Hidden Baby

Hidden Baby
Hidden Baby 84



Jane yang mengetahui Vie dan Arga akan menginap. Setidaknya untuk saat seperti ini ada teman untuk diajak bercerita. Kehilangan sesuatu yang sangat berharga itu sangat sakit. Jika Jane bisa merelakan kepergian Max, tetapi tidak dengan calon anaknya. Jane belum bisa merelakan sepenuhnya atas janin yamg telah gugur.


"Aunty, jangan sedih terus nanti dedeknya sedih liat aunty sedih," celoteh Arga, sambil mengelus lengan Jane.


Jane tersenyum kearah Arga yang duduk di sebelahnya sambil mengelus lengannya. "Iya. Aunty gak sedih kok. Makasih ya abang Arga sudah mau menemani aunty malam ini."


"Abang Alga juga seneng bisa menemani Aunty soalnya Abang Alga lagi gak temenan sama ayah," ucap Arga, dengan wajah bibir yang sudah manyun.


Jane beralih menatap Vie yang sedang mempersiapkan makan malam untuk Jane. "Kalian berantem, Vie?" tanya Jane.


"Bukan berantam tapi ibu Vie sedang memberikan hukuman kepada oak Dirga biar dia itu bisa sadar. Mana ular mana astronot. Heram aku sama pak Dirga, bodoh kok di pelihara. Katanya lulusan luar Negeri, masa bedakan seperti itu gak bisa." Kaisar mewakili Vie dalam menjawab pertanyaan dari Jane.


Jane tahu apa yang sedang terjadi kepada sahabatnya hanya mengangguk pelan, berharap Vie dan Dirga hanya salah paham saja.


Hingga pukul 10 malam Vie masih menemani Jane untuk bercerita, mereka banyak mengenang masa lalu saat Arga masih bayi. Jika melihat Arga yang sudah tumbuh besar seperti ini, rasanya ingin sekali Vie mengulangnya masa itu dengan melengkap kan Dirga di tengah-tengah mereka.


"Tidak usah di sesali, yang penting kalian sekarang sudah berkumpul dan bahagi," ucap Jane.


Vie tersenyum tipis melihat Jane yang pura-pura tegar untuk menutupi hatinya yang sedang hancur.


"Baiklah Jane, kamu istirahat ya. Ini udah malam."


"Baiklah. Oh iya ... suruh Kaisar pulang. Ini sudah larut. Aku tidak mau gara-gara aku nanti pekerjaan terganggu," pinta Jane.


Vie Hanya mengangguk pelan sambil meninggalkan kamar Jane. "Baiklah akan aku usir dia."


Mana bisa aku usir dia, anggap aja scurity untuk jaga kita malam ini. vie tertawa dalam hati.


Kaisar belum juga tidur. Dia masih menonton televisi. Meskipun dia seorang laki-laki dia juga penggemar drama korea yang romantis. Berharap kisah cinta romantis seperti drama yang sedang ia tonton.


"Astaga Kaisar ... " pekik Vie, saat melihat apa yang sedang di tonton oleh Kai.


Kai yang tersentak dengan spontan langsung mematikan televisi.


"Ya ampun ... bu Vie, bikin kaget."


"Aku baru tahu kamu suka menonton drama seperti ini. Dan apa tadi yang baru saja kamu tonton?"


Bukannya malu, Kai malah nyengir. "Untuk latihan biar gak kaku saat menyerang Miss Queen."


Vie menggelengkan kepalanya. Ciuman saja harus liat tutorial, langsung saja kenapa? Dulu dia dan Dirga tak ada acara tutorial, langsung to the poin aja.


"Suka mu lah, Kai. Jane meminta kamu untuk pulang. Kalau kamu mau pulang silahkan, tapi kalau mau disini besok subuh harus sudah pergi. Aku gak mau ngusir kamu. Biar bagaimanapun kamu aku anggap pahlawanku."


"Aku akan disini aja pulang besok pagi. Aku masih khawatir dengan Jane."


Vie membuang kasar nafasnya dan segera mencarikan selimut untuk Kai. Karena kamar apartemen hanya ada dua, maka Kai terpaksa tidur di sofa. Tidak apa-apa, kan sekarang Kai sedang menjabat sebagai scurity.


"Jangan lupa besok pagi harus sudah pergi sebelum Jane bangun! Mengerti?"


Di dalam kamar hanya ada Vie dan Arga. Rasanya hampa tetapi Vie tidak boleh lemah. Selama ini dia sudah lemah akan cintanya. Dan Dirga yang bodoh selalu bisa meluluhkan hatinya. Namun, tidak untuk kali ini. Vie harus bisa menahan diri agar tidak tergoda oleh rayuan Dirga. Dia pun menghembuskan nafas kasarnya sebelum menutup mata. Berharap dia bisa tegas kepada suaminya.


****


Jika Vie bisa tidur dengan nyenyak, tetapi tidak dengan Dirga yang masih gelisah memikirkan istrinya. Kali ini Dirga tau jika istri sedang marah. Itu terbukti dari panggilan video call yang tak jua diangkat oleh Vie.


"Kenapa harus ngambek sih, dia?" gerutu Dirga. "Kalau seperti ini bisa-bisa Juna mati berdiri," lanjutnya lagi.


Saat ini tidak ada pilihan lain selain menuntaskan hasratnya sendiri. Dirga terpaksa harus bermain dengan sabun di kamar mandi seorang diri.


Setelah menyelesaikan ritualnya, Dirga baru bisa tidur dengan nyenyak seolah tanpa beban lagi. Pua.sa berhari-hari membuatnya hampir gila, apalagi jika Vie ngambeknya di perpanjang, tamatlah riwayat juna tidak bisa keluar angkasa.


Mentari telah menyingsing, Dirga bangun tanpa adanya sosok Vie di sebelahnya, membuat dia baru menyadari bahwa Vie sedang berada di apartemen Jane.


"Ternyata seperti ini rasanya menjadi duda."


Seperti biasa, kedatangan Dirga di sambut oleh Kai. Dirga menatap Kai dengan penuh tanda tanya. Ingin bertanya bagaimana istrinya, tetapi gengsi. Namun, pikiran tidak tenang memikirkan Vie yang tak kunjung mau mengangkat telepo darinya.


"Apa agenda hari ini?"


"Sepertinya agenda hari ini akan padat Bos. Kita harus terjun ke lapangan dan malam nanti juga ada pertemuan dengan Direktur Li. Tapi saya sarankan anda harus mengajak ibu negara, karena pasti banyak bibit pelakor untuk menggoda anda. Pertemuan kali ini bukan sembarang pertemua, karena Direktur Li turut mengundang artis papan atas. Yang aku takutkan jika anda akan tergoda oleh mereka ataupun malah anda yang menggoda mereka," jelas Kai, tanpa rasa takut.


"Sudah mulai berani menasehatiku panjang lebar kamu ya? Sekarang aku tanya kamu asisten siapa? Aku tau istriku?"


"Baru juga satu malam di tinggal sudah lupa ingatan. Aku jelas asisten anda, Bos."


Tapi maaf aku harus sedikit belok haluan, karena bonus dari istri anda lebih banyak dan lebih menggiurkan, Kai tertawa dalam hati.


"Bagus jika masih ingat. Aku tidak mau kamu terus berpihak kepada istriku. Kalau tidak mau gaji kamu aku potong!"


Potong saja, bahkan bonus yang diberikan istri anda jauh lebih besar.


"Baik Bos."


Maaf seribu maaf Bos, aku tidak bisa memihakmu jika kamu masih bersikap bodoh.


.


.


.


Halo-halo maaf baru nongol. Kemarin migran, tapi sekarang udah baikan. Makasih yang udah setia untuk menemani Author receh ini, 🥰


Peluk hangat dari Author 🥰🥰


Jangan lupa tinggalin jejaknya biar Authornya lebih bersemangat lagi 🥰🥰