
Hingga acara bakar-bakar selesai, dua orang yang sedang pergi keluar angkasa belum juga turun, membuat Arga terus bertanya dimana keberadaan ayah dan bundanya yang tak terlihat sejak tadi.
Saat ini Jane dan Kai duduk saling berhadapan tanpa ingin menyapa satu dengan lainnya. Membisu bagai orang asing yang tidak saling mengenal, meninggikan rasa gengsi diantara keduanya. Namun, sesekali saling melirik tanpa kata.
Berbeda dengan kedua orang tersebut, papa Wira dan mama Anggi tengah sibuk menenangkan cucunya yang sedari tadi mencari induknya. Mama Anggi geram kepada Dirga yang tidak tau waktu untuk menanam ubi.
"Kenapa mereka begitu lama sih, Ma?" gerutu papa Wira.
Mama Anggi hanya menyendikkan bahunya. "Mana mama tau, Pa. Biasalah, pengantin baru, kayak papa gak pernah ngalamin aja," sahutnya.
"Anak itu benar-benar!" geram papa Wira.
Sama halnya dengan mama Anggi yang merasa geram, pasang tengah baya itu terpaksa mengajak cucunya untuk berkeliling villa pribadi miliknya yang sangat asri. Meskipun siang hari, tetapi hawanya seperti pagi hari yang masih sejuk. Pohon rindang tumbuh disekitar tempat itu, ditambah lagi di sampingnya ada kolam ikan.
"Opa, ikannya banyak sekali," celoteh Arga saat melihat ikan-ikan berlomba untuk mengambil umpannya.
"Iya dong. Abang Aga mau ikan?"
Dengan antusias Arga mengangguk bahagia. "Mau banget, Opa."
Mama Anggi turut mendampingi dua orang lelaki beda usia tengah berlomba untuk menangkap ikan. Setidaknya dengan begitu bisa mengulur waktu hingga Dirga siap untuk menanam ibunya.
"Opa, nanti kita bakal ya!"
"Beres."
Dirga dan Vie menuruni anak tangga dengan pelan. Dirga dengan romantis memegangi tangan Vie seolah dia takut jika Vie akan terjatuh.
"Hati-hati, Sayang," ucapnya.
Dalam satu hari ini sudah berapa kali Vie mendengar kata sayang dari mulut suaminya. Ada rasa bahagia tersendiri. Awalnya Vie mengira itu hanya ucapan saat Dirga sedang menggoda dirinya, namun ternyata Dirga mengulangi lagi.
"Kamu panggil aku apa?" Kekeh Vie.
"Panggil Sayang. Kenapa memangnya?"
"Tidak. Hanya aneh saja."
Vie dan Dirga langsung ke halaman belakang dimana mereka menyelenggarakan acara selanjutnya, panggang memanggang. Namun, keduanya tak mendapati siapapun disana.
"Kemana mereka?" tanya Vie.
"Entahlah."
Keduanya pun berjalan mengitari halaman samping, dan ternyata mereka ada di sana dengan posisi yang berjauhan. Jane dan Kai duduk di meja kecil, sedangkan anak dan orang tuanya sedang berada di pinggiran kolam ikan.
"Ga, sepertinya akan ada hati yang patah," bisik Vie.
Dirga mengernyitkan dahinya. "Siapa?"
"Halah biarlah, aku tidak tertarik dengan wanita itu. Aku lebih suka melihat kucing dan tikus mengejar cinta."
Vie hanya bisa menggelengkan kepalanya. Suaminya benar-benar tidak peduli dengan perasaan seseorang. Mana bisa seperti itu, sedangkan Kai adalah kekasihnya Miss Queen. Itu sama saja mendukung Jane menjadi orang ketiga dalam hubungan asmara Miss Queen dan Kai.
Wajah Arga sangat bahagia saat sang kakek berhasil mengumpulkan ikan banyak, tak seperti dirinya. Satupun ikan tak ada yang mau makan umpannya.
"Oma, ikan Abang Alga udah banyak. Bolehkah kalau Abang Alga bawa pulang sebagai untuk di goleng sama bunda?"
Mama Anggi selalu gemas dengan tingkat Arga yang menggemaskan.
"Kalau Abang Alga mau ikan seperti ini, besok Oma belikan di pasar. Kalau ikan ini dibawa pulang dia akan mati di perjalanan saja sayang," jelas mama Anggi.
"Oh begitu ya."
.
.
.
Sebagai hukuman saat ini Dirga diberi tugas untuk membersihkan ikan, karena sudah pergi tanpa alasan. Sedangkan yang lainnya hanya sibuk bercerita. Tanpa disadari sosok mungil menghampirinya sambil memberikan sebotol minuman kaleng.
"Ayah pasti haus." Arga menyodorkan minuman kaleng tersebut.
"Abang Aga ngapain kesini?" Dirga pura-pura bersedih.
"Ayah jangan sedih dong. Alga ada disini untuk ayah."
Sesuai dengan ucapan Arga, bocah itu menunggui ayahnya membersihkan ikan hingga siap. Dirga merasa bersyukur, ternyata bibit yang ia taman pertama kali tumbuh menjadi sosok yang peduli dengan sekitarnya dan bisa berpikir lebih dewasa. Entah dia harus berterimakasih kepada Vie yang telah mendidik Arga dengan baik atau berterima kasih kepada dirinya sendiri karena bibitnya pertamanya adalah bibit unggulan. Namun, Dirga 100% yakin jika itu adalah hasil bibit terbaiknya, karena selama belasan tahun Dirga belum pernah membuang bibit kemanapun. Hanya ladang Vie yang menjadi tempat pertama Dirga membuang bibitnya. Wajar saja jika hasilnya lebih unggul, karena Arga terbuat dari bibit pernah.
"Ayah gak sedih kok, Sayang. Ayah bahagia karena Arga masih ingat ayah."
"Arga akan selalu ingat ayah kok. Arga kan sayang ayah."
Rasa haru menyerbu jiwa yang sedang merana. Dirga tak hentinya mengucapkan kata syukur.
Setelah menyerahkan ikan kepada Kami, Dirga langsung duduk disamping Vie dan mengeluh campak akan tugas yang diberikan kepada dirinya. Namun, dengan cepat pap la Wira menyela. "Baru juga bersihkan ikan udah mengeluh, coba aja kalau naik ke bulan yang ada men.de.sah."
Sontak ucapan papa Wira membuat Vie dan Jane terbelalak. Memang papa Wira kalau bicara tak pernah salah. Malu, begitulah ekspresi dari dua wanita muda yang tengah hamil muda.
"Apaan sih, Pa?"
"Halah kamu itu … siang-siang masih menyempatkan diri naik ke bulan. Gimana nanti kalau istri kamu lahiran, bakal gak di asah 4 bulan tuh senjata." Papa Wira tertawa, membuat mama Anggi menggelengkan kepalanya.
"Dasar, papa seperti gak pernah muda aja," sahut mama Anggi.
( Dasar, mertua gesrek )