
Satu persatu kalian meninggalkanku. Terimakasih sudah membaca cerita receh ini. Aku sampai disini karena kalian, jika kalian meningkatkanku, apa artinya aku di sini ðŸ˜
Setelah melewati malam panjang, Vie dan Dirga langsung terlelap hingga menjelang subuh di mana hawa dingin mulai terasa. Vie dan Dirga kedua masih belum mengenakan sehelai benang untuk menutupi tubuh mereka. Hanya selimut tebal yang membungkus keduanya.
Vie memilih bangun meskipun hasratnya ingin bercinta lagi dengan suaminya tetapi, pagi ini Vie sudah membuat janji dengan mama Anggi untuk ikut ke acara arisan, agar mereka tahu bahwa Dirga sudah menikah dengan wanita yang sangat cantik.
Namun, saat Vie akan memakai handuk kimononya, tangan kekar milik Dirga menahan lalu menariknya hingga Vie jatuh kedalam pelukannya.
"Mau kemana? Kok buru-buru sih? Tumben gak nyariin Juna? Juna udah bangun minta di manjakan lagi."
Kali ini Vie tidak akan terbuai oleh Juna. Ia harus segera mandi dan menemui Arga.
"Untuk pagi ini, maaf ya Juna, bunda tidak bisa memanjakan kamu karena nanti abang Aga pasti akan perotes." Tangan Vie sengaja mengelus Juna sebelum pergi.
Pagi ini Vie membantu mbak Santi untuk menyiapkan sarapan. Vie yang tidak biasa di ladeni belum terbiasa akan hadirnya mbak Santi, apalagi saat pagi hari yang biasa menjadi tempatnya paling rempong.
Tak lama setelah ia bangun, Arga pun juga terlihat sudah bangun lalu menghampiri Vie yang berada di dapur.
"Bunda," panggil Arga.
Vie menoleh lalu menjawab, "Iya, Sayang."
Arga masih dalam mode malas. Ia memilih duduk di meja makan sambil berkata, "Mbak San, boleh minta tolong ambilkan minum?"
"Bisa dong." Mbak Santi segera memberi apa yang diminta oleh Arga. Selama duduk tak ada komentar apapun darinya. Ia cukup mengamati gerak-gerik bundanya yang sangat cekatan sambil menunggu ayahnya yang belum keluar. Lama menunggu kedatangan ayahnya yang tak kunjung datang, Arga memilih mendatangi ke kamarnya, karena hari ini Arga ingin di antar lagi oleh ayahnya. Karena jika Arga diantar oleh ayahnya, teman-temannya tak ada yang berani mengganggunya lagiÂ
Tanpa mengetuk pintu, bocah itu nyelonong masuk. Dilihat sang ayah masih terbaring diatas tempat tidur dengan berbalut selimut tebalnya. Sudah menjadi kebiasaan ayahnya jika tidur tak mengenakan baju, Arga sudah bisa memaklumi hal itu.
"Ayah, bangun!" Arga menggoncang tubuh ayahnya.
Dirga mengeliliat, merenggangkan otot-ototnya sambil menguap.
"Astaga … " Dirga terkejut saat melihat anaknya sudah duduk di sampingnya. Dirga hanya mampu menelan kasar ludahnya sambil memengang erat selimutnya, berharap Arga tak menyingkapkan selimutnya, karena si Juna belum masuk sangkar. Bisa mati berdiri jika Arga sampai mengetahui apa yang ada dibalik selimut tebal itu.
"Kamu ngapain di sini, Ga?"Â gugup Dirga.
"Ayah … stop call me name! Call me Abang!" Arga protes keras.
"Oke, maafkan ayah ya, Abang Aga."
"Abang belum jawab pertanyaan ayah, lho. Abang ngapain ke sini?" ulang Dirga lagi.
Arga kemudian bercerita panjang lebar dan membujuk agar ayahnya mau mengantarnya lagi ke sekolah, agar tak ada yang berani mengejek dirinya lagi.
Dirga tidak keberatan namun, saat Arga hendak menyibakkan selimutinya, Dirga memegang erat. Tidak mungkin ia akan memperlihatkan keadaan Juna saat ini.Â
"Ayah … ayo cepetan bangun!" teriak Arga.
"Iya, ayah bangun. Tapi kamu juga harus bersiap sana, biar kita cepat berangkat."
Dirga bisa bernafas lega saat Arga mematuhi ucapan. Ia melihat ke arah bawah selimut Diman Juna baru saja tertidur karena tak mendapatkan belaian dari ibu negara pagi ini. Menyesakkan baginya, tetapi mau bagaimana lagi, Dirga hanya bisa pasrah.
*********
Sesuai dengan rencana awal, Vie sudah sampai di rumah mertuanya. Setelah mengantar anaknya ke sekolah, Dirga lanjut mengantarkan istrinya ke tempat mamanya. Dirga sangat beruntung karena mamanya juga sangat menyayangi Vie seperti anaknya sendiri.
"Ma, jangan buat istri aku kelelahan," pesan Dirga sebelumnya meninggalkan Vie.
"Tanpa kamu beri tahu, mama tahu. Bahkan mama tahu apa yang harus mama lakukan. Udah sana berangkat kerja!" usir mama Anggi.
Sepeninggal Dirga, Vie segera diajak masuk oleh mama mertuanya. Didalam sana, sudah ada papa mertuanya sedang memainkan ponselnya di ruang tengah. Vie sebenarnya merasa canggung terhadap papa mertuanya, tetapi ia membuang rasa perasaan itu semua. Saat ini pak Wira adalah papa mertuanya.
Vie menyalami pak Wira sebelum ia duduk di sofa seberang.
"Aku lihat sekarang kamu lebih kurus. Apakah karena jarang melihatmu lagi jadi terlihat berbeda, ya." Pak Wira memperhatikan perubahan tubuh Vie.
Memang seharusnya jika seseorang sedang hamil, berat badan mereka akan bertambah banyak, tetapi mengapa Vie terlihat lebih kurusan?
"Ah ini … mungkin karena tidak selera makan aja, Pa," dusta Vie.
Bagaimana tidak selera makan saat dua piring habis dalam sekejap mata.
"Perasaan kemarin dua bungkus sate habis sekejap saja," sambung pak Wira.
Ya ampun Pa. Papa udah seperti Arga. Apakah darah ke-kepoan Arga mengalir dari anda? Kalau benar, selamat akhirnya ada yang mewarisi sifat ke-kepoan anda.
[ Dah segini aja 🤧 ]