Hidden Baby

Hidden Baby
Hidden Baby 37



"Haikal."


Ya, seseorang yang telah membangunkan Arga adalah Haikal. Entah mengapa bisa dia berada di taman bermain seperti ini.


Lutut Arga sedikit berdarah, dengan cekatan Haikal membersihkan luka dengan sebotol air mineral agar tidak infeksi.


"Sakit, Om Ikal." Arga meringis, tetapi ia tidak menangis. Arga masih ingat jelas bapa yang pernah dikatakan oleh bundanya bahwa anak laki-laki tidak boleh menangis, bagaimanapun itu keadaan. Sebab laki-laki itu harus kuat.


"Udah, nanti sembuh kok."


"Kal, makasih ya," sambung Vie.


Vie tidak tahu jika tidak ada Haikal yang segera menolong Arga, pasti ia akan sangat panik.


"Santai aja, Vie. Kebetulan aku lagi membuang suntuk kesini, karena akhir-akhir ini tugas kantor semakin banyak. Apalagi bos yang baru, bisanya cuma menyuruh." Haikal menghela nafas beratnya. Bagaimana tidak, hampir satu Minggu semua karyawan harus lembur untuk persiapan tutup tahun. Bosnya tidak menginginkan pekerjaan nunggak di tahun berikutnya.


"Vie, kita harus bicara." Seketika Haikal teringat akan Vie yang sudah pindah rumah.


Haikal menggendong Arga untuk mencari tempat yang nyaman untuk berbicara. Meskipun Haikal tau jika ayah Arga sudah pulang, tetapi selama ini yang berada di dekat Arga adalah dirinya. Haikal tidak takut akan sosok ayahnya Arga.


"Arga duduk disini ya. Om mau bicara penting dengan bundanya Arga," ucap Haikal pada Arga.


"Kalian mau pelgi?" tanya Arga heran.


"Om mau bicara sebentar sama bundanya Arga di sini kok. Arga duduk di situ ya, biar gak sakit kakinya."


Arga yang duduk di sebuah bangku taman mengangguk pelan.


Hening.


Terasa canggung diantara keduanya, tak seperti dahulu lagi. Vie yang menjaga jarak membuat Haikal sadar bahwa tak ada tempat dirinya lagi di hati Vie.


Haikal yang sudah jatuh cinta pada sosok Vie sejak lima tahun lalu, hanya bisa memendam perasaan tanpa berani untuk mengungkapkannya. Namun, setelah Haikal tahu jika ayah Arga sudah kembali, Haikal tidak rela jika Vie benar-benar kembali kepada ayahnya Arga.


Vie menatap Haikal penuh tanya. Ia tak tahu hal penting apa yang hendak Haikal katakan sehingga harus menjauh dari Arga.


"Kal, apa yang ingin kamu katakan?" tanya Vie.


Haikal membuang kasar nafasnya. Pandangannya jauh ke depan sana melihat air terjun.


"Kenapa kamu pindah rumah tanpa memberikan tahu kepadaku? Apakah karena ayahnya Arga? Apa kamu tinggal satu rumah dengan dia?"


Haikal tak bisa menyimpan lagi semua pertanyaan yang mengganjal di pikiran. Setiap hari, bahkan setiap detik Haikal terus memikirkan sosok Vie yang sudah melekat dalam pikiran. Andaikan saja pekerjaan kantor tidak sedang padat, mungkin Haikal sudah menemui Vie sejak awal.


Vie terdiam. Memeng benar dirinya sudah tinggal serumah dengan ayahnya Arga yang sekarang adalah suaminya.


"Kenapa diam? Apakah benar, sekarang kamu tinggal bersama dengan ayahnya Arga?" Haikal mengacak rambutnya, diamnya Vie membuktikan bahwa apa yang ia katakan itu benar.


"Jadi … "


"Iya, Kal. Aku sekarang tinggal satu rumah bersama dengan ayahnya Arga dan aku juga sudah menikah dengannya," ucap Vie.


Bagaikan disambar petir di sore hari, mata Haikal terbelalak dengan jantung yang berdebar lebih kencang. Tiba-tiba hatinya terasa sangat sakit saat mendengar penjelasan dari Vie. Tubuh seketika melemas, sungguh Haikal tak percaya.


Vie akhirnya menjelaskan semuanya kepada Haikal tetapi Vie belum bisa memberi tahu jik suaminya adalah Dirga anak pemilik perusahaan dimana Haikal bekerja.


Kecewa itu pasti. Tanpa ada angin dan hujan, tiba-tiba Vie sudah menikah tanpa memberitahu dirinya.


*****


Vie yang tidak mempunyai perasaan kepada Haikal melupakan kejadian sore tadi saat Haikal mengungkapkan perasaan. Meskipun saat ini Dirga tak kembali, Vie tetap tidak akan pernah menikah dengan lelaki manapun, karena cintanya sudah terikat pada sosok Dirga.


"Bunda, bunda lagi marahan sama om Ikal?" Tiba-tiba Arga mengagetkan Vie yang sedang melamun di meja makan. Sontak Vie segera menetralkan pikirannya.


"Enggak. Bunda gak marahan sama Om Haikal. Kata siapa bunda marahan?" elak Vie.


Arga memutar bola matanya seakan ia sedang memikirkan sesuatu.


"Tapi tadi Alga liat om Ikal nangis. Bunda marahin om Ikal 'kan?"


Vie membulatkan matanya. Bahkan ia tak tahu Jika Hakikat sempat menangis. Apakah Haikal memang serius akan ucapnya?


"Kata bunda laki-laki gak boleh nangis, tapi kenapa om Ikal nangis, Bun?"


Vie berusaha menarik kedua sudut bibirnya. "Mungkin Arga salah lihat tadi. Mana mungkin seorang laki-laki menangis. Buktinya Arga jatuh gak nangis kan? Ya sudah Arga makan nasinya, abis itu gosok gigi lalu masuk kamar!" titah Vie.


Belum ada satu hari ditinggal oleh Dirga, hati Vie sudah tak karuan. Mungkinkah ini yang disebut rindu? Ah, telat. Selama ini Vie sudah biasa tanpa kehadiran Dirga tetapi dia biasa saja melalui harinya.


"Bunda kenapa berhenti?" tanya Arga saat Vie tak melanjutkan bacaan dongengnya.


Arga menatap Vie. Bocah itu seakan sedang berpikir keras hendak menebak apa yang sedang bundanya pikirkan. Sejenak Arga baru menyadari jika bundanya sedang merindukan ayahnya.


"Alga tahu bunda sedang lindu ayah. Alga juga lindu. Gak ada yang kelonin Alga malam ini," celoteh Arga membuat Vie tersentak.


Dasar Arga sok tau, tapi memang benar jika saat ini Vie sedang merindukan Dirga.


"Bunda kenapa kita gak telepon ayah?"


"Ayah masih sibuk, Sayang. Bunda sudah telepon, tapi tidak ada jawaban. Ya sudah Arga bobok ya."


Vie ikut membaringkan tubuhnya disampingnya Arga. Tangan mungil melingkar di lehernya. Vie mencoba untuk memejamkan mata bersama dengan Arga tetapi tetap tidak bisa terlelap.


Vie melihat anaknya sudah berada didalam sadar, ia pun kembali untuk menelepon Dirga, tapi lagi-lagi Dirga tak menjawab ponselnya.


"Kamu kemana sih, Ga? Ini kan udah malam. Masa iya jam segini kamu masih kerja? Dasar Dirga nyebelin!" Vie melemparkan ponselnya ke ranjang, Vie masih merasa sayang jika membantingnya ke lantai.


🌼 Bersambung 🌼


Aku up lagi. Jangan lupa tabur hadiah buat author 😊🤭


Sambil menunggu aku up lagi mampir dulu ya di novel author Enis Sudrajat dengan judul novel Masa lalu sang Presdir