Hidden Baby

Hidden Baby
Hidden Baby 72



"Kamu!" geram wanita yang baru saja di tampar oleh Vie.


"Berani kamu menamparku?" Wanita itu sudah melayangkan tangannya hendak membalas tamparan yang masih terasa panas di pipinya namun, sebelum itu terjadi Dirga sudah menahan tangan itu. Mana ada seorang suami mau melihat istrinya di tampar oleh orang lain di depan matanya, jika ada berarti dia adalah suami yang bodoh.


"Pak, wanita ini telah menampar saya, lihat ini sakit," ucap wanita itu manja.


"Iya, saya minta maaf. Dia istri saya," jelas Dirga.


Mata Jesy terbelalak lebar saat mendengarkan sebuah pengakuan mengejutkan dari Dirga, lelaki yang sudah lama ingin ia miliki namun belum kesampaian dan kini tiba-tiba dia telah mengakui seorang wanita di depannya adalah istrinya.


"Anda jangan berbohong, Pak. Seluruh penjuru bahkan tidak akan percaya mendengarkan penjelasan anda saat ini."


Dirga maju ke depan Vie. "Kamu tahu ini, ini adalah hasil kami setiap malam. Sudah ada disini. Aku tidak peduli dengan penilaian orang lain tentang hidupku. Jika sudah tidak ada yang perlu di bahas kamu boleh keluar. Aku tidak mau istriku ini salah paham," ucap Dirga santai sambil mengelus perut Vie yang sudah mulai menonjol karena pakaian yang ia gunakan sedikit ketat.


Jesy merasa sangat kesal, ternyata Dirga telah menikah dan lebih parahnya hanya dengan wanita biasa.


"Baik, saya keluar. Tapi lihat saja apa yang bisa aku lakukan untuk membalas tamparan ini." Jesy keluar dengan wajah memerah bekas gambaran tangan Vie masih membekas.


Dirga membuang kasar nafasnya. Berharap macan ini bisa di jinakkan kembali. Apa jadinya jika macan ikut ngamuk kepadanya sudah jelas nasib Juna akan terancam.


"Sayang, aku minta maaf. Aku sama Jesy tidak berbuat apa-apa. Dia hanya ingin membenarkan dasi ku, aku sudah menolaknya tetapi dia memaksa. Percayalah." Dirga berusaha menyakinkan ibu negara yang sudah menatapnya dengan tatapan membunuh.


Vie duduk di sofa sambil mengerucutkan bibirnya. Khayalan ingin memanjakan suaminya bubar seketika. Bahkan saat ini tak ada seleranya lagi saat melihat Dirga.


"Dah ah, aku mau pulang. Aku bawa pulang lagi makan siangnya. Percuma, pasti kamu setiap hari juga seperti ini." Mendadak Vie ingin menangis jika membayangkan Dirga bersama wanita lain. Hatinya sakit, padahal dulu dia tidak peduli Dirga ingin berdekatan dengan siapa tetapi kali ini sakit hingga ulu hati.


"Sayang, aku minta maaf. Oke aku salah. Jangan pulang ya, kita makan siang disini. Oke?" rayu Dirga. "Aku kasih bonus deh." Dirga memainkan alisnya memberi sinyal akan akan ucapan.


Vie tak bisa menyembunyikan rasa malunya. Terpaksa dia menyunggingkan senyumnya.


Dirga sudah mengunci pintu dia pun juga telah menyerahkan agenda siang ini kepada Kai. Momen langka yang tak akan pernah Dirga dapatkan dua kali.


"Ga, kamu yakin kita main disini. Nanti kalau ada yang denger gimana? Kamu gak bisa kontrol de.sah.an," ucap Vie.


"Tenang. Ruangan ini sudah kedap suara, meskipun kita berdua menjerit bersama tak akan ada yang mendengar. Ngomong kamu terlihat **** lho, perut kamu seperti orang cacingan."


PLAKKK


Vie mendapatkan tamparan ke bahu Dirga. Berani sekali dia mengatakan seperti orang cacingan. Ini semua juga gara-gara ulahnya.


"Sakit tau," Dirga pura-pura mengeluh.


"Kamu sembarangan ya, Ga. Kamu ngatain aku seperti orang cacingan. Ini semua karena ulah si Juna yang selalu mengajak ke luar angkasa," kesal Vie.


"Iya … iya maaf. Tapi kamu benar-benar ****. Perut kamu udah keliatan lho, aku suka."


Di tempat duduk kebesaran Dirga keduanya saling men.de.sah saat Juna telah berhasil membawa Vie naik ke angkasa. Sepasang insan yang sepertinya tak pernah merasa puas akan penyatuan tubuh mereka, dimana tempatnya mereka tidak peduli karena yang mereka tau saat ini adalah bagaimana cara memuaskan diri.


.


.


.


Dah ah, mesum terus 🤣