
Sudah 2 hari Vie tidak melihat Miss Queen saat mengantar jemput Arga. Bahkan saat ini ada Miss pengganti untuk menyambut anak-anak. Ingin bertanya, tetapi Vie mengurangkan niatnya. Mungkin Miss Queen sedang ambil cuti, pikir Vie.
Di dalam mobil, Arga berceloteh menceritakan tentang Miss baru mereka. Bahkan dari cerita Arga, ternyata Miss Queen sudah tidak mengajar lagi.
"Pak Slamet, antar kami ke kantor sebentar ya!" titah Vie kepada sopirnya.
"Baik, Bu."
Tak butuh waktu lama, Vie dan Arga sudah tiba di kantor milik Dirga. Baru beberapa bulan tidak menginjakkan kaki ke kantor sudah banyak yang berubah. Hampir semua karyawan membungkukkan badannya untuk menyambut Vie. Vie merasa risih dengan perlakuan mereka yang seolah berlebihan.
"Om Ikal," gumam Arga.
Saat melihat Haikal Arga segera berlari untuk mengejarnya. Lama tidak bertemu membuat Arga merasa rindu akan sosok Haikal yang dulu sering bermain bersamanya.
Vie tidak bisa mencegahnya, biar bagaimanapun Haikal adalah seseorang yang pernah dekat dengan Arga.
"Wah ... mimpi apa Om semalam ya, bisa liat kamu disini? Eits ... Ayah kamu gak marah nih kalau kamu nemuin Om?" tanya Haikal.
"Kenapa halus malah? Emang ayah Abang Alga suka malah-malah? Kan yang suka malah-malah itu Bunda," protes Arga.
"Widih ... keren panggilan kamu sekarang ya?"
"Iya dong Om, kan bentar lagi Alga mau punya adik, jadi mulai sekalang call me Abang Alga, oke." Arga memainkan alisnya layaknya orang dewasa.
Tubuh Haikal mendadak kaku seketika saat mendengar penuturan dari Arga. Matanya semakin terbelalak saat melihat langsung Vie yang mulai mendekat. Perut Vie yang terlihat sedikit menonjol menjadi pusat perhatian Haikal saat ini. Hancur sudah berkeping-keping jika membayangkan Vie dan juga suaminya saat melakukan proses pembuatan calon adiknya Arga.
"Vie," sapa Haikal.
"Kal, lama gak jumpa. Tambah kurusan sekarang ya?"
Semua ini gara-gara suamimu agar aku tak punya banyak waktu untuk bertemu denganmu. Bayangkan saja hampir satu bulan pekerjaanku menambah. Haikal hanya bisa mengadu dalam hati
"Ah iya ... kamu juga terlihat lebih kurusan setelah menikah. Apakah suamimu tak memberikan kamu makan?"
Keduanya terlihat asyik bercerita tanpa menyadari bahwa sang bos sudah berada di belakang mereka.
""Ayah ...," teriak Arga langsung menghambur kearah Dirga.
"Bagus ya, jam kerja malah ngota? Kayak kurang kerjaan aja? Mau di tambah lagi pekerjaan kamu?"
Haikal membuang kasar nafasnya. Coba saja dia Vie tidak mengandung bibitnya, pasti saat itu juga Haikal akan menikahi Vie lebih dahulu. Sayangnya Dirga curang, mencoblos sebelum waktu pemilu membuat Vie menutup pintu untuk laki-laki lain.
"Iya Om. Da ... Om Ikal."
Dirga terpaksa harus mengundur jadwal pertemuan dengan klien saat Vie mengatakan ingin berbicara sebentar dan seperti ini sangat serius. Dan saat berbicara, Dirga menyuruh Kai untuk menemani Arga sebentar.
"Kenapa? baru juga satu malam kabur, udah gak tahan kan jauh-jauh sama Juna? Aku tahu kamu kesini mau jenguk Juna kan?"
"Biasa gak, satu hari gak bahas Juna. Pikiran kamu yang ada Juna terus!" protes Vie.
Vie kemudian mengatakan sesuatu yang serius kepada Dirga hingga membuatnya hampir tak percaya. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi. Dirga hanya bisa membuang kasar nafasnya.
"Kamu harus segera cari tahu, Ga!"
"Iya, tapi gak bisa sekarang, dong. Sekarang aku harus terjun ke lapangan dan ... satu lagi, nanti malam mau kan menemaniku ke acara pertemuan. Kalau tidak mau ya, tidak apa-apa."
"Kalau aku tidak mau, kamu mau ajak Jesy?"
"Udah dong jangan bahas dia lagi kalau hanya membuat kamu cemburu. Aku juga sudah membatalkan kontrak kerjasama dengan pihak mereka, meskipun perusahaan harus menanggulangi kerugian yang ada," jelas Dirga.
Vie tidak tahu apakah dia harus bahagia atau bersedih saat mendengarkan pengakuan Dirga. Bahagia karena mereka tidak bisa bertemu kembali atau bersedih karena akhirnya perusahaan harus menanggung atas kecemburuannya semata.
"Udah, jangan ngambek lagi ya? Kasihan Juna."
Vie kamu harus bisa! Kamu harus kuat mengahadapi rayuan maut ini. Jangan sampai luluh.
"Ya sudah, aku pulang. Jika kamu mau ke lapangan, pergilah! Aku hanya ingin mengatakan itu saja."
"Serius? Gak mau nengokin Juna sebentar gitu?"
Vie tak menghiraukan ucapan Dirga. Dia harus bisa mengendalikan diri. Semenjak dinyatakan hamil, Vie tidak bisa mengontrol hasratnya yang selalu menggebu jika berhubungan dengan Juna.
.
.
.
Jangan lupa jejaknya!
Guys ... cerita ini End sampai disini ya?