Hidden Baby

Hidden Baby
Hidden Baby 49



Mau nodong diawal. Jangan lupa bagi Vote kalian untuk novel ini. Biar othor makin semangat lagi buat up tiap hari wkwkw


Belum juga satu hari ingin merasakan yang namanya liburan, Dirga sudah harus dibuat frustasi oleh permintaan nyeleneh dari istrinya. Di pulau bali mana ada yang jualan nasi urap yang ada ayam betutu.


Bahkan Vie tidak mau makan jika tidak menemukan nasi urap. Tidaklah mungkin Dirga delivery nasi urap dari kota Jogja dan lalu di kirim ke pulau Bali.


Bahkan Dirga juga sudah bertanya kepada pihak hotel terkait makanan yang diinginkan oleh istrinya, dan mereka tidak pernah menemui nasi urap di sana.


"Vie jangan aneh-aneh dong! Ayo makan, kita cari kuliner khas sini aja, besok kalau kita sampai rumah, baru kita makan nasi urap sepuasnya," rayu Dirga.


Vie tetap menolak. Saat ini lidahnya hanya ingin merasakan nasi urap saja.


"Gak mau. Aku maunya sekarang, Ga."


"Tapi disini gak ada, Vie! Kamu gak usah nyeleneh deh." Dirga sedikit membentak karena sudah putus asa saat bujukannya tak mempan.


"Kamu bentak aku, Ga? Kamu jahat! Aku benci kamu!" Vie beranjak pergi meninggalkan Dirga degan air mata yang tak bisa terbendung lagi. Akhir-akhir ini hatinya terlalu sensitif dan sekarang mudah menangis. Padahal Vie sudah sering di bentak oleh Dirga saat itu, tetapi Vie tak pernah tersinggung dan semakin tertantang untuk membalas perbuatan Dirga.


"Vie tunggu!" teriak Dirga.


Dirga sudah berhasil mencekal lengan Vie, yang sudah semakin terisak. Mengerti akan hal itu Dirga segera meminta maaf kepada Vie. "Maaf, maaf aku gak bermaksud untuk membentak kamu. Maaf aku udah hilang kendali tadi. Oke, kita cari nasi urap sekarang, tapi jangan nangis ya." Dirga menyeka jejak air matanya.


Karena merasa terharu Vie kemudian memeluk Dirga. "Makasih ya," ucapnya manja.


Bagaikan orang gelandang nyasar, Gue dan Dirga menelusuri pinggiran jalan demi untuk menemukan apa yang di inginkan. Mungil di pikir seperti Malioboro yang selalu menjajakan kuliner di sepanjang jalan, Vie lupa sedang berada dimana mereka saat ini. Sekeras apapun keduanya mencari, itu percuma karen nyatanya mereka tak akan pernah mendapat apa yang mereka inginkan.


"Ga, balik ke hotel aja, yuk!" Vie menyerah.


Dirga menautkan alisnya, ia merasa heran akan ajakan Vie yang meminta kembali ke hotel. Bukankah tadi ngotot ingin mencari hingga dapat? Dirga hanya bisa membuang kasar nafasnya.


"Oke, ayo." Dirga setuju.


\*\*\*\*\*\*\*


Dirga sengaja mengajak Vie untuk dinner malam. Semuanya sudah Dirga siapkan. Bahkan Dirga juga sudah menyewa tempat itu. Dirga ingin mengganti waktunya yang sudah hilang. Ia hanya ingin membuat Vie bahagia, tanpa luka lagi.


"Ga, aku gak suka pakai gaun," tolak Vie


"Malam ini aja, aku udah siapin sesuatu untuk kamu. Masa iya kamu pakai baju tidur, kan gak lucu," gerutu Dirga.


"Wah … kamu siapin sesuatu untuk ku? Pasti bakalan romantis nih. Ya udah ganti bentar ya."


"Iya ya. Ukuran gunung kamu makin hari makin besar. Kamu sengaja besarin ya buat menggodaku?"


"Sembarang kalau ngomong. Karena kamu peras terus setiap hari makanya nambah besar," sahut Vie.


Dirga terkekeh melihat Vie yang sewot akan gaun yang telah ia siapkan ternyata tak muat. Akhirnya Vie memilih memakai dress miliknya sendiri.


Mata Vie terpana akan sebuah ruangan yang telah berhasil di sulap menjadi tempat yang indah dengan kemarlap-kemerlip lampu hiasan.


"Ga, kamu siapin semua ini?"


"Iya, kamu suka?"


"Iya. Suka sekali. Makasih ya."


Acara dinner yang syahdu membuat Vie larut dalam musik klasik yang menjadi pengisi keheningan mereka berdua.


Dirga merasa sangat bahagia saat menatap Vie yang menikmati acara mal ini. Tidak sia-sia apa yang sudah ia siapkan. Dirga juga berharap pada kesempatan ini Vie tidak meminta hal nyeleneh.


Dirga menggenggam tangan Vie, sambil menatap Vie dalam.


"Vie, makasih atas segala. Aku bukan tipe laki-laki yang romantis, tapi aku adalah tipe laki-laki yang kamu idamkan. Ganteng, kaya, baik hati dan tidak sombong. Tak akan pernah ada kata selain kata terima kasih, kamu telah mau mempertahankan Arga saat itu. Aku tidak tahu bagaimana kamu melewati masa-masa sulit itu. Tapi sekarang aku sudah kembali dan tak akan membiarkan kamu bersedih lagi." ucap Dirga, panjang lebar.


"Satu lagi, kita menikah dadakan karena ulah mama. Bahkan seumur hidupku, aku belum pernah melamar kamu terlebih dahulu, maka ijinkan malam ini aku melamar kamu," pinta Dirga.


Vie terperanjat dengan sikap konyol Dirga. Sudah menikah beberapa bulan dan baru akan melamarnya. .


"Ga, kita udah menikah. Jadi gak perlu kamu untuk melamar aku lagi, oke. Aku sudah menjadi milik kamu seutuhnya."


"Tapi aku ingin melamar kamu Vie. Meskipun aku sudah menikahi mu. Aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya punya tunangan," jelas Dirga.


"Kamu tak perlu tahu rasa tunangan itu bagaimana. Karena tunangan itu hanya untuk mengikat kita agar tidak ke lain hati. Tapi kita udah nikah, udah sah buat nanam ubi bersama, lha kalau tunangan?"


"Benar juga sih, tapi aku tak ada salahnya kan kalau aku melamar mu malam ini?"


( wes karepmu lah, Ga. )


Sampai disini gimana menurut kalian cerita ini? apakah udah ngebosenin dengan cerita yang seperti itu gak ada orang ketiga. Atau konfliknya kurang ada. Tapi dari awal othor buat cerita ini emang lebih santai sih. Jadi kalau ada yang saran silahkan coret² dibawah. Karena othor maunya novel ini manis kayak lolipop wkwkwk.


Dah ah, mana bunga sama kopinya? Berhubung hari Senin, Othor mau nodong Vote dari kalian 😀