Hidden Baby

Hidden Baby
Hidden Baby 58



Apa jadinya jika tengah malam menginginkan sesuatu tetapi tak tercapai karena berbagi alasan dan yang inginkan susah untuk didapatkan pada malam hari.


Begitulah yang dirasakan oleh Dirga saat ia menginginkan rujak tengah malam. Bukan Vie tidak mau membelikan untuk suaminya, tetapi mana ada yang jualan rujak tengah malam.


Vie baru menyadari kelakuan lain dari suaminya beberapa hari terakhir ini. Dirinya yakin jika Dirga tengah menggantikan dirinya ngidam. Menyakitkan memang, apalagi saat pagi tiba. Morning sicknees yang ia alami saat beberapa waktu lalu ternyata pindah kepada suaminya. 


Meski satu sisi Vie merasa senang karena tak mengalami morning sicknees lagi, tetapi ia kasihan kepada suaminya yang harus beristirahat total di rumah untuk beberapa hari. 


"Vie …," lirih Dirga.


"Hm … "


"Laper."


Vie menarik panjang nafasnya. Apakah ini yang dikatakan dunia terbalik? Istri lebih unggul daripada suami? Semenjak Dirga menggantikan ngidam, dia semakin hari semakin manja membuat Vie terasa ingin menyerah saat menghadapi Dirga.


"Mau makan apa?" 


Dirga bangkit dari tempat tidurnya. Sudah cukup ia menyalakan gunakan keadaan. Kali ini ia akan mencari sendiri apa yang ia inginkan. Tidak tega juga melihat Vie bangun tengah malam untuk meladeninya. Awalnya Dirga hanya ingin mengerjai Vie saja, tetapi Dirga sadar tak seharusnya ia memperlakukan Vie berlebihan seperti itu. Bagaimanapun Vie tengah mengandung anak keduanya. 


"Lha … kok malam pergi. Kamu mau kemana, Ga?" Vie heran saat Dirga mengambil jaket dan kunci mobilnya.


"Mau cari makanan. Mau ikut?"


Dengan senang hati, Vie mengiyakan ajakan suaminya.


Saat ini Vie tak perlu mengkhawatirkan bagaimana Arga, karna setelah mengetahui dirinya akan mempunyai adik lagi, bocah itu memilih untuk tidur sendiri.


 Jalanan sudah tidak ramai lagi, hanya satu dua kendaraan yang lewat. Dirga masih tenang mengemudi untuk sampai ke tempat tujuan. Vie tak banyak berbicara karena sejujurnya ia ngantuk berat. Beberapa kali Vie juga terlihat menguap.


"Masih lama, Ga?" 


"Bentar lagi kok."


Benar saja, saat ini Dirga sudah memarkirkan mobilnya di depan sebuah kedai yang bertuliskan makanan khas Palembang. Apa lagi jika bukan empek-empek kapal selam, Palembang.


Inilah pertama kalinya untuk Vie diajak oleh Dirga untuk ke kedai ini. Selama ini Vie tidak tahu jika Dirga menyukai empek-empek. Mungkin ini adalah hanya keinginan ngidamnya saja. 


Kedai yang buka 24 jam, ternyata tidak seperti yang Vie pikiran. Meskipun dari luar terlihat kecil, nyatanya di dalam sangat luas.


"Ga, ini bukan warung remang-remang bukan?" tanya Vie, penasaran.


"Sembarangan kamu, Vie. Ini asli kedai empek-empek. Kamu harus coba, ini enek banget lho." Dirga segera menggandeng Vie untuk mencari tempat duduk. 


Karena hari sudah larut, maka pengunjung juga sudah tidak ramai lagi. Hanya tertinggal satu dua yang singgah.


                          ******


Tidur tanpa adanya Arga di tengah-tengah mereka, membuat Vie lebih leluasa untuk menyentuh suaminya. Seperti biasa setiap pagi Vie akan mencari keberadaan Juna untuk digenggamnya. Hal itu membuat Dirga terpancing untuk melakukan penyemaian setiap pagi. Kedua, sangat beruntung karena anaknya tau diri, lebih memilih tidur sendiri untuk memberikan ruang privasi lebih kepada orang tuanya.


Setelah melakukan penyemaian bersama, keduanya pun kemudian membersihkan diri untuk mengawali hari mereka. Vie sudah bisa dengan kebiasaan Dirga yang akan memeluknya lama dari belakang dengan tangan mengelus perut yang masih datar.


"Vie, makasih ya," ucap Dirga.


Vie mengernyitkan dahinya. "Untuk?"


"Semuanya. Aku tidak tahu jika melihat kamu bahagia bersama orang lain. Jika itu sampai terjadi, aku pasti akan menjadi pembinor dalam hubungan kalian," bisik Dirga.


Diluar sana sudah ada seseorang yang menanti keduanya untuk sarapan. Dirga dan Vie saling bersitatap saat tangan sudah berada didepan dada dengan bibir manyun khas milik Arga, pasti ada sesuatu yang salah. Namun, keduanya tetap melempar senyum indah untuk anak mereka.


"Pagi Abang Aga?" sapa Vie.


Arga membuang muka masih dengan bibir mengerucut. 


"Lho, pagi-pagi sudah ada yang ngambek, nih?" sindir Dirga.


Arga menatap kedua orangtuanya saling bergantian. Tatapan tajam kayaknya sedang menunggu putusan hakim saat hendak menjatuhkan vonis.


"Sekarang jam belapa?" tanya Arga.


"7.20," jawab keduanya orang tuanya kompak, membuat Arga semakin menatap keduanya dengan sinis.


"Bagus. Kalian sudah telat 20 menit. Kalian ngapain di kamal? Telus kenapa kamalnya di kunci?" 


Dirga dan Vie saking melempar pandangan sambil menahan tawanya. Diakui, Arga memang kang kritik keras. Entah akan seperti apa kelak saat dewasa nanti.


"Bunda dan ayah baru bangun, Sayang. Makanya pintu masih di kunci. Kalau udah bangun kan, pintu gak di kunci," sela Vie.


Menghadapi Arga harus penuh sabar dan pengertian, kalau tidak urusan akan semakin panjang.


Kali ini  sebagai permintaan maaf, Dirga yang akan mengantar Arga ke sekolah sambil membeli buku gambar yang berukuran besar. Sesuai janji Arga kemarin, bahwa dia akan menggambar ayahnya juga, tatapi semua itu harus dengan bantuan Miss Queen.


"Ayah, kenapa dulu sebelum ada ayah, Alga gak punya adek. Tapi kenapa sekalang ada ayah, di pelut bunda juga ada adeknya?" tanya Arga.


"Ya … karena ayah sama bunda bikin adek."


"Memangnya adek itu harus di buat ya? Gak bisa beli di toko?"


"Ya, gak bisa dong, Agra. Dulu kamu juga di buat sama ayah dan bunda," jelas Dirga.


Arga terdiam sambil memutar bola matanya. Sudah menjadi ciri khas Arga yang sok dewasa, memutar bola mata saat sedang berpikir.


Dirga berharap tak akan ada pertanyaan nyeleneh lagi dari Arga. Apa jadinya jika Dirga menjelaskan bahwa adanya adek di dalam perut bundanya akibat penyatuan tubuh mereka berdua. Belum saatnya kamu mengetahui setiap prosesnya, Ga. Belajar dulu, besar dulu. Nanti kalau sudah besar kamu pasti akan tahu bagaimana proses membuat adek. 


Sesampainya di Playgroup, ternyata Arga sudah terlambat. Semua temannya sudah berbaris dan membuat lingkaran kecil. Arga yang melihat dirinya terlambat, enggan untuk keluar dari mobil. Jangan di tanya lagi bagaimana wajah Arga saat menatap ayahnya. Tatapan tajam, bibir mengerucut serta tangan yang sudah terlipat di depan dada.


"Lho, lho ada apa ini?" Dirga tak tahu letak kesalahannya.


Arga membuang muka kesamping, seolah memberi isyarat bahwa dirinya telah terlambat.


"Udah, ayo. Nanti ayah yang bilang sama Miss Queen biar di ulang lagi barisnya. Jangan cemberut dong. Katanya udah abang-abang? Harus dewasa dong!" bujuk Dirga.


Arga yang patuh, meskipun hatinya dongkol tetapi ia mengikuti langkah ayahnya yang menggandeng tangan mungil miiknya untuk langsung bergabung bersama dengan teman-teman.


Miss Queen dengan ramah menyambut kedatangan Arga lalu meminta Arga segera bergabung tetapi, Arga tidak mau.


Akhirnya Dirga meminta Miss Queen untuk mengulang kegiatan pagi ini dari awal lagi.


Sebenarnya Miss Queen keberatan, karena hanya akan membuat anak-anak bosan tetapi, Miss Queen mengajukan syarat kepada Dirga untuk memberikan waktu kepada Kai. Mengurangi jadwal lemburnya, dan memberikan fasilitas untuk kencan mereka. Tentu saja Dirga keberatan, tetapi semua dilakukan untuk Arga.


Ga, gurumu matre. Kencan aja minta di modalin. Kalau kamu gak  terlambat, ogah ayah memberikan fasilitas kencan mereka.