Hidden Baby

Hidden Baby
Hidden Baby 41



Sebagai seorang atasan, Dirga merasa cemas saat mengetahui bahwa Jane mengajukan cuti tahunan secara mendadak. Mungkinkah ini berhubungan dengan Max. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Max harus tegas, jika tidak mencintai Naomi, mengapa harus menikahinya dengan mengorbankan perasaan orang lain. Hari ini Dirga sengaja mengosongkan waktunya demi bisa menemui Max.


"Kai, kosongkan jadwalku untuk hari ini. Kamu standby di kantor. Jika ada yang darurat kamu bisa hubungi aku," titah Dirga.


Kai mengangguk pelan. Tak ingin banyak bertanya, karena wajah Dirga sudah tak enak untuk dilihat lagi.


"Baik, Bos."


*******


Sementara itu, Vie yang hendak membuang sampah ke luar merasa sangat terkejut saat melihat Jane sudah berada di depan pintu rumahnya dengan air mata yang berderai. Nafas sesenggukan, seperti wanita itu telah terlalu banyak menangis hari ini .


"Astaga ... Jane."


Jane segera memeluk tubuh Vie hingga kantong sampah terlepas dari tangannya karena hendak mengelus punggung Jane.


Vie meminta Jane untuk masuk dan menceritakan apa yang sedang terjadi kepadanya, meskipun Vie tahu ini adalah menyangkut tentang hubungannya dengan Max yang harus kandas.


Jane masih saja terisak. Dengan sabar Vie menunggu sahabat yang usianya lebih tua darinya.


"Katakan, ada apa sebenarnya Jane?"


Jane menarik lagi ingus yang hendak keluar dengan nafas sesenggukan.


"Max ... dia ... dia mau menikah, Vie." Tangis Jane pecah.


Vie tahu, dia juga bisa merasakan sakit yang sedang Jane rasakan, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Jika Max menikah, ba-bagaima dengan ku, Vie? Bagaimana? Aku tidak akan bisa melewati hidup ini sendiri."


"Jane, sabar ya. Kamu tenang dulu, oke?"


Jane mengangguk, ia menuruti ucapan Vie. Untuk beberapa waktu Jane bisa tenang, tetapi tangisan tiba-tiba saja pecah lagi.


"Vie, katakan aku harus bagaimana? Aku ha-hamil, Vie."


Jantung Vie mendadak ingin meloncat saat mendengar pengakuan dari Jane. Apa yang Vie takutkan selama ini benar-benar terjadi. Seakan Vie ingin kecewa dengan Jane. Seharusnya Jane bisa belajar darinya, bagaimana saat hamil tanpa suami. Masih mending jika ada yang mau bertanggung jawab, jika tidak maka semua orang hanya akan memandang rendah, sama seperti dirinya dahulu.


"Jane ... kenapa bisa? Bukankah sudah ku peringatkan agar memikirkan lebih jauh?"


"Aku salah Vie. Tapi kami saling mencintai. Max hanya terpaksa menikahi Naomi. Cintanya hanya untuk ku, Vie."


"Iya, aku tau itu. Tapi pikiran Jane, siapa yang akan menikahi mu jika Max menikahi wanita lain?"


Jane terdiam. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Pernikahan Max sudah di tentukan dan hanya menghitung hari lagi. Mamanya Max sejak awal sudah menentang keras hubungan Jane dengan Max.


Jane merasa sangat frustrasi dengan kenyataan yang ada. Cinta yang selama ini mereka bina harus berakhir dengan tragis. Max memilih menikahi wanita pilih mamanya.


Jane seharusnya sadar, siapa Max dan juga siapa dirinya. Tatapi karena saling mencintai Jane lupa dirinya akan statusnya, wanita kampung yang sengaja merantau di ibukota hingga bisa memiliki pekerjaan yang lumayan bagus. Berbeda dengan Max yang terlahir dari keluarga berada dan terpandang. Seharusnya cinta itu tak pernah ada jika Jane sadar sedari awal siapa dirinya.


*******


Malam ini Jane tak di izinkan untuk pulang karena Vie takut Jane akan berbuat nekat untuk menyakiti dirinya sendiri. Saat ini Jane butuh ketenangan dan Vie bersedia menjadi tempat Jane untuk berkeluh kesah.


Dirga yang baru saja pulang dari kantor segera melongarkan dasinya. Usaha menemui Max tak ada gunanya, karena Max tetap bersikeras untuk menikahi Naomi.


"Urusan pekerjaan jangan dibawa pulang." Vie berkata, namun matanya masih fokus pada buku yang sedang di warnai oleh Arga.


Dirga menoleh. Ia sadar jika istrinya sedang menyindir dirinya. Dirga pun merasa heran, mengapa malah dirinya yang diselimuti amarah saat Max tidak bisa mempertahankan hubungan dengan Jane.


Arga acuh dengan ayahny karena ia sedang mempunyai hobi baru, yaitu mewarnai.


"Kamu kenapa?" tanya Vie mendekat.


"Sumpah, aku gedek banget sama Max yang bodoh itu. Mau-maunya dia menikahi Naomi yang tidak ia cintai."


"Kok malah kamu yang sewot sih, Ga. Kan mereka yang punya hubungan. Jangan bilang kamu naksir sama Naomi dan berniat untuk menjadikan dia istri keduamu kan?" todong Vie.


Mata Dirga membulat dengan sempurna. Darimana cerita Dirga. Mencintai Naomi sementara hatinya telah ia serahkan kepada sang pemilik hati.


"Kamu jangan ngaco deh Vie. Aku lagi males bercanda."


Melihat sikap Dirga yang dingin membuat Vie berpikir macam-macam tentang candaannya tadi. Apakah mungkin Dirga diam-diam memiliki perasaan kepada Naomi atau hanya perasaan saja yang sudah berlebihan. Semoga saja itu hanya dugaan Vie saja. Karena Vie yakin jika Dirga tak akan mengkhianati cintanya, Vie tau betul siapa Dirga.


Malam ini Arga sudah terlelap lebih awal, seperti ia kelelahan bermain siang tadi bersama Miss Queen.


Biasanya jika Arga telah tidur, maka Dirga akan bergegas menarik single bad untuk menanam ubi bersama Vie, tapi malam ini tak ada responnya sama sekali. Bahkan Dirga malah sibuk dengan ponselnya. Mendadak hati Vie merasa ngilu dengan cueknya Dirga malam ini. Vie memutar tubuhnya sambil menyeka air mata yang tiba-tiba keluar begitu saja.


Dirga yang hendak tidur melihat posisi tidur Vie yang membelakangi Arga juga dirinya dengan bahu yang naik turun. Dirga ingin memastikan bahwa Vie tidak sedang menangis namun, saat Dirga membalikkan tubuh Vie ternyata benar, Vie tengah menangis.


"Kamu kenapa, Vie? Sakit?" tanya Dirga.


Vie tak menjawab, ia memilih mengembalikan tubuhnya pada posisi semula membuat Dirga mesra heran. Tak ada angi, tak ada hujan tiba-tiba Vie menangis dan mendiamkan dirinya.


"Vie, jawab dong kamu kenapa? Jangan buat aku khawatir dong. Vie, jawab aku!"


Suara Dirga membuat Arga membuka mata. Bocah masih mengumpulkan nyawanya untuk melihat sekitarnya.


"Ayah malahin bunda ya?" Tiba-tiba tubuh Dirga di dorong oleh Arga menjauh dari bundanya.


Arga langsung memeriksa bundanya, banar saja saat ini bundanya sedang menangis. Hal itu membuat Arga semakin tajam menatap ayahnya.


"Ayah kenapa bikin bunda nangis?" teriak Arga.


Dirga sendiri tidak tahu kenapa istrinya tiba-tiba menangis tanpa alasan yang jelas.


"Ayah gak tau, Ga. Bunda nangis sendiri. Super, ayah gak bikin bundamu nangis."


"Bohong! Ayah jahat. Bobok jauh sana!" Arga mendorong tubuh Dirga agar menjauh darinya kemudian Arga memeluk tubuh Vie dari belakang.


Vie semakin terisak kembali saat merasa pelukan hangat dari tangan mungil yang selalu memeluknya seti malam.


Ga, makasih ya, Nak. Kamu segala untuk bunda.


Vie kemudian membalikkan tubuhnya untuk bisa memeluk tubuh mungil yang yang setiap malam menempel dalam dekapannya. Hal itu membuat Dirga merasa tak dianggap lagi oleh anaknya.


🌼 Bersambung 🌼


Udah 3 bab ya hari ini. Jangan lupa kalau abis baca tinggalin Like sama beri hadiah mawar kek, kopi kek, biar makin semangat Othor nulis lagi. Othor bahagia kalian juga ikut seneng dong, soalnya othor up lagi dan lagi hihihi