Hidden Baby

Hidden Baby
Hidden Baby 69



"Astaga ... kalian."


Saat itu juga mata Jane dan Kai langsung menoleh dimana Vie sedang berdiri melihat keduanya. Sadar akan apa yang telah terjadi keduanya langsung menarik diri masing-masing.


"Kamu apaan sih, Jane. Aku bilang kan kembalikan ciuman pertamaku, bukan kamu ambil lagi. Itu ciuman kedua ku, Jane."


Jane yang merasa malu memilih untuk meninggalkan Kai yang sangat bodoh di usianya yang ke 26 tahun. Darimana jalan seseorang bisa mengembalikan kesucian bibir yang telah ternoda.


"Tau ah, pusing aku."


Namun, saat baru beberapa langkah Jane terhenti karena kakinya terasa sangat ngilu, sama seperti yang tadi ia rasakan.


"Aduuh ... " pekik Jane. Hal itu membuat Kai langsung berdiri untuk menopang tubuh Jane. Ia baru sadar jika kaki Jane kemungkinan keseleo.


"Kamu gak papa? Ayo aku bantu."


Vie tidak bisa berkata apa-apa lagi, seolah dirinya tidak dianggap dan diabaikan oleh dua orang aneh yang kadang akur kadang berantam, sama seperti ucapan Dirga yang mengatakan bahwa mereka adalah Tom dan Jery.


Kai sudah membawa Jane kedalam kamar namun, sebelum itu Kai akan berganti pakaian begitu juga dengan Jane.


"Kamu bisa kan ganti baju sendiri? Atau aku yang akan menggantikan pakaianmu?"


"Ngaco kamu ya, Kai!"


Sementara itu Vie terlihat sangat khawatir kepada Jane meminta Dirga untuk menghubungi dokter, tetapi Dirga tidak bisa melakukan hal itu karena memang tidak ada sinyal.


"Ya udah aku mau lihat keadaan Jane dulu."


Dirga yang merasa sendirian di lantai bawah segera mengikuti langkah Vie untuk ke lantai atas dimana kamar Jane berada.


"Sayang, hati-hati. Anak kita nanti terguncang."


Vie tak peduli lagi dengan ucapan suaminya. Saat ini dia ingin segera melihat keadaan Jane. Saat pintu di buka matanya lagi-lagi terbelalak atas perlakuan Kai yang sedang memijat telapak kaki Jane dengan lembut. Sesekali Jane merengek kesakitan.


Melihat Vie yang hanya berada diambang pintu membuat Dirga merasa ada yang aneh lalu memilih untuk melihat sendiri apa yang sedang terjadi di dalam.


"Waow ... kamu romantis sekali, Kai? Kamu mau copy paste perlakuan manis ku tadi siang ya?"


Kai terkejut saat mendengar suara bos-nya. "Jane kakinya terkilir, Bos. Dan aku hanya membantunya saja," jelas Kai.


"Vie ... aku bisa jelaskan masalah tadi," sambung Jane.


Dirga yang tidak tau apa yang sedang terjadi merasa sangat penasaran dengan ucapan Jane. Sepertinya Dirga sudah ketinggalan gosip terupdate seputar wanita.


"Apa yang ingin kamu jelaskan, Jane? Seperti sangat penting,?" tanya Dirga.


"Itu Pak ...." Jane menggantung ucapannya, bagaimana reaksi Dirga saat mendengarkan pengakuan darinya, yang pasti akan menertawakan kebodohan seorang Kaisar.


"Itu Bos ... aku hanya meminta Jane untuk mengembalikan ciuman pertamaku yang sudah diambil paksa oleh Jane. Bukanya dikembalikan, malah ciuman keduaku juga diambil," ungkap Kai.


Entah terlalu polos atau memang terlalu bodoh. Jane merutuki kecerobohannya sendiri.


Dirga dan Vie tak ingin mencampuri urusan keduanya, karena Dirga memang sangat berharap jika Kaisar bisa menjalani hubungan yang serius dengan Jane. Meskipun saat ini Jane belum memiliki perasaan kepada Kai, dia yakin Kai bisa menggantikan sosok Max untuk menjadi ayah pengganti untuk calon anak yang sedang di kandung oleh Jane. Bagaimana pun calon anak itu masih mengalir darah keluarganya.


***


Malam semakin larut


Tiba-tiba lampu padam. Tidak berselang lama hujan pun datang. Jane yang terbangun tengah malam segera mencari ponselnya untuk menghidupkan senter. Jujur meskipun Jane adalah wanita kuat, tetapi satu hal yang ia takuti, yaitu saat gelap mencekam seperti ini datang. Ia hanya bisa meringkuk di atas tempat tidur sambil memeluk lututnya. Tubuhnya sudah bergemetar hebat.


"Max, aku takut." Jane bergumam.


Di dalam kamar, Kai merasa tidak nyaman. Ia takut terjadi sesuatu kepada Jane. Akhirnya dengan bantuan dari cahaya ponselnya ia ingin memastikan bagaimana keadaan Jane.


Saat di buka, kamar Jane sudah terang dengan lampu senter dari ponselnya. Kai merasa lebih tenang, tatapi saat melihat keadaan Jane yang meringkuk membuat Kai segera menghampiri Jane.


"Jane kamu kenapa?"


Tanpa ingin tau siapa, Jane segera memeluk Kai sambil terus mengucapkan nama Max.


"Kamu kenapa? Jangan takut. Aku ada disini."


Jane benar-benar tidak ingin melepaskan pelukannya dan semakin mengeratkan pelukannya kepada Kai


"Max, aku benar-benar takut." Jane terus menyebut nama Max. Entah mengapa Kai sangat tidak suka saat Jane menyebutkan nama lelaki ba.ji.ngan itu.


Mengerti ada yang sedang tidak beras, Kai segera menidurkan Jane dengan pelan. Ia bisa merasakan bahwa hembusan nafas Jane menjadi lebih hangat.


"Kamu demam. Pantas saja sedari tadi ucapanya tidak beres."


Saat Kai sudah memastikan bahwa Jane sudah mulai terlelao, Kai pun ingin segera keluar dari kamar Jane, namun ternyata tangan Jane menahannya.


"Max jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Ku mohon."


Kai menatap dalam wajah yang sedang terlelap. Seperti Jane sangat mencintai Max, kekasihnya.


"Baiklah, aku tidak ingin pergi tapi kamu jangan sakit ya."


Jane mengangguk pelan. "Iya aku janji. Aku sangat merindukanmu, Max."


🎀 Bersambung 🎀