjadi nanti.


"Udah, gak usah di pikiran. Sekarang pikirkan saja bagaimana caranya kamu memanjakan juna malam ini." Dirga tersenyum mesum membuat Vie tersipu malu. Bohong jika Vie tidak ingin membelai juna. "Gendong." Vie mengulurkan kedua tangannya.


Dengan sigap Dirga segera membopong tubuh Vie ala bridal style. Vie yang mengalungkan kedua tangannya ke leher Dirga, membuat Dirga lebih leluasa untuk menjelajahi setiap inci rongga mulut Vie.


"Ga, pelan ya. Aku gak mau kamu nyakitin anak kita di sini." Vie yang sudah terbaring menunjukkan perut datarnya.


"Iya. Aku pasti pelan-pelan kok. Kamu yang di atas apa aku yang di atas?" tanya Dirga. Tanpa rasa malu Vie memilih berasa di atas untuk sementara waktu, karena itu adalah gaya kesukaan Vie.


🌼 Bersambung 🌼


Semoga kalian tidak bosan, jika kalian sudah merasa bosan bilang biar othor tarik garis tanda End 🤧🤧