
Saat ini papa Wira sedang mengelilingi kota Yogyakarta bersama dengan cucu dan istrinya. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, papa Wira ingin menyenangkan cucunya dengan membawa keliling kota menggunakan andong. Sepanjang perjalanan tak hentinya Arga menyanyikan sebuah lagu Naik Delman ciptakan Ibu Soed. Jangan ditanya bagaimana perasaan bocah itu saat ini.
"Opa, apa kita bisa bawa pulang kuda ini?"
"Tidak bisa. Nanti kalau kita pulang bapaknya gak bisa bekerja lagi dan gak dapat uang lagi," jawab papa Wira.
"Yah ...," keluh Arga.
Setelah puas naik delman, papa Wira juga mengajak Arga untuk mengunjungi suatu tempat bersejarah di kota tersebut, Monumen Jogja Kembali. Tempat dimana kita bisa melihat kilas balik perjuangan bangsa Indonesia untuk melawan penjajahan pada saat itu. Kota yang pernah menjadi Ibu Kota Indonesia saat itu, pasti akan menyisakan tempat-tempat sejarah lainya. Tetapi di Monumen Jogja Kembali kita bisa menemukan sederet sisa perjuangan bangsa saat itu yang berasa di dalam museum. Terlebih lagi di dalam sana juga ada relief pahlawan kemerdekaan yang seperti nyata.
Arga sungguh dibuat takjub oleh tempat tersebut dan tak hentinya ia berlari kesana-kemari saking bahagianya.
Saat sedang beristirahat, papa Wira menyempatkan untuk menelepon seseorang yang perusahaan sedang mengalami kebangkrutan. Papa Wira berencana untuk menghidupkan perusahaan tersebut. Namun, saat ia menelepon yang menjawab adalah istrinya karena suami sedang sakit. Papa Wira yang memang sudah mengenal lama sosok Pitaloka, menyetujui akan melakukan pertemuannya besok siang karena kondisinya sat ini yang sedang hamil muda dan suaminya yang sedang sakit.
[ Kebetulan pak Wira menghubungi saya. Sebenarnya saya juga ingin menghubungi anda tetapi masih ragu, takut jika anda sedang sibuk ]
"Mungkin Tuhan sedang menggerakkan hati saya. Kalau begitu katakan saja dimana kita harus bertemu besok siang."
Pak Wira menatap cucu dan istrinya yang sedang makan siang. Arga bocah 4 tahun itu tidak mau disuapi oleh sang Oma. Dia bersikukuh ingin makan sendiri meskipun banyak yang jatuh. Mendadak pak Wira mengulum senyum di bibirnya. Jika Arga tidak lahir dari perempuan yang baik, apakah dia akan menjadi anak dengan sejuta kepintaran seperti ini?
"Ada apa, Pa?" tanya mama Anggi.
"Tidak ada. Hanya saja besok sebelum pulang papa ingin bertemu dengan Pitaloka. Mama masih ingatkan model yang pernah menjadi bintang iklan kita? Kasian sekali sekarang hidupnya. Setelah bercerai dengan suaminya dia menikah lagi. Suaminya pun membangun perusahaannya dengan jerih payahnya sendiri, dia memiliki gudang di Vietnam. Namun sayang, baru-baru ini gudang itu habis terbakar dsn membuat perusahaannya jatuh bangkrut. Tak lama setelah itu, perusahaan ayahnya juga memiliki nasib yang sama. Kasihan kan, Ma."
Mama Anggi tiba-tiba merasa sangat sedih dengan cerita suaminya. Bagaimana mungkin orang yang baik bisa mengalami musibah seperti itu, tetapi semua adalah kuasa Tuhan. Jika Tuhan sudah berkehendak, manusia biasa apa.
"Kasihan sekali Rey dan Pitaloka, ya Pa. Pokoknya Papa harus bantu mereka untuk bangkit lagi. Mereka itu orang baik lho, Pa."
Papa Wira mengangguk pelan, menyetujui ucapan istrinya. Dia harus membantu perusahaan Rey untuk bangkit kembali meskipun terbilang sulit.
Bagi yang ingin tahu siapa Pitaloka, boleh baca kisahnya di Novel Othor yang berjudul SEGENGGAM LUKA
*****
Tak ada batang hidung Arga membuat Vie sangat merasa kesepian meskipun Dirga sudah menghibur sekuat tenaganya, tetap saja Dirga tidak akan pernah bisa menggantikan sosok Arga.
Baru saja dua hari berpisah dari Arga rasanya sudah dua tahun saja. Apalagi saat ini dia hanya di rumah sendiri, merasa sangat bosan. Untuk mengusir kebosanannya, Vie mempunyai ide, dia akan mengantarkan makan siang untuk Dirga, pasti di sana Vie bisa mendapatkan jatahnya. Vie cekikikan saat membayangkan apa yang akan terjadi di sana nanti.
Namun, masalah besar menghampiri Vie saat ia menatap dirinya dalam pantulan cermin yang memperlihatkan bentuk tubuh Vie saat ini dengan perut sedikit menonjol ke depan.
"Sebagus apapun baju yang aku pakai pada akhirnya akan seperti ini karena memang perutku yang sudah mulai membesar. Aneh, kenapa aku malah semakin kurus ya? Apa karena hormon yang naik atau memang bawaannya kurus? Padahal porsi makan dua kali lipat lebih banyak." Vie bergumam, sambil mengamati dirinya di pantulan cermin besarnya.
Tak ingin berlama-lama, Vie akhirnya menyudahi dramanya. Saat ini dia harus segera pergi ke kantor milik suaminya.
Dengan langkah percaya diri, Vie melangkah menuju dimana ruangan Dirga berada. Ana, sang sekretaris Dirga terkejut saat melihat istri bos-nya tiba-tiba datang sementara ...
"Hai Nana, suami ku ada di dalam kan?" tanya Vie.
"Ah, pastinya ada dong, kan mobil ada di parkiran."
Mulut Nana masih ternganga saat ingin memberitahu jika bos-nya sedang ada tamu. Apa jadinya jika Vie tahu bahwa suaminya sedang berduaan dengan wanita lain di dalam ruangan. Semoga saja tidak akan terjadi kesalahpahaman diantara mereka.
Benar saja, Vie langsung terbelalak saat melihat Dirga dan seorang wanita di dalam satu ruangan, apalagi saat ini posisi Dirga dengan wanita itu saling berhadapan. Entah apa yang sedang mereka lakukan tetapi itu sangat membuat Vie naik pitam dan segera menghampiri keduanya.
Dengan dada naik turun Vie segera menarik tangan wanita itu kemudian dengan keras menampar pipinya.
Plaakk ...
Satu tamparan yang keras mendarat sempurna ke pipi wanita yang tak asing baginya.
Dirga yang melihat aksi istrinya diam membeku dengan bola mata yang membulat lebar.
Beraninya dia mau menggoda suami orang. Belum tahu kalau macan udah ngamuk. Awas kamu Dirga jika sampai kami berani membela perempuan ini, tamatlah nasib Juna mulai hari ini!
Mata Vie seolah sedang mengirimkan pesan kepada Dirga, membuat lelaki itu hanya bisa terpatung sambil menelan kasar ludahnya seolah dia sudah membaca pesan yang dikirim lewat tatapan Vie.
🎀 Bersambung 🎀
Tatapan kamu hebat ya Vie, bisa langsung dibaca oleh Dirga wkwkw
Jangan kaget Jika novel ini sudah berlebel End!
Mungkin Authornya sudah lelah.