
Sore ini Dirga membawa anak dan istrinya pulang ke rumah orang tuanya. Semanjak menikah, Dirga belum mengunjungi orang tuanya lagi, sibuk kerja dan sibuk berladang menanam ubi hampir tiap malam. Jika mama Anggi tak menghubungi Dirga, maka anak itu tak ingat lagi jika masih punya orang tua.
Sebenarnya Dirga malas untuk menginap di rumah mamanya, tetapi karena akan ada acara keluarga, dengan berat hati Dirga menyanggupi permintaan mamanya.
"Hole … kita bobok tempat Oma," seru Arga saat mendengarkan ucapan ayahnya.
"Kenapa malah manyun sih? Kita juga udah lama gak jenguk mereka, lho." Vie melihat benang kusut di wajah suaminya.
"Males aja, pasti disana kamu gak mau diajak menanam ubi. Alasannya malu lho Ga kalau harus keramas." Dirga menirukan ucapan Vie.
Vie tertawa pelan, membuat Arga yang berada di sampingnya menatap heran kepada bundanya.
"Bunda kenapa tertawa? Jadi kalau malam Ayah sama Bunda suka menanam ubi ya? Tapi dimana kalian menanam ubinya? Kenapa halus malam-malam?"
Pertanyaan keramat bagi sepasang orang tua yang lupa jika mereka memiliki bibir unggulan yang luar biasa. Keduanya hanya saling berpandangan sambil menelan kasar ludahnya.
"Kok malah diam?" Arga menjadi bingung saat kedua orang tuanya membeku untuk beberapa detik.
*****
Sesampainya di rumah utama, kedatangan mereka disambut hangat oleh keluarga Dirga. Namun, hal yang membuat Dirga terkejut adalah kedatangan Tante Maya dan suaminya. Adik dari mamanya itu sudah rapi dengan pakaian kebaya bak seperti ingin ke undangan.
Vie baru pertama kalinya di pertemuan dengan keluarga besar Dirga. Beruntung sekali Vie diperlukan sangat baik mama mertuanya. Setelah saling memperkenalkan diri, Vie baru tahu jika ternyata hubungan Dirga dan Max sangat dekat. Wanita yang ada di hadapannya saat ini adalah orang tua dari Max.
"Tante gak pernah nyangka jika Dirga memerawani anak orang sebelum pergi keluar negri. Tante juga gak bisa bayangin gimana menderita kamu saat itu, Vie." ucap tante Maya.
Vie tersipu malu. Malu karena bagian itu adalah aib masa lalu. Apa kata orang nanti jika ternyata Vie hamil diluar nikah? Apalagi ia sadar bahwa Dirga adalah keluarga terpandang. Jelas itu aib yang sangat memalukan.
"Udah dong, Tan. Jangan bahas itu. Yang lalu biarlah berlalu. Yang penting Dirga udah bertanggung jawab," sela Dirga.
Mengingat semua orang sudah berkumpul, Tante Maya segera mengajak semuanya untuk segera berangkat, karena hari ini tante Maya akan melamar wanita yang akan menjadi istri Max kelak.
Saat itu juga degup jantung Vie semakin tak menentu. Rasa takut dan penasaran dengan wanita yang hendak dilamar malam ini. Vie berdoa semoga itu adalah Jane. Jika sampai yang akan di kamar adalah wanita lain, hancur sudah harapan Jane yang sudah bertunangan dengan Max.
Vie semakin bingung bagaimana jalan ceritanya lelaki yang sudah bertunangan akan melamar wanita lain? Kali ini Vie benar-benar merasa pusing memikirkan jalan cerita ini.
Lucas, ayah Max sedari tadi tak banyak mengeluarkan kata-kata. Lelaki keturunan Brazil itu memilih diam saat istrinya banyak mengeluarkan kata pujian kepada calon menantunya kelak.
"Sudahlah, Ma. Mama jangan memaksakan diri untuk melamar Noumi. Max tidak mencintai dia! Max punya wanita pilihannya sendiri. Bahkan Max juga sudah bertunangan, Ma!"
Jantung Vie berdetak sangat kencang saat mendengar ucapan dari papanya Max, membuat keluarga Dirga itu tercengang atas pengakuan Lucas, termasuk Dirga yang ikut shock.
"Terus saja papa belain wanita kampung itu! Dia tidak setara dengan kita, dia hanya wanita kampung, Pah. Papa sadar dong, Naomi itu wanita mandiri. Di Usianya yang sekarang dia sudah memiliki perusahaan sendiri, Pah. Mama tidak mau tahu, pokoknya malam ini kita harus melamar Naomi, kalau kalian semua tidak setuju jangan menyesal jika hanya namaku yang tersisa." Tante Maya keluar dengan rasa kesalnya mengingat suami dan anaknya lebih memilih wanita kampung daripada wanita mandiri seperti Naomi.
*****
Vie dan Dirga berjalan paling belakang. Hati Vie mendadak sesak. Ia tak bisa membayangkan saat Jane mengetahui kenyataan jika Max ternyata sebentar lagi akan menikahi wanita lain. Jelas Jane akan patah, mengingat hubungan mereka sudah terlalu dalam.
"Ga, aku gak kuat. Aku pulang aja ya."
Dirga menggenggam tangan Vie. Ia tau bagaimana perasaannya saat ini, mengingat Jane adalah satu-satunya orang yang dekat dengan dirinya.
"Jangan gitu dong. Kita sudah sampai, nanti mama kecewa gimana? Kamu kan sekarang jadi anak mama dan aku menantunya," celoteh Dirga.
Vie melangkah dengan gontai, tetapi tidak dengan Arga yang sudah berjalan di depan bersama dengan mama Anggi dengan penuh semangat. Ini adalah pengalaman pertama untuk Arga, datang sebuah acara keluarga, karena memang saat itu Arga hanya memiliki Vie saja. Berbeda dengan sekarang yang sudah memiliki keluarga utuh yang sangat mencintai dirinya.
"Apakah om Max ingin menikah, Oma?" tanya Arga pada mama Anggi.
"Iya, tapi tidak hari ini," jawab mama Anggi.
"Belati om Max sama aunty Jane akan menikah dong, Oma? Alga senang kalau aunty Jane sama om Max menikah. Belalti nanti Alga punya kebun ubi yang banyak, Oma," celoteh Arga.
Mama Anggi yang menggandeng tangan mungil itu mengernyitkan dahinya saat Arga menyebutkan nama Jane. Apakah itu adalah kekasihnya Max? Jika benar begitu, akan ada hati yang terluka saat Max dipaksa menikah dengan Naomi.
"Memangnya aunty Jane itu punya banyak kebun ubi ya? Oma juga pengen makan ubi rebus." Mama Anggi menimpali ucapan Arga.
Arga menggeleng pelan. "Alga juga tidak tahu Oma. Tapi setelah bunda menikah, bunda sama ayah setiap malam menanam ubi saat Alga bobok. Meleka jahat gak mau ngajak Alga. Tapi Oma … Oma juga menanam ubi juga sama Opa? Dimana Oma menanam?"
( Oma yang sabar ya, cucu Oma memang luar biasa. )
Semua orang sudah berkumpul di rumah Naomi. Namun, hingga sekarang tanda-tanda akan kedatangan Max belum ada hilalnya. Tante Maya sedari tadi sudah gelisah dan menghubungi Max tanpa ada jawaban dari anaknya. Tak ingin dipermalukan, tante Anggi segera mengirim pesan kepada Max, dan memberikan dua pilihan. Melamar dan menikah dengan Naomi atau melihat kekasihnya menanggung akibatnya.
Benar saja, ancaman tante Maya tidak sia-sia. Lima belas menit kemudian Max datang dengan wajah kusut. Ia tak menyangka lamaran malam ini akan disaksikan langsung dengan Vie, sahabat Jane dan juga Arga, bocah yang sering menemani saat Jane dan Max sedang kencan.
Ada raut penuh tanda tanya saat Arga menyaksikan secara langsung Max menyematkan cincin di jari wanita selain Jane. Tetapi Arga memilih diam dan menanyakan kepada bundanya.
"Bunda, mengapa bukan aunty Jane yang akan menikah dengan aunty Jane? Alga gak mau kalau om Max menikah dengan dia." Arga menunjuk ke arah Naomi.
Bukan kamu saja, Ga. Bunda juga gak rela jika Max menikahi wanita lain selain Jane. Bunda takut jika hubungan terlarang mereka sudah membuahkan hasil. Bunda takut jika Jane akan mengalami nasib seperti bunda, Sayang."
Akhirnya acara malam ini berjalan dengan lancar, meskipun penuh dengan keterpaksaan.
🌼 Bersambung 🌼
Aku up lagi wkwkw. Mood bagus nih 😂
Aku up 1 bab lagi tapi liat-liat berapa saweran kalian wkwkwk [ Authornya Matre ]