
Kabar bahagia segera Dirga sampaikan kepada keluarga bahwa saat ini Vie sedang hamil. Mama Anggi sangat bahagia atas berita tersebut, akhirnya Dirga bisa berkembang biak tidak seperti orang tuanya yang hanya memiliki satu orang anak. Mama Anggi juga tidak sabar ingin segera menggendong bayi mungil setelah melewatkan momen kecilnya Arga. Kali ini mama Anggi ingin menebus segala kesalahan yan mg terjadi di masa lalu anaknya. Namun, dibalik kebahagiaan Vie, diseberang sana Jane tengah berjuang untuk mengendalikan dirinya sendiri.
Berada disebuah apartemen mewah, tak seperti rumah yang ia sewa. Meskipun perlengkapan mewah, tak membuat hati Jane meras senang. Beruntung saja ada Kai yang menguatkan dirinya meskipun dengan caranya sendiri.
Malam ini Kai dan Miss Queen sengaja singgah ke apartemen dimana Jane berada. Miss Queen sudah mendengarkan penjelasan Kai, sebagai seorang perempuan hatinya ikut prihatin atas apa yang tengah menimpa Jane.
"Aku harap kamu bisa memberi pengertian kepada Jane. Aku merasa kasian saja. Aku tidak ingin nasib bundanya Arga juga menimpa wanita itu," ucap Kai.
Miss Queen menyunggingkan senyum indahnya yang mampu merontokkan jiwa-jiwa yang sedang merana. "Akan aku coba, semoga berhasil."
Kai dan Miss Queen berjalan sambil bergandengan tangan layaknya pasangan yang tengah di mabuk asmara. Wajar saja dengan usia asmara cinta mereka yang baru saja terjalin, membuat keduanya saling menempel, tak ada rasa canggung lagi.
Kai membuka pintu apartemen, ia terkejut saat mendapati tubuh Jane sudah tergeletak dilantai. Begitu juga dengan Miss Queen yang ikut terkejut.
"Kai, dia kenapa?"
Kai segera memeriksakan keadaan Jane yang masih bernafas lalu tanpa pikir panjang segera mengangkat tubuh Jane keluar. Miss Queen yang masih tertinggal di belakang masih terpaku saat Kai dengan sigap mengangkat Jane dan melupakan akan dirinya yang masih tertinggal dibelakang sambil menahan rasa sesak di dadanya.
Beruntung saja Jane segera mendapatkan pertolongan tim medis. Jika tidak, mungkin kedua nyawa akan melayang begitu saja. Jane kelebihan menelan obat penenang diri hingga membuat nyawanya hampir hingga. Beruntung Tuhan masih berpihak kepada makhluk yang bersemayam di rahimnya. Tuhan masih mencintai Jane dan janinnya.
Setelah menyelesaikan administrasi, Kai baru mengingat akan sesuatu yang tertinggal dan tanpa sengaja terabaikan.
"Sial ... Miss Queen ketinggian lagi," umpat Kai.
Kai meremas kasar rambutnya. Bagaimana kekasihnya sampai bisa terabaikan begitu saja hanya demi untuk menolong orang bodoh yang sudah dua kali ingin mati. Oke, ini adalah terakhir kalinya Kai menyelamatkan Jane, jika suatu saat Jane nekat mau mati, Kai sudah tak peduli.
Berulang kali Kai menelepon Miss Queen, tetapi nomernya tidak aktif. Kai semakin merasa frustrasi, baru saja menikmati manis cinta kini harus sudah masuk ke konflik.
"Hai Thor, buat aku bahagia dengan Miss Queen. Awas kalau kamu buat aku pisah sama Miss Queen, males lagi aku jadi anak mu!" Kai mengancam Author.
Kai mendatangi tempat tinggal Miss Queen, tetapi nihil. Kekasihnya itu tidak ada di rumahnya. Kai tidak tahu dimana bisanya Miss Queen berada, karena keduanya jarang jalan bersama mengingat Kai super sibuk.
\*\*\*\*
Sekilas Vie mendengarkan suara ribut-ribut di luar. Karena matanya yang masih lengkap Vie tak ingin tahu. Namun saat Vie mendengar suara Dirga meninggi Vie langsung melonjak. Untung saja Arga tidak bangun. Vie yang merasa penasaran segera keluar untuk memastikan ada apa di ruang keluarga.
Vie terkejut saat melihat Max dengan bibir pecah akibat sebuah tonjokan mengenai bibirnya. Tepat dihadapan tante Maya, Dirga tidak peduli jika anak kesayangan ia hajar. Itu semua tidak sebanding dengan perbuatan Max.
"Ga, tenang." Mama Anggi membawa Dirga untuk duduk di sofa. Sementara itu tante Maya juga membawa Max untuk duduk.
Dengan nafas naik turun menahan amarahnya Dirga berkata, "Asal kamu tau Max, aku bukan orang baik-baik. Aku hanya sekali melakukan hubungan terlarang dan tanpa aku sadari benih itu menjelma menjadi sosok yang bernyawa. Bahkan papa dan mama menyembunyikan itu semua dariku agar aku fokus untuk sekolah. Tetapi setelah mereka tahu bahwa Vie sedang hamil anakku, mereka segera mengambil tindakan agar anakku tidak terlantar, meskipun cara mereka salah. Seharusnya mereka memberikan tempat yang layak dan memberitahu ku." Dirga menjeda ucapannya karena ia harus mengambil nafas.
"Tapi setelah aku tahu apa yang aku semai tumbuh menjelma sebagai manusia, aku segera bertanggung jawab, tidak seperti kalian. Meskipun tante Maya tahu jika Jane sedang mengandung anaknya Max, tante malah ingin mempercepat pernikahan Max. Dimana letak hati tante?" Dirga setengah berteriak.
"Kamu gak tau apa-apa gak usah menasehati tante. Tante tau mana yang terbaik untuk anak tante. Tante kesini untuk memberi tahu bahwa pernikahan Max akan diadakan 3 hari lagi. Tante harap kalian bisa datang. Mbak Anggi, aku minta restu agar acara Max berjalan lancar."
" Max, katakan kalau kamu tidak setuju dengan pernikahan ini. Katakan Max!" bentak Dirga.
Max menatap Dirga. "Aku akan tetap menikahi Naomi. Aku bukan lelaki bodoh seperti kamu, Dirga. Kamu tak kan aku tidak bisa hidup hanya dengan satu wanita, lalu kenapa sekarang kamu marah? Atau ... kamu diam-diam menyukai Jane?"
"Max!" bentak Dirga.
Mata Max menangkap sosok Vie yang sedang berdiri di ujung tangga. Dengan senyum sinis Max berkata, "Bukanlah kamu juga tidak bisa hidup hanya dengan satu wanita? Kita sudah pernah hidup bersama di luar negeri, aku tahu kamu bagaimana."
Max sengaja berkata seperti itu agar Vie mendengar, kemudian ia meninggalkan ruang tengah. Namun siapa yang menyangka langkah langkahnya tertahan oleh tangan kecil yang pernah menemani hari-harinya. Siapa lagi jika bukan tangan Arga.
Max membuang kasar nafasnya kemudian berjongkok untuk bisa menyamakan tinggi keduanya.
"Om Max jangan pelgi." Arga memohon.
"Om harus pergi, Arga. Asal Arga tau, Om bukan orang yang baik. Jadi mulai saat ini kita tidak berteman lagi." Max memejamkan mata untuk beberapa saat kemudian berlalu meninggalkan Arga yang terus memanggil namanya.
"Om Max ... Om ..." Arga kecil berusaha untuk mengejar Max namun, dengan sigap ayahnya menghadang.
"Sudah. Dia jahat. Dia tidak pantas untuk berteman denganmu," kata Dirga.
Sepeninggal Max, Arga lebih banyak diam. Bahkan saat berada di dalam mobilnya, tak ada celotehan ceriwisnya, membuat Dirga tak mengerti dengan pemikiran bocah itu. Vie berusaha mengajak Arga berbicara, membicarakan adik yang ada di dalam perutnya berharap bisa menghibur kesedihan yang sedang Arga rasakan.
Jelas Arga merasa kehilangan. Hanya beberapa orang yang sangat dekat dengan dirinya, termasuk Max yang sering membawanya bermain saat Vie sedang sibuk, tapi sekarang Max berubah menjadi monster.
"Udah dong, Sayang. Nanti adik bayinya juga ikut bersedih kalau lihat abang Aga bersedih," hibur Vie.
"Bialin! Adik bayinya gak bisa diajak main! Sekalang Alga mau ketemu sama om Max. Ayah antal Alga ke tempat om Max!" perintah Arga.
"Tapi Arga harus sekolah, Sayang," ucap Dirga.
"Alga gak mau sekolah! Alga mau ketemu sama om Max. Bunda bilangin sama ayah, Alga mau ketemu sama om Max." Arga memohon kepada Vie. Saat ini Vie tau jika hati Arga sedang terluka. Ia pun memberi isyarat kepada Dirga agar mengantarkan Arga untuk menemui Max ba.ji.ngan itu. Mungkin Dirga bisa menang saat ia melawan Max, tapi dia tidak bisa menang saat melawan Arga, titasannya sendiri.
*
*
*
Dah panjang kan? belum sempat edit, kalau typo beri komen biar tau 😄
Jangan lupa absen ya!!