
Vie merasa gelisah saat jam dinding sudah menunjukkan pukul satu siang tetapi Arga belum juga pulang. Bahkan Vie sudah menghubungi Dirga, namun Dirga mengatakan bahwa Kai, sudah menjemputnya dari pukul 11 tadi. Lalu kemana perginya Kai dan Arga? Apakah mereka singgah ke suatu tempat. Sepertinya Vie harus meminta nomer Kai agar bisa sewaktu -waktu menghubungi Kai.
Mata Vie memincing saat melihat Jane sudah rapi, sepertinya Jane ingin mencari udara segar.
"Vie, aku tidak bisa tinggal disini lebih lama. Aku pulang saja."
Vie mendekat dengan perasaan khawatir. "Aku gak akan ijinkan. Aku gak mau kamu menyakiti diri sendiri. Pokoknya kamu tetap disini, aku akan berbicara dengan Max."
"Kamu gak perlu membujuk dia. Jika dia punya hati dan benar-benar mencintaiku, dia tidak akan menikahi wanita lain. Dia akan memperjuangkan cintanya, tatapi sepertinya Max tidak mencintaiku sepenuhnya, dia hanya menginginkanku untuk menemaninya di ranjang saja dengan berbagai bulan. Dan bodohnya aku percaya begitu saja tanpa memikirkan akibatnya. Aku sekarang sadar bagaimana aku harus menghargai hidupku sendiri, seperti kamu saat itu. Aku akan tetap bertahan. Kamu tidak perlu khawatir, oke?"
Dengan berat hati, Vie mengijinkan Jane untuk pulang. Tidak baik juga mengurung wanita yang sedang hamil karena Hanya akan mempengaruhi kewarasannya saja.
Saat di luar, Jane berpapasan dengan Kai yang sedang menggendong Arga. Sepertinya bocah itu tertidur. Jane hanya melirik Kai sekilas tanpa ingin menyapanya. Tetapi, saat Kai menatapnya ada getaran arus yang menyengat keseluruhan syarafnya. Jane bergidik, kemudian berlalu.
*******
Vie merasa aneh saat Arga tak mau bangun dan memilih berada di tempat tidur meskipun hari sudah sore dan sebentar lagi Dirga pulang. Vie mengecek suhu tubuh anaknya, ia takut jika Arga demam, tetapi suhu tubuh Arga normal. Lalu mengapa Arga tak ingin beranjak dari tempat tidur?
"Ga, mandi yuk, udah Sore. Bentar lagi ayah pulang lho."
Arga menggeleng kepala, tangannya malah semakin meraih selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Ga, kamu kenapa, Nak? Ada yang sakit?" Vie menjadi panik saat Arga tak mau menjawab setiap pertanyaan. Vie yakin jika anaknya sedang menahan rasa sakit karena kesalahannya.
"Ga, bunda gak marah kok. Agra kenapa?" bujuk Vie.
Tapi bocah itu enggan untuk menjawab, membuat Vie hanya bisa memejamkan matanya saja.
Sabar Vie.
Baru saja Vie ingin menghubungi Dirga, suaminya sudah membuka pintu kamar. Wajah lelahnya begitu sangat terlihat. Seperti biasa Dirga akan melemparkan jas kesembarang tempat sebelumnya membuka sepatunya.
Vie sudah melipatkan tangannya di depan dada sambil menatap Dirga dengan tatapan membunuh.
"Maaf, aku ambil lagi." Dirga memungut jas yang baru saja ia buang lalu memasukkan ke dalam keranjang baju kotor.
"Ga, teleponkan dokter sekarang, sepertinya Arga sedang menahan rasa sakit, tetapi dia tidak mau berbicara. Coba kamu yang bujuk, mana tahu dia mau berbicara."
Dirga membulatkan matanya sambil melihat Arga yang membalut tubuh kecilnya dengan selimut.
"Arga sakit?" gumamnya.
Dirga segera naik ke ranjang, tangannya menyentuh dahi Arga yang tidak terlalu panas tetapi sepertinya Arga sedang menahan rasa sakit karena posisi tidurnya yang meringkuk.
"Sayang, kamu kenapa, Nak? Kamu sakit?" tanya Dirga.
Mata Arga menatap Vie yang masih berdiri di sampingnya. Dirga tau jika Arga ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak ingin bundanya tau.
"Vie bisa buatkan aku teh manis ya. Oh iya tadi aku sudah membeli sayuran. Kamu masak ya, biar kita bisa makan malam bersama."
"Sekarang Arga bilang, kenapa masih berselimut? Arga sakit? Kita ke rumah sakit ya?" Dirga mulai membujuk Arga untuk berterus terang.
"Ayah...." panggilnya.
"Iya."
"Alga takut bilang sama bunda kalau pelut Alga sakit. Alga udah melanggal pesan bunda, Yah. Alga gak boleh makan es klim banyak, tapi Alga tadi makan banyak." Arga mulai bercerita.
Dirga terkejut dengan pengakuan anaknya. Setakut itukah Arga untuk jujur kepada Vie?
"Kenapa Arga gak jujur aja sama bunda, Nak. Tunggu ayah telepon dokter dulu." Dirga sangat panik, begitu juga dengan Vie yang menguping pembicaraan mereka.
Vie segera membuka pintu dan langsung menghampiri Arga dengan kepanikan luar biasa.
"Jadi kamu melanggar larangan bunda, Ga? Kamu gimana sih? Dirga, ayo cepat bawa Arga ke rumah sakit. Dia gak bisa mengkonsumsi jenis makanan dan minuman yang dingin terlalu banyak. Usus dia sudah bermasalah sejak dulu. Kenapa gak bilang dari tadi, Ga?" Vie kehilangan kendali dan tanpa sadar ia meluapkan emosinya. Pikiran Vie sangat kacau, bisa-bisanya Arga menahan rasa sakitnya.
Dirga berusaha menenangkan Vie, yang pasti akan membuat Arga malah akan menjadi ketakutan. "Vie tenang. Arga takut."
Vie tak habis pikir kenapa Arga bisa melanggar pantangannya selama ini. Seketika ia teringat akan Kai yang terlambat mengantarkan Arga pulang. Tidak salah lagi, semua ini karena ulah Kai.
"Ga, telepon Kai sekarang juga!"
Dirga tersentak dengan nada bicara Vie yang meninggi. Selama ini Dirga belum pernah melihat Vie semarah ini. Saat ini jiwa keibuan Vie keluar.
"Iya, aku telepon."
Arga sudah mendapatkan perawatan dari dokter untuk meredakan rasa sakitnya. Malam ini Arga harus menginap di rumah sakit dan harus di infus karena kondisi tubuhnya yang lemah. Dokter juga salut akan Arga yang masih kecil tapi sanggup menyembunyikan rasa sakitnya. Bahkan saat dokter menyuntikkan obat ke bagian tubuh Arga, bocah itu sama sekali tidak mengasuh ataupun menangis, Arga hanya memejamkan matanya.
Vie memijat kepala yang mulai terasa pusing. Urusan Jane belum siap, kini Arga harus di rawat dan satu lagi Kai begitu lancang telah membawa Arga begitu saja tanpa seijin darinya.
"Kamu tenangkan diri, aku gak mau kamu juga ikut sakit, ujung-ujungnya aku juga ikut sakit," ucap Dirga.
"Aku tuh gak habis pikir dengan asisten mu! Pergi bawa anak orang gak pakai ijin. Aku yakin jika Kai yang memberikan es cream sama Arga dalam jumlah yang banyak. Kalau hanya sedikit, gak mungkin sampai kambuh seperti ini."
Dirga hanya menghembuskan nafas beratnya. Ia pun membawa Vie kedalam pelukannya untuk menenangkan hatinya. Dirga yang tidak tahu tenang Arga sepenuhnya rasa sangat menyesal. Dirga yakin jika ini bukanlah pertama kalinya untuk Arga. Dirga tak tahu saat itu, saat Vie sedang panik untuk kesembuhan Arga. Pasti itu adalah hal yang tersulit untuk dirinya dan menyisakan rasa trauma.
"Kamu tenang, tidak akan terjadi apa-apa dengan Arga. Ada aku disini."
๐ผ Bersambung ๐ผ
Udah 2 bab ya ๐ mana bunga sama kopinya ๐ช
Mau tau gimana nasib Jane selanjutnya? ikuti terus cerita ini kasih hadiah banyakยฒ biar Jane tidak lagi bersedih.
Jane, kamu yang sabar ya. Othor sedang menguji kesabaranmu ๐ค๐ค