Hidden Baby

Hidden Baby
Hidden Baby 38



Sampai di kamar tempatnya menginap, Dirga melonggarkan dasinya dan melemparkan ke sofa. Pertemuan dan peninjauan tempat kerja hari ini sangat menyita waktunya, hingga tak ada waktu untuk memberi kabar kepada Vie.


Seketika ia langsung teringat jika belum menghubungi istri. Baru beberapa jam saja ia sudah merasa tak nyaman, bagaimana harus menunggu 2 hari ke depan.


Dirga merogoh ponsel dari saku celananya. Matanya terbelalak, saat melihat beberapa panggilan tak terjawab dari sang istri.


"Astaga …" Dirga terkejut.


********


Sepanjang malam Dirga tak bisa tidur karena panggilannya terabaikan oleh Vie. Hingga pagi, Dirga masih mencoba menghubungi istrinya. Namun, kali ini nomer Vie tidak bisa di hubungi lagi, bahkan pesan yang ia kirim juga gagal. Dirga menjadi sangat frustrasi pagi ini.


Dirga keluar dari kamarnya dengan mata panda. Wajahnya terlihat kusut bak baju yang belum di setrika. Kai yang melihat penampilan bosnya pagi ini merasa terkejut. Pagi ini penampilan Dirga tak seperti biasanya. Bahkan jika saat ini Kai mengatakan kepada orang-orang bahwa Dirga adalah bos-nya mungkin mereka akan berpikir dua kali untuk percaya.


"Ini anda Bos?" tanya Kai.


Dirga menatap Kai dengan rasa malas dan enggan untuk menjawab pertanyaan yang tidak penting. Sudah jelas itu dirinya, tetapi masih saja bertanya lagi, membuat mood-nya semakin rusak.


"Bos, anda harus terbiasa dengan pekerjaan keluar kota seperti ini. Bahkan besok bisa sampai satu hingga dua minggu, anda harus membiasakan diri mulai sekarang, seperti anda membiasakan satu ranjang dengan ibu bos," celoteh Kai, menambah Dirga semakin pusing.


"Bisa diam gak kamu, Kai? Kalau gak bisa, aku mending pulang sekarang," ancam Dirga.


Kai tak melanjutkan lagi ucapannya. Apakah seperti ini rasanya jika sudah menikah? Selalu ingin berdekatan terus bak perangko? Sepertinya menikah membuat orang akan gila jika sedang berjahuan, contoh adalah bos-nya sendiri. Kai mengulum senyum di bibir saat mengingat paras cantik Miss Queen gurunya Arga yang memenuhi pikirannya setiap malam.


Menurut Kai, dengan paras dan tubuh yang indah, rasanya tak pantas jika Miss Queen hanya seorang pengajar biasa. Suara merdunya selalu terngiang-ngiang di telinganya, seolah Miss Queen ada di sampingnya tetapi ia tak sekusut Dirga saat sedang memikirkan wanita tersebut.


"Apa yang kamu pikirkan? Jangan bilang kamu sedang menertawakan keadaanku sekarang," ketus Dirga.


Kai menautkan alisnya, untuk apa dia menertawakan dalam hati. Gak penting banget, bos!


Hari ini keadaan Dirga seperti induk ayam yang baru saja menetas. Dekat sedikit langsung kena patok. Itu semua karena tak bisa menghubungi Vie. Dirga sendiri rasanya ingin pulang sekarang jika tidak mengingat perusahaannya. Lain kali sepertinya Dirga harus membawa Vie untuk perjalanan bisnisnya.


Di tempat lain, Vie yang baru saja siap hendak mengantar Arga ke sekolah baru menyadari ponsel yang ia banting tadi malam.


Vie bergegas ke kamar untuk memastikan apakah Dirga menghubunginya atau tidak. Jika tidak, Dirga sudah kelewatan.


"Bunda cali apa?" tanya Arga yang masih memakai bajunya..


"Cari hape bunda. Arga liat?"


Arga memutarkan bola matanya. Gerakan tangan yang hendak mengancingkan baju terhenti. Arga menatap bundanya dengan rasa takut.


"Bunda ... Maaf," lirih Arga.


Vie segera menoleh pada anaknya. Ia haram saat Arga mengucapkan kata maaf. Adalah kesalahan yang sudah Arga perbuatan?


"Kenapa, Sayang?"


Arga berjalan membuka sebuah laci dan mengambil sesuatu dari dalamnya. Langkah berat dan ragu saat hendak menyemarakkan sebuah benda kepada bundanya. Sebuah ponsel yang tanpa sengaja tercampakkan dari atas tempat tidur. Arga tidak tahu jika diatas selimut ada sebuah ponsel. Karena ia buru-buru untuk bangun, tanpa sengaja ponsel itu terlempar ke lantai dan retak.


Tanpa kata tangan Arga terulur menyerahkan sesuatu yang sedang dicari oleh bundanya dengan mata terpejam. Bocah itu siap untuk di hakimi karena kecerobohan meskipun bukan salah Arga sepenuhnya.


Vie membulatkan matanya lebar saat melihat ponsel yang ia cari Arga serahkan dengan kondisi retak bagian layarnya.


"In- ini kenapa bisa retak, Ga?"


"Maaf Bunda ... Alga gak tau kalau ada hape Bunda di atas selimut Alga. Alga gak sengaja menjatuhkan."


Vie seketika membeku melihat raut wajah anaknya yang sangat terlihat ketakutan. Semua ini tidak akan terjadi jika Vie tidak ceroboh. Andaikan saja tadi malam ia menyimpan ponselnya dengan baik, mungkin ponselnya tak akan retak.


Vie segera memeluk tubuh Arga yang tengah gemetar merasa takut. "Maafin Bunda ya. Bunda kok yang salah udah membuang hape sembarangan."


Vie mengelus punggung anaknya agar tak menyalahkan dirinya sendiri. Berusaha jika semua ini bukanlah kesalahannya.


Sepanjang perjalanan menuju sekolah tak ada satu kata yang terucap oleh Arga. Biasanya Arga akan menyanyikan lagu yang ia hafal meskipun tak hafal seluruhnya, namun kali ini wajah Arga masih terlihat murung meskipun Vie telah menjelaskan bahwa itu bukan kesalahan.


Sesampainya di sekolah, Arga segera membaur bersama dengan teman-temannya. Kali ini Vie tidak merasa cemas lagi. Vie takut jika Arga akan menyimpan rasa bersalah dengan cara menyendiri.


"Selamat pagi Bundanya Arga. Wah sekarang semakin cantik ya, mentang-mentang ayahnya Arga sudah pulang. Saya baru tahu kalau ayahnya Arga itu seorang anak pengusaha lho." Miss Queen menyambut kedatangan Vie.


Vie tersenyum canggung apalagi jika membahas keluarga Dirga, meskipun mereka semua merestui hubungannya dengan anaknya tapi, Vie takut jika kesalahan satu malam bersama Dirga bisa memicu kesehatan perusahan mereka.


"Oh iya, Bund. Kira-kira ... asisten ayahnya Arga sudah ada yang punya belum ya?" Miss Queen malu-malu untuk menanyakan status Kaisar.


Vie menautkan alisnya, ia merasa jika Miss Queen telah terpesona oleh ketampanan Kai. Jangankan Miss Queen, Vie saja pertama kali bertemu dengan Kai juga merasa terpesona. Tetapi, pesona tetap tidak bisa mengalahkan ketampanan Dirga.


Vie seketika tersenyum kecil, untuk menggoda guru anaknya.


"Miss terpesona ya, dengan ketampanan Kai? Ehm ... sepertinya dia tidak ada yang punya, yang punya hanya atasanya. Karena seluruh waktu dan tenaganya ia serahkan kepada atasannya," terang Vie.


"Jadi Kaisar itu belok?" Miss Queen ragu untuk berkata.


Vie terkekeh pelan. Bagaimana bisa Kai belok? Lagian Dirga juga masih normal. Masih menyukai rawa-rawa berlembah.


"Kenapa anda bisa berkesimpulan seperti itu, Miss? Kai itu normal. Tetapi, seluruh waktunya ia gunakan untuk mengabdi kepada atasannya. Ehm ... saya bisa kok bantu Miss untuk mendapatkan hati Kai kalau Miss menyukai dia, gimana?"


Miss Queen tersipu malu. Ia setuju dengan apa yang diucapkan oleh Vie. Miss Queen juga bertekad untuk membuat Kaisar tergila -gila kepada dirinya. Cinta pada pandangan pertama membuat Miss Queen kehilangan rasa malu untuk mendekati Kaisar lebih dulu. Ia tidak ingin Kaisar dimiliki wanita lain, selain dirinya. Bagaimana caranya Miss Queen harus bisa membuat Kaisar jatuh cinta kepada dirinya.


🌼 Bersambung 🌼


Mon Maap lama up-nya, karena suatu hal. Semoga kalian tidak kecewa dan masih bertahan sampai bab ini. Oh iya, seperti biasa Othor punya rekomendasi novel bagus untuk kalian dari teman Othor Judunya WANITA KESAYANGAN CEO, mampir kalian ya



Blurb :


Annchi adalah seorang dokter jenius dan ahli mengunakan


senjata tajam serta menguasai ilmu bela diri. Hingga suatu ketika


keluarga pamannya ingin menguasai kekayaan Annchi.


Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya dia baru mengetahui


kalau keluarga pamannya meracuni dirinya membuatnya bersumpah


jika kelak berinkernasi kembali akan membalas perbuatan mereka.


Annchi terbangun dan dirinya sangat terkejut tubuhnya gendut dan


jelek serta penuh dengan luka dan di dalam ingatan pemilik tubuh


kalau sering di bully dan di siksa oleh ibu tiri dan adik tirinya,


membuat. Annchi membantu membalaskan dendam dan mengubah


pemilik tubuh untuk menjadi cantik dan tidak bisa ditindas.


Akankah usaha Annchi untuk membalas dendam berhasil?


Ikuti Novelku yang ke 19