
Seperti biasa, pagi hari akan menjadi waktu yang paling sibuk untuk seorang ibu rumah tangga. Bangun pagi, menyiapkan sarapan dan keperluan anggota keluarga dari keperluan sang suami hingga keperluan anaknya. Hal itu Vie lakukan setiap pagi, saat ini hidupnya terasa lebih sempurna saat bisa melayani kebutuhan anak dan suaminya yang kadang kelewat manjanya.
Sebuah tangan kekar melingkar pada perut Vie yang sedang memasak di dapur. Tangan siapa lagi jika bukan tangan suaminya. Sudah kebiasaan Dirga saat bangun tidur pasti akan segera mencari keberadaan Vie di dapur dan memeluknya dari belakang. Menghirup aroma khas tubuh istrinya yang membuatnya candu, meskipun belum mandi.
"Ga, lepas. Aku lagi masak."
"Kamu kenapa sih, Vie? Dari aroma-aromanya kamu tuh lagi marah sama aku. Apa salahku? Kalau ada yang salah kasih tau, jangan kayak gini, dong!"
Dirga beralih mundur dan memilih duduk di meja makan. Sementara ia berpikir keras, dimana letak kesalahannya.
Lamunan Dirga terputus saat melihat Jane berjalan ke dapur untuk menghampiri Vie yang sedang memasak. Dirga terkejut, karena Vie tak mengatakan jika Jane menginap di rumahnya.
"Kamu udah bangun, Jane?"
Jane yang terlihat lebih segar mengangguk pelan sambil menarik kedua garis simpul bibirnya. "Iya. Kamu masak apa? Sini biar aku bantu."
Vie menatap Jane heran. Hanya dalam hitungan satu malam saja, suasana hati Jane berubah drastis. Kemarin ia terlihat sangat frustasi, tapi pagi ini terlihat biasa saja seperti tak punya beban apapun lagi di pikirannya.
"Udah siap kok, Jane. Tinggal ngurus anak-anak aja," balas Vie.
Jane mengernyit. Memangnya berapa anaknya Vie? Bukankah hanya ada Arga saja? "Memang anak kamu berapa? Kan cuma Arga?"
Vie tersenyum tipis. "Tuh anak paling paling besar manjanya mengalahkan Arga." Vie menunjuk ke arah Dirga yang duduk di meja makan.
Jane tertawa pelan namun, itu hanya untuk sesaat saja. Tiba-tiba raut wajahnya berubah mendung saat ia menyadari akan sesuatu dalam hidupnya.
Sebuah keluarga impian hanya menjadi mimpinya saja, karena semua itu telah hancur. Max sudah menghancurkan mimpinya. Apakah Jane masih bisa mengharapkan sebuah keluarga kecil seperti keluarga Vie saat ini?
Vie sangat beruntung, Dirga yang setia dengan cintanya meski caranya salah saat itu dan orang tua Dirga yang menerima Vie dalam keadaan apa adanya. Bahkan mereka terlihat sangat menyayangi Vie dan Arga, berbalik seperti dirinya yang tak di harapan kan dalam keluarga Max
********
Pagi ini Arga hanya akan diantar oleh ayahnya saja, karena Vie harus menemani Jane di rumah.
"Ga, bunda gak bisa ikut mengantar Arga ke sekolah ya, karena bunda harus menemani aunty Jane. Nanti jangan bolehin ayah ngomong banyak-banyak sama Miss Queen ya," pesan Vie pada anaknya.
Arga mengangguk pelan. "Siap bunda."
"Astaga Vie … kamu cemburu sama Miss Queen? Kamu salah, Miss Queen gak ada apa-apanya dibandingkan kamu," sahut Dirga.
"Ya, kali aja sekali-kali tebar pesona," celetuk Vie.
"Jangan pikir macam-macam. Satu macam aja gak bisa habis dan nagih terus," kekeh Dirga.
Jane hanya bisa menyaksikan betapa harmonisnya keluarga Vie dari balik jendela. Apalagi saat Vie mencium tangan Dirga lalu dibalas dengan sebuah kecupan di kening bak layaknya sebuah drama yang sering ia tonton. Hatinya tiba-tiba ngilu. Mengapa hidupnya tak seberuntung Vie yang dikelilingi dengan orang-orang yang menyayangi dirinya.
Dirga berjalan gagah saat menggendong Arga menuju kelasnya, dimana akan selalu disambut boleh Miss Queen yang sangat ramah, saking ramahnya sampai meresahkan hati ibu-ibu.
"Selamat pagi Arga. Wah … tumben nih cuma ayahnya yang antar? Mana bundanya? Kesiangan atau kelelahan?"
"Bunda di lumah, Miss nemenim aunty Jane," jelas Arga.
"Tapi pesan bunda, ayah gak boleh ngomong banyak-banyak sama Miss dan ayah halus segela belangkat kelja," imbuh Arga lagi.
Dirga tak bisa menutupi rasa malu akibat lincahnya mulut Arga. Dengan memaksakan senyum, Dirga kemudian berbasa-basi untuk menitipkan Arga.
Miss Queen ingin tertawa tetapi ia juga menjaga agar ayahnya Arga tidak merasa malu.
Dirga tak hentinya mengeluhkan bibir Arga, mengapa bibirnya terlalu lincah. Tidak bisa menyimpan suatu apapun dari bocah itu. Untung kamu itu titisan ku, Ga. Kalau bukan sudah ku pecat jadi ahli waris keluarga Wiraguna.
******
Pagi ini ada yang berbeda dari wajah Kai saat menyambut atasannya. Wajahnya terlihat berbinar dan selalu menebar senyuman pada setiap karyawan yang berpapasan dengannya. Hal itu tak luput dari pandangan Dirga.
Kai tersenyum lebar. "Anda tidak perlu kepo dengan urusan orang lain. Fokus saja dengan ranjang anda sendiri."
Dirga melotot, membuat Kai memilih menundukkan kepalanya sudah mengajak bercanda atasan yang kaku. Bisa meledek orang lain, tetapi tak mau diledek orang lain, itulah Dirga.
Sepanjang hari wajah Kai tetap berseri, apalagi saat ia menerima balasan pesan yang dikirim, seperti sedang mendapat durian runtuh.
Cinta pada pandangan pertama, begitulah yang Kai rasakan saat ini. Begitu juga dengan Miss Queen yang sehati dengan Kai, terpesona saat pandangan pertama. Sama-sama memiliki rasa, Kai semakin yakin untuk menjadikan Miss Queen sebagai kekasih hati dan tidak akan menolak cintanya.
Hati Kai sudah lama kosong dan malam minggunya dilalui begitu saja dengan bermain game, tetapi berbeda dengan malam minggu yang akan datang, ia bisa mengajak Miss Queen jalan menghabiskan malam liburannya bersama.
"Bos, hari ini Arga pulang pukul berapa?" Kai, begitu bersemangat saat hendak menjemput Arga.
"Seperti biasa-lah Kai."
"Kalau begitu aku jemput Arga dulu ya, Bos. Lagipula tidak ada jadwal meeting siang ini."
"Tumben? Biasa harus di ingatan dulu. Kalau kamu rajin seperti ini aku akan naikkan bonus kamu."
Kai tertawa dalam hati. Benar-benar hari keberuntungannya baginya setelah kemarin berhasil mengungkap kata cinta kepada Miss Queen. Terlalu cepat memang, tetapi Kai tidak bisa menahan gejolak dalam hatinya. Pikirannya tak pernah berhenti untuk tidak memikirkan wanita cantik yang sudah berhasil membuat jantungnya berdebar.
Sesampainya di sekolah Arga, Kai sengaja memperlihatkan Miss Queen dari jauh yang terlihat sabar dalam mengajari anak didiknya.
Sama anak orang aja sabar banget, gimana sama anak sendiri? Miss Queen, tunggu setahun lagi, aku akan berusaha mencari modal untuk masa depan kita.
Lamunan Kai ambyar saat Arga menginjak kakinya Kai. Sudah beberapa kali Arga memanggil Kai tapi tak ada respon akhirnya Arga menginjak kaki Kai.
"Om Kai, ayo pulang," teriak Arga.
Pandangan Kai sudah menangkap Miss Queen yang datang menghampiri Kai membuat jantungnya terasa ingin lompat..
"Hai," sapa Miss Queen.
"Ha-hai juga," gugup Kai.
Keduanya sama-sama kesemsem. Masih saling malu. "Kamu masih sibuk?" tanya Kai.
Miss Queen menggeleng pelan sambil tersenyum. "Tidak."
Kai bersorak dalam hati. Dia harus memanfaatkan waktu yang dimiliki dengan baik dengan menumbalkan Arga sebagai senjata baginya.
Kai berjongkok membisikkan sesuatu kepada Arga, membuat bocah itu membulatkan matanya karena bahagia. Kai mengajaknya untuk membeli es cream yang sudah lama Arga rindukan. Bundanya akan sangat marah jika Arga meminta es cream, tapi kali ini Arga harus membangkang pesan bundanya. Arga berjanji dalam hati hanya ingin memakan sedikit sebagai pengobat rasa rindunya.
Mobil yang Kai tumpangi berhenti di salah satu kedai es Cream yang sedang viral di jagad internet karena varian rasanya yang unik.
"Kamu sudah pernah kesini? Kalau aku baru pertama kalinya," ucap Kai.
"Aku juga baru pertama kalinya. Baru tau kalau ada kedai es cream unik seperti ini."
Hanyut dalam percakapan ringan, tanpa sadar Arga sudah menghabiskan satu cup dan ingin menambah lagi. Tetapi Miss Queen melarang, karena satu cup besar itu sudah cukup untuk Arga. Tak baik jika Arga mengkonsumsi es cream terlalu banyak.
🌹 Bersambung 🌹
Hayo-yo ... THR udah dimana nih? Moga aja gak salah alamat ya 😂
Jangan lupa abis baca kasih Like, kasih bunganya atau kopi biar hati Authornya juga ikut berbunga wkwkw.
Sebelumnya aku up lagi mampir dulu di novel Mimin paling cauantek AG sweetie dengan judul novel CALL ME YURA, mampir ya 😊