
Kicauan burung sayup-sayup menggema di gendang telinga dua insan yang tertidur dalam satu ranjang. Jane menggeliat, ia merasakan tubuhnya lebih ringan dan malam ini tidurnya terlalu lelap, tak seperti hari-hari biasanya. Namun, saat ia mengerjapkan mata dia sangat terkejut dengan sosok Kai yang tidur disampingnya. Lebih terkejut lagi saat melihat tangannya melingkar di perut Kai dan kakinya menimpanya sebagian tubuh Kai.
Jane segera menarik tangannya. Saat itu juga dia merasakan sesuatu yang menempel di keningnya.
"Apa ini?" Jane mengambil handuk kecil yang digunakan oleh Kai untuk mengompres dirinya tadi malam.
"Apakah aku sakit?" gumam Jane.
Saat hendak turun dari ranjang, jantungnya dibuat berdetak lebih kencang saat tangan Kai menahan tangannya.
"Mau kemana? Udah sembuh?" Kai segera mengecek kening Jane yang sudah normal.
"Gara-gara kecebur kolam tadi malam kamu demam. Untung saja sekarang udah normal. Jangan sakit-sakit lagi di lain hari, bikin orang repot aja."
Kai turun dari ranjang dan segera keluar dari kamar Jane. "Mandi dan segera sarapan, jangan sampai telat makan, nanti sakit lagi bikin orang repot lagi."
Jane masih mematung melihat kepergian Kai. Ia berusaha keras untuk mengingat apa yang telah ia lakukan sehingga Kai berbicara seperti itu. Apakah tadi malam dia telah melakukan suatu kesalahan? Ah ... Jane tidak bisa mengingatnya. Terakhir kali yang dia ingat saat menahan tangan Kai dan memohon untuk tidak meninggalkan dirinya.
"Ah … bodoh!" teriak Jane. Ia merutuki perbuatan yang di luar kendalinya. "Dasar bodoh … bodoh!" rutuk Jane.
Sementara itu di lantai bawah, pemandangan menyilaukan mata lagi-lagi terjadi. Seorang insan yang tidak tahu diri sedang menggoda istrinya di dapur padahal sang istri sedang memasak. Jika Jane yang menjadi Vie, maka akan dia pastikan suaminyabitu akan langsung ia tumis mentah-mentah di wajan penggorengan.
Bagaimana tidak, saat ini Dirga tengah menempel pada Vie yang sedang memasak sambil menge.cu.pi tengkuk Vie.
"Kalau seperti ini aku tidak tahu bagaimana rasa makanannya nanti." Tiba-tiba saja Kai menyindir bos-nya saat ingin mengambil air minum.
"Kalau iri bilang aja. Lagian ada Jane. Kamu bisa pakai dia untuk uji coba, iya kan Sayang?" Tanpa rasa malu, Dirga menge.cup tengkuk Vie lagi tapi kali ini ditepis oleh Vie karena dia merasa malu.
"Apaan sih, Ga. Udah sana. Kalau kamu nempel seperti ini kapan siapnya?"
Dirga mundur dengan nafas beratnya. Ini semua gara-gara Kai yang terlalu cepat untuk turun. Sementara itu wajah Jane mulai memanas saat mendengar ucapan Dirga. Dasar bos gila! Emangnya aku mesin apa, harus diuji coba segala?
"Bagaimana tidur kalian? Nyenyak?" tanya Dirga pada Jane di meja makan.
"Seharusnya tak perlu aku tanya pasti jelas nyenyak. Aku jadi penasaran, kamu dan Vie lebih ganas siapa ya kalau diatas ranjang. Tapi sepertinya kamu lebih unggul deh, karena Max begitu candu akan belaian mu."
Jane hanya bisa menelan kasar ludahnya. Bos-nya tidak punya attitude yang baik saat berbicara dengan orang lain.
"Jane, jangan dengarkan radio rusak. Anggap saja dia radio rusak." Vie menyela.
"Tapi bener Bos ucapanmu. Dia perempuan ganas. Pasti Max selalu kalah di buatnya, buktikan saja tadi malam … " Kai menggantung ucapan. Tidak mungkin dia membeberkan kejadian tadi malam, yang lebih tepatnya dia juga diuntungkan dalam kejadian itu.
"Tadi malam apa Kai?" Jane pemasaran dengan ucapan Kai yang di gantungnya.
"Sudahlah lupakan saja."
"Nah … sudah jelas kan? Kai yang polos sepolos toples aja dia malu untuk mengakuinya." Dirga terus memojokkan Jane
Vie hanya menggeleng kepala saat melihat Dirga terus menggoda Jane.
Untuk saat ini Jane hanya bisa diam karena dia tidak bisa mengingat apa yang sudah ia lakukan kepada Kai tadi malam. Jangan-jangan Jane lepas kendali dan memangsa Kai seperti dia memangsa Max. Oh tidak! Semoga saja itu tidak benar! Jika benar, mau diletakkan dimana wajahku ini.
******
Kai sudah berhasil mengantarkan bos-nya sampai di rumahnya. Dan sekarang tinggal mengantarkan Jane ke apartemen.
"Pindah! Kamu pikir aku supirmu?" Kai melirik Jane dari kaca spion.
"Anggap saja begitu," balas Jane.
Jane enggan untuk berpindah tempat, membuat Kai juga tak melajukan mobilnya. Diam di tempat, hingga Jane mau berpindah baru Kai akan menjalankan mobilnya lagi.
"Kamu lama-lama nyebelin ya Kai!" Jane merasa geram kepada Kai, dan pada akhirnya dia pindah ke bangku depan. Saat itu juga, Kai segera melajukan mobilnya kembali.
"Nah … gini kan enak," ucap Kai.
Jane hanya membuang kasar nafasnya, enggan berdebat dengan Kaisar yang semakin menyebalkan dan sok akrab padahal jelas-jelas dia sudah memiliki kekasih.
Namun, tanpa sengaja mata Jane melihat leher Kai seperti sebuah bekas gigitan vampil. Jane menutup mulutnya dengan panik lalu segera mengambil sebuah kaca kecil dari dalam tasnya. Dia meneliti lehernya dari pantulan kaca kecil. Tak ada bekas gigitan vampil seperti yang ada di leher Kai, lalu …
"Kenapa? Kamu kira aku ganas seperti mu?" sindir Kai.
"Ma-maksud kamu apa Kai?" Jane benar-benar tidak tahu.
Kai hanya membuang kasar nafasnya, dia masih fokus dengan setir kemudinya.
"Kamu tidak mengingat sesuatu?" tanya Kai.
"Tidak." Jane menggelengkan kepalanya.
Jane masih merasa bingung untuk mencerna apa yang telah terjadi malam tadi. Apakah dia telah melewati malam panas dengan Kai? Tidak … tidak mungkin. Karena saat mereka terbangun keduanya masih dalam keadaan pakaian yang lengkap.
"Baiklah aku akan mencoba mengingatkan agar melekat di otakku kembali."
"Kamu hampir saja merebut perjakaku! Beruntung aku masih sadar, karena kuncinya memang ada padaku, meskipun susah payah aku menahan kunci itu agar tidak membuka gemboknya. Kamu tahu ini apa? Pasti jelas tahulah. Ini bekas gigitan vampil betina yang ganas," terang Kai.
Mendengar ucapan Kai, Jane hanya bisa memejamkan matanya. Sungguh dia sudah kehilangan kendali, lalu apa lagi yang ia lakukan kepada Kai tadi malam?
"Kamu tadi malam hampir memperkosa ku, Jane! Jika itu terjadi apakah kamu bisa mengembalikan keperjakaan ku seperti semula? Tidak kan? Beruntung saja aku sadar. Jika tidak pasti kamu yang akan mengira bahwa aku yang telah memperkosa mu. Aku tidak ingin terjadi, jika pun aku mau, aku pasti akan melepaskan perjaka ku kepada Miss Queen daripada kamu."
Sepanjang perjalanan Jane tidak bisa berkata apa-apa lagi mendengar penjelasan panjang lebar dari Kai. Berarti tadi malam dia tidak sedang bermimpi tentang men.cum.biu Max. Lebih parahnya lagi dia menganggap Kaisar itu adalah Max.
☕ Bersambung ☕
Terimakasih atas dukungan dari kalian semua. Peluk cium cium dari othor 😘